Rabu, 10 Desember 2014

Rupanya Awak Berada di Medan

Kali ini aku dapat kesempatan untuk Kerja Dinas ke Kota Medan. Yah, namanya juga Sadam, setiap moment yang dilewati harus berkesan. Ditemani oleh Mas Achmad Subekhi, perjalanan dinas ke Medan kali ini tidak boleh hanya ala kadarnya. Sesi traveling harus tetap menjadi agenda, meskipun di tengah keterbatasan waktu dan sarana.

Gedung Gubernur dan Bank Indonesia Sumut di Medan
Kota Medan, dengan ikon khas Istana Maimun yang merupakan peninggalan desainer Italia untuk Kerajaan Deli, penduduk asli Medan yang pada dasarnya adalah Suku Melayu. Ini adalah kota pertama yang aku kunjungi di Pulau Sumatera. Selain Istana Maimun, durian, bentor atau becak montor, dan kereta (sebutan orang Medan untuk sepeda motor) adalah khasanah khas dari Kota Medan.

Medan tak jauh berbeda dengan kota – kota besar yang ada di Pulau Jawa. Suasana yang ramai, penuh dengan manusia dan kendaraan. Kota yang juga mengklaim sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini rupanya sudah banyak beridiri bangunan – bangunan pencakar langit serta mall-mall yang terlihat modern. Medan juga menyimpan banyak rekaman dalam catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, ialah Pertempuran Medan Area yang menceritakan perjuangan pemuda Sumatera Utara melawan Tentara Sekutu dan NICA pada Oktober 1945.

Selain menyimpan catatan sejarah, Kota Medan juga menyimpan banyak sekali kuliner khas nusantara, di antaranya ialah Warung Sipirok yang menjajakan masakan khas Batak dan Ucok yang menjajakan durian montong Medan. Di Sipirok yang paling aku sukai adalah daging asap dan daun singkok tumbuk. Rasa daging asapnya pedas dan bikin nagih. Di Medan juga terdapat banyak masakan khas Sumatera lainnya, terutama Aceh. Bagi orang Medan, Mie Aceh yang dijual di Medan rasanya lebih enak daripada Mie Aceh yang ada di Aceh sendiri. Aku sendiri sempat mencicipi gurihnya Kari Kambing di Medan Timur.

Senin, 03 November 2014

Le Nekat Traveler

Well, travelling kali ini boleh dibilang nekat dan tanpa persiapan sama sekali. Yang tadinya di antara ya atau tidak. Tapi overall, sangat berkesan. Tak kalah dengan trip – trip sebelumnya.

Seharusnya jumat malam, aku dan tim DMS sudah berada di Puncak, menempati sebuah villa mewah, menikmati kolam renangnya, bertamasya ria ke Taman Bunga, dan seperti kebiasaan ketika di kantor, berhahahihi dengan mereka. Namun, karena suatu hal yang sebaiknya tidak ditulis di sini, hal itu batal. Pergi ke Puncak (untuk pertama kalinya) akan gagal. Agenda refreshing itu pun dialihkan ke Pantai Indah Kapuk, menikmati permainan air. Namun, batal juga karena ada yang tidak bisa berenang. Kemudian dialihkan ke Dunia Fantasi alias Dufan. Itu pun batal karena banyak yang kurang setuju. Fix, pecah sudah isi kepalaku. Rasanya ingin teriak, kenapa semua ini bisa terjadi?? Impian untuk bersenang – senang melepas penat pun hanya mimpi belaka.

Kemudian si Ucup, posting di Group BORAX, menawarkan sebuah perjalanan menarik dengan judul “Pulau Tunda yang Tertunda”. Tanpa pikir panjang aku pun menerima tawaran menggiurkan itu. Perlengkapan yang mau dibawa sudah tertata di lemari, uang muka pun sudah dibayarkan. Namun, team leadernya tetiba mendapat panggilan interview kerja. Jadilah kebatalan yang terulang itu. Akankah piknikku batal lagi?

Sedih pun melanda. Namun, sepertinya aku mendapat teman senasib yang haus akan piknik. Ya, ialah si Ucup. Dia mendapatkan informasi bahwa sedang ada migrasi besar – besaran para rasptors dari belahan dunia sana ke Indonesia. Suaka Elang, tim pengamat dan rehabilitasi Elang milik Indonesia ini menjadi penyelenggaranya. Kegiatan tahunan ini dilaksanakan di Puncak, tepatnya di area paralayang.

Sabtu, 01 November 2014

Aku Suka Sharing

Era semakin maju, berbagai akses informasi semakin mudah didapatkan. Internet menjadi salah satu temuan besar yang ikut andil dalam kemudahan akses informasi. Setiap orang, komunitas, lembaga, atau badan tertentu dapat secara leluasa berbagi apa yang mereka ketahui. Mereka berbagi tanpa batasan materi.

http://tbigportal.my-tbig.com:9001/Portals/0/UltraMediaGallery/715/250/28.DSC_0118.JPG
Sharing Session di Lingkungan Kantor
Berbagi ilmu atau biasa dikenal knowledge sharing sekarang sudah menjadi kebutuhan. Sharing session dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kegiatan, kapan pun, dan dimana pun, serta dalam suasana dan media apapun sesuai kebutuhan.

Sampaikanlah walau satu ayat.

Konsep berbagi pengetahuan atau informasi ini menjadi suatu kebutuhan bagi setiap orang. Dampaknya pun dapat dirasakan oleh semua pihak, baik yang memberikan pengetahuan, apalagi bagi yang menerima pengetahuan. Tak perlu banyak hal, kalau kata pepatah, sampaikan walau satu ayat. Artinya, meskipun sedikit tidak masalah. Sama seperti konsep menabung, sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit.

Masih ragu untuk sharing?

Bagi sebagian orang ternyata masih enggan untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain. Banyak hal yang menjadi alasannya. Mari kita merenung bersama.Bayangkan, apabila terdapat suatu teko yang diisi dengan air terus menerus. Kelamaan teko tersebut akan penuh sampai tidak mampu menampung lagi, sehingga airnya akan tumpah. Agar teko tersebut dapat diisi kembali, maka teko tersebut harus menuangkan isinya ke dalam tempat lain, gelas misalnya. Dan siklus tersebut berjalan seterusnya.

Minggu, 28 September 2014

Kuncinya Ialah Keyakinan dan Optimisme

Tuhan selalu bersama dengan prasangka hambaNya.
Pada sesi kali ini, Rumah Perubahan memberikan sebuah tantangan bagi tim kami. Misi ini bernama I’m Possible. Dengan lima buah permen merk Mentos yang diberikan, kami harus mampu menukarnya dengan barang yang nilainya sesuai dengan target masing – masing kelompok. Kami diberikan beberapa pilihan target, mulai dari 250.000 sampai lebih dari 650.000 rupiah. Kelompok lain memilih target dengan rentang 350.000 – 450.000, dengan konsekuensi apabila berhasil, maka tim akan memperoleh (+)100 poin, namun apabila gagal akan dikurangi 250 poin. Sedangkan kelompokku sendiri menetapkan target 450.000 – 550.000 dengan nilai konsekuensi berhasil (+)200 poin dan gagal (-)350 poin. Target yang cukup tinggi memang. Untuk itu sebagai ketua tim, aku harus mampu meyakinkan anggota tim agar optimis kami bisa meraihnya.

Pemilihan target tersebut tentu bukan tanpa dasar, aku sendiri pun sudah memperhitungkan. Kami diajarkan menggunakan kaidah SMART dalam menentukan sebuah target, yaitu specific, measurable, achievable, realistic, and time based. Dengan mengantongi 300 poin, artinya tim kami harus menanggung nilai resiko kegagalan (-)50 poin. Antisipasi agar tim tetap bisa makan, karena porsi makan dan minum mengurangi poin kami, maka kami harus menjadi penyedia jasa “Food Service” dimana akan diberikan (+)60 poin, paling tidak kami akan memperoleh (+)10 poin untuk makan satu tim. Cukup realistis, bukan?

