Sabtu, 04 Mei 2013

Sosok Seorang Ayah




Di balik kesuksesan seorang anak adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya, ibu dan ayahnya. Sekarang aku akan sedikit bercerita tentang seseorang yang inspirasional, mampu memberikan pendidikan, dan sampai kapan pun akan dikenang. Beliaulah ayahku, bapak kandungku yang kelembutannya tak sedikit pun mengurangi kegagahannya.

Aku biasa memanggilnya dengan Bapak, namanya Bakri, berasal dari bahasa arab bakhri yang berarti lautan luas. Beliau terlahir dan dibesarkan di Jepara pada 10 Januari 1947 dari pasangan Mbah Pawiro Mukhsin dan Nyai Basinah. Ayahku merupakan anak keempat dari Sembilan bersaudara.

Sebagai seorang ayah beliau sangat inspirasional, kepribadiannya banyak menjadi contoh bagi putra-putrinya, termasuk diriku. Untuk kepribadiaanya yang baik itulah beliau menjadi sosok yang dihormati di lingkungannya.

Terlahir dengan nama Bakri yang berasal dari bahasa arab, bakhri, yang berarti lautan luas. Ayahku memang memiliki hati seluas lautan. Kesabarannya dalam menghadapi setiap masalah dan cobaan tiada batas. Kalau diingat-ingat, sejak kecil sampai sekarang ayahku tidak pernah sekali pun memukulku untuk kesalahan yang aku perbuat. Beliau memarahi putra-putrinya dengan nasihat, paling hanya sekali dua kali dengan nada keras kalau dirasa perlu. Luas hatinya juga beliau tunjukkan dengan sikapnya yang selalu mengalah dalam banyak urusan. Karena prinsipnya “Sopo sing wani ngalah, luhur ing wekasan” yang artinya siapa yang berani mengalah akan memetik hasil yang baik. Dan hal itu sudah beliau buktikan dalam banyak hal.

Sebagai seorang laki-laki, suami dari ibuku, ayahku tergolong orang yang romantis. Pernah dituturkan oleh ibu, ketika menunaikan ibadah haji setiap ada jatah makanan yang harus diambil, ibu tidak perlu capai-capai mengantre makanan itu sebab ayahku selalu sedia mengantre dan mengambilkan makanan untuk ibu di tengah cuaca Arab yang tak bersahabat. Hal tersebut tidak dilakukan oleh semua suami yang ada pada waktu itu, tambah ibuku. Dan sering kudengar sendiri, ayahku memang suka memuji kecantikan ibuku meskipun dengan nada malu-malu. Sebagai seorang suami, ayahku memang luar biasa, tidak pernah sekalipun mencela apalagi menolak apa yang ibuku masakkan untuknya. Beliau selalu menghabiskan makanan yang dimasak oleh ibu.

Ayahku sosok yang ramah bagi semua orang. Setiap ada tamu, meskipun yang belum dikenal sekalipun, beliau selalu menunjukkan keramahannya. Mungkin itulah sebabnya beliau mempunyai banyak relasi, baik dari kalangan pejabat, bos perusahaan besar, sampai tukang becak sekali pun. Sikapnya yang ramah dan santun membuatnya dipercaya oleh banyak orang, beliau juga jujur sehingga sampai sekarang pun dipercaya oleh orang asing untuk mengelola lapangan golfnya.

Beliau bukan orang yang pendendam. Meskipun sering disakiti hatinya oleh keluarga dan kerabatnya sendiri, ayahku tidak pernah sekalipun marah dan menyimpan dendam kepada orang-orang tersebut. Pernah suatu ketika ayahku mempunyai usaha lahan parkir. Tanah kosong yang awalnya dipenuhi tanaman liar disulapnya menjadi bersih dan tertata rapi, dibangunnya tenda-tenda untuk penitipan motor. Bersama paman dan kakak iparku, beliau mengelola tanah milik teman ayahku itu yang memang dititipkan kepada ayahku. Namun, suatu hari seorang kerabat entah apa yang ada dipikirannya sehingga meminta lahan parkir itu bisa dikelola olehnya, tentu dengan cara yang tidak baik, tetapi hal tersebut akhirnya bisa diperolehnya. Dan untuk urusan tersebut, ayahku sama sekali tidak marah apalagi menyimpan dendam. Namun, Allah Maha Adil. Ayahku justru membantunya dikala dia mendapatkan musibah.

Ayahku sosok yang cerdas dan berjiwa seni tinggi. Kalau orang-orang bilang tulisan tanganku bagus, rapi, dan selalu mendapat pujian dari guru-guruku, mungkin itu salah satu keahlian ayah yang turun padaku. Ayahku memang pandai menulis dengan indah dan rapi. Kegemaran ayah tiap sore adalah mendengarkan langgem Jawa. Kecintaan terhadap wayang kulit dan hampir semua kesenian Jawa membuat jiwa seninya melekat kuat. Daya ingat ayahku juga cukup baik, hampir semua mata pelajaran yang pernah beliau pelajari masih diingatnya. Ayahku juga termasuk salah seorang yang menerapkan filosofi islam jawa dalam kehidupannya. Meskipun sebagai bagian dari Muhammadiyah, ayahku memang bersikap keras untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan ajarannya. Berbeda dengan ibu yang lebih toleran karena ibuku dididik dari kalangan NU.

Sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarganya, ayahku termasuk orang yang dituakan. Beliau memang tergolong orang yang bijak. Karena kebijaksanaannya, ayahku sering menjadi tempat untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang terjadi, terlebih dalam urusan keluarga besar.

Itulah sedikit cerita tentang sosok ayah yang kumiliki. Memang tiada manusia yang sempurna, termasuk ayahku. Namun bagiku, ayahku adalah sosok pribadi yang hebat dan luar biasa. Beliau yang penyayang, penyabar, dan kelembutan hatinya itu tak sedikitpun mengurangi kegagahannya. Siapa sangka, ayahku yang sudah berkepala enam itu dulunya adalah pemuda yang tampan dan bertubuh kekar. Beliaulah ayahku yang menginspirasiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar