Rabu, 27 November 2013

Kebersihan Cerminan Akhlaq


Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, selain mengikuti sekolah formal, aku juga mengikuti sekolah agama, boleh dibilang TPQ atau sekolah sore kalau orang Jepara bilang. Dalam masa pendidikan di sekolah sore tersebut, selain memperoleh pendalaman membaca Al-Quran, juga diajarkan cara menulis kaligrafi yang kalimatnya dikutip dari potongan-potongan ayat Al-Quran atau dari peribahasa arab. Di luar perkara keilmuan, para murid juga diwajibkan untuk menghargai waktu dengan tidak datang terlambat dan turut menjaga kebersihan kelas.

Sekedar informasi, bahwa aku mengaji bukan di sebuah Madrasah Diniyah, melainkan datang ke rumah salah seorang ustad bernama Ust.Suhariyono. Beliau menyulap rumah sederhananya dengan menyediakan sebuah aula kecil hingga dapat digunakan para murid untuk mengaji dan sholat berjamaah.

Kembali pada perkara di luar keilmuan. Dalam hal menjaga kebersihan, Pak Hari, sapaan akrab beliau, tidak hanya menyuruh kami membersihkan ruang kelas, tapi sewaktu-waktu apabila rumput di halaman rumah beliau yang cukup luas sudah tumbuh tinggi, para murid juga “diberdayakan” untuk mencabutinya. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak tahu menahu akan protes, kedatangan para murid tersebut ke rumah Pak Hari bukanlah untuk menjadi “babu”, tetapi untuk mengaji, mempelajari ilmu agama. Meskipun kami memang tidak dipungut biaya sepeser pun selama mengaji kepada beliau.

Di lain cerita. Suatu ketika aku berjalan-jalan di sebuah pusat kota yang notabene setiap tahunnya selalu mendapatkan predikat kota bersih dengan piala adipura. Seorang anak yang dibonceng orang tuanya mengendarai sepeda motor tanpa dosa membuang bungkus susu kemasan yang tadi diminumnya. Melihat setiap sudut jalan kota yang tampak bersih, aku rasa siapapun harusnya tak tega meninggalkan sampah sembarangan di sana sebab tentu akan kentara sekali. Namun, entah bagaimana bisa, orang tua si anak tersebut pun seperti tak ada itikad untuk menegur putranya sendiri.


Terkadang kita sering bahkan selalu memandang suatu kebersihan sebagai hal sepele. Tanpa kita sadari bahwa di dalam sebuah kata “bersih” mengandung makna yang sangat dalam. Perkara kebersihan erat kaitannya dengan kepribadian. Orang yang cinta kebersihan secara lahiriah dapat dikatakan mempunyai kepribadian yang baik. Kalau kita menyebut kegiatan korupsi yang dilakukan oleh para koruptor itu sebagai bentuk kegiatan kotor sehingga banyak orang yang maju sebagai calon eksekutif dan legislatif sekarang berlomba-lomba mengklaim bahwa dirinya “bersih”. Maka seharusnya kita dapat mengerti bahwa bersih yang dimaksud berasal dari dalam diri. Begitulah kira-kira makna bersih yang begitu luas dan dalam.

Seorang ustad bernama Suhariyono tentu tidak tanpa alasan menyuruh para muridnya untuk ikut membersihkan halaman rumahnya. Atau mungkin kita ingat, dahulu para guru meminta muridnya membersihkan toilet yang bau sebagai hukuman bagi murid yang melanggar peraturan. Semua itu bukannya tanpa alasan. Sebab kalau kita belajar ilmu tasawuf, ilmu menata hati, kita akan tahu bagaimana kiai-kiai sufi itu mengajarkan santri-santrinya tentang seni menata hati. Mereka akan keras kepada para santri dalam hal menjaga kebersihan lingkungan sebab para kiai itu yakin kalau hati seseorang akan bersih setelah ia bisa membuat lingkungan bersih. Jadi, kebersihan hati (batiniah) dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan (lahiriah).

Ada pepatah yang bilang kalau “Kebersihan sebagian dari Iman”. Hal tersebut benar adanya, sebab bagi yang mengimani Tuhannya pasti mengimani kebenaran kitab-kitabNya. Sedangkan dalam kitab Tuhan disebutkan bahwa sesungguhnya Tuhan mencintai orang-orang yang bersih dan mensucikan diri. Secara nyata, jasad orang akan bersih apabila berada dalam lingkungan yang bersih. Bagaimana bisa kita menjadi bersih apabila berada di lingkungan yang penuh sampah, bau, dan berdebu?

Kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan ini mempunyai korelasi terhadap sikap dan perilaku (akhlak) seseorang. Orang yang suka terhadap kebersihan akan cenderung selalu berpikir positif sehingga menghasilkan hal-hal yang bersifat positif pula. Sedangkan bagi mereka yang jorok, dengan perilaku yang suka membuang sampah sembarangan, akan cenderung berpikiran negatif, sehingga hal-hal negatif juga akan menempel pada dirinya, seperti penyakit yang sering datang padanya. Di dalam orang-orang yang “tidak bersih” ini tertanam sifat-sifat negatif seperti iri, dengki, dan penyakit hati lainnya. Keirian itu yang membuat orang sering tidak pernah merasa cukup sehingga muncullah perilaku negatif seperi suka mencuri dan bahkan korupsi. Bukankah bencana-bencana yang datang di negeri ini juga karena ulah manusia yang tidak bisa menjaga kebersihan diri dan lingkungan? Sehingga Tuhan menimpakan hukuman berupa bencana bagi umatNya.

Oleh sebab itu, mulai sekarang mari kita cintai kebersihan diri dan lingkungan supaya hati kita juga bersih sehingga dapat terhindar dari hal-hal negatif. Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar