Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jepara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2026

Kosakata Jepara yang Jarang Kudengar (Lagi)

Holaaa, sahabat bloggerku, ah rasanya rindu sekali, so looonggg time ago aku ngga nulis ya, more than 2 years, padahal sejatinya banyak banget hal-hal yang ingin aku tulis, dari covid-19, berbagai perjalananku, karir, traveling, dan hal-hal unik yang aku temukan di buku-buku yang aku baca. Namun, kali ini ijinkan aku menulis hal ringan dulu ya sebagai pembukaan mulainya kembali seorang Sadam menulis di blog ini.

Saat aku pulang ke Jepara teriba terlintas sepertinya banyak kosakata dalam bahasa Jawa lokal yang saat ini jarang dilafalkan. Memang kosakata apa? Apa bedanya dengan bahasa Jawa pada umumnya?

Kita tentu tahu bahwa Indonesia dengan luas wilayah daratan mencapai 1,9 juta km2 dengan jumlah penduduk mencapai 283,5 juta jiwa (2024) memiliki beragam bahasa, adat, dan budaya. Di Jawa Tengah sendiri yang mayoritas masyarakatnya menuturkan Basa Jawa sebagai bahasa ibu dan bahasa keseharian nyatanya memiliki banyak ragam, secara garis besar dibagi menjadi beberapa kelompok yang disebut dialek, seperti Dialek Banyumasan (aku setuju ini merupakan ragam bahasa sendiri karena perbedaannya juga banyak), Dialek Semarangan, Dialek Surakarta, Dailek Kedu, dan tentunya Dialek Jepara-Rembang (ada yang menyebutnya Dialek Aneman). 

Di Jepara sendiri, meski dalam satu kabupaten ternyata banyak penutur yang memiliki ciri khas atau gaya yang berbeda, meskipun tidak begitu kentara. Misal yang aku pahami, wilayah tertentu memiliki imbuhan atau intonasi yang cukup unik, seperti Mantingan - Kedung dengan kata "ndok", Suwawal - Pakis Aji dengan kata "nde", atau Jepara utara seperti Kembang - Keling yang turut menggunakan kata "-em" sebagai pengganti kata imbuhan "-mu" seperti orang Pati dan Kudus.

Buat kalian yang belum tahu, bahwa Dialek Aneman yang dituturkan masyarakat Jepara sampai sebagian Tuban - Lamongan di Jawa Timur, dan sebagian masyarakat Demak memang mempunyai banyak perbedaan dengan tetangganya, seperti Dialek Semarangan atau Surakarta, misalnya untuk kalimat "Kamu lebih suka jeruk apa anggur?", dalam Dialek Semarangan atau Surakarta diucapkan "Kowe pilih jeruk opo anggur?", sedangkan dalam Dialek Aneman diucapkan "Kuwe pilih jeruk tah anggur?". Dan masih banyak lagi. Perbedaan ini terasa sekali dalam kelas bahasa Jawa Ngoko, sedangkan untuk kelas Bahasa Krama Alus atau Krama Lugu mayoritas menuturkan ragam dialek yang sama, bahkan termasuk Banyumasan.

Minggu, 15 September 2019

Ambulans dan Empati

Pagi buta mekarlah bunga, ayam berkokok pratanda cinta
Rembulan dan merpati berganti, tapi tak saling mengganti
...

Halo sobat blogger, udah lama banget aku ngga nulis. Mungkin kalau niat di hati ini segera terealisasi, sudahlah terbit beberapa tulisan di dinding beranda ini.


Mobil Ambulans Lewat? Langsung Kasih Jalan Dong!
Gambar Ilustrasi, sumber : kompasiana
Ambulans dan Empati, jadi ceritanya budhe aku sakit dan pertu CT Scan untuk ngecek kondisi kepala. Karena CT Scan di rumah sakit di Jepara rusak, maka harus dirujuk ke Kudus, maklum ya karena kota kecil hehe. Nah nganter ke Kudusnya sendiri pake ambulans.

Sekilas cerita tentang jalan Jepara-Kudus yang sering aku lewati paling tidak seminggu dua kali, karena aku bekerja di Kudus dan tinggal disana sedangkan rumah ada di Jepara. Kondisi jalan sudah beraspal mulus, kelas jalan Nasional (Jepara-Gotri) dan Provinsi (Gotri-Kudus). Meskipun kelas nasional, tapi lebar jalan di Jepara tak selebar jalan Pantura apalagi yang sudah dibuat median. Jepara dan Kudus merupakan salah satu kota yang dikenal dengan industrinya, Jepara dengan furniture dan Kudus dengan rokok, dan sekarang ini Jepara justru menjadi lokasi favorit eksodus perusahaan-perusahaan asing padat karya dari Jabodetabek dan Jatim. Jadi bisa dibayangkan betapa padatnya jalur yang akan kami lewati, bahkan kalau weekdays terjadi kemacetan panjang di beberapa titik. Jarak Jepara-Kudus sekitar 30 km dan dengan gayaku nyetir, biasanya membutuhkan waktu paling tidak 80 menit.

Sebenarnya sudah lama ingin aku menulis tentang ambulans dan kaitannya dengan rasa empati masyarakat sampai akhirnya aku sendiri yang diberikan kesempatan untuk pertama kalinya naik mobil itu. Karena aku sering jengah dengan kelakukan masyarakat kita yang masih acuh kalau ada ambulans lewat.

Sepanjang perjalanan aku menjadi pengamat sambil memegang tangan Budhe yang selalu beristighfar. Aku lihat banyak pengemudi yang sudah mulai sadar ketika mendengar sirine. Mereka mulai pasang sign kiri lalu minggir, tapi tidak sedikit juga yang masih acuh, terutama mobil dengan plat kota tertentu. Aku bukanlah tipe orang yang suka menjadikan stereotip warga kota tertentu, aku hanya mengamati, mungkin ini kaitan dengan kebiasaan di lingkungannya karena "desa mawa cara". Begitupun dengan kelakukan kendaraan roda dua, masih banyak yang suka selap-selip padahal sudah jelas ambulans mau lewat.

Ini menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk mengedukasi dan memberikan penyadaran kepada mereka yang belum tergugah hatinya. Aku pribadi mengajak rekan-rekan semua dimulai dari diri sendiri dengan bersikap empati di jalan, terutama ketika ada kendaraat darurat yang hendak lewat seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Selain itu juga mengajak yang lainnya dengan menyebarkan seruan secara langsung maupun media sosial, agar orang lain tertular energi positif kita.

Namun, dari pengalaman kemarin aku bersyukur ternyata banyak orang kita yang sudah terbentuk rasa peduli dan empatinya. Juga tumbuh rasa optimis dengan masa depan masyarakat yang semakin beradab. Alhamdulillah.

Satu hal yang membuat aku semakin takjub adalah kehadiran mas-mas pencari jalan untuk ambulans. Sebenarnya aku sering melihat mereka ini ketika ada ambulans lewat, tapi sekarang aku yang merasakan kebaikan mereka. Bak seorang superhero, mereka muncul secara tiba-tiba dan saat keadaan sudah darurat. Waktu perjalanan ke Kudus, seseorang datang saat sudah di Mayong, dan waktu balik ke Jepara, dua orang muncul saat di Gotri Kalinyamatan. Mungkin mereka ini semacam komunitas atau belum tentu juga. Yang pasti suatu saat aku pengen ketemu dengan mereka, meski hanya sekedar berucap terima kasih. Mereka yang sudah dengan sigap dan siap mempertaruhkan keselamatannya untuk mencarikan jalan bagi mobil ambulans. Dalam hal ini, mereka-merekalah yang secara tidak langsung mengedukasi masyarakat dalam berempati saat mobil ambulans lewat. Ya, aku selalu takjub dengan orang-orang yang terbangun jiwa sosialnya. Sayang, aku ngga sempat pegang ponsel untuk mengambil gambar.

Yang harus selalu kita ingat, ketika ada ambulans lewat dan sirinenya berbunyi, ia sedang membawa pasien kritis yang membutuhkan pengertian kita. Pasien tersebut perlu segera sampai ke tempat tujuan untuk memperoleh pertolongan. Atau ambulans tersebut sedang membawa jenazah yang harus segera disemayamkan. Maka berikanlah jalan. Posisikan diri kita sebagai keluarganya yang cemas di dalam mobil ingin cepat sampai, atau posisikan diri kita sebagai orang yang sakit dan butuh pertolongan segera. Itulah empati, yang harus tumbuh di dalam hati.

Sekarang saatnya aku, kamu, dan kalian semua yang mengambil peran. Yuk sebarkan semangat positif mas-mas itu lewat perilaku dan media sosial yang kita punya. Mari kita bantu pemerintah kita mewujudkan masyarakat kita yang lebih beradab. :)

Pagi buta mekarlah bunga, ayam berkokok pratanda cinta
Rembulan dan merpati berganti, tapi tak saling mengganti
Tuhan ciptakan hati manusia, untuk diisi cinta
Ambulans dan empati datang, untuk melunakkan hati

Minggu, 28 Agustus 2016

Berpesan Melalui Kesenian Rakyat

Era globalisasi merupakan masa dimana batas antar negara semakin tidak terlihat, kemudahan akses informasi melalui teknologi yang tersedia menjadikan setiap orang bebas untuk terjun dalam dunia persaingan. Hal ini membuat siapa yang lebih kuat akan bertahan. Era ini juga memberikan tantangan baru bagi suatu bangsa bagaimana ia tetap bertahan dan berdiri kokoh dengan caranya sendiri melalui adat dan budaya yang telah lama dimiliki. Namun sayangnya, banyak yang tidak siap dengan kedatangan era globalisasi sehingga suatu bangsa dapat terombang – ambing dan dengan mudah “berubah” menjadi bangsa lain.

Bangsa Indonesia selain besar karena kekayaan alamnya juga tersohor karena khasanah budayanya. Adat dan budaya warisan leluhur banyak memberikan nilai positif terutama untuk membentuk karakter sebagai Bangsa Timur. Untuk itulah adat dan budaya ini harus dilestarikan sebagai identitas dan bekal dalam bersaing dengan bangsa lain di era global.

Ciri khas budaya Indonesia tercermin dari berbagai macam kesenian daerah yang telah turun temurun menjadi warisan dari nenek moyang. Kesenian daerah selain sebagai hiburan bagi rakyat, juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral yang mengiring masyarakat untuk melakukan hal – hal positif. Pesan bersifat persuasif dan disampaikan dengan sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

Pesan yang disampaikan terutama terkait dengan problematika yang dekat kaitannya dengan kejadian yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuannya untuk membangun sikap dan sifat masyarakat yang mampu secara dinamis menghadapi tantangan - tantangan sebagai dampak dari globalisasi, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan.

Tantangan besar di era globalisasi seperti saat ini adalah melestarikan kesenian rakyat yang merupakan salah satu budaya bangsa. Dalam upaya pelestarian tersebut tidak boleh mengenal gap generasi serta membutuhkan campur tangan dari semua pihak. Tujuannya adalah agar generasi baru dapat lebih mengenal budaya leluhurnya dan siap bersaing dalam era global dengan menyandang identitasnya sebagai Bangsa Indonesia.



Dokumentasi : Peringatan HUT RI ke-71 RW 02 Desa Bandengan Kab. Jepara

Sabtu, 09 Juli 2016

Berliburlah ke Karimun Jawa

Bukit Love di Karimun Jawa
Gugusan kepulauan Karimun Jawa yang merupakan salah satu taman nasional kini makin dikenal publik. Daerah yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Jepara ini setidaknya memiliki 27 pulau yang tersebar di Laut Jawa. Pulau utamanya ialah Karimun Jawa, serta satu pulau yang kini terhubung dengan Karimun Jawa ialah Pulau Kemujan, dimana terdapat Bandar Udara Dewandaru di pulau tersebut. Pulau lain yang juga berpenghuni ialah Pulau Nyamuk dan Pulau Parang yang dapat ditempuh sekitar 2 jam menggunakan perahu nelayan.

Pulau lain yang cukup terkenal ialah Pulau Menjangan Besar dan Pulau Menjangan Kecil. Di Menjangan Kecil terdapat resort yang indah, garis pantai yang panjang, serta pasir putih yang lembut. Berenang di Menjangan Kecil berasa sedang berlibut di Maladewa. Sedangkan Menjangan Besar memberikan suguhan yang menarik dengan penangkaran hiu dan penyu. Pengunjung bebas berenang bersama bayi - bayi hiu di tempat penangkaran.

Untuk menuju Karimun Jawa sendiri sudah cukup mudah. Ada kapal ferry yang dioperatori oleh ASDP Indonesia Ferry berangkat dari Jepara, kapal cepat milik swasta yang berangkat dari Jepara dan Semarang, serta pesawat Airfast dari Bandar Udara Ahmad Yani Semarang atau dari Juanda Sidoarjo. Dengan kapal ferry jarak Jepara - Karimun Jawa bisa ditempuh dengan 5 jam perjalanan, 2 jam untuk kapal cepat, sedangkan dengan pesawat hanya butuh 45 menit sampai 1 jam.

Fasilitas penginapan di Karimun Jawa sudah cukup beragam, dari homestay, hotel berbintang sampai resort dengan berbagai varian harga. Pelancong bisa dengan mudah menemukan penginapan di Pulau Karimun Jawa maupun di pulau - pulau tertentu untuk resort kelas mewah. Untuk memesannya pun sudah bisa di akses via jasa pemesanan online.

Di Pulau Karimun Jawa, tepatnya di Desa Karimun Jawa, fasilitas publik pun sekarang cukup memadai. Berkat aliran energi listrik yang sudah nyala 24 jam, kini menikmati Karimun Jawa sudah seperti di Jawa. Terdapat kantor Telkom yang menyediakan wifi 24 jam, Bank dan ATM BRI, minimarket, kafe, dan lain sebagainya. Alun - alun sebagai pusat kota pun tiap malam cukup hidup dengan lampu yang terang benderang. Berbagai pilihan makanan terutama seafood dipatok harga Rp 30.000 per porsi. Di sisi lain terdapat pedagang yang menjajakan oleh - oleh khas seperti kaos, kerajinan dari kayu, dan lain - lain.

Kerajinan kayu yang dibuat oleh masyarakat Karimun Jawa terbuat dari kayu khas endemik setempat, ialah kayu dewandaru, stigi, dan kalimasada. Konon ketiga kayu tersebut hanya bisa tumbuh di Kepulauan Karimun Jawa. Dan oleh masyarakat sekitar dipercaya bahwa tak seorang pun dapat membawa katiga jenis kayu tersebut keluar Karimun Jawa secara utuh, kecuali dalam bentuk kerajinan.

Wisata bawah laut Karimun Jawa merupakan salah satu titik terbaik dunia. Pada tahun 90-an, salah satu televisi swasta membuat video untuk pergantian acara. Namun sayangnya tak banyak yang tahu kalau video tersebut diambil di Karimun Jawa.

Masih banyak sensasi yang bisa diberikan oleh Karimun Jawa. Datanglah dan nikmatilah. Namun tetap jaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Lestarikan keindahan alam untuk generasi mendatang.

Sabtu, 04 Januari 2014

Menikmati Durian di Pasar Duren Ngabul Jepara

Bagi para pecinta buah durian, musim duren adalah waktu yang tepat untuk memanjakan lidah. Saat musim duren, buah berkulit tebal tersebut bisa diperoleh di banyak tempat dan dengan harga yang relatif lebih murah dari biasanya. Tak terkecuali di Jepara.

Kabupaten yang terletak di ujung utara Jawa Tengah tersebut mempunyai tempat khusus menjual buah kesayangan Anda. Terkenal dengan nama Pasar Duren Ngabul, tempat tersebut selalu ramai oleh para pecinta durian, terutama saat musim duren tiba. Selain banyak pilihan, harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau.

Yang menjadi andalan Pasar Duren Ngabul adalah buah durian jenis petruk. Durian Petruk, yang juga menjadi flora khas Kabupaten Jepara, mempunyai tempat tersendiri di hati penggemarnya. Menurut tuturan para penikmat durian, Durian Petruk mempunyai rasa yang cukup unik, selain daging buah yang tebal, rasa manis yang pas dicampur rasa kepahit-pahitan menjadi ciri khas Durian Petruk sehingga bisa melekat di benak penikmatnya. Durian Petruk banyak dicari oleh para penggemarnya, bahkan banyak penikmat dari luar kota secara khusus datang ke Jepara untuk menikmati durian tersebut.

Di Pasar Duren Ngabul, selain menjajakan durian jenis petruk, tersedia pula Durian Montong, Durian Sukun, dan durian jenis lainnya. Selain itu, Anda juga bisa menikmati olahan buah durian seperti Es Duren dan Dawet Duren.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Horog-Horog: Si Kenyal dan Gurih dari Jepara

Horog-Horog dan Sate Cecek
Indonesia memang kaya akan keanekaragaman kuliner. Berbagai macam makanan dan jajanan khas tersebar di berbagai penjuru daerah di nusantara. Salah satunya adalah horog-horog. Makanan khas dari Bumi Kartini, Jepara, Jawa Tengah.

Mendengar nama horog-horog mungkin masih terasa asing di telinga. Selain itu namanya juga terdengar aneh. Namun, siapa sangka, makanan berbahan dasar tepung aren ini justru sangat nikmat dan gurih sehingga banyak diminati semua kalangan. Horog-horog mempunyai tekstur kenyal, berwarna putih bening, dan sedikit asin. Makanan tersebut juga merupakan salah satu alternatif makanan pokok pengganti nasi sebab kandungan karbohidratnya cukup tinggi.

Proses pembuatan horog-horog pun relatif rumit, perlu proses berulang dari pencucian, pengeringan, penggorengan, serta pengukusan sehingga memperoleh horog-horog bercita rasa gurih. Dalam proses pembuatan horog-horog pun harus memperhatikan faktor kebersihan, sebab kalau tidak bersih, horog-horog juga terlihat kotor dan mudah basi. Mitos yang berkembang, bahwa dalam proses pembuatan horog-horog, si pembuat juga harus mempunyai hati yang bersih, sebab apabila dalam kondisi marah dan tidak ikhlas, maka horog-horog yang dibuat akan tidak enak.

Selasa, 23 Juli 2013

Mengenang GeKAES

Habis lihat video teasernya GeKAES XVII Smansara di Youtube jadi keinget kenangan zaman dulu. Ngga terasa sudah 6 tahun berlalu, tetapi masih meninggalkan kenangan indah yang membekas sampai sekarang.

GeKAES XII 45th Smansara's Anniversary

Sedikit info tentang GeKAES atau Gebyar Kreasi Apresiasi dan Ekspresi Seni, adalah serangkaian acara yang dilaksanakan oleh OSIS SMAN 1 Jepara dalam rangka merayakan hari jadi sekolah. Pada mulanya GeKAES dilaksanakan oleh pengurus OSIS 96/97 yang kala itu selain sebagai ajang pertunjukan dan seni, juga mengusung misi untuk mengkritik sistem sekolah yang dipandang kurang baik. Alhasil GeKAES yang pertama itu dapat memberhenti-tugaskan salah seorang guru yang dianggap diktator. Semenjak itu GeKAES secara resmi dijadikan sebagai ajang bagi para siswa dan guru untuk memperingati hari jadi sekaligus sebagai sarana refreshing dan penyaluran bakat, terutama di bidang seni.

Rabu, 08 Mei 2013

Masak Pindang


Bicara soal kuliner, sekarang aku akan membahas soal seafood alias makanan yang berasal dari laut. Tentu kebayang kan kelezatannya? Jangan dibayangkan dulu sebelum kau tahu dariku.

Aku suka banget sama seafood, apalagi ikan laut (fish). Katanya nenek moyangku orang pelaut, makanya aku suka seafood. |Ngaco!
Eh, beneran kali, kakek dan nenek buyutku baik dari mami and papi aku itu asli orang pesisir. Gimana ngga bikin aku tergila-gila sama seafood, orang dari sononya punya batere dari seafood.

Sekarang aku akan bahas sebuah menu makanan yang bagi orang pesisir Jepara kayak aku bisa mabuk kepayang dibuainya. Ini dia, pindang. Pindang yang aku maksud di sini bukan kayak pindang kerbau yang dibuat di Kudus, ikan pindang yang dijajakan di Semarang, atau pindang daging yang ada di Palembang. It’s really different.

Pindang Semarang (sumber: alfiansyahmaulana.blogspot.com)

Pindang Kudus (sumber: noorikhfan.web.id)

Pindang Jepara (sumber: kedaikuistanaku.blogspot.com

Pindang yang aku maksud bisa disamain kayak ikan kuah kuning yang disajikan oleh orang-orang di NTB dan Papua. Ya, ini dia Pindang Jepara.

Jumat, 27 Juli 2012

Mutiara di Ujung Utara Jawa

Jawa, merupakan pusatnya Indonesia, berbagai kota besar bahkan ibukota negara terletak di Jawa. Jumlah penduduknya pun merupakan yang terpadat dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia. Di Jawa terdapat pusat perekonomian dan bisnis, jutaan lahan industri berdiri gagah di Jawa.
Benteng VOC

Gong Perdamaian Dunia

Hari Jadi Jepara

Perang Obor Tegal Sambi










Perkembangan dalam dunia industri membuat Jawa mampu menarik jutaan orang datang untuk bekerja dan berinvestasi, dari industri kecil sampai multinasional. Hal itu membuat Jawa menjadi penuh sesak. Aktivitas di Jawa bisa dikatakan sampai 24 jam non-stop. Betapa sibuk dan ramainya Jawa perlahan-lahan meniadakan lahan hijau dan segar. Berbagai kendaraan mengeluarkan asap dan suara gemuruh setiap harinya, belum lagi limbah industri yang merajalela, membuat Jawa menjadi kotor dan kehilangan keeksotisannya.

Ketika mendengar pariwisata Indonesia, yang terbisik di telinga domestik dan manca negara adalah Pulau Dewata, Lombok, dan baru-baru yang melegenda adalah Raja Ampat Papua. Dengan ini, Jawa seperti pupus dari harapan, tetapi Jawa masih mempunyai Yogyakarta dan Bandung, dengan suguhan-suguhan dari keduanya masih mampu memikat wisatawan untuk melancong ke sana. They are in Jawa.

Namun, tahukah Anda jika di Jawa masih mempunyai setitik berlian sebagai tempat berwisata? Setitik harapan untuk perkembangan eksotisme Jawa, tempat kesenian budaya dan alam bersatu memberikan ukiran indah di bumi Jawa. Ialah Jepara, kota kelahiran salah satu pahlawan nasional Indonesia, RA Kartini.


Senin, 23 April 2012

Mengenang Kartini Menemukan Jati Diri

Hari Kartini yang biasa diperingati setiap tanggal 21 April merupakan moment penting bagi wanita Indonesia karena pada hari tersebut selain diperingati sebagai hari kelahiran pahlawan nasional, juga merupakan hari penting dalam mengenang perjuangan wanita Indonesia dalam meraih hak-haknya. Hak-hak tersebut dikenal dengan istilah emansipasi wanita. Bagaimana kita memandang makna emansipasi wanita?
Emansipasi wanita bukanlah hal yang sembarangan, memaknai emansipasi haruslah diiringi dengan hati nurani serta pemikiran mendalam.

Emansipasi bukanlah sikap bebas tanpa aturan sehingga seolah-olah dengan emansipasi, wanita bebas untuk berekspresi tanpa mempedulikan aturan dan tata nilai yang berlaku bagi kita sebagai warga Timur yang menjunjung tinggi etika dan tata krama. Dengan emansipasi, wanita sebagai tiang dunia harus mampu membawa majelisnya, bangsa dan negara tempatnya bernaung ke arah yang jauh lebih baik. Emansipasi wanita Indonesia memberikan kesempatan bagi kaum wanita untuk memimpin, tidak sedikit era sekarang wanita menjadi pemimpin di daerahnya. Bahkan Indonesia sendiri pernah dipimpin oleh wanita, ialah Ny. Megawati Soekarno Putri.  Dengan kesempatan seperti itu, justru harusnya wanita bisa memanfaatkannya sebagai ajang untuk memberikan pengaruh serta pemikiran-pemikiran yang positif untuk lingkungan sekitarnya. Wanita, sumber inspirasi.

perempuan-pekerja
sumber gambar: ngerumpi.com

Perlu ditanamkan dalam benak kita bahwa emansipasi bukanlah memperoleh hak untuk semena-mena, tetapi emansipasi merupakan hak yang berbudi.

Belum lepas dari ingatan kita cerita tentang Geng Nero atau berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kaum wanita, atau berbagai cerita penyiksaan TKW dan berbagai diskriminasi terhadap wanita lainnya. Bukan seperti geng-geng wanita yang bebas berekspresi tidak selayaknya wanita, atau masih adanya pelecehan terhadap kaum wanita. Emansipasi merupakan hal yang unik, yaitu antara hak dan kewajiban jelas pembagiannya atau kebebasan yang berbatas aturan dan kodrati. Wanita bebas untuk bekerja di luar, membantu suami mencari nafkah, tetapi tidak melupakan kewajibannya sebagai pengurus rumah tangga, tidak melupakan kebutuhan keluarga dan anak-anaknya. Wanita bebas berbicara, mengeluarkan pendapatnya, tetapi lantas tidak lepas kontrol. Sebagai kodratnya wanita adalah makhluk yang alus tetapi berjiwa tangguh, dengan itu harus tahu bagaimana seharusnya wanita menjaga sikap dan tutur katanya sehari-hari. Wanita merupakan kunci kesuksesan, manager yang luar biasa.

Mari maknai Hari Kartini dan emansipasi wanita dengan pemikiran mendalam dan hati yang bersih sehingga terwujud Indonesia yang Digdaya.