Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 September 2019

Ambulans dan Empati

Pagi buta mekarlah bunga, ayam berkokok pratanda cinta
Rembulan dan merpati berganti, tapi tak saling mengganti
...

Halo sobat blogger, udah lama banget aku ngga nulis. Mungkin kalau niat di hati ini segera terealisasi, sudahlah terbit beberapa tulisan di dinding beranda ini.


Mobil Ambulans Lewat? Langsung Kasih Jalan Dong!
Gambar Ilustrasi, sumber : kompasiana
Ambulans dan Empati, jadi ceritanya budhe aku sakit dan pertu CT Scan untuk ngecek kondisi kepala. Karena CT Scan di rumah sakit di Jepara rusak, maka harus dirujuk ke Kudus, maklum ya karena kota kecil hehe. Nah nganter ke Kudusnya sendiri pake ambulans.

Sekilas cerita tentang jalan Jepara-Kudus yang sering aku lewati paling tidak seminggu dua kali, karena aku bekerja di Kudus dan tinggal disana sedangkan rumah ada di Jepara. Kondisi jalan sudah beraspal mulus, kelas jalan Nasional (Jepara-Gotri) dan Provinsi (Gotri-Kudus). Meskipun kelas nasional, tapi lebar jalan di Jepara tak selebar jalan Pantura apalagi yang sudah dibuat median. Jepara dan Kudus merupakan salah satu kota yang dikenal dengan industrinya, Jepara dengan furniture dan Kudus dengan rokok, dan sekarang ini Jepara justru menjadi lokasi favorit eksodus perusahaan-perusahaan asing padat karya dari Jabodetabek dan Jatim. Jadi bisa dibayangkan betapa padatnya jalur yang akan kami lewati, bahkan kalau weekdays terjadi kemacetan panjang di beberapa titik. Jarak Jepara-Kudus sekitar 30 km dan dengan gayaku nyetir, biasanya membutuhkan waktu paling tidak 80 menit.

Sebenarnya sudah lama ingin aku menulis tentang ambulans dan kaitannya dengan rasa empati masyarakat sampai akhirnya aku sendiri yang diberikan kesempatan untuk pertama kalinya naik mobil itu. Karena aku sering jengah dengan kelakukan masyarakat kita yang masih acuh kalau ada ambulans lewat.

Sepanjang perjalanan aku menjadi pengamat sambil memegang tangan Budhe yang selalu beristighfar. Aku lihat banyak pengemudi yang sudah mulai sadar ketika mendengar sirine. Mereka mulai pasang sign kiri lalu minggir, tapi tidak sedikit juga yang masih acuh, terutama mobil dengan plat kota tertentu. Aku bukanlah tipe orang yang suka menjadikan stereotip warga kota tertentu, aku hanya mengamati, mungkin ini kaitan dengan kebiasaan di lingkungannya karena "desa mawa cara". Begitupun dengan kelakukan kendaraan roda dua, masih banyak yang suka selap-selip padahal sudah jelas ambulans mau lewat.

Ini menjadi tugas dan tanggung jawab bersama untuk mengedukasi dan memberikan penyadaran kepada mereka yang belum tergugah hatinya. Aku pribadi mengajak rekan-rekan semua dimulai dari diri sendiri dengan bersikap empati di jalan, terutama ketika ada kendaraat darurat yang hendak lewat seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Selain itu juga mengajak yang lainnya dengan menyebarkan seruan secara langsung maupun media sosial, agar orang lain tertular energi positif kita.

Namun, dari pengalaman kemarin aku bersyukur ternyata banyak orang kita yang sudah terbentuk rasa peduli dan empatinya. Juga tumbuh rasa optimis dengan masa depan masyarakat yang semakin beradab. Alhamdulillah.

Satu hal yang membuat aku semakin takjub adalah kehadiran mas-mas pencari jalan untuk ambulans. Sebenarnya aku sering melihat mereka ini ketika ada ambulans lewat, tapi sekarang aku yang merasakan kebaikan mereka. Bak seorang superhero, mereka muncul secara tiba-tiba dan saat keadaan sudah darurat. Waktu perjalanan ke Kudus, seseorang datang saat sudah di Mayong, dan waktu balik ke Jepara, dua orang muncul saat di Gotri Kalinyamatan. Mungkin mereka ini semacam komunitas atau belum tentu juga. Yang pasti suatu saat aku pengen ketemu dengan mereka, meski hanya sekedar berucap terima kasih. Mereka yang sudah dengan sigap dan siap mempertaruhkan keselamatannya untuk mencarikan jalan bagi mobil ambulans. Dalam hal ini, mereka-merekalah yang secara tidak langsung mengedukasi masyarakat dalam berempati saat mobil ambulans lewat. Ya, aku selalu takjub dengan orang-orang yang terbangun jiwa sosialnya. Sayang, aku ngga sempat pegang ponsel untuk mengambil gambar.

