Rabu, 01 Januari 2014

Malam Tahun Baru yang “Indah”

Malam pergantian tahun memang sudah lama menjadi moment yang dinanti-nanti, bahkan sejak zaman kekaisaran Romawi. Cara perayaannya pun beragam, dari pesta kembang api, pesta minuman, sampai kegiatan berhubungan suami-istri. Tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kita tahu bagaimana sejarah terbentuknya kegiatan tahun baru masehi, tentu kita paham kenapa para alim ulama melarang keras perayaan pergantian tahun tersebut. Bahkan di provinsi seperti NAD, polisi syariah perlu bekerja keras membasmi kegiatan yang banyak mudharatnya itu. Namun, sebagian ulama menyarankan peringatan pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan (bagi umat muslim) seperti berdoa bersama, tadarus, dan perbanyak sholat sunnah untuk merenungi masa-masa yang sudah terlewat dan berharap masa ke depan akan jauh lebih baik.

Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang beruntung. Barang siapa yang tahun ini sama dengan tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barang siapa yang tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang rusak.”

Malam tahun baruku sendiri bisa dikatakan sangat sepi. Ya, aku memang tidak merayakannya, baik dengan berpesta pora maupun berdoa bersama. Aku menikmati malam pergantian tahun dengan berdiam di rumah, seperti biasa setelah sholat dan mengaji, aku berada di depan televisi bersama keluarga lalu membaca buku sambil mendengarkan radio sebagai pengantar tidur. Kebetulan malam itu ada dua keponakanku yang datang untuk liburan, aktivitas keduanya juga sama denganku, menonton tv dan bermain game di handphone.

Rumahku hanya berjarak tak kurang 200 meter dari tempat wisata. Dari tempat tersebut terdengar keras suara alunan musik dangdut dari panggung hiburan di area wisata, musik-musik jazz atau apalah dari beberapa resort milik swasta. Jalanan depan rumah begitu ramai lalu-lalang kendaraan orang yang hendak merayakan malam pergantian tahun. Malam yang langka bagiku. Kelihatannya memang sangat ramai, sampai-sampai hotel di depan rumahku pun parkirannya penuh dengan mobil.


Kondisi berisik itu membuatku tak nyaman, terlebih untuk kedua orang tuaku. Mereka bahkan sudah berbaring di tempat tidur pada pukul 8.00. Sedangkan aku sendiri pukul 9.30 karena menemani keponakanku menonton tv. Keponakanku yang kecil aku suruh tidur duluan karena terlihat sudah mengantuk. Aku janjikan padanya untuk membangunkan pada pukul 00.00 untuk melihat kembang api, tapi rupayanya dia tak begitu tertarik.

Menjelang pukul 00.00 aku terbangun. Terdengar beberapa sms masuk, rupanya dari beberapa teman baru yang mengucapkan selamat tahun baru dengan doa-doa yang menyertai. Dari kejauhan juga terdengar MC acara musik mengucapkan hal yang sama. Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh kembang api bermunculan diiringi kendaraan yang menuju arah pulang. Aku sempatkan untuk mengintip dari balik jendela. Aku tak jadi membangunkan keponakanku lantaran sepertinya kurang menarik juga baginya. Selang beberapa detik setelah kembang api berhenti menyala, hujan pun turun dengan lebat. Aku putuskan untuk tidur kembali dan bersiap bangun lagi pada jam 3.00 untuk sholat.

Kali ini aku bangun kesiangan, melihat jam menunjukkan pukul 4 lebih 2. Hujan disertai angin menyiutkan nyaliku untuk ke belakang. Tak lama kemudian terdengar angin begitu kencang lewat, terdengar sangat keras, hanya lewat beberapa detik. Setelah itu aku bangun untuk mengambil air wudlu dan bergegas sholat subuh. Ba’da sholat ibuku menemuiku meminta tolong agar aku dan bapak membantu omku, kabarnya warung beliau yang di pantai porak poranda terkena angin. Kami pun segera bergegas menuju ke sana.

Hujan masih mengguyur, beberapa lampu warung masih menyala, tetapi yang lain tidak. Ternyata yang kudengar subuh tadi adalah angin puting beliung. Angin tersebut berhasil menumbangkan beberapa pohon besar dan merobohkan beberapa warung semi permanen di sana, termasuk warung omku. Namun, kelihatannya warung omku-lah yang paling parah, sebab separuh atapnya sampai rusak parah, genting-genting yang menyelimutinya berguguran ke tanah.

Ternyata di belakang warung omku berdiri sebuah panggung besar bekas acara musik dangdut semalam. Kondisinya juga sangat parah. Panggung yang terbuat dari besi tersebut sampai bengkok-bengkok, bahkan atapnya terpisah jadi dua bagian, yang satu terpisah sekitar 2 meter dengan kondisi ringsek dan bagian terpalnya terpisah kira-kira 30 meter. Hanya dalam hitungan detik tetapi angin itu mampu membuat semua luluh lantah. Padahal rencananya panggung tersebut akan direlokasi ke tempat lain untuk acara hiburan serupa.

Itulah kuasa Allah memberikan peringatan kepada hambaNya. BagiNya itu sangat kecil dan mudah untuk dilakukan. Namun, Allah memang Maha Pengasih, dalam murkaNya, Dia masih menunjukkan rahmatNya. Dalam kondisi angin seperti itu, omku sudah terbangun, setelah sholat subuh beliau berencana merapikan dagangannya. Kalau saja omku masih tidur, kemungkinan terburuk bisa terjadi padanya. Omku termasuk muslim yang taat, mungkin ini ujian dari Allah untuknya dan keluarga. Mungkin kenapa juga hanya warung omku yang rusaknya paling parah sebab menurutku diantara pedagang yang lain omku paling berada, kalau hari ini beliau tidak bisa berjualan, masih ada usaha lain yang bisa menambah pundi-pundinya. Allah menunjukkan kuasaNya, keadilanNya, serta rahmatNya.

Hari ini tahun baru, tetapi hujan deras dan awan hitam masih menyelimuti langit Bandengan. Adakah ketakridloan Allah hari ini ditunjukkan? Wallahu a’lam bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar