Saat janji tiada terpenuhi
alpa menjadi-jadi
Kerusakan tak henti-henti
Kaki bumilah jadi saksi
Esok,
mentari masih terlelap sendu
langit tiada membiru
sepanjang jalan terlihat mendung
Mata terbelalak, kaki pun masih tersandung
Malam ini
orang sedang lelap terjaga
pulas atas gerak badan berhari-hari
demi nasi dan harga diri
Namun, pasak-pasak bumi yang berjajar rapi
beraksi
Orang pun berlari-lari
berharap ada yang menyelimuti
lupa yang dijanji
Saat semua makin menjadi
sebagian berzikir tiada henti
meratap atas alpa diri
Namun,
yang lain masih jadi penjudi
Kini titah telah datang
jaman menjadi bukti
alam 'kan jadi saksi
Jika orang-orang tetap berjudi
maka retaklah bumi ini
*Banjir Pantura, tanah longsor Muria, gempa Selatan Jawa, letusan Sinabung dan Kelud
Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bencana. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Februari 2014
Jumat, 31 Januari 2014
Bencana dan Kezaliman
![]() |
| sumber: akun facebook I ♥ Jepara |
Dulu, banjir kerap dikaitkan dengan Kota Jakarta, ibukota
Indonesia, lantaran buruknya kondisi drainasenya, banyaknya tumpukan sampah yang
menyumbat aliran air, minimnya zona hijau karena semua lahan penuh dengan
gedung-gedung beton. Namun, kini bencana banjir tidak hanya merendam Jakarta,
bahkan di berbagai pelosok negeri ini, banjir telah mengancam dengan
menenggelamkan perumahan penduduk hingga mencapai atap-atap rumah. Ada apakah
dengan Indonesia?
Mengutip dari banyaknya ayat di Al-Quran yang menjelaskan
tentang bencana. Di sini akan aku kutip beberapa.
“Dan tidak adalah
Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang
rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula)
Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan
kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)
“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka
penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab
(penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis
di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)
“Dan apa saja musibah
yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri,
dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 :
30)
“Dan Allah Telah
membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
(penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan
kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu
mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas disebutkan bahwa
munculnya suatu bencana tidak lain disebabkan oleh kezaliman hambaNya. Tentu
kita sadar bahwa dewasa ini semakin banyak terjadi kemaksiatan dimana-mana.
Bahkan, para pemimpin yang diamanahkan untuk menjaga moral bangsanya pun
melakukan hal yang sama. Banyak pula golongan alim yang menutup mata dan
telinga, membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Maka, mungkin sepantasnya
apabila Allah SWT mengganjar kita dengan hal yang demikian. Bencana datang
bertubi-tubi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, dan
lain sebagainya.
Bencana didatangkan tanpa pilih kasih, tak peduli baginya
yang beriman atau tidak. Bagi orang yang beriman, bencana merupakan sarana
untuk meningkatkan kualitas keimanan, dalam hal ini Allah berjanji akan
mengangkat derajat dan martabatnya dengan mengampuni dosa-dosanya. Namun, bagi
kaum yang zalim, bencana merupakan suatu peringatan agar mereka dapat segera
sadar dan bertaubat atas perbuatan-perbuatan dosanya. Semoga yang demikian
segera memperoleh inayah serta hidayahNya.
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan
beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa
: 147)
Rabu, 01 Januari 2014
Malam Tahun Baru yang “Indah”
Malam pergantian tahun
memang sudah lama menjadi moment yang dinanti-nanti, bahkan sejak zaman
kekaisaran Romawi. Cara perayaannya pun beragam, dari pesta kembang api, pesta minuman,
sampai kegiatan berhubungan suami-istri. Tak terkecuali di Indonesia yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kita tahu bagaimana sejarah
terbentuknya kegiatan tahun baru masehi, tentu kita paham kenapa para
alim ulama melarang keras perayaan pergantian tahun tersebut. Bahkan di
provinsi seperti NAD, polisi syariah perlu bekerja keras membasmi kegiatan yang
banyak mudharatnya itu. Namun, sebagian ulama menyarankan peringatan pergantian
tahun diisi dengan kegiatan keagamaan (bagi umat muslim) seperti berdoa
bersama, tadarus, dan perbanyak sholat sunnah untuk merenungi masa-masa yang
sudah terlewat dan berharap masa ke depan akan jauh lebih baik.
Sabda Nabi SAW, “Barang
siapa yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya maka dia termasuk
orang-orang yang beruntung. Barang siapa yang tahun ini sama dengan tahun
sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barang siapa yang
tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang
rusak.”
Malam tahun baruku sendiri bisa
dikatakan sangat sepi. Ya, aku memang tidak merayakannya, baik dengan berpesta
pora maupun berdoa bersama. Aku menikmati malam pergantian tahun dengan berdiam
di rumah, seperti biasa setelah sholat dan mengaji, aku berada di depan televisi
bersama keluarga lalu membaca buku sambil mendengarkan radio sebagai pengantar
tidur. Kebetulan malam itu ada dua keponakanku yang datang untuk liburan,
aktivitas keduanya juga sama denganku, menonton tv dan bermain game di
handphone.
Rumahku hanya berjarak tak
kurang 200 meter dari tempat wisata. Dari tempat tersebut terdengar keras
suara alunan musik dangdut dari panggung hiburan di area wisata, musik-musik
jazz atau apalah dari beberapa resort milik swasta. Jalanan depan rumah begitu
ramai lalu-lalang kendaraan orang yang hendak merayakan malam pergantian tahun.
Malam yang langka bagiku. Kelihatannya memang sangat ramai, sampai-sampai hotel di
depan rumahku pun parkirannya penuh dengan mobil.
Langganan:
Postingan (Atom)