Perjalanan pun dimulai. Tempat tujuan kami adalah Pasar Induk Warung Jambu Bogor. Sebelumnya kami telah menyusun rencana. Dengan berbekal 5 buah permen rasanya cukup mustahil kami dapat memperoleh barang dengan nilai sebesar yang kami targetkan mengingat tujuan utama kami adalah pasar tradisional. Para pedagang yang berorientasi keuntungan dan jenis barang yang dijual menjadi pembatas selain waktu yang diberikan juga cukup singkat, yaitu hanya tiga jam. Untuk itu kami menyasar perumahan mewah sebagai target utama. Hal yang kami inginkan ialah barang – barang bekas yang tentu mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. Apa yang akan kami kerjakan di sana?

Bogor siang itu menunjukkan teriknya. Di dalam angkot seperti biasa kami aktif mengabadikan momen. Tiba – tiba di tengah perhentian di lampu merah, seorang pengamen mendekat dan menyanyikan lagu. Petikan gitar dan suaranya yang merdu, membuat kami riang bertepuk tangan, seolah sejenak melupakan lelah kami, meskipun kami tidak mengenal lagu yang dinyanyikan. Sadar dengan apa yang kami lakukan, Sosa pun nyeletuk, “kalian menikmati lagunya, berarti harus mau memberikan upah untuk masnya”. Dan kami pun harus mengikhlaskan uang 2000 kami tanpa berpikir panjang apakah uang yang tersisa akan cukup membawa kami berlima kembali pulang ke Cico. Merasa memperoleh uang, pengamen tersebut pun turut mendoakan supaya misi kami saat itu berhasil.

Senin, 15 September 2014

HOKI – HONG SHUI – HOPENG

Seorang sahabat pernah menuturkan kepada saya tentang rahasia sukses orang – orang Tionghoa yang disebutnya dengan istilah 3H. Yang pertama adalah hoki atau keberuntungan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, hoki adalah nomor satu, karena apa pun yang kita kerjakan atau usahakan, jika tidak ada hoki, kesuksesan akan sulit dicapai.

Yang kedua adalah adalah hong shui, yang artinya angina dan air, yang menjelaskan tentang faktor – faktor alam yang saling terkait dan memengaruhi kehidupan manusia. Karenanya, tidaklah mengherankan jika orang Tionghoa sangat memperhatikan tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahirannya, serta sangat kritis terhadap tata letak dan arah bangunan tempat tinggal atau tempat usaha mereka, karena hal itu dipercaya sangat berpengaruh terhadap kemakmuran dan keberhasilan usaha mereka.

Yang terakhir adalah hopeng atau teman. Orang Tionghoa sangat menggarisbawahi faktor hubungan baik atau pertemanan dalam menjalankan bisnisnya. Jika Anda sudah dianggap sebagai teman dan bisa dipercaya, urusan transaksi bisnis adalah persoalan mudah.

Tentang dua faktor yang pertama, masih banyak terjadi perdebatan dalam masyarakat, masih banyak orang yang tidak percaya dengan hoki apalagi hong shui, tetapi untuk faktor pertemanan, hampir semua orang mengamininya.

Dalam buku – buku tentang kesuksesan juga dijelaskan bahwa “Anda adalah dengan siapa Anda paling banyak bergaul.” Pergaulan bisa lewat buku – buku yang And abaca, film – film yang Anda tonton, dan sahabat atau orang – orang terdekat yang Anda miliki, yang intinya mengajak kita semua untuk memperhatikan dengan siapa kita paling banyak menghabiskan waktu. Apakah dengan orang – orang yang positif yang membangkitkan semangat dan memotivasi hidup kita, ataukah dengan orang – orang negatif yang membuat energi hidup kita tersedot olehnya.

Mengenai hal ini ada sebuah pengalaman menarik ketika dalam sebuah seminar seorang pembicara mengatakan kepada para pesertanya. “Saudara – saudara, jika Anda ingin sukses, mulai saat ini Anda harus periksa kembali siapa saja kawan – kawan Anda, dan jika ada orang – orang yang negatif, hapus nama mereka dari daftar nama teman – teman Anda. Segera gantikan dengan teman – teman baru yang positif, “ seru si pembicara dengan bersemangat.

Semua hadirin yang ada di ruang seminar segera menuliskan nama kawan – kawan lama mereka dan mengamatinya satu per satu untuk diperiksa, apakah ada di antara mereka yang harus dihapus dan diganti dengan daftar nama yang baru.

Tiba – tiba, ada seorang peserta yang bangkit berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada pembicara seminar. “Pak, setelah saya periksa ternyata orang yang paling negatif adalah orang yang paling dekat dengan saya, yaitu istri saya sendiri. Bagaimana solusinya, Pak? Apakah istri saya harus diganti?” tanyanya dengan polos.

Sembari tersenyum si pembicara menjawab, “Semua teman – teman yang negatif harus diganti, kecuali pasangan hidup Anda, karena kontraknya untuk seumur hidup.”
Mendengar jawaban itu, semua hadirin pun ikut tertawa.
“Yang ikut tertawa, pasti orang yang punya pengalaman yang sama,” sahut pembicara yang mengundang tepuk tangan para peserta yang memenuhi ruangan seminar itu.
Umumnya, faktor – faktor yang mendorong dan menghambat kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh orang – orang yang berada di lingkungan terdekatnya, bisa teman, atasan, orang tua, atau pasangan hidup kita sendiri.

Seorang guru bijak suatu hari pernah ditanya, “Bagaimana cara mengubah mereka?”
“Tidak ada cara paling ampuh untuk mengubah orang lain, kecuali dengan mulai mengubah diri sendiri,” jawab sang guru bijak sembari mengingatkan bahwa sikap orang lain terhadap kita ibarat sebuah cermin, mereka akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka.

Cerita di atas dikutip dari buku “Berani Menertawakan Diri Sendiri” karya Sulaiman Budiman.

Selasa, 09 September 2014

Ini Baru Istana Buah

Nametag Taman Mekarsari
Buah-buahan merupakan salah satu jenis makanan yang paling aku suka, hampir semua jenis buah bisa habis aku lahap. Sampai sekarang aku hanya tidak menyukai satu jenis buah yang dinamakan Manila, sejenis tomat, berwarna violet, dengan rasa masam dan sedikit pedas mint. Mungkin butuh waktu supaya aku bisa menerima rasa Manila itu.

Mempunyai rumah yang dikelilingi pohon buah menjadi salah satu impianku, itulah sebabnya aku gemar menanam di rumah. Saat berkunjung ke rumah pamanku, aku merasa sangat bahagia, sebab di sana tumbuh berbagai pohon buah, ada anggur, rambutan, durian, mangga, matoa, cacao, jambu, salak, kedondong, dan masih banyak lagi. Rasanya seperti ada di surga, membayangkan dimana-mana pohon buah tumbuh.

Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang tempat wisata yang menyajikan berbagai jenis buah yang tumbuh di Bumi Pertiwi. Sebuah tempat buah karya inspirasi Ibu Negara Orde Baru, beliaulah Ibu Tin Soeharto, yang memprakarsai berdirinya tempat wisata buatan bertajuk taman buah terbesar di Indonesia. Taman itu dikenal dengan Taman Mekarsari. Terletak di Kabupaten Bogor, tepatnya di kecamatan Cileungsi, Taman Buah Mekarsari berdiri di atas tanah seluas 264 Ha, konsep dasar taman ini adalah taman wisata keluarga dan konservasi tanaman buah dengan area yang berbentuk menyerupai daun. Taman Mekarsari diresmikan pendiriannya pada tahun 1995.

