Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Desember 2019

Tenangnya Pulau Timah Putih

Akhir tahun ini aku berkesempatan mengunjungi Pulau Belitung aka Belitong yang sudah lama aku impi-impikan. Bersama istri tercinta kami mengunjungi beberapa tempat menarik dan hits yang ada di pulau tersebut. Ada apa aja sih di Billiton? Yuk disimak

1. Replika Sekolah Laskar Pelangi
SD Muhammadiyah Gantong yang dijadikan sebagai tempat syuting film hits pada jamannya, ya Laskar Pelangi (2008). Dan sebab film itu juga Pulau Belitung bisa setenar seperti sekarang, sepanjang kota menamainya serba-serbi Laskar Pelangi. Thanks to Andrea Hirata, Riri Riza and many more yang telah menorehkan catatan indah di pulau yang indah ini.





2. Dermaga Kirana
Tak jauh dari Replikasi Sekolah Laskar Pelangi, cuma berseberangan jalan, ialah Dermaga Kirana, dermaga yang dibuat unik dengan ikon menyerupai keong khas Belitung (disebut Belitong dimana nama pulau ini ada).

Minggu, 17 September 2017

Indahnya Bukit Teletubbies di Bromo Tengger

Akhir Agustus kemarin aku diberi kesempatan melihat keindahan lukisan Tuhan di daerah Bromo, Jawa Timur. Setelah berkesempatan melihat indahnya matahari terbit, berjarak sekitar 2 km terpampang savana luas yang dikelilingi bukit - bukit yang hijau. Kemarau panjang kali ini justru menambah eloknya Bukit Teletubbies, begitulah penduduk sekitar menamainya.



Tak banyak yang bisa aku ungkapkan, namun ciptaan Tuhan yang satu ini membuatku berdecak kagum serasa tiada lepas mulut ini berucap syukur.

Sekilas tentang Gunung Bromo. Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang.

Untuk sampai di kaki Bromo, dapat ditempuh dengan jalur darat sekitar 112 km dari Kota Surabaya atau sekitar 4 jam perjalanan. Sebenarnya ada beberapa alternatif pintu masuk ke Bromo, tapi aku memilih jalur ke Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Dengan biaya Rp 300 ribu / orang, kita sudah bisa menikmati Bromo.

Sunsire di Puncak Bromo
Lautan Pasir di Gunung Bromo

Sabtu, 09 Juli 2016

Berliburlah ke Karimun Jawa

Bukit Love di Karimun Jawa
Gugusan kepulauan Karimun Jawa yang merupakan salah satu taman nasional kini makin dikenal publik. Daerah yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Jepara ini setidaknya memiliki 27 pulau yang tersebar di Laut Jawa. Pulau utamanya ialah Karimun Jawa, serta satu pulau yang kini terhubung dengan Karimun Jawa ialah Pulau Kemujan, dimana terdapat Bandar Udara Dewandaru di pulau tersebut. Pulau lain yang juga berpenghuni ialah Pulau Nyamuk dan Pulau Parang yang dapat ditempuh sekitar 2 jam menggunakan perahu nelayan.

Pulau lain yang cukup terkenal ialah Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil. Di Menjangan Kecil terdapat resort yang indah, garis pantai yang panjang, serta pasir putih yang lembut. Berenang di Menjangan Kecil berasa sedang berlibut di Maladewa. Sedangkan Menjangan Besar memberikan suguhan yang menarik dengan penangkaran hiu dan penyu. Pengunjung bebas berenang bersama bayi - bayi hiu di tempat penangkaran.

Untuk menuju Karimun Jawa sendiri sudah cukup mudah. Ada kapal ferry yang dioperatori oleh ASDP Indonesia Ferry berangkat dari Jepara, kapal cepat milik swasta yang berangkat dari Jepara dan Semarang, serta pesawat Airfast dari Bandar Udara Ahmad Yani Semarang atau dari Juanda Sidoarjo. Dengan kapal ferry jarak Jepara - Karimun Jawa bisa ditempuh dengan 5 jam perjalanan, 2 jam untuk kapal cepat, sedangkan dengan pesawat hanya butuh 45 menit sampai 1 jam.

Fasilitas penginapan di Karimun Jawa sudah cukup beragam, dari homestay, hotel berbintang sampai resort dengan berbagai varian harga. Pelancong bisa dengan mudah menemukan penginapan di Pulau Karimun Jawa maupun di pulau - pulau tertentu untuk resort kelas mewah. Untuk memesannya pun sudah bisa di akses via jasa pemesanan online.

Di Pulau Karimun Jawa, tepatnya di Desa Karimun Jawa, fasilitas publik pun sekarang cukup memadai. Berkat aliran energi listrik yang sudah nyala 24 jam, kini menikmati Karimun Jawa sudah seperti di Jawa. Terdapat kantor Telkom yang menyediakan wifi 24 jam, Bank dan ATM BRI, minimarket, kafe, dan lain sebagainya. Alun - alun sebagai pusat kota pun tiap malam cukup hidup dengan lampu yang terang benderang. Berbagai pilihan makanan terutama seafood dipatok harga Rp 30.000 per porsi. Di sisi lain terdapat pedagang yang menjajakan oleh - oleh khas seperti kaos, kerajinan dari kayu, dan lain - lain.

Kerajinan kayu yang dibuat oleh masyarakat Karimun Jawa terbuat dari kayu khas endemik setempat, ialah kayu dewandaru, stigi, dan kalimasada. Konon ketiga kayu tersebut hanya bisa tumbuh di Kepulauan Karimun Jawa. Dan oleh masyarakat sekitar dipercaya bahwa tak seorang pun dapat membawa katiga jenis kayu tersebut keluar Karimun Jawa secara utuh, kecuali dalam bentuk kerajinan.

Wisata bawah laut Karimun Jawa merupakan salah satu titik terbaik dunia. Pada tahun 90-an, salah satu televisi swasta membuat video untuk pergantian acara. Namun sayangnya tak banyak yang tahu kalau video tersebut diambil di Karimun Jawa.

Masih banyak sensasi yang bisa diberikan oleh Karimun Jawa. Datanglah dan nikmatilah. Namun tetap jaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Lestarikan keindahan alam untuk generasi mendatang.

Minggu, 21 Februari 2016

Gili Sudak; Private Island di Lombok Barat

Saat libur panjang tiba, berwisata adalah pilihan tepat untuk memanjakan tubuh dan pikiran supaya terhindar dari kelelahan dan stress. Kali ini aku akan memberikan ulasan mengenai salah satu pulau yang indah, berada di daerah Sekotong, Lombok Barat. Karena waktu liburan yang cukup panjang jadi tidak ada salahnya Anda mencoba tempat wisata yang berjarak cukup jauh dari rumah.

Untuk daerah Sekotong sendiri, para pelancong sebenarnya lebih mengenal Gili Nanggu terlebih dulu. Namun, Gili Sudak merupakan alternatif yang tepat untuk menikmati liburan Anda karena selain pemandangannya yang asri juga suasana pulau yang masih sepi sehingga berasa di pulau milik sendiri.

Lokasi Gili Sudak

Untuk mencapai Gili Sudak tidaklah sulit, dari Pelabuhan Lembar hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pelabuhan penyeberangan. Jangan khawatir, karena jalanan yang ada sudah beraspal mulus. Kalau tidak membawa kendaraan pribadi, Anda dapat mencarter angkot untuk mengantarkan ke pelabuhan. DI pelabuhan, banyak perahu nelayan yang disulap menjadi perahu wisata yang siap mengantar ke tempat tujuan. Gili Sudak sendiri dapat ditempuh sekitar 10 menit dari darat.

Senin, 01 Juni 2015

Tempat Menarik di Negeri Gajah Putih

Trip kali ini berlanjut ke negeri tetangga, yang terkenal dengan gajahnya, yang katanya tak pernah dijajah, ialah Thailand, yang berarti tanah merdeka.

Kali ini aku ditemani Zeroniners, mereka adalah Uti, Riko, Putri, Ganung, Ridha, dan Indra. Perjalanan lima hari bersama mereka sangat mengesankan, dan yang juga tak kalah mengesankan adalah keluarga yang menampung kami selama di Thailand, keluarga Om Parwo. Dengan keluarga kecil yang dermawan dan penyayang membuat perjalanan kami bergitu seru dan berkesan.

Berikut akan aku ulas tempat - tempat yang kami kunjungi selama di Thailand.

1. Wat Pho, Bangkok
Wat dalam bahasa Indonesia berarti candi atau kuil. Di Wat Pho terdapat berbagai macam bangunan. Wat Pho juga dikenal dengan Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan atau dikenal juga dengan Temple of Reclining Buddha karena di dalam salah satu bangunan candi tersebut terdapat sebuah patung Budha raksasa yang sedang berbaring.

Salah satu hal yang mengesankan selama di Wat Pho, kami diajak salah satu biksu untuk berkeliling Wat Pho. Biksu tersebut sangat ramah kepada kami.


The Reclining Buddha
Suasana di Sekitar Wat Pho's Belfry
Bermacam - macam Kuil di Wat Pho

Minggu, 15 Maret 2015

Nuansa Alam Ujung Kulon

Perjalanan kali ini berlanjut ke Ujung Kulon. Salah satu Taman Nasional Indonesia yang terkenal dengan badaknya ini menyimpan pesona alam yang sangat terpuji. Hamparan hutan di tengah lautan, pulau-pulau dengan hewan - hewan yang ramah, serta lautan yang hijau. Kombinasi langit nan biru cerah, pepohonan yang hijau, serta jernihnya air pelagis merupakan kombinasi yang tepat untuk mengobati jiwa - jiwa yang rindu akan indahnya alam ciptaan Tuhan.

Rombonganku di trip kali ini adalah anak-anak ODP Tower Bersama Group atau yang lebih familiar dengan sebutan MDP. Temanya adalah MDP Gathering, ajang temu dan reuni antar MDP, dari angkatan pertama sampai angkatan yang baru bergabung, yaitu angkatan IX.

Perjalanan dari Jakarta dimulai sekitar pukul 10 malam. Meskipun sempat ngaret sekitar sejam karena lagi - lagi, jumat malam merupakan puncak macet terutama di area Sudirman, tetapi rasa bahagia mengiringi perjalanan malam itu. Tawa riuh berangsur berganti senyap karena satu per satu mulai tertidur lelap.

Singkat cerita azan subuh menyambut rombongan di Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang Banten. Kami disambut gerimis dan hawa dingin khas pesisir. Sejenak jadi teringat suasana rumah. Ah, kekuatan hujan memang membangkitkan memori-memori yang terpendam.

Setelah bersiap, rombongan segera bertolak ke Pulau Handeleum. Perjalanan sekitar dua jam kita lalui dengan kapal nelayan yang disulap menjadi kapal wisata. Dan inilah suasana Handeleum.


Senin, 26 Januari 2015

Floating Market, Menikmati Lembang Dengan Balutan Suasana Borneo

Pernah berkunjung ke Kalimantan? Masih ingat dengan iklan Pasar Apung di RCTI? Di Lembang Kabupaten Bandung Barat mempunyai tempat wisata Pasar Apung yang mengadopsi pasar apung di Kalimantan yang diberi nama Floating Market Lembang.

Taman Angsa, Foto by Afrizal
Pusat Kuliner, Foto by Afrizal
Floating Market sendiri merupakan kombinasi wisata yang lengkap. Situ Umar yang dulunya hanya sebuah danau kini disulap menjadi kawasan wisata yang memadukan wisata alam dan wisata kuliner. Floating Market yang menempati area seluas 7 hektar ini sebenanrnya diresmikan pada 2012. Namun belum banyak yang tahu.

Tiket masuk area wisata hanya Rp 15.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk Welcome drink yang berupa kopi, milo, cokelat, dsb. Setiap harinya Folating Market buka hingga pukul 5.00 petang, kecuali akhir pekan buka hingga pukul 8.00 malam. Lokasinya juga tidak jauh dari Pasar Lembang, searah dengan Tangkuban Perahu dan Sari Ater.

Di dalam Floating Market terdapat danau bernama Situ Umar yang bisa dinikmati dengan kano, kereta air, sampan, dan sepeda air. Setelah pintu masuk, terdapat berbagai gerai seperti oleh-oleh kaos, boneka, baso maicih, dan masih banyak lagi. Di pinggir danau tersebut tersedia banyak meja dan kursi, gazebo, dan dermaga-dermaga kecil. Ada juga taman angsa dan burung. Suasana pedesaan sangat melekat pada sisi tersebut.

Berbagai taman buatan juga tersedia di dalam Floating Market. Semua tertata rapi dan bersih. Mulai dari Taman Kelinci, Taman Batu, dan Taman Kereta. Untuk mengelilinginya bisa menggunakan becak mini.

Area dalam Floating Market yang merupakan area utama ditata layaknya pasar apung di Kalimantan. Hanya saja kalau di kalimantan para pedagang berjualan kebutuhan pangan, kalau di Floating Market Lembang, para pedagang berjualan aneka makanan ringan dan minuman, seperti karedok, colenak, sosis bakar, bandrek, bajigur, roti bakar, dan masih banyak lagi. Untuk membelinya, kita harus menukarkan uang dengan sejumlah koin. Minimal penukaran Rp 100.000 dan tidak ada refund.

Suasana Floating Market pada malam hari sangat indah dan romantis. Udara sejuk lembang menambah kehangatan suasana bagi para pengunjung.

Rabu, 10 Desember 2014

Rupanya Awak Berada di Medan

Kali ini aku dapat kesempatan untuk Kerja Dinas ke Kota Medan. Yah, namanya juga Sadam, setiap moment yang dilewati harus berkesan. Ditemani oleh Mas Achmad Subekhi, perjalanan dinas ke Medan kali ini tidak boleh hanya ala kadarnya. Sesi traveling harus tetap menjadi agenda, meskipun di tengah keterbatasan waktu dan sarana.

Gedung Gubernur dan Bank Indonesia Sumut di Medan
Kota Medan, dengan ikon khas Istana Maimun yang merupakan peninggalan desainer Italia untuk Kerajaan Deli, penduduk asli Medan yang pada dasarnya adalah Suku Melayu. Ini adalah kota pertama yang aku kunjungi di Pulau Sumatera. Selain Istana Maimun, durian, bentor atau becak montor, dan kereta (sebutan orang Medan untuk sepeda motor) adalah khasanah khas dari Kota Medan.

Medan tak jauh berbeda dengan kota – kota besar yang ada di Pulau Jawa. Suasana yang ramai, penuh dengan manusia dan kendaraan. Kota yang juga mengklaim sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini rupanya sudah banyak beridiri bangunan – bangunan pencakar langit serta mall-mall yang terlihat modern. Medan juga menyimpan banyak rekaman dalam catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, ialah Pertempuran Medan Area yang menceritakan perjuangan pemuda Sumatera Utara melawan Tentara Sekutu dan NICA pada Oktober 1945.

Selain menyimpan catatan sejarah, Kota Medan juga menyimpan banyak sekali kuliner khas nusantara, di antaranya ialah Warung Sipirok yang menjajakan masakan khas Batak dan Ucok yang menjajakan durian montong Medan. Di Sipirok yang paling aku sukai adalah daging asap dan daun singkok tumbuk. Rasa daging asapnya pedas dan bikin nagih. Di Medan juga terdapat banyak masakan khas Sumatera lainnya, terutama Aceh. Bagi orang Medan, Mie Aceh yang dijual di Medan rasanya lebih enak daripada Mie Aceh yang ada di Aceh sendiri. Aku sendiri sempat mencicipi gurihnya Kari Kambing di Medan Timur.

Senin, 03 November 2014

Le Nekat Traveler

Well, travelling kali ini boleh dibilang nekat dan tanpa persiapan sama sekali. Yang tadinya di antara ya atau tidak. Tapi overall, sangat berkesan. Tak kalah dengan trip – trip sebelumnya.

Seharusnya jumat malam, aku dan tim DMS sudah berada di Puncak, menempati sebuah villa mewah, menikmati kolam renangnya, bertamasya ria ke Taman Bunga, dan seperti kebiasaan ketika di kantor, berhahahihi dengan mereka. Namun, karena suatu hal yang sebaiknya tidak ditulis di sini, hal itu batal. Pergi ke Puncak (untuk pertama kalinya) akan gagal. Agenda refreshing itu pun dialihkan ke Pantai Indah Kapuk, menikmati permainan air. Namun, batal juga karena ada yang tidak bisa berenang. Kemudian dialihkan ke Dunia Fantasi alias Dufan. Itu pun batal karena banyak yang kurang setuju. Fix, pecah sudah isi kepalaku. Rasanya ingin teriak, kenapa semua ini bisa terjadi?? Impian untuk bersenang – senang melepas penat pun hanya mimpi belaka.

Kemudian si Ucup, posting di Group BORAX, menawarkan sebuah perjalanan menarik dengan judul “Pulau Tunda yang Tertunda”. Tanpa pikir panjang aku pun menerima tawaran menggiurkan itu. Perlengkapan yang mau dibawa sudah tertata di lemari, uang muka pun sudah dibayarkan. Namun, team leadernya tetiba mendapat panggilan interview kerja. Jadilah kebatalan yang terulang itu. Akankah piknikku batal lagi?

Sedih pun melanda. Namun, sepertinya aku mendapat teman senasib yang haus akan piknik. Ya, ialah si Ucup. Dia mendapatkan informasi bahwa sedang ada migrasi besar – besaran para rasptors dari belahan dunia sana ke Indonesia. Suaka Elang, tim pengamat dan rehabilitasi Elang milik Indonesia ini menjadi penyelenggaranya. Kegiatan tahunan ini dilaksanakan di Puncak, tepatnya di area paralayang.

Selasa, 09 September 2014

Ini Baru Istana Buah

Nametag Taman Mekarsari
Buah-buahan merupakan salah satu jenis makanan yang paling aku suka, hampir semua jenis buah bisa habis aku lahap. Sampai sekarang aku hanya tidak menyukai satu jenis buah yang dinamakan Manila, sejenis tomat, berwarna violet, dengan rasa masam dan sedikit pedas mint. Mungkin butuh waktu supaya aku bisa menerima rasa Manila itu.

Mempunyai rumah yang dikelilingi pohon buah menjadi salah satu impianku, itulah sebabnya aku gemar menanam di rumah. Saat berkunjung ke rumah pamanku, aku merasa sangat bahagia, sebab di sana tumbuh berbagai pohon buah, ada anggur, rambutan, durian, mangga, matoa, cacao, jambu, salak, kedondong, dan masih banyak lagi. Rasanya seperti ada di surga, membayangkan dimana-mana pohon buah tumbuh.

Kali ini aku akan berbagi pengalaman tentang tempat wisata yang menyajikan berbagai jenis buah yang tumbuh di Bumi Pertiwi. Sebuah tempat buah karya inspirasi Ibu Negara Orde Baru, beliaulah Ibu Tin Soeharto, yang memprakarsai berdirinya tempat wisata buatan bertajuk taman buah terbesar di Indonesia. Taman itu dikenal dengan Taman Mekarsari. Terletak di Kabupaten Bogor, tepatnya di kecamatan Cileungsi, Taman Buah Mekarsari berdiri di atas tanah seluas 264 Ha, konsep dasar taman ini adalah taman wisata keluarga dan konservasi tanaman buah dengan area yang berbentuk menyerupai daun. Taman Mekarsari diresmikan pendiriannya pada tahun 1995.

Berbagai fasilitas sudah banyak tersedia di Taman Mekarsari, mulai dari kereta untuk berkeliling taman, danau buatan yang diisi dengan bebek kayuh dan perahu sampan, ayunan, panggung hiburan, area out bond, dan masih banyak lagi. Area parkir yang luas, berbagai macam gerai makanan dan minuman, serta kolam pemancingan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan rombongan yang datang dari luar kota. Tidak perlu khawatir kehabisan uang, karena di area taman juga sudah terdapat Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Selasa, 24 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part II)


Menikmati malam di Cibeo menjadi pengalaman yang seru buatku. Terdapat sekitar seratus rumah di sana. Rumah-rumah itu tidak dilengkapi dengan lampu neon, penerangan hanya menggunakan lampu teplok, masing-masing hanya satu. Ketika malam tiba, semua aktivitas dihentikan. Paling hanya mengobrol dengan tetangga sekitar, selanjutnya bergegas istirahat untuk menyambut aktivitas keesokan harinya.

