Pangandaran, 31 Mei – 1 Juni 2014
Sudah lama rasanya aku tidak melakukan travelling. Selama di
Jakarta, paling jauh tempat yang aku kunjungi ialah Anyer, itupun gegara
perjalanan dinas dan tidak mampir ke pantainya. Selebihnya paling hanya
main-main ke mall, Pantai Ancol, dan Monas. Padahal raga dan pikiran sudah
letih dengan rutinitas kerja.
Aku bersyukur selama di Jakarta masih dikelilingi
orang-orang yang baik hati, setelah kecewa menolak ajakan Mas Abra ke Bromo,
ada si Dana yang mengajakku bergabung dengan kawan-kawan kampusnya ke
Pangandaran. Kali ini aku diajak untuk merasakan Body Rafting ke Guha Bahu,
Cukang Taneuh, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Sedikit mengulas tentang Guha Bahu. Gua ini merupakan gua di
pinggir ngarai yang terbentuk dari stalaktit. Guha Bahu berada satu area dengan
wisata Green Canyon Pangandaran. Awalnya aktivitas wisata di Cukang Taneuh atau
Green Canyon ini hanya sekedar menumpang perahu menyusuri sungai Cijulang menuju
area terluar gua yang berupa susunan batu-batu besar. Sesampainya di area
tersebut, wisatawan diijinkan untuk bermain air melawan arus air. Namun,
akhir-akhir ini sudah dibuka arena wisata baru yaitu body rafting dimana
pengunjung dibawa ke hulu menggunakan mobil bak terbuka kemudian menyusuri
sungai dari hulu sampai ke hilir.
Jumat siang aku berpamitan dengan mentorku, Ms.Elizabeth,
yang memang sehari sebelumnya aku sudah meminta ijin untuk pulang lebih awal di
hari itu. Untungnya aku mendapatkan mentor yang selain baik, juga mempunyai
hobi yang sama, jadi tidak perlu bersusah payah mendapatkan ijin. Bahkan
sebelum aku pulang, aku diperlihatkan foto-fotonya waktu traveling ke sana.
Kalau si Dana justru lebih beruntung lagi, kami mendapatkan manajer yang super
baik, di hari kecepit itu dia diperbolehkan ijin cuti.
Pukul 3.30 sore Dana menjemputku di kos. Meeting point kali
ini berada di Masjid Terminal Kampung Rambutan Jakarta Selatan yang jaraknya
cukup lumayan dari Sudirman meskipun sama-sama di Jaksel. Itulah sebabnya aku
ijin pulang duluan, sebab kami harus sampai di terminal sebelum jam tujuh. Tahu
sendiri macetnya Jakarta seperti apa. Sejam menunggu busway tidak ada yang
datang karena jalurnya penuh dengan mobil, yang paling ngeselin adalah melihat
sebuah mobil polisi yang juga ikut-ikutan menjajah jalur busway. Hampir
hopeless kami memutuskan untuk naik ojek, tapi karena harga tawar yang cukup
tinggi kami mengurungkan niat, mencapai 80.000 rupiah seorang. Akhirnya tepat
jam lima kami menemukan bus AC70 jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan, hanya
dengan 9.000 rupiah dalam waktu satu jam kami sudah sampai di depan terminal.