Berbagai fasilitas sudah banyak tersedia di Taman Mekarsari, mulai dari kereta untuk berkeliling taman, danau buatan yang diisi dengan bebek kayuh dan perahu sampan, ayunan, panggung hiburan, area out bond, dan masih banyak lagi. Area parkir yang luas, berbagai macam gerai makanan dan minuman, serta kolam pemancingan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan rombongan yang datang dari luar kota. Tidak perlu khawatir kehabisan uang, karena di area taman juga sudah terdapat Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Rabu, 06 Agustus 2014

Bersyukur itu Nikmat

Syukur, kata yang mudah diucap namun tak mudah untuk dilakukan. Banyak orang sejatinya telah memperoleh banyak kenikmatan, tapi tak sadar akan hal itu, sehingga tak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang. Syukur, tak hanya menjadi sebuah aktivitas yang hanya sekali dilakukan, namun harus menjadi sebuah kebiasaan yang akan dilakukan setiap saat dalam semua kejadian.

Rasa syukur, tak cukup hanya diucapkan secara lisan, namun harus diyakini dari hati dan dibuktikan dengan tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan rasa syukur itu sendiri.

Seringkali hal-hal kecil yang kita alami menjadi penghalang yang menutupi mata hati sehingga membuat kita lupa akan hal-hal besar yang patut kita syukuri.

Rizki, menjadi salah satu faktor penting yang menentukan sikap kita untuk bersyukur atau kufur. Padahal kalau menilik lebih dalam, rizki merupakan akumulasi segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Keutuhan jasmani, kebebasan bernapas, serta segala bentuk kesehatan yang kita punyai, keluarga yang utuh dan harmonis juga merupakan bagian dari rizki. Cobalah untuk membuat daftar apa saja yang sudah Allah berikan pada kita sejak kita terlahir di bumi.

Allah Yang Maha Pemurah,
yang telah mengajarkan Al-Quran,
Dia menciptakan manusia,
mengajarkannya pandai berbicara,
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan,
dan tumbuh-tumbuan dan pepohonan tunduk kepadaNya,
Dan Allah telah meninggikan dan Dia meletakkan neraca keadilan,
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu,
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu,
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhlukNya,
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar Rahman : 1 - 13)

Dalam kutipan Q.S Ar Rahmat tersebut Allah sudah menyindir kita secara halus tentang limpahan nikmat yang telah Ia berikan kepada kita, namun sering kali kita lupakan. Dan apabila Allah memberikan cobaan kepada kita, maka telah berani Ia jaminkan surga untuk kita. Dan sesungguhnya cobaan itu sebagai alat bagiNya untuk menaikkan derajat kita di sisiNya.

Sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan,
dan sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan.
(QS. Al Insyirah : 5 - 6)

Dan bagi kita kaum muslimin, diwajibkan atas kita untuk selalu mengingatkan sesama agar dapat bersabar dalam cobaan dan selalu menuntun ke arah kebenaran. Karena sesungguhnya janji Allah adalah haq.

Kebahagiaan adalah kehidupan yang kita syukuri.

1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf

Senin, 07 Juli 2014

Memburu Kuliner di Kota Hujan


Bogor, Kota Hujan ini selain megantongi banyak catatan sejarah juga merupakan tempat yang tepat untuk mencari khasanah kuliner nusantara. Bagaimana tidak, contohnya saja di sepanjang Jalan Surya Kencana atau lebih tepatnya di Gang Aut, para pedagang rumahan dan kaki lima berdiri berjajar menjajakan dagangannya. Beraneka jenis makanan dan minuman ditawarkan dengan tampilan yang menggugah selera.

Perjalanan ke Bogor kali ini kita mulai dari Stasiun Sudirman. Sebenarnya akhir pekan di Bulan Ramadhan kali ini merupakan waktu yang kurang tepat untuk menikmati Bogor, dan terbukti begitu Commuter Line jurusan Bogor datang, kereta listrik itu sudah penuh sesak dengan manusia. Rasanya hampir sudah tak muat lagi menampung kami para penumpang dari Sudirman. Kalau menggunakan istilah Mpok Jupe, ini kereta sampe tumpeh-tumpeh deh. Satu jam perjalanan dengan kaki berdiri rasanya cukup menjadi coba puasa hari itu. Begitu sampai di Bogor kami disambut riuhnya mobil angkot yang rame di jalanan. Ya, selain dikenal dengan Kota Hujan, Bogor juga dikenal dengan Kota Seribu Angkot.

Jalan Surya Kencana menjadi tujuan utama kita. Di sana sudah berjajar para pedagang aneka makanan dan minuman khas Bogor. Seketika setelah mencari masjid untuk sholat, kita langsung kalap, rasanya ingin membeli semua yang ada di sana. Makanan pertama yang kita beli adalah Soto Kuning yang berada tepat di seberang Bank Mandiri Surya Kencana. Lapak sederhana milik keturunan Arab ini sangat ramai dikerumuni pelanggan. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari 2 jam, makanan yang dijajakan sudah ludes dijual. Kita pun hampir saja kehabisan, hanya mendapatkan sisa-sisanya. Lapak milik Bang Ali ini setiap harinya buka pukul 4 sore, dan segera tutup setelah dagangannya habis. Menurut penuturan Mas Agus, saat hari biasa (bukan dalam moment Ramadhan) dipastikan antrean Soto Kuning ini bisa lebih panjang. Aku sendiri ngga bisa membayangkan gimana rasanya mengantre demi seseruput Soto Kuning yang lezat ini. Makanan pertama, recommended.

Selasa, 24 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part II)


Menikmati malam di Cibeo menjadi pengalaman yang seru buatku. Terdapat sekitar seratus rumah di sana. Rumah-rumah itu tidak dilengkapi dengan lampu neon, penerangan hanya menggunakan lampu teplok, masing-masing hanya satu. Ketika malam tiba, semua aktivitas dihentikan. Paling hanya mengobrol dengan tetangga sekitar, selanjutnya bergegas istirahat untuk menyambut aktivitas keesokan harinya.

Aktivitas MCK semua dilakukan di sungai. Masyarakat Baduy Cibeo telah membagi area sungai menjadi dua bagian berdasarkan alirannya, yang pertama untuk buang air, dan yang kedua untuk mandi dan mencuci. Masing-masing sudah terpisah antara kaum laki-laki dan perempuan. Aku sendiri tidak mandi selama di Cibeo, hanya cuci muka, tangan dan kaki, begitu juga dengan Rian. Suasana ramah Cibeo membuat kami nyaman meskipun tanpa mandi. Bukan berarti ngeles karena malas mandi ya,hehe.

Semakin petang, Cibeo semakin penuh dengan rombongan wisatawan. Kurang lebih ada tiga ratus orang yang datang hari itu. Mungkin moment-moment seperti inilah yang mampu membuat Cibeo terasa hidup. Aku sendiri tak bisa membayangkan, bagaimana sunyinya Cibeo kalau tidak ada kami. Namun, meskipun malam itu cukup ramai. Aku tidak merasa terusik sebab homestay kami cukup jauh dari keramaian, aku sendiri bersama para rombongan lelaki tinggal di rumah Pak Sarip yang rumahnya terletak di gerbang Cibeo, sebenarnya bukan gerbang juga, tapi memang rumah keluarga Pak Sarip ini menjadi rumah pertama ketika memasuki Desa Cibeo. Sedangkan para wanita menempati kediaman Kang Jali dan satu rumah lagi. Kang Jali inilah yang menjadi pemandu kami selama di Cibeo.

Sudah di Cibeo rasanya kurang afdol kalau tidak menikmati malam di sana. Meskipun badan sudah sangat lelah dan harus segera diistirahatkan, tapi Mas Agus dengan semangatnya mengajak aku dan Rian jalan-jalan mengitari desa menikmati langit yang mengkristal. Dan kuputuskan untuk ke Alun-Alun (tanah lapang di pusat desa yang kemudian kami anggap sebagai alun-alun) untuk menikmati langit yang mengkristal itu.

Suasana malam di Alun-Alun begitu ramai penuh orang berlalu lalang menuju ke sungai untuk bersih diri. Kami putuskan untuk duduk di tengah-tengah menikmati langit sambil bercerita-cerita tentang banyak hal. Awalnya kami bertiga tidak mendapatkan kristal yang kami harapkan. Namun, kelamaan awan mendung yang menyelimuti langit menyibak membentuk garis oval, memperlihatkan bintang-bintang yang berkilauan. Subhanallah, betapa cantiknya langit malam itu. Bagaikan Kristal yang terukir indah di atas semesta. Aku teringat malam-malam indah di Karimun Jawa bertahun yang lalu.

Malam semakin larut, namun orang-orang masih banyak yang aktif bercengkerama satu sama lain. Karena rasa kantuk yang mulai terasa akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke homestay.

Senin, 23 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part I)


Kepenatan dengan rutinitas pekerjaan memang kelamaan bisa menjadi sebuah penyakit yang apabila tak segera diobati maka akan berdampak fatal. Itulah sebabnya aku memilih travelling sebagai salah satu obatnya. Namun, ternyata travelling itu memang benar-benar menjadi candu, it’s addicted. Setelah dari Green Canyon Pangandaran beberapa minggu yang lalu, sekarang aku pergi ke Kabupaten Lebak Banten untuk melepas penat-penatku itu.

Ini semua berawal dari kegemaranku yang doyan sama travelling, lebih tepatnya kecanduan. Hehe. Tadinya aku mengajak Rian untuk touring ke Garut, tapi Rian punya tawaran lain yang lebih menggiurkan, Pantai Ujung Genteng Sukabumi. Rencana sudah disusun lumayan matang. Namun, rencana tinggallah rencana. Cuaca Jakarta yang beberapa hari terakhir yang kurang bersahabat akhirnya membuat temannya Rian yang sedianya membawa kami ke Ujung Genteng membatalkan dengan sepihak. Untuk mengobati kekecewaan kami, Rian yang inisiatif dan agresifitasnya cukup tinggi menawarkan Trip to Baduy Dalam bersama Wuki Travel. Ajakan tersebut langsung aku terima tanpa berpikir panjang.

Sabtu, 21 Juni, begitu subuh berkumandang kami segera siap-siap untuk menuju Meeting Point, Stasiun Duri. Rasa lelah sebenarnya masih terasa, sebab sampai jumat malam kami masih berkutat dengan aktivitas masing-masing di kantor padahal beberapa logistik yang harusnya dibawa belum terbeli. Suasana Jakarta pagi itu sangat mendukung, cerah dan lengang, mungkin juga karena masih sangat pagi. Kami berangkat ke St Duri melalui St Sudirman menggunakan Commuter Line.

Sesampainya di St Duri ternyata sudah banyak anggota kelompok travelling yang sudah sampai, Kami segera keluar stasiun dan bergabung dengan mereka. Sesi perkenalan, foto, dan doa sebelum pemberangkatan kami jalani. Dan medan perjuangan itu segera kami mulai.

Medan perjuangan, ya, aku lebih suka menggunakan kata-kata itu untuk tripku kali ini. Bagaimana tidak, memasuki gerbong kereta Rangkas Jaya jurusan Angke-Merak saja menurutku sudah perjuangan banget. Aku jadi teringat10 Mei 2010, perjalanan Semarang- Jakarta menggunakan kereta ekonomi untuk mengantar sahabatku Bagus Nugroho ke peristirahatan terakhirnya. Kereta yang meskipun sudah ber-ac itu terasa panas sebab terlalu penuh sesak oleh penumpang dan pedagang asongan. AC yang dipasang tak berfungsi semestinya. Suara gaduh pedagang menawarkan dagangannya, keluhan ibu-ibu, tangisan anak-anak balita memecah heningnya kereta pagi itu, mengalahkan alunan mesin khas kereta.

Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, akhirnya rombongan sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Ciboleger, kami diberi waktu untuk makan siang (sarapan - red) sambil menunggu teman-teman yang ketinggalan kereta. Ya, ada beberapa teman dari Karawang dan Bekasi yang ketinggalan kereta gara-gara si oknum yang telat bangun pastinya. Haha. Sepertinya cerita mereka bakal lebih seru.

Stasiun Rangkas Bitung, Lebak, Banten

Istirahat dirasa cukup, perut sudah kenyang, meskipun aku dan Rian tak makan juga lantaran kami berdua sudah meraup secuil roti, sedangkan para laters pun sudah datang. Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Ciboleger menggunakan mobil elf. Perjalanan dari Rangkas ke Ciboleger ditempuh sekitar dua jam, melewati jalanan naik dan turun. Panasnya Lebak ternyata mampu menidurkan kami, kecuali aku, karena aku duduk tepat menghadap pintu mobil jadi sedikit waswas kalau mau tidur.

Selasa, 03 Juni 2014

Membuncahkan Semangat dari Guha Bahu


Pangandaran, 31 Mei – 1 Juni 2014

Sudah lama rasanya aku tidak melakukan travelling. Selama di Jakarta, paling jauh tempat yang aku kunjungi ialah Anyer, itupun gegara perjalanan dinas dan tidak mampir ke pantainya. Selebihnya paling hanya main-main ke mall, Pantai Ancol, dan Monas. Padahal raga dan pikiran sudah letih dengan rutinitas kerja.

Aku bersyukur selama di Jakarta masih dikelilingi orang-orang yang baik hati, setelah kecewa menolak ajakan Mas Abra ke Bromo, ada si Dana yang mengajakku bergabung dengan kawan-kawan kampusnya ke Pangandaran. Kali ini aku diajak untuk merasakan Body Rafting ke Guha Bahu, Cukang Taneuh, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sedikit mengulas tentang Guha Bahu. Gua ini merupakan gua di pinggir ngarai yang terbentuk dari stalaktit. Guha Bahu berada satu area dengan wisata Green Canyon Pangandaran. Awalnya aktivitas wisata di Cukang Taneuh atau Green Canyon ini hanya sekedar menumpang perahu menyusuri sungai Cijulang menuju area terluar gua yang berupa susunan batu-batu besar. Sesampainya di area tersebut, wisatawan diijinkan untuk bermain air melawan arus air. Namun, akhir-akhir ini sudah dibuka arena wisata baru yaitu body rafting dimana pengunjung dibawa ke hulu menggunakan mobil bak terbuka kemudian menyusuri sungai dari hulu sampai ke hilir.

Jumat siang aku berpamitan dengan mentorku, Ms.Elizabeth, yang memang sehari sebelumnya aku sudah meminta ijin untuk pulang lebih awal di hari itu. Untungnya aku mendapatkan mentor yang selain baik, juga mempunyai hobi yang sama, jadi tidak perlu bersusah payah mendapatkan ijin. Bahkan sebelum aku pulang, aku diperlihatkan foto-fotonya waktu traveling ke sana. Kalau si Dana justru lebih beruntung lagi, kami mendapatkan manajer yang super baik, di hari kecepit itu dia diperbolehkan ijin cuti.

Pukul 3.30 sore Dana menjemputku di kos. Meeting point kali ini berada di Masjid Terminal Kampung Rambutan Jakarta Selatan yang jaraknya cukup lumayan dari Sudirman meskipun sama-sama di Jaksel. Itulah sebabnya aku ijin pulang duluan, sebab kami harus sampai di terminal sebelum jam tujuh. Tahu sendiri macetnya Jakarta seperti apa. Sejam menunggu busway tidak ada yang datang karena jalurnya penuh dengan mobil, yang paling ngeselin adalah melihat sebuah mobil polisi yang juga ikut-ikutan menjajah jalur busway. Hampir hopeless kami memutuskan untuk naik ojek, tapi karena harga tawar yang cukup tinggi kami mengurungkan niat, mencapai 80.000 rupiah seorang. Akhirnya tepat jam lima kami menemukan bus AC70 jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan, hanya dengan 9.000 rupiah dalam waktu satu jam kami sudah sampai di depan terminal.

Kamis, 29 Mei 2014

Membudayakan Apresiasi

Banyak yang berkata bahwa budaya masyarakat Indonesia tentang apresiasi sangatlah rendah, padahal sejatinya bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya. Saat seseorang sedang tergesa-gesa memburu lift yang akan membawanya, di sisi lain ada yang menahan lift tersebut agar tetap terbuka sehingga ia bisa masuk, tak jarang orang tersebut lupa mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantunya. Hal itu acap kali terjadi di sekitar kita.

Apresiasi. Sederhana namun mudah terlupa.

Rasanya jika membandingkan budaya Barat dengan budaya kita tentang rasa mengapresiasi sangatlah jauh. Misalnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, para penonton tak segan untuk memberikan standing applause bagi para kontestan yang memberikan penampilan terbaiknya.

Hal paling sederhana dalam memberikan apresiasi adalah senyuman. Senyum, meski ringan, tetapi faktanya sulit dilakukan. Pernahkan kita berpikiran untuk memberikan senyuman kepada orang yang kita jumpai atau saat berpapasan di jalan meskipun kita tidak mengenalnya? Bukan malah menundukkan kepala atau bersikap acuh tak acuh.

Hal yang juga sederhana dalam memberikan apresiasi adalah mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih atas bantuan atau pertolongan seseorang, meskipun hanya dua kata singkat, namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hubungan interpersonal seseorang dengan yang lain. Namun sayangnya, hal ini sering kali terlupakan oleh sebagian orang.

Senin, 14 April 2014

Potensi Bagaikan Berlian, Perlu Asahan Agar Berkilauan

Era saat ini banyak sekali perorangan atau badan yang menjadikan sebuah pelatihan atau training sebagai bentuk pelecut diri untuk mengasah berbagai potensi, tak terkecuali sebuah badan usaha atau perusahaan. Training sendiri pada dasarnya terdiri atas 3 unsur yang pokok dan saling berkaitan, yaitu adanya trainer (pelatih), trainee (peserta), dan materi training. Sedangkan yang lain merupakan unsur pelengkap / komplementer. Sebuah perusahaan memberikan training kepada pegawainya dengan tujuan agar perusahaan tersebut mempunyai asset berupa sumber daya manusia (SDM) yang cakap dan mampu mengembangkan bisnis perusahaan tersebut. Namun sayangnya, tak banyak perusahaan yang dapat dengan serius menjalankan program training ini dan memanfaatkannya dengan optimal.

Filosofi Berlian
"Potensi seseorang bagaikan sebuah berlian yang akan terlihat kilaunya setelah diasah."
Sebuah perusahaan tentu tidak akan sembarangan dalam merekrut calon pegawainya. Berbagai metode dan cara digunakan oleh perekrut handal untuk memperoleh SDM sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan. Setelah proses rekrutmen selesai, maka didapatlah pegawai baru yang berkualitas sesuai dengan kriteria yang dimaksud. Pegawai baru tersebut, terutama yang belum mempunyai pengalaman kerja, tentu dinilai mempunyai potensi yang luar biasa sehingga ia bisa lolos proses rekrutmen. Dan oleh karena itu, para pegawai baru diberikan kesempatan untuk mengikuti sebuah program pelatihan agar mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan kerja sesuai yang diharapkan. Dengan potensi awal yang dimiliki, diharapkan pegawai baru dapat menyerap ilmu yang diberikan dengan lebih cepat dan tepat.

Perlu menjadi perhatian bahwa potensi awal pegawai baru harus dipandang sebagai sebuah berlian, dimana berlian tersebut akan mampu memancarkan kilaunya dengan asahan. Asahan tersebutlah yang kita kenal dengan training. Dan trainer di sini bertugas memberikan asahan yang tepat bagi berlian agar dapat berkilau sesuai dengan yang diharapkan.

Menyapa Keluarga Baru (Kisah untuk Squad MDP VII TBIG)

Mungkin awal pertemuan kita bisa dibilang bukan awal yang terlalu baik, tapi juga bukan awal yang buruk. Semua terasa biasa saja, begitu singkat. Namun, semua berubah saat satu per satu mulai menunjukkan kepeduliannya, menjadikan sebuah hubungan pertemanan sebagai ikatan kekeluargaan, kepanjangan para penjaga di kampung halaman.

Hari hari pertama mungkin terlalu kaku untuk kita jalani, begitu juga untukku sendiri. Topeng-topeng yang indah dan rapi masih terpasang menutupi wajah diri. Kepribadian ini terselimuti tanpa ada saksi sebab kita memang datang dari perbedaan yang tak satu pun saling kenal. Namun, waktu menggiring kita ke dalam suasana baru, menghadirkan tawa ceria, menjadi bumbu penyedap materi-materi yang menggoyahkan iman kita, yaitu rasa kantuk dan bosan yang melanda. Perlahan, topeng-topeng mulai terbuka, ternyata benteng itu tak sekokoh yang kukira. Lalu, di depan kalian aku menahan tawa.

Entah kapan pastinya kita mulai akrab aku lupa. Aku hanya ingat kuis-kuis ringan yang kuberikan, yang mampu membuat kalian terbangun lamat-lamat karena rasa penasaran yang tak kunjung tamat. Namun yang aku tahu, kini kita sudah mulai lekat bagaikan atom-atom dalam reaksi kimia, bagaikan simpul-simpul tower yang terikat kuat.

Namun kawan, ternyata perjalanan kita tak selamanya seindah Cerita Romantika, tapi juga tak sekeruh Keluarga Cemara. Satu per satu mulai tumbang oleh ujian, bersedih atas cobaan yang diberikan. Tekanan demi tekanan mulai datang, menghadang.

Ikatan kita kini dipertaruhkan. Kita menyatu untuk maju, atau tumbang terhempas karang di lautan. Namun cobaan yang datang tak mampu menghalangi pandangan. Kita mampu bersatu saling menguatkan.

Minggu, 13 April 2014

Tekanan Mental Itu Beneran Ada Lho

“Kenapa sih, para senior itu selalu marah-marah dan berteriak seolah-olah mereka bukan kaum intelektual. Kita bisa kali diberitahu dengan cara yang halus.”

“Kenapa sih asisten itu ribet amat, sok teliti banget, ini itu salah, padahal cuma perkara tata tulis. Dikit-dikit asal coret.”

Pada mulanya kita hanya tahu kenapa saat kuliah dari masa kaderisasi sampai mau ujian sidang skripsi semua serba penuh tekanan. Mental kita benar-benar diuji. Kita dituntut untuk punya mental baja, bisa memberikan solusi dengan jalan yang kreatif dan tetap perfectionist meski ditekan mati-matian. Pada mulanya kita hanya diberitahu bahwa semua itu kelak akan sangat berguna bagi kita tanpa pernah tahu kapan manfaat itu bisa kita petik.

Sebenarnya saat kuliah pun kita sudah mendapatkan manfaatnya, sadar atau tidak, ternyata banyak juga para dosen yang dengan seenaknya meminta sesuatu dan semaunya mengatakan sesuatu, terdengar pedas dan menyakitkan. Hanya hal itu kadang tidak berlangsung lama sebab hati mereka masih sama seperti bapak atau ibu kita.

Namun, saat tiba di kehidupan professional, menempuh masa-masa dalam pekerjaan, ternyata hutan rimba itu benar-benar ada. Hal yang lumrah kalau seorang bos atau atasan menegur bawahannya dengan makian, kata-kata kasar, dan terkesan menjatuhkan. Hal yang lumrah saat usaha kita yang belum berhasil dibalas dengan sindiran dan kata-kata pedas yang tak enak didengar. Apabila target dan deadline sudah di depan mata, maka para bos itu hanya ingin tahu hasilnya saja tanpa proses yang mengiringinya.

Dunia kerja adalah dunia professional. Jangan terlalu berharap mendapatkan lingkungan  kerja sesuai dengan harapan kita. Orang-orang yang saling mengerti dan memotivasi, atasan yang selalu mendukung setiap langkah bawahannya, serta kebijakan perusahaan sesuai dengan isi hati. Tidak semua lingkungan perusahaan tampil mengagumkan seperti yang selalu kita idam-idamkan.

Kini aku sendiri sadar dan merasakan bagaimana manfaat dulu dibentak-bentak oleh senior, dipersulit oleh asisten, disindir oleh dosen. Semua sebagai bekal untuk aku tetap bertahan dalam lingkungan kerja yang keras ini.

Pilihannya hanya dua, bertahan atau bertandang? Bertahan dalam pekerjaan tersebut dan menunggu masa-masa indah itu tiba. Atau bertandang ke lahan pekerjaan yang lain dan selalu memulai sesuatu dari awal.

“Bahwa kehidupan itu adalah sebuah pertandingan,  pemenang adalah mereka yang kuat dan mampu bertahan sehingga akan merasakan manisnya hasil perjuangan. Semua akan indah pada waktunya. Dan sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.”

Sabtu, 05 April 2014

Merantaulah

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti saudara dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."
(Imam Syafi'i)

Ada banyak alasan mengapa aku lebih memilih pekerjaan yang sekarang ketimbang menetap di kampung halaman. Meskipun di sana, aku bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih cukup. Meskipun di sana aku bisa memperoleh kenyamanan karena masih tinggal dan bergantung dengan kedua orang tua. Tapi aku mengingingkan yang lebih dari itu. Yang aku inginkan adalah tantangan hidup, pembelajaran tentang banyak hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan.

Jakarta, kota ini jauh berbeda dengan Jepara. Tak perlu bicara soal lingkungannya, manusianya apalagi, sangat berbeda. Banyak kutemui orang-orang yang, maaf, bajunya lusuh, seorang ibu dan anak yang tertidur pulas di lorong jembatan busway. Seorang anak kecil yang membawa karung untuk mengangkut sampah-sampah dengan sandang yang compang-camping tak karuan, sedangkan yang lain berbaju dinas, rapi dan wangi, parasnya bersih dan menawan. Kesemrawutan Kota Jakarta tak perlu aku ceritakan lebih lanjut, hampir semua orang sudah mengetahuinya. Sudah menjadi rahasia umum.

Namun, kerasnya Jakarta justru memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan. Secara pribadi, aku terlatih untuk bisa lebih mandiri. Dan aku juga berharap, jiwa sosialku semakin bertambah ketika dihadapkan dalam kenyataan hidup yang penuh dengan ketimpangan sosial seperti ini.

"3 perbuatan yang paling mulia adalah: Kedermawanan di saat sempit harta, menjauhi perbuatan dosa di saat sendiri, dan berkata jujur dihadapan orang yang ditakutinya" (Imam Syafi'i)

Aku percaya bahwa siapapun yang menanam kebaikan maka ia akan menuai hasil kebaikannya itu. Di Jakarta ini, aku dipertemukan dengan banyak saudara dan kerabat baru. Mereka sangat baik padaku. Bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal pun berlaku demikian. Ia begitu peduli dengan diri dan keselamatanku. Tak hanya dengan tutur kata dan nasihatnya, juga dengan perbuatannya.

Percayalah, masih banyak orang baik yang hidup di dunia ini. Sekeras apapun, dia masih punya hati dan perasaan yang bisa luluh dengan kebaikan. Maka, tebarkanlah kebaikan.

Minggu, 23 Maret 2014

Bapak by Rahma Nugrahaini

Assalamualaikum...
Ceritanya hari ini aku dan keluarga melayat saudara, seorang bulik di Banyumanik.
Meski sudah kurang lebih sebulan dari masa meninggalnya, namun kami memang 
baru bisa kesana. Kami berada di Kalimantan waktu itu, dan tidak bisa pulang.
Sedih... Tidak bisa mengantar bulik untuk yang terakhir kalinya.
Singkat cerita, Om Ali, istri bulik almarhumah, menceritakan setiap detail perjalanan 
sakit bulik sampai beliau tidak ada. Sungguh... Kami menunduk menahan haru. Air 
mata serasa sudah di penghujung mata, namun kami sekuat hati menahannya. Kami 
tidak ingin membuat Om dan keluarganya merasa sedih kembali.
Om Ali berkata, bahwa meskipun dalam rumah tangga mereka seringkali terjadi cek 
cok karena beda pendapat, namun setelah 25 tahun bersama dan kemudian ditinggal, 
beliau merasa menjadi pincang. Bahwa ada separuh dari dirinya yang hilang entah 
kemana.

Sampai rumah kurenungi cerita Om Ali tadi. Dan pikiran ini tiba- tiba kembali 
ke masa bapak tiada. Jelas sekali, memori- memori itu serasa film yang diputar di 
pelupuk mata. Saat bapak 9 bulan terbaring di tempat tidur tanpa bisa kemana- mana, 
saat bapak seringkali menangis sendiri membayangkan dirinya sendiri kalau sudah 
tiada nanti. Dan saat terakhir kali bapak dirawat di rumah sakit... Itu yang paling 
menyedihkan untuk diingat. Bapak masih sadar sepenuhnya saat meminta sendiri 
untuk dirawat di rumah sakit saat itu, karena merasa sudah tidak kuat lagi. Kami 
sekeluarga pun membawanya kesana, dengan harapan kondisinya membaik. Hal 
seperti ini bukan hal yang baru, karena sebelum itu bapak sudah seringkali bolak- 
balik ke rumah sakit.

Namun ada yang beda setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit saat itu...
Entah mungkin “visualisasi dunia lain” yang sudah membayangi entah apa, aku 
sendiri tak tahu jelasnya. Bapak mulai setengah “terbawa” ke bukan dunia fana. 
Mulai dari bapak merasa bahwa infus yang di sebelahnya adalah jam... Lalu saat 
bapak merasa tidur di atas air... Hingga saat bapak merasa ada kehadiran ibunya, 
yang puluhan tahun telah tiada. Kami mulai takut, mereka- reka sesuatu yang buruk, 
meskipun berusaha menepisnya dengan harapan baik.
Keesokan hari dari hari tersebut pun bapak masih sadar. Di pagi hari beliau 
menanyakan mengapa aku tidak berangkat ke sekolah. Dan aku bersyukur sekali, kala 
itu kujawab sambil tersenyum, “Iya pak, tidak sekolah. Di sini saja menemani bapak.” 
Sebenarnya ibu yang memintaku untuk tidak pergi sekolah, karena kondisi bapak 
yang memang sudah drop tersebut. Pagi itu kuingat betul bapak mau kusuapi biskuit, 
meski hanya sekitar satu setengah keping, tapi aku senang sekali. Akhirnya bapak 
mau makan. Bapak biasanya, di kala bugar, selalu mau makan enak. Namun saat itu, 
beliau seperti kehilangan selera makannya.

Rabu, 05 Maret 2014

Hidup Memilih Kehidupan

Hari ini aku kembali tersadar bahwa segala hal yang aku alami sampai detik ini adalah berkat pilihan-pilihan yang aku putuskan sebelumnya. Itulah hidup, dengan cerita yang berjalan atas pilihan untuk kehidupan.

Tuhan memberkahi kita dengan banyak bekal, terlahir sebagai lelaki atau wanita, dari keluarga muslim atau non muslim, terlahir dari keluarga kaya atau miskin. Semua itu sebagai pegangan awal untuk menentukan pilihan-pilihan berikutnya. Dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi masing-masing.

Kini aku telah memilih pilihan-pilihan itu untuk menentukan jalan hidupku. Begitu pun hidup kita semua. Sedari kecil kita sudah memilih, memilih untuk menjadi anak yang rajin atau pemalas, memilih untuk berteman dengan siapa saja, memilih hobi-hobi kita, yang pada dasarnya pilihan-pilihan itulah yang menjadikan kita seperti sekarang.

Dan Tuhan pun turut membiarkan kita dengan pilihan-pilihan itu. Kita bebas memilih, mau beriman atau berdusta, mau berusaha atau miskin tanpa karya, serta mau berbaik sangka atau berburuk sangka. Semua itu pilihan. Namun, dalam menentukan pilihan, jangan sekali-kali menutup mata akan kebenaran yang ada, sebab kembali lagi, terdapat konsekuensi atas pilihan-pilihan itu. Pilihan yang salah akan berdampak tidak baik dalam hidup kita.

Hidup itu pilihan dan menjalankan konsekuensinya. Gaya hidup kita, lingkungan dan teman-teman kita, profesi kita, keimanan, dan ketaqwaan adalah bagian dari pilihan. Kehidupan kita yang sedang berjalan saat ini adalah berkat pilihan-pilihan di masa lalu. Sekarang kita dituntut menentukan pilihan-pilihan untuk masa depan kita. Bukalah mata, carilah kebenaran yang ada, dan tentukan pilihannya.

Rabu, 26 Februari 2014

Mengatur Gaji Pertama Karyawan Baru

Hal yang paling ditunggu-tunggu saat sebulan lelah bekerja ialah masa gajian, apalagi bagi seorang karyawan baru, lebih tepatnya seseorang yang baru merasakan pekerjaan pertamanya. Waktu gajian pertama menjadi masa yang dinanti-nanti, sebab saat itulah pertama kali kerja keras dan kelelahan terbayar dengan itungan materi. Namun, ternyata tidak sedikit orang yang setelah memperoleh gaji pertamanya justru terlalu terlena sehingga gaji tersebut terbuang sia-sia dan sekejap mata. Bagi Anda yang bekerja di sektor minyak dan gas atau pertambangan, dan ditempatkan di daerah terpencil yang jauh dari gaya hidup urban mungkin memiliki arus kas yang sedikit lebih aman, tetapi bagaimana dengan Anda yang bekerja di perkantoran terutama yang di kota-kota besar?

Gaji awal yang diterima saat mulai bekerja biasanya tidak terlalu besar, hal itu wajar sebab posisinya memang masih di level bawah. Besarannya pun diperkecil oleh potongan pajak dan jamsostek. Tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh perusahaan juga belum dapat diterima, menunggu sampai pengankatan menjadi pegawai tetap. Namun, ekspektasi penggunaan gaji pertama biasa terlalu besar dan cenderung muluk-muluk, Anda sudah siap dengan daftar barang-barang yang hendak dibeli dan serangkaian acara selebrasi untuk menikmati gaji pertama tersebut, dari sekedar menikmati kuliner di restoran tertentu, menonton film di bioskop, karaoke, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari membengkaknya pengeluaran pada gaji pertama, sebaiknya Anda mampu mengatur dan memprediksi arus kas yang dipunya. Jangan sampai niat Anda untuk tidak membebani orang tua lagi ketika sudah bekerja menjadi gagal lantaran kebiasaan yang masih susah mengatur arus kas.

Minggu, 16 Februari 2014

Maka Retaklah Bumi

Saat janji tiada terpenuhi
alpa menjadi-jadi
Kerusakan tak henti-henti
Kaki bumilah jadi saksi

Esok,
mentari masih terlelap sendu
langit tiada membiru
sepanjang jalan terlihat mendung
Mata terbelalak, kaki pun masih tersandung

Malam ini
orang sedang lelap terjaga
pulas atas gerak badan berhari-hari
demi nasi dan harga diri
Namun, pasak-pasak bumi yang berjajar rapi
beraksi

Orang pun berlari-lari
berharap ada yang menyelimuti
lupa yang dijanji

Saat semua makin menjadi
sebagian berzikir tiada henti
meratap atas alpa diri
Namun,
yang lain masih jadi penjudi

Kini titah telah datang
jaman menjadi bukti
alam 'kan jadi saksi
Jika orang-orang tetap berjudi
maka retaklah bumi ini

*Banjir Pantura, tanah longsor Muria, gempa Selatan Jawa, letusan Sinabung dan Kelud

Minggu, 09 Februari 2014

Tentukan Komunitasmu

"Barang siapa yang bergaul dengan penjual parfum, maka akan kerkena wanginya".

Pepatah arab di atas merupakan nasehat bagi kita agar kita dapat menentukan dengan siapa kita bergaul, sebab merekalah salah satu penentu jalan kesuksesan kita. Sahabat, terkadang kita terlalu dipusingkan dengan perkara pertemanan. Dilarang memilih-milih teman, nanti dikira sombong. Tapi apakah kita sadar bahwa secara tidak langsung ternyata teman-teman kita sangat berpengaruh terhadap cara kita bergaul, cara kita bersikap dan menilai sesuatu.

Pada dasarnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial, dimana manusia tak dapat hidup sendiri tanpa adanya orang lain di sekitarnya. Dari kecil kita sangat terbantu oleh kehadiran ibu yang selalu membimbing dan mengontrol kita. Dari berlajar bicara, mulai merangkak, lalu dapat berjalan. Itu sebagian kecil dari prinsip dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika berancak dewasa, kita dihadapkan dengan berbagai banyak pilihan komunitas, yang terdiri atas orang-orang terdekat kita, yaitu teman-teman kita. Kita dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi kita harus tahu siapa saja yang kiranya dapat membawa kita dan kita bawa ke dalam kebaikan, jadi hasilnya akhirnya adalah sama-sama baik.

Poinnya bukan berarti kita memilih-milih teman, hanya kita harus tahu siapa saja yang bisa kita ajak berbagi suka maupun duka. Pilih orang-orang terbaik yang dapat membuat kita jadi lebih baik.

Perampok akan berkumpul dengan perampok, mereka bersama-sama menjalankan aksinya untuk mencapai tujuannya, yaitu memperkaya diri dengan jalan merampas hak orang lain, bahkan nyawa menjadi korbannya. Ujung-ujungnya, kumpulan perampok tersebut akan ditangkap oleh pihak yang berwajib dan mendekam di dalam penjara. Begitupun yang terjadi dengan para pemabuk, penjudi, dan kumpulan sebagainya.

Olahragawan, ilmuwan, dan sejarawan juga akan berkumpul dengan sesamanya. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan hasil terbaiknya. Mereka saling bekerja sama dan memotivasi agar dapat mencapai tujuannya. Semua berkumpul, bekerja keras, untuk meraih prestasi yang mereka idam-idamkan.

Komunitas atau teman yang baik, tentu akan membawa kita kepada hal-hal positif. Lingkungan tersebut akan membuahkan suasana yang positif pula. Kebaikan suatu lingkungan tentu akan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya, dan berlaku sebaliknya, lingkungan yang buruk akan berdampak buruk juga terhadap sekitarnya.

Jumat, 31 Januari 2014

Bencana dan Kezaliman

sumber: akun facebook I ♥ Jepara
Dulu, banjir kerap dikaitkan dengan Kota Jakarta, ibukota Indonesia, lantaran buruknya kondisi drainasenya, banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, minimnya zona hijau karena semua lahan penuh dengan gedung-gedung beton. Namun, kini bencana banjir tidak hanya merendam Jakarta, bahkan di berbagai pelosok negeri ini, banjir telah mengancam dengan menenggelamkan perumahan penduduk hingga mencapai atap-atap rumah. Ada apakah dengan Indonesia?

Mengutip dari banyaknya ayat di Al-Quran yang menjelaskan tentang bencana. Di sini akan aku kutip beberapa.
“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)

 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas disebutkan bahwa munculnya suatu bencana tidak lain disebabkan oleh kezaliman hambaNya. Tentu kita sadar bahwa dewasa ini semakin banyak terjadi kemaksiatan dimana-mana. Bahkan, para pemimpin yang diamanahkan untuk menjaga moral bangsanya pun melakukan hal yang sama. Banyak pula golongan alim yang menutup mata dan telinga, membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Maka, mungkin sepantasnya apabila Allah SWT mengganjar kita dengan hal yang demikian. Bencana datang bertubi-tubi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

Bencana didatangkan tanpa pilih kasih, tak peduli baginya yang beriman atau tidak. Bagi orang yang beriman, bencana merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan, dalam hal ini Allah berjanji akan mengangkat derajat dan martabatnya dengan mengampuni dosa-dosanya. Namun, bagi kaum yang zalim, bencana merupakan suatu peringatan agar mereka dapat segera sadar dan bertaubat atas perbuatan-perbuatan dosanya. Semoga yang demikian segera memperoleh inayah serta hidayahNya.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)

Jumat, 24 Januari 2014

It’s About Integrity

Pagi itu langit begitu cerah, Raka dan Nanda bersiap berangkat sekolah. Kebetulan bus sekolah sudah menanti di ujung jalan. Raka dan Nanda bersahabat sejak kecil, sekarang mereka berada di bangku sekolah yang sama. Sesampainya di sekolah, Raka dan Nanda teringat bahwa hari itu ada pekerjaan rumah yang belum mereka kerjaan. PR yang diberikan langsung dikumpulkan di meja guru sebelum kelas jam pertama dimulai. Raka dan Nanda menuju ruang guru. Raka segera mengerjakan tugasnya, meskipun tidak selesai tetapi Raka tetap mengumpulkan tugas di meja, setelah itu segera beranjak keluar karena kelas akan dimulai. Sedangkan Nanda masih berada di ruangan. Tidak disangka, Nanda berbuat curang dengan mengganti identitas di salah satu lembar kerjaan milik temannya. Mengetahui sahabatnya berbuat demikian, Raka kecil sangat sedih, dia tidak tega melaporkan kelakuan sahabatnya, tetapi di sisi lain dia tahu bahwa perbuatan tersebut salah dan merugikan orang lain.

Ketika dewasa, Raka dan Nanda memperoleh pekerjaan di tempat yang sama. Raka ditempatkan di bagian keuangan, sedangkan Nanda di pengadaan. Ketika mendapat sebuah proyek, Nanda melakukan tindakan tidak sehat dengan menerima gratifikasi dari sebuah rekanan agar proyek tersebut dimenangkan. Oleh bagian keuangan yang dipimpin oleh Raka ditemukan bahwa kegiatan tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan. Hal tersebut membuat Raka mau tidak mau harus melaporkannya ke bagian manajemen. Berkat ulahnya, Nanda pun diberhentikan dari kerjaannya, sedangkan Raka atas kinerjanya yang baik mampu memperoleh promosi kenaikan jabatan.

Jumat, 17 Januari 2014

Nasehat Seorang Ayah

Hari ini aku mulai menapaki jalan hidup yang baru. Merantau ke kota orang untuk mengais pundi-pundi. Dalam keberangkatanku, aku diantar oleh kedua orang tuaku. Keduanya berpesan agar aku bisa menjaga diri baik-baik dan istiqomah di jalanNya.

Pesan yang ditulis oleh Ayahku

Nasehatku
1. Jangan lupakan ibadahmu
2. Jangan lupakan jaga kesehatanmu
3. Jangan lupakan kedua orang tuamu
4. Jangan lupakan saudara-saudaramu
5. Jangan lupakan guru-gurumu
6. Jangan lupakan tetanggamu
7. Jangan lupakan teman-temanmu
Iki nasehat dari orang tuamu, sebab hidup di kota besar banyak godaannya.

Bapakmu,
Bakri

Ya Allah Ya Rabby, bantulah hambaMu dalam menjalani kehidupan ini. Hamba ingin selalu istiqomah di jalanMu, menuntut ilmu mencari kebenaran untuk dapat hidup dengan damai. Rahmaka ya Rabby.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. al-Baqarah [2]: 201)”

Senin, 13 Januari 2014

Tips Hidup Sehat I

Musim hujan seperti ini biasanya sistem imun mulai menurun, kondisi lingkungan juga dalam keadaan terburuknya, dan menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Kalau kita tidak pandai merawat kesehatan tubuh dengan baik, bisa-bisa kita tumbang di Rumah Sakit. Untuk itu di sini aku memberikan beberapa tips simple yang bisa dipraktekkan untuk menjaga kesehatan tubuh sehari-hari.

Tips yang pertama adalah mengkonsumsi habbatussauda atau yang biasa dikenal dengan jinten hitam. Menurut literatur yang pernah aku baca, tanaman yang bernama latin Nigella sativa ini mempunyai banyak manfaat, diantaranya menjaga kelancaran aliran darah. Nah, kalau aliran darah sudah lancar, oksigen dan nutrisi yang terkandung dalam darah bisa terdistribusi dengan baik sehingga mampu menjaga tubuh kita tetap sehat dengan immunitas yang tinggi. Cukup konsumsi jintan hitam ini sepucuk sendok teh atau sekarang sudah tersedia  di apotek dan toko-toko obat dalam bentuk kapsul atau cair yang bisa langsung diminum. Minumlah sesuai petunjuk yang tertera.

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian mengkonsumsi Habbatus Sauda’ , karena didalamnya terdapat kesembuhan dari setiap penyakit, kecuali kematian”.

Hindari rokok, mainuman berkarbonasi atau minuman bersoda, serta kopi. Tidak perlu aku jelaskan, tentu kita sudah mengetahui dampak negatif dari ketiganya. Selain itu kurangi konsumsi minuman dingin, terutama yang menggunakan es batu dari bahan air mentah. Es dari air mentah hanya bersifat membekukan bakteri dan kuman yang terkandung didalamnya, bukan mematikannya. Jadi, tentu tahu kan bagaimana efek bakteri dan kuman tersebut bagi tubuh? Mengkonsumsi minuman dingin, terutama saat kondisi tubuh capai juga tidak baik sebab kelelahan membuat suhu tubuh naik dan apabila langsung diguyur dengan yang dingin-dingin, tentu hal ini akan memaksa tubuh bekerja ekstra. Seperti halnya dampak mandi setelah begadang, hal tersebut dapat menurunkan sistem imun tubuh sehingga tubuh rentan terhadap penyakit, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Jumat, 10 Januari 2014

Forgive Me



I’m about to lose the battle and cross the line
I’m about to make another mistake
And even though I try to stay away
Everything around me keeps dragging me in
I can’t help thinking to myself
What if my time would end today, today, today?
Can I guarantee that I will get another chance
Before it’s too late, too late, too late

Forgive me…
My heart is so full of regret
Forgive me…
Now is the right time for me to repent, repent, repent..

Am I out of my mind? What did I do?
Oh, I feel so bad!
And every time I try to start all over again
My shame comes back to haunt me
I’m trying hard to walk away
But temptation is surrounding me, surrounding me
I wish that I could find the strength to change my life
Before it’s too late, too late, too late
  
I know O Allah You’re the Most-Forgiving
And that You’ve promised to
Always be there when I call upon You
So now I’m standing here
Ashamed of all the mistakes I’ve committed
Please don’t turn me away
And hear my prayer when I ask You to

Lyrics: Maher Zain & Bara Kherigi Melody & Arrangement: Maher Zain Mixing: Ronny Lahti