Tampilkan postingan dengan label makna hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2023

CINA

Wah udah lama banget ya ngga nulis di blog, ini kalo rumah pasti udah minta renov gegara saking lamanya ngga ditinggalin, boro-boro ngerawat. Sebenernya di dalam otak ini buanyak banget yang mau ditulis, apalagi pas jaman covid masih anget-angetnya, isi kepala kayak mau pecah karena saking banyaknya fenomena yang bikin aku overthinking. Padahal sebenernya pelarian dari semua itu ya sebenernya nulis ya. Ini gara-gara semalam akhirnya baru nonton film Cek Toko Sebelah 2 di Netflix dimana scene Koh Afuk merecall momen dimana dia benci sama pribumi karena pernah menjarah dagangannya di masa reformasi, hanya karena dia "Cina". Memori itu bikin dia sakit ati banget sampe susah buat dilupain. Karena scene itu aku jadi keinget temen2ku di masa SMP dan beberapa rekan kerja yang dijuluki "Cina".


Etnis Tionghoa atau Cina tergolong salah satu etnis terbesar di Indonesia, menurut data dari Kompas jumlahnya mencapai 1,7 juta jiwa pada Tahun 2000. Sebenarnya mungkin bisa bertambah, tapi karena sebagian etnis Tionghoa di Indonesia menyematkan etnis pribumi pada identitasnya, seperti Jawa atau Sunda untuk bisa dianggap sebagai "warga lokal". Desclaimer, blog ini bukanlah blog edukasi ya, hanya sebagai wadah penyampaian opini pribadi atas pengalaman-pengalaman pribadi juga.

Jumat, 08 Desember 2017

Membuka Hati Untuk Peduli

Sebaik - baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia (HR Ahmad)



Hari yang panas itu aku mengantar Ibuku pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah. Di samping tempat aku memarkirkan kendaraan, terdapat tumpukan sampah yang belum diangkut oleh petugas. Seorang lelaki tua mendekati tumpukan sampah tersebut lalu diambilnya sebuah mangga yang mungkin sudah dianggap tak laik oleh penjualnya sehingga dibuang. Lalu dimakannya buah mangga itu dengan cepat dan lahap, ia tampak sangat lapar sehingga tak sampai 2 menit mangga ditangan tinggal tersisa bijinya.

Sahabat, dengan sepenggal cerita di atas, sepatutnya kita tersadar bahwa di sekitar kita masih banyak saudara yang kondisinya jauh dari apa yang ada pada diri kita sekarang. Mereka yang jangankan untuk membeli baju, bahkan untuk membeli nasi setiap hari saja mereka tak sanggup. Atap rumahnya mungkin berbahan pelepah kelapa yang tembus terik matahari atau masih membasahi lantai ketika hujan lebat tiba, dindingnya reot dan alasnya terbuat dari tanah.

Saat melihat realita yang ada di sekitar kita, coba renungkan sejenak, tanyakan dalam relung hati yang paling dalam, masihkah ia peduli.

Sabtu, 19 Maret 2016

Bertahan Dalam Perubahan

Bukanlah yang terkuat yang akan bertahan bukan pula yang paling cerdas, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan 

Satu hal yang tak dapat dibendung dan tak dapat dikembalikan ialah waktu. Waktu terus berjalan tanpa henti dan semua makhluk mengikuti. Waktu inilah yang akhirnya menjadi saksi bisu tentang kebaikan dan keburukan yang dimiliki oleh manusia. Waktu jualah yang membawa perubahan - perubahan yang harus dihadapi oleh manusia. Siang berganti malam, muda menjadi tua, ada menjadi tiada, perubahan - perubahan itu akan datang seiring berjalannya waktu.

Perubahan merupakan sunnatullah yang pasti terjadi di muka bumi. Perubahan menjadi salah satu pertanda kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta. Banyak pertanda perubahan dan Ia meminta kita peka terhadap segala bentuk perubahan. Perubahan terjadi melalui sepenggal waktu. Dan untuk itu kita diberikan kesempatan untuk mengetahuinya.

Tuhan memberikan kita waktu dan kesempatan untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Waktu inilah bekal pertama yang kita miliki yang kemudian kita dihadapkan dalam 2 pilihan, yakni memanfaatkan sebaik-baiknya atau membuangnya secara sia-sia. Waktu yang termanfaatkan dengan baik misalnya yang digunakan untuk menuntut ilmu, bekerja dan mencari rizki, beramal, serta untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Memiliki. Perlu kita ketahui, bahwa orang yang paling rugi adalah orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik.

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al'Ashr)

Saat kita masih kecil tentu kita sangat familiar dengan Kodak, salah satu perusahaan fotografi terbesar dunia. Atau Nokia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Namun, tahukah kita kemana produk-produk mereka sekarang? Ya, produk-produk Kodak kini telah digantikan oleh kamera-kamera digital yang orang tak perlu mencetaknya, dan Nokia telah tergantikan oleh banyak merk yang mampu memberikan fitur lebih canggih. Kedua perusahaan itu adalah sebagian contoh orang atau organisasi yang tidak bijak menerima perubahan. Mereka tidak peka terhadap waktu dimana setiap pergantian waktu, ia membawa perubahan.

Senin, 15 September 2014

HOKI – HONG SHUI – HOPENG

Seorang sahabat pernah menuturkan kepada saya tentang rahasia sukses orang – orang Tionghoa yang disebutnya dengan istilah 3H. Yang pertama adalah hoki atau keberuntungan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, hoki adalah nomor satu, karena apa pun yang kita kerjakan atau usahakan, jika tidak ada hoki, kesuksesan akan sulit dicapai.

Yang kedua adalah adalah hong shui, yang artinya angina dan air, yang menjelaskan tentang faktor – faktor alam yang saling terkait dan memengaruhi kehidupan manusia. Karenanya, tidaklah mengherankan jika orang Tionghoa sangat memperhatikan tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahirannya, serta sangat kritis terhadap tata letak dan arah bangunan tempat tinggal atau tempat usaha mereka, karena hal itu dipercaya sangat berpengaruh terhadap kemakmuran dan keberhasilan usaha mereka.

Yang terakhir adalah hopeng atau teman. Orang Tionghoa sangat menggarisbawahi faktor hubungan baik atau pertemanan dalam menjalankan bisnisnya. Jika Anda sudah dianggap sebagai teman dan bisa dipercaya, urusan transaksi bisnis adalah persoalan mudah.

Tentang dua faktor yang pertama, masih banyak terjadi perdebatan dalam masyarakat, masih banyak orang yang tidak percaya dengan hoki apalagi hong shui, tetapi untuk faktor pertemanan, hampir semua orang mengamininya.

Dalam buku – buku tentang kesuksesan juga dijelaskan bahwa “Anda adalah dengan siapa Anda paling banyak bergaul.” Pergaulan bisa lewat buku – buku yang And abaca, film – film yang Anda tonton, dan sahabat atau orang – orang terdekat yang Anda miliki, yang intinya mengajak kita semua untuk memperhatikan dengan siapa kita paling banyak menghabiskan waktu. Apakah dengan orang – orang yang positif yang membangkitkan semangat dan memotivasi hidup kita, ataukah dengan orang – orang negatif yang membuat energi hidup kita tersedot olehnya.

Mengenai hal ini ada sebuah pengalaman menarik ketika dalam sebuah seminar seorang pembicara mengatakan kepada para pesertanya. “Saudara – saudara, jika Anda ingin sukses, mulai saat ini Anda harus periksa kembali siapa saja kawan – kawan Anda, dan jika ada orang – orang yang negatif, hapus nama mereka dari daftar nama teman – teman Anda. Segera gantikan dengan teman – teman baru yang positif, “ seru si pembicara dengan bersemangat.

Semua hadirin yang ada di ruang seminar segera menuliskan nama kawan – kawan lama mereka dan mengamatinya satu per satu untuk diperiksa, apakah ada di antara mereka yang harus dihapus dan diganti dengan daftar nama yang baru.

Tiba – tiba, ada seorang peserta yang bangkit berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada pembicara seminar. “Pak, setelah saya periksa ternyata orang yang paling negatif adalah orang yang paling dekat dengan saya, yaitu istri saya sendiri. Bagaimana solusinya, Pak? Apakah istri saya harus diganti?” tanyanya dengan polos.

Sembari tersenyum si pembicara menjawab, “Semua teman – teman yang negatif harus diganti, kecuali pasangan hidup Anda, karena kontraknya untuk seumur hidup.”
Mendengar jawaban itu, semua hadirin pun ikut tertawa.
“Yang ikut tertawa, pasti orang yang punya pengalaman yang sama,” sahut pembicara yang mengundang tepuk tangan para peserta yang memenuhi ruangan seminar itu.
Umumnya, faktor – faktor yang mendorong dan menghambat kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh orang – orang yang berada di lingkungan terdekatnya, bisa teman, atasan, orang tua, atau pