Rabu, 26 Februari 2014

Mengatur Gaji Pertama Karyawan Baru

Hal yang paling ditunggu-tunggu saat sebulan lelah bekerja ialah masa gajian, apalagi bagi seorang karyawan baru, lebih tepatnya seseorang yang baru merasakan pekerjaan pertamanya. Waktu gajian pertama menjadi masa yang dinanti-nanti, sebab saat itulah pertama kali kerja keras dan kelelahan terbayar dengan itungan materi. Namun, ternyata tidak sedikit orang yang setelah memperoleh gaji pertamanya justru terlalu terlena sehingga gaji tersebut terbuang sia-sia dan sekejap mata. Bagi Anda yang bekerja di sektor minyak dan gas atau pertambangan, dan ditempatkan di daerah terpencil yang jauh dari gaya hidup urban mungkin memiliki arus kas yang sedikit lebih aman, tetapi bagaimana dengan Anda yang bekerja di perkantoran terutama yang di kota-kota besar?

Gaji awal yang diterima saat mulai bekerja biasanya tidak terlalu besar, hal itu wajar sebab posisinya memang masih di level bawah. Besarannya pun diperkecil oleh potongan pajak dan jamsostek. Tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh perusahaan juga belum dapat diterima, menunggu sampai pengankatan menjadi pegawai tetap. Namun, ekspektasi penggunaan gaji pertama biasa terlalu besar dan cenderung muluk-muluk, Anda sudah siap dengan daftar barang-barang yang hendak dibeli dan serangkaian acara selebrasi untuk menikmati gaji pertama tersebut, dari sekedar menikmati kuliner di restoran tertentu, menonton film di bioskop, karaoke, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari membengkaknya pengeluaran pada gaji pertama, sebaiknya Anda mampu mengatur dan memprediksi arus kas yang dipunya. Jangan sampai niat Anda untuk tidak membebani orang tua lagi ketika sudah bekerja menjadi gagal lantaran kebiasaan yang masih susah mengatur arus kas.

Minggu, 16 Februari 2014

Maka Retaklah Bumi

Saat janji tiada terpenuhi
alpa menjadi-jadi
Kerusakan tak henti-henti
Kaki bumilah jadi saksi

Esok,
mentari masih terlelap sendu
langit tiada membiru
sepanjang jalan terlihat mendung
Mata terbelalak, kaki pun masih tersandung

Malam ini
orang sedang lelap terjaga
pulas atas gerak badan berhari-hari
demi nasi dan harga diri
Namun, pasak-pasak bumi yang berjajar rapi
beraksi

Orang pun berlari-lari
berharap ada yang menyelimuti
lupa yang dijanji

Saat semua makin menjadi
sebagian berzikir tiada henti
meratap atas alpa diri
Namun,
yang lain masih jadi penjudi

Kini titah telah datang
jaman menjadi bukti
alam 'kan jadi saksi
Jika orang-orang tetap berjudi
maka retaklah bumi ini

*Banjir Pantura, tanah longsor Muria, gempa Selatan Jawa, letusan Sinabung dan Kelud

Minggu, 09 Februari 2014

Tentukan Komunitasmu

"Barang siapa yang bergaul dengan penjual parfum, maka akan kerkena wanginya".

Pepatah arab di atas merupakan nasehat bagi kita agar kita dapat menentukan dengan siapa kita bergaul, sebab merekalah salah satu penentu jalan kesuksesan kita. Sahabat, terkadang kita terlalu dipusingkan dengan perkara pertemanan. Dilarang memilih-milih teman, nanti dikira sombong. Tapi apakah kita sadar bahwa secara tidak langsung ternyata teman-teman kita sangat berpengaruh terhadap cara kita bergaul, cara kita bersikap dan menilai sesuatu.

Pada dasarnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial, dimana manusia tak dapat hidup sendiri tanpa adanya orang lain di sekitarnya. Dari kecil kita sangat terbantu oleh kehadiran ibu yang selalu membimbing dan mengontrol kita. Dari berlajar bicara, mulai merangkak, lalu dapat berjalan. Itu sebagian kecil dari prinsip dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika berancak dewasa, kita dihadapkan dengan berbagai banyak pilihan komunitas, yang terdiri atas orang-orang terdekat kita, yaitu teman-teman kita. Kita dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi kita harus tahu siapa saja yang kiranya dapat membawa kita dan kita bawa ke dalam kebaikan, jadi hasilnya akhirnya adalah sama-sama baik.

Poinnya bukan berarti kita memilih-milih teman, hanya kita harus tahu siapa saja yang bisa kita ajak berbagi suka maupun duka. Pilih orang-orang terbaik yang dapat membuat kita jadi lebih baik.

Perampok akan berkumpul dengan perampok, mereka bersama-sama menjalankan aksinya untuk mencapai tujuannya, yaitu memperkaya diri dengan jalan merampas hak orang lain, bahkan nyawa menjadi korbannya. Ujung-ujungnya, kumpulan perampok tersebut akan ditangkap oleh pihak yang berwajib dan mendekam di dalam penjara. Begitupun yang terjadi dengan para pemabuk, penjudi, dan kumpulan sebagainya.

Olahragawan, ilmuwan, dan sejarawan juga akan berkumpul dengan sesamanya. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan hasil terbaiknya. Mereka saling bekerja sama dan memotivasi agar dapat mencapai tujuannya. Semua berkumpul, bekerja keras, untuk meraih prestasi yang mereka idam-idamkan.

Komunitas atau teman yang baik, tentu akan membawa kita kepada hal-hal positif. Lingkungan tersebut akan membuahkan suasana yang positif pula. Kebaikan suatu lingkungan tentu akan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya, dan berlaku sebaliknya, lingkungan yang buruk akan berdampak buruk juga terhadap sekitarnya.