Yang harus selalu kita ingat, ketika ada ambulans lewat dan sirinenya berbunyi, ia sedang membawa pasien kritis yang membutuhkan pengertian kita. Pasien tersebut perlu segera sampai ke tempat tujuan untuk memperoleh pertolongan. Atau ambulans tersebut sedang membawa jenazah yang harus segera disemayamkan. Maka berikanlah jalan. Posisikan diri kita sebagai keluarganya yang cemas di dalam mobil ingin cepat sampai, atau posisikan diri kita sebagai orang yang sakit dan butuh pertolongan segera. Itulah empati, yang harus tumbuh di dalam hati.

Sekarang saatnya aku, kamu, dan kalian semua yang mengambil peran. Yuk sebarkan semangat positif mas-mas itu lewat perilaku dan media sosial yang kita punya. Mari kita bantu pemerintah kita mewujudkan masyarakat kita yang lebih beradab. :)

Pagi buta mekarlah bunga, ayam berkokok pratanda cinta
Rembulan dan merpati berganti, tapi tak saling mengganti
Tuhan ciptakan hati manusia, untuk diisi cinta
Ambulans dan empati datang, untuk melunakkan hati

Sabtu, 09 April 2016

Air Mata Menjadi Mata Air (Mbah Sadiman)

Foto Mbah Sadiman (Sumber : kickandy.com)
Saat melihat acara Kick Andy di tivi aku melihat sosok yang inspiratif yang begitu ikhlas melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi banyak orang, visioner, dan tahan terhadap berbagai rintangan. Ialah Mbah Sadiman, beliau adalah pahlawan bagi alam.

Dikisahkan bahwa lelaki yang tinggal di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, sebuah desa di lereng Gunung Gendol, ujung timur Kabupaten Wonogiri tersebut aktif melakukan penghijauan di sebuah bukit gundul di kampungnya. Usianya memang tidak muda lagi, tetapi semangat beliau untuk kembali menghijaukan tanah kelahirannya perlu diacungi jempol. Selain melakukan penanaman seorang diri, Mbah Sadiman juga berhasil membuat anak tangga untuk mencapai puncak bukit. Tujuannya adalah supaya anak cucunya kelak dapat menikmati perbukitan tersebut sebagai tempat wisata. "Supaya anak-anak tidak perlu jauh-jauh berwisata, ada di kampungnya sendiri', tuturnya. Langkah mulia ini beliau lakukan dengan menjadikan puncak bukit sebagai taman yang cantik dan rindang. Selain menanam pohon, beliau juga menanam bunga-bungaan untuk memperindah bukit.

Mengawali debutnya sejak 1996 bukan berarti tanpa halangan. Seringkali karena ulah warga yang hanya mementingkan dirinya sendiri, pohon-pohon yang ditanam Mbah Sadiman mati. Namun, berkat semangat dan keikhlasannya yang luar biasa, Mbah Sadiman mampu menghadapinya. Dan kini, di usianya yang sudah mencapai 62 tahun, beliau mampu memetik hasilnya. Hutan yang dulu gundul kini sudah hijau kembali, tidak ada air mata melainkan mata air yang terus mengaliri tanah Wonogiri. Kini langkah beliau didukung oleh berbagai komunitas pecinta alam dan diikuti oleh warga di sekitarnya.

Kawan, kita mungkin sulit mencontoh apa yang sudah Mbah Sadiman lakukan, tetapi paling tidak kita bisa menjadi pahlawan bagi negeri ini dengan jalan kita sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa yang muda juga mampu berkarya. Dan kita buat Sadiman - Sadiman lain di tanah air kita tercinta.

Kamis, 07 Maret 2013

Menjaga Hubungan Kekeluargaan dengan Sambatan



Foto Blur ini diambil ketika ada sambatan di rumah
Awal maret kemarin, saya disuruh pulang ke kampung oleh ibu. Keluarga di rumah akan mengadakan pengajian untuk mengenang meninggalnya nenek dari ibu. Di Jawa memang mengenal banyak sekali tradisi untuk memperingati hari-hari penting seperti memperingati hari meninggalnya seseorang, pernikahan, dan sebagainya. Namun, bukan hal itu yang akan saya bahas di tulisan kali ini, melainkan adanya tradisi yang sangat bagus dimana masyarakat berkumpul untuk membantu orang yang mempunyai hajat, tradisi tersebut bernama “Sambatan”.

Zaman semakin modern, populasi penduduk yang semakin meningkat dan berbagai aktivitas ekonomi membuat orang semakin sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan pribadinya sehingga dikenal istilah individualistis dan turunnya kepedulian sosial, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Salah satu hal yang unik dan memberikan pesan sosial yang baik adalah tradisi sambatan.

Sabtu, 10 November 2012

Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat



Modernisasi dan Globalisasi merupakan dua kesatuan yang masih menjadi isu hangat saat ini. Modernisasi merupakan bentuk perubahan secara inkremental terhadap ruang kehidupan yang disebabkan adanya revolusi industri. Sedangkan globalisasi diartikan sebagai suatu kondisi penyatuan segala sudut ruang kehidupan antar bangsa. Keduanya saling berkaitan dimana modernisasi mendukung terjadinya globalisasi. Modernisasi dipicu oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memunculkan berbagai macam peralatan canggih untuk memudahkan segala bentuk aktivitas manusia.

Dengan keduanya, jarak ruang dan waktu tidak menjadi suatu kendala yang berarti bagi manusia untuk saling berhubungan. Sepasang kekasih yang terpisah antar negara tetap dapat berkomunikasi secara langsung. Kalau dulu mereka berkomunikasi dengan surat-menyurat sehingga harus menunggu lama untuk saling berbalas pesan, kini komunikasi dapat dijalankan lebih cepat dan mudah, via telepon atau internet dengan video call-nya.

Ya, teknologi menjadi kunci semua bentuk kemudahan itu. Teknologi memunculkan berbagai bentuk gadget sebagai piranti bagi manusia untuk berhubungan dengan sesama dan mengakses segala bentuk informasi. Sebagaimana kita tahu sekarang muncul berbagai macam gadget dengan fitur-fitur pendukungnya, bahkan layanan telepon dan sms sudah menjadi hal yang basi sejak bermunculan fitur-fitur yang lebih canggih, seperti Blackberry dengan blackberry massanger, OS android dengan segala macam fiturnya, games-games baru dan seru semakin banyak, dan masih banyak lagi. Bahkan sekarang semua provider saling berlomba berebut pangsa pasar dengan memunculkan keunggulan layanan masing-masing. Semakin mudah, semakin cepat, dan semakin banyak pilihan.

Bukti kemajuan teknologi yang dianggap paling mutakhir ialah munculnya internet dan segala bentuk pengembangannya. Dengan internet, komunikasi dan akses informasi menjadi semakin mudah dan murah, sehingga semakin banyak orang yang berminat untuk menggunakan layanan ini. Program di internet yang berhasil menarik perhatian semua umat ialah munculnya jejaring sosial, sebagai contoh ialah facebook dan twitter. Pengguna facebook dan twitter semakin hari semakin bertambah, dari segala jenis usia dan profesi. Bahkan Indonesia sendiri menduduki peringkat teratas di dunia sebagai pengguna terbanyak kedua jenis jejaring sosial tersebut.

Facebook terbukti ampuh menjadi sarana komunikasi yang dapat menemukan semua kalangan, bahkan dapat pula menemukan kerabat-kerabat yang jauh dan sudah lama tidak bertemu. Facebook mampu menyatukan jarak pertemanan antarnegara, menjadi sarana pertemuan perhimpunan bangsa-bangsa. Untuk para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam international students, facebook menjadi media yang sesuai untuk menyatukan mereka, begitu juga bagi para pekerja dan wirausaha. Berjualan via online dengan facebook atau memberikan link website-nya dengan facebook atau jejaring sosial yang lain kini sudah menjadi trend.

Namun, di balik segala bentuk kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi ternyata menyimpan dampak lain. Munculnya gadget dengan berbagai fitur seperti games dan hubungan melalui jejaring sosial justru menimbulkan efek negatif. Jejaring sosial dipandang justru mempunyai dampak terhadap kehidupan sosial seseorang. Mari kita simak pemaparan berikut.