Tampilkan postingan dengan label teguran Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teguran Allah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

Maka Retaklah Bumi

Saat janji tiada terpenuhi
alpa menjadi-jadi
Kerusakan tak henti-henti
Kaki bumilah jadi saksi

Esok,
mentari masih terlelap sendu
langit tiada membiru
sepanjang jalan terlihat mendung
Mata terbelalak, kaki pun masih tersandung

Malam ini
orang sedang lelap terjaga
pulas atas gerak badan berhari-hari
demi nasi dan harga diri
Namun, pasak-pasak bumi yang berjajar rapi
beraksi

Orang pun berlari-lari
berharap ada yang menyelimuti
lupa yang dijanji

Saat semua makin menjadi
sebagian berzikir tiada henti
meratap atas alpa diri
Namun,
yang lain masih jadi penjudi

Kini titah telah datang
jaman menjadi bukti
alam 'kan jadi saksi
Jika orang-orang tetap berjudi
maka retaklah bumi ini

*Banjir Pantura, tanah longsor Muria, gempa Selatan Jawa, letusan Sinabung dan Kelud

Rabu, 01 Januari 2014

Malam Tahun Baru yang “Indah”

Malam pergantian tahun memang sudah lama menjadi moment yang dinanti-nanti, bahkan sejak zaman kekaisaran Romawi. Cara perayaannya pun beragam, dari pesta kembang api, pesta minuman, sampai kegiatan berhubungan suami-istri. Tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kita tahu bagaimana sejarah terbentuknya kegiatan tahun baru masehi, tentu kita paham kenapa para alim ulama melarang keras perayaan pergantian tahun tersebut. Bahkan di provinsi seperti NAD, polisi syariah perlu bekerja keras membasmi kegiatan yang banyak mudharatnya itu. Namun, sebagian ulama menyarankan peringatan pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan (bagi umat muslim) seperti berdoa bersama, tadarus, dan perbanyak sholat sunnah untuk merenungi masa-masa yang sudah terlewat dan berharap masa ke depan akan jauh lebih baik.

Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang beruntung. Barang siapa yang tahun ini sama dengan tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barang siapa yang tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang rusak.”

Malam tahun baruku sendiri bisa dikatakan sangat sepi. Ya, aku memang tidak merayakannya, baik dengan berpesta pora maupun berdoa bersama. Aku menikmati malam pergantian tahun dengan berdiam di rumah, seperti biasa setelah sholat dan mengaji, aku berada di depan televisi bersama keluarga lalu membaca buku sambil mendengarkan radio sebagai pengantar tidur. Kebetulan malam itu ada dua keponakanku yang datang untuk liburan, aktivitas keduanya juga sama denganku, menonton tv dan bermain game di handphone.

Rumahku hanya berjarak tak kurang 200 meter dari tempat wisata. Dari tempat tersebut terdengar keras suara alunan musik dangdut dari panggung hiburan di area wisata, musik-musik jazz atau apalah dari beberapa resort milik swasta. Jalanan depan rumah begitu ramai lalu-lalang kendaraan orang yang hendak merayakan malam pergantian tahun. Malam yang langka bagiku. Kelihatannya memang sangat ramai, sampai-sampai hotel di depan rumahku pun parkirannya penuh dengan mobil.