Kamis, 07 Maret 2013

Menjaga Hubungan Kekeluargaan dengan Sambatan



Foto Blur ini diambil ketika ada sambatan di rumah
Awal maret kemarin, saya disuruh pulang ke kampung oleh ibu. Keluarga di rumah akan mengadakan pengajian untuk mengenang meninggalnya nenek dari ibu. Di Jawa memang mengenal banyak sekali tradisi untuk memperingati hari-hari penting seperti memperingati hari meninggalnya seseorang, pernikahan, dan sebagainya. Namun, bukan hal itu yang akan saya bahas di tulisan kali ini, melainkan adanya tradisi yang sangat bagus dimana masyarakat berkumpul untuk membantu orang yang mempunyai hajat, tradisi tersebut bernama “Sambatan”.

Zaman semakin modern, populasi penduduk yang semakin meningkat dan berbagai aktivitas ekonomi membuat orang semakin sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan pribadinya sehingga dikenal istilah individualistis dan turunnya kepedulian sosial, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Salah satu hal yang unik dan memberikan pesan sosial yang baik adalah tradisi sambatan.

Sambatan berasal dari bahasa jawa “sambat” dengan imbuhan “–an”. Sambat sendiri berarti bantu, tolong, atau bagi kasih, sehingga sambatan mempunyai arti bantuan atau pertolongan. Dalam penggunaannya, sambatan adalah kegiatan masyarakat untuk membantu sesamanya yang sedang mempunyai kerja/hajat/acara. Sambatan adalah bentuk bantuan suka rela atau tanpa upah. Namun, meskipun tanpa upah, sang punya hajat biasanya tetap memberikan balasan dengan memberikan makanan kepada orang-orang yang membantunya. Tidak penting biasanya nilai makanan yang diberikan, asalkan cukup dan layak sesuai dengan kemampuan sang punya hajat. Sambatan biasanya dilakukan dalam kegiatan seperti ngunduh mantu atau pesta pernikahan, mendirikan rumah (biasanya untuk kegiatan pemasangan atap/ nata genteng), tasyakuran, serta peringatan lain. Sebelum dilakukan sambatan, sang punya hajat biasanya mengundang tetangga atau orang-orang yang diajak sambatan terlebih dahulu.

Di Jawa, khususnya bagi masyarakat pedesaan, sambatan mempunyai arti penting dimana masyarakat dapat menjaga hubungan kekeluargaan dengan saling bantu membantu. Dalam sambatan, sang punya hajat dibantu dengan tenaga untuk berbagai keperluan. Dengan adanya bantuan tersebut, sang punya hajat merasa sangat terbantu dan teringankan pekerjaannya. Orang yang membantu pun sangat senang dapat membantu dan meringankan pekerjaan saudaranya, meskipun hanya dengan sepiring makanan sebagai balasan. Ketika sambatan pun orang-orang dikumpulkan dalam satu tempat dan waktu sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang menambah keakraban. Sambil membantu, mereka dapat berbincang-bincang dan bercengkrama satu sama lain. Hal itu tentu dapat memupuk rasa kekeluargaan warga.

Selain berarti secara sosial, secara ekonomi sambatan mempunyai nilai penting karena dapat mengurangi biaya pengeluaran, terutama untuk tenaga kerja. Bahkan dalam sambatan warga biasanya tidak hanya membantu dengan tenaga, tetapi juga secara materi, seperti bahan makanan atau lainnya. Tentu hal ini sangat menguntungkan terutama bagi mereka golongan kurang mampu.

Sayangnya dewasa ini sambatan semakin jarang ditemui, terutama di daerah perkotaan sebab masing-masing individu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada waktu untuk sambatan. Untuk itu, orang-orang di perkotaan memanfaatkan jasa tukang atau catering untuk menyelesaikan pekerjaannya ketika punya kerja.

Namun, nilai luhur yang ada di dalam sambatan tidak boleh kita lupakan. Dan sebagai generasi penerus bangsa kita tetap harus melestarikan tradisi positif warisan nenek moyang. Selama hal itu baik, kenapa tidak kita lakukan?

2 komentar:

  1. itu mrpkn tradisi, tiap daerah brbeda istilahnya, kalo d jepara dkenal dgn sambatan, jika di semarang khajatan, kendurenan. Intinya sama sbtulnya, yaitu berbagi kasih dgn saling memberi. Mungkin jika ditelaah, hal itu bisa dijadikan contoh agar dijaman modern ini, dapat saling membantu sesama, shingga tercipta gotong royong dlm membangun masyarakat yg mandiri.
    Benar kan my brother :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, berharap tradisi seperti ini tidak akan pernah luntur. Amiin

      Hapus