Tampilkan postingan dengan label kartini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kartini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2018

Dukungan Dari Seorang Ayah


Bercerita tentang sosok Raden Ayu Kartini, putri dari seorang Bupati Jepara yang hidup dalam masa feodalisme. Gadis kecil cerdas yang tumbuh di tengah lekatnya adat Jawa yang kaku di masa itu. Di balik perjuangan Kartini membebaskan diri dan kaumnya dari keterkekangan, terdapat berbagai sosok yang juga turut mendukung langkahnya, mereka ialah kakaknya, Sosrokartono, ayah dan ibunya, sahabat penanya, Stella, dan banyak lagi. Kalau menilik perjuangan Kartini dan dua saudaranya, Rukmini dan Kardinah, tidaklah mudah. Namun, langkahnya itu dapat terbantu berkat jasa ayahnya, yang juga menjabat sebagai seorang Bupati.

Ragamu boleh terkurung, tapi jangan pikiranmu.

Belajar dari kehidupan seorang Kartini, memiliki ayah yang senantiasa mendukung gerak langkahnya, aku pun merasa berada pada posisi yang sama. Aku bersyukur Allah menitipkanku pada seorang ayah, dan tentunya ibu, yang selalu mendukung dan mempercayaiku dalam mengambil langkahku sendiri.

Sejak duduk di bangku sekolah, Bapakku selalu membebaskanku dan memberikan kepercayaan penuh padaku dalam mengatur pendidikanku. Beliau memang mengarahkan, tetapi tidak mengekang. Beliau menasihati, tapi tak menghakimi. Begitu kurang lebih cara beliau mendidikku.

Saat di luar sana banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anak-anaknya untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler karena takut nilai akademisnya tidak maksimal, Bapakku justru mengijinkanku mengikuti berbagai kegiatan yang aku mau. Beliau hanya sesekali mengingatkan aku tentang konsekuensi yang harus aku hadapi, apakah itu? Bukan nilai akademis yang mungkin akan turun, tetapi tuntutan manajemen waktu yang harus aku hadapi. Orang lain mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain video games atau berlama-lama nongkrong di café, tapi aku tidak. Itu saja konsekuensinya? Oh tentu bukan, aku juga masih bisa kok bermain games dan nongkrong di café bersama teman-teman. Atau bahkan kumpul sambil menyewa film, tapi aku masih punya segudang “PR” yang harus segera diselesaikan.

Ya, itu salah satu hal yang aku syukuri dalam hidup. Memiliki sesosok ayah yang mempercayaiku dengan penuh. Kepercayaan itu yang menjadi modal bagiku untuk melangkah tanpa beban. Namun, kepercayaan sebagai modal yang sudah di genggaman harus dipegang teguh, jangan sampai ternodai. Sebab benar kata orang bijak, meraih itu mungkin mudah, tapi mempertahankan akan sulit. Kepercayaan yang telah diberikan jangan disia-siakan, pegang teguh kepercayaan itu, jalani dengan penuh amanah. Sebab ia yang mampu membebaskanmu menjalani dirimu dengan pilihanmu sendiri. Bagaikan Kartini, menentang kekakuan adat yang mengurung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu. Ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Sang Ayah hingga akhirnya ia berhasil meyakinkan ayahnya terhadap cita-cita yang hendak ia capai.

Jepara, 21 April 2018.

Senin, 23 April 2012

Mengenang Kartini Menemukan Jati Diri

Hari Kartini yang biasa diperingati setiap tanggal 21 April merupakan moment penting bagi wanita Indonesia karena pada hari tersebut selain diperingati sebagai hari kelahiran pahlawan nasional, juga merupakan hari penting dalam mengenang perjuangan wanita Indonesia dalam meraih hak-haknya. Hak-hak tersebut dikenal dengan istilah emansipasi wanita. Bagaimana kita memandang makna emansipasi wanita?
Emansipasi wanita bukanlah hal yang sembarangan, memaknai emansipasi haruslah diiringi dengan hati nurani serta pemikiran mendalam.

Emansipasi bukanlah sikap bebas tanpa aturan sehingga seolah-olah dengan emansipasi, wanita bebas untuk berekspresi tanpa mempedulikan aturan dan tata nilai yang berlaku bagi kita sebagai warga Timur yang menjunjung tinggi etika dan tata krama. Dengan emansipasi, wanita sebagai tiang dunia harus mampu membawa majelisnya, bangsa dan negara tempatnya bernaung ke arah yang jauh lebih baik. Emansipasi wanita Indonesia memberikan kesempatan bagi kaum wanita untuk memimpin, tidak sedikit era sekarang wanita menjadi pemimpin di daerahnya. Bahkan Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh wanita, ialah Ny. Megawati Soekarno Putri.  Dengan kesempatan seperti itu, justru harusnya wanita bisa memanfaatkannya sebagai ajang untuk memberikan pengaruh serta pemikiran-pemikiran yang positif untuk lingkungan sekitarnya. Wanita, sumber inspirasi.

perempuan-pekerja
sumber gambar: ngerumpi.com

Perlu ditanamkan dalam benak kita bahwa emansipasi bukanlah memperoleh hak untuk semena-mena, tetapi emansipasi merupakan hak yang berbudi.

Belum lepas dari ingatan kita cerita tentang Geng Nero atau berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kaum wanita, atau berbagai cerita penyiksaan TKW dan berbagai diskriminasi terhadap wanita lainnya. Bukan seperti geng-geng wanita yang bebas berekspresi tidak selayaknya wanita, atau masih adanya pelecehan terhadap kaum wanita. Emansipasi merupakan hal yang unik, yaitu antara hak dan kewajiban jelas pembagiannya atau kebebasan yang berbatas aturan dan kodrati. Wanita bebas untuk bekerja di luar, membantu suami mencari nafkah, tetapi tidak melupakan kewajibannya sebagai pengurus rumah tangga, tidak melupakan kebutuhan keluarga dan anak-anaknya. Wanita bebas berbicara, mengeluarkan pendapatnya, tetapi lantas tidak lepas kontrol. Sebagai kodratnya wanita adalah makhluk yang alus tetapi berjiwa tangguh, dengan itu harus tahu bagaimana seharusnya wanita menjaga sikap dan tutur katanya sehari-hari. Wanita merupakan kunci kesuksesan, manager yang luar biasa.

Mari maknai Hari Kartini dan emansipasi wanita dengan pemikiran mendalam dan hati yang bersih sehingga terwujud Indonesia yang Digdaya.