Aktivitas MCK semua dilakukan di sungai. Masyarakat Baduy Cibeo telah membagi area sungai menjadi dua bagian berdasarkan alirannya, yang pertama untuk buang air, dan yang kedua untuk mandi dan mencuci. Masing-masing sudah terpisah antara kaum laki-laki dan perempuan. Aku sendiri tidak mandi selama di Cibeo, hanya cuci muka, tangan dan kaki, begitu juga dengan Rian. Suasana ramah Cibeo membuat kami nyaman meskipun tanpa mandi. Bukan berarti ngeles karena malas mandi ya,hehe.

Semakin petang, Cibeo semakin penuh dengan rombongan wisatawan. Kurang lebih ada tiga ratus orang yang datang hari itu. Mungkin moment-moment seperti inilah yang mampu membuat Cibeo terasa hidup. Aku sendiri tak bisa membayangkan, bagaimana sunyinya Cibeo kalau tidak ada kami. Namun, meskipun malam itu cukup ramai. Aku tidak merasa terusik sebab homestay kami cukup jauh dari keramaian, aku sendiri bersama para rombongan lelaki tinggal di rumah Pak Sarip yang rumahnya terletak di gerbang Cibeo, sebenarnya bukan gerbang juga, tapi memang rumah keluarga Pak Sarip ini menjadi rumah pertama ketika memasuki Desa Cibeo. Sedangkan para wanita menempati kediaman Kang Jali dan satu rumah lagi. Kang Jali inilah yang menjadi pemandu kami selama di Cibeo.

Sudah di Cibeo rasanya kurang afdol kalau tidak menikmati malam di sana. Meskipun badan sudah sangat lelah dan harus segera diistirahatkan, tapi Mas Agus dengan semangatnya mengajak aku dan Rian jalan-jalan mengitari desa menikmati langit yang mengkristal. Dan kuputuskan untuk ke Alun-Alun (tanah lapang di pusat desa yang kemudian kami anggap sebagai alun-alun) untuk menikmati langit yang mengkristal itu.

Suasana malam di Alun-Alun begitu ramai penuh orang berlalu lalang menuju ke sungai untuk bersih diri. Kami putuskan untuk duduk di tengah-tengah menikmati langit sambil bercerita-cerita tentang banyak hal. Awalnya kami bertiga tidak mendapatkan kristal yang kami harapkan. Namun, kelamaan awan mendung yang menyelimuti langit menyibak membentuk garis oval, memperlihatkan bintang-bintang yang berkilauan. Subhanallah, betapa cantiknya langit malam itu. Bagaikan Kristal yang terukir indah di atas semesta. Aku teringat malam-malam indah di Karimun Jawa bertahun yang lalu.

Malam semakin larut, namun orang-orang masih banyak yang aktif bercengkerama satu sama lain. Karena rasa kantuk yang mulai terasa akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke homestay.

Senin, 23 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part I)


Kepenatan dengan rutinitas pekerjaan memang kelamaan bisa menjadi sebuah penyakit yang apabila tak segera diobati maka akan berdampak fatal. Itulah sebabnya aku memilih travelling sebagai salah satu obatnya. Namun, ternyata travelling itu memang benar-benar menjadi candu, it’s addicted. Setelah dari Green Canyon Pangandaran beberapa minggu yang lalu, sekarang aku pergi ke Kabupaten Lebak Banten untuk melepas penat-penatku itu.

Ini semua berawal dari kegemaranku yang doyan sama travelling, lebih tepatnya kecanduan. Hehe. Tadinya aku mengajak Rian untuk touring ke Garut, tapi Rian punya tawaran lain yang lebih menggiurkan, Pantai Ujung Genteng Sukabumi. Rencana sudah disusun lumayan matang. Namun, rencana tinggallah rencana. Cuaca Jakarta yang beberapa hari terakhir yang kurang bersahabat akhirnya membuat temannya Rian yang sedianya membawa kami ke Ujung Genteng membatalkan dengan sepihak. Untuk mengobati kekecewaan kami, Rian yang inisiatif dan agresifitasnya cukup tinggi menawarkan Trip to Baduy Dalam bersama Wuki Travel. Ajakan tersebut langsung aku terima tanpa berpikir panjang.

Sabtu, 21 Juni, begitu subuh berkumandang kami segera siap-siap untuk menuju Meeting Point, Stasiun Duri. Rasa lelah sebenarnya masih terasa, sebab sampai jumat malam kami masih berkutat dengan aktivitas masing-masing di kantor padahal beberapa logistik yang harusnya dibawa belum terbeli. Suasana Jakarta pagi itu sangat mendukung, cerah dan lengang, mungkin juga karena masih sangat pagi. Kami berangkat ke St Duri melalui St Sudirman menggunakan Commuter Line.

Sesampainya di St Duri ternyata sudah banyak anggota kelompok travelling yang sudah sampai, Kami segera keluar stasiun dan bergabung dengan mereka. Sesi perkenalan, foto, dan doa sebelum pemberangkatan kami jalani. Dan medan perjuangan itu segera kami mulai.

Medan perjuangan, ya, aku lebih suka menggunakan kata-kata itu untuk tripku kali ini. Bagaimana tidak, memasuki gerbong kereta Rangkas Jaya jurusan Angke-Merak saja menurutku sudah perjuangan banget. Aku jadi teringat10 Mei 2010, perjalanan Semarang- Jakarta menggunakan kereta ekonomi untuk mengantar sahabatku Bagus Nugroho ke peristirahatan terakhirnya. Kereta yang meskipun sudah ber-ac itu terasa panas sebab terlalu penuh sesak oleh penumpang dan pedagang asongan. AC yang dipasang tak berfungsi semestinya. Suara gaduh pedagang menawarkan dagangannya, keluhan ibu-ibu, tangisan anak-anak balita memecah heningnya kereta pagi itu, mengalahkan alunan mesin khas kereta.

Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, akhirnya rombongan sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Ciboleger, kami diberi waktu untuk makan siang (sarapan - red) sambil menunggu teman-teman yang ketinggalan kereta. Ya, ada beberapa teman dari Karawang dan Bekasi yang ketinggalan kereta gara-gara si oknum yang telat bangun pastinya. Haha. Sepertinya cerita mereka bakal lebih seru.

Stasiun Rangkas Bitung, Lebak, Banten

Istirahat dirasa cukup, perut sudah kenyang, meskipun aku dan Rian tak makan juga lantaran kami berdua sudah meraup secuil roti, sedangkan para laters pun sudah datang. Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Ciboleger menggunakan mobil elf. Perjalanan dari Rangkas ke Ciboleger ditempuh sekitar dua jam, melewati jalanan naik dan turun. Panasnya Lebak ternyata mampu menidurkan kami, kecuali aku, karena aku duduk tepat menghadap pintu mobil jadi sedikit waswas kalau mau tidur.

Selasa, 03 Juni 2014

Membuncahkan Semangat dari Guha Bahu


Pangandaran, 31 Mei – 1 Juni 2014

Sudah lama rasanya aku tidak melakukan travelling. Selama di Jakarta, paling jauh tempat yang aku kunjungi ialah Anyer, itupun gegara perjalanan dinas dan tidak mampir ke pantainya. Selebihnya paling hanya main-main ke mall, Pantai Ancol, dan Monas. Padahal raga dan pikiran sudah letih dengan rutinitas kerja.

Aku bersyukur selama di Jakarta masih dikelilingi orang-orang yang baik hati, setelah kecewa menolak ajakan Mas Abra ke Bromo, ada si Dana yang mengajakku bergabung dengan kawan-kawan kampusnya ke Pangandaran. Kali ini aku diajak untuk merasakan Body Rafting ke Guha Bahu, Cukang Taneuh, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sedikit mengulas tentang Guha Bahu. Gua ini merupakan gua di pinggir ngarai yang terbentuk dari stalaktit. Guha Bahu berada satu area dengan wisata Green Canyon Pangandaran. Awalnya aktivitas wisata di Cukang Taneuh atau Green Canyon ini hanya sekedar menumpang perahu menyusuri sungai Cijulang menuju area terluar gua yang berupa susunan batu-batu besar. Sesampainya di area tersebut, wisatawan diijinkan untuk bermain air melawan arus air. Namun, akhir-akhir ini sudah dibuka arena wisata baru yaitu body rafting dimana pengunjung dibawa ke hulu menggunakan mobil bak terbuka kemudian menyusuri sungai dari hulu sampai ke hilir.

Jumat siang aku berpamitan dengan mentorku, Ms.Elizabeth, yang memang sehari sebelumnya aku sudah meminta ijin untuk pulang lebih awal di hari itu. Untungnya aku mendapatkan mentor yang selain baik, juga mempunyai hobi yang sama, jadi tidak perlu bersusah payah mendapatkan ijin. Bahkan sebelum aku pulang, aku diperlihatkan foto-fotonya waktu traveling ke sana. Kalau si Dana justru lebih beruntung lagi, kami mendapatkan manajer yang super baik, di hari kecepit itu dia diperbolehkan ijin cuti.

Pukul 3.30 sore Dana menjemputku di kos. Meeting point kali ini berada di Masjid Terminal Kampung Rambutan Jakarta Selatan yang jaraknya cukup lumayan dari Sudirman meskipun sama-sama di Jaksel. Itulah sebabnya aku ijin pulang duluan, sebab kami harus sampai di terminal sebelum jam tujuh. Tahu sendiri macetnya Jakarta seperti apa. Sejam menunggu busway tidak ada yang datang karena jalurnya penuh dengan mobil, yang paling ngeselin adalah melihat sebuah mobil polisi yang juga ikut-ikutan menjajah jalur busway. Hampir hopeless kami memutuskan untuk naik ojek, tapi karena harga tawar yang cukup tinggi kami mengurungkan niat, mencapai 80.000 rupiah seorang. Akhirnya tepat jam lima kami menemukan bus AC70 jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan, hanya dengan 9.000 rupiah dalam waktu satu jam kami sudah sampai di depan terminal.

Rabu, 22 Agustus 2012

My Malaysia Part I

Bulan Juli kemarin aku berkesempatan mengunjungi Malaysia. Ini merupakan pertama kalinya aku pergi ke luar negeri. Sebenarnya aku pergi ke sana untuk mengikuti sebuah training yang diselenggarakan oleh komunitas mahasiswa teknik (perkumpulan kejuruteraan) Universitas Malaya. Namun, karena kebetulan teman-temanku juga suka travelling atau lebih tepatnya piknik dan kebetulan waktunya juga bertepatan dengan libur usai UAS, sehingga kita memutuskan datang lebih awal agar bisa menikmati indahnya Malaysia, Kuala Lumpur lebih tepatnya.

Kita berangkat ke Malaysia dengan pesawat Air Asia dari Bandara Ahmad Yani Semarang. Karena menggunakan jasa maskapai tersebut, kita akan mendarat di Low Cost Carier Airport (LCC). Pesawat takeoff jam 5 sore dan sesuai perkiraan, kita akan sampai pada pukul 7.50 malam, waktu Malaysia. Beruntung nggak ada delay pesawat sehingga kita tiba sesuai rencana. Sesampainya di LCC, sudah ada panitia dan PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia) yang sudah menjemput kita. LCC ini memang terlihat sesuai dengan namanya, "sederhana", tapi paling tidak menurutku lebih bagus "sedikit" dari Bandara Ahmad Yani.

Suasana Ahmad Yani

Suasana LCC

Dari LCC untuk menuju Kuala Lumpur kita perlu naik bis dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Melewati jalan tol yang kanan-kirinya dipenuhi kebun kelapa sawit, kata seorang temanku suasananya mirip jalur lintas sumatera, yang membedakan tentu kondisi jalannya. Kesan pertama untuk negara Malaysia sangatlah rapi dan bersih dari kendaraan pribadi. Jalan tol di sana sangat layak disebut jalan tol, sesuai fungsinya sebagai jalan bebas hambatan. Sangat berbeda dengan Jakarta, meskipun namanya jalan tol, tapi tetap saja kena macet. Satu hal yang unik bagiku, di Malaysia, kendaraan roda dua alias sepeda motor diperbolehkan lewat jalan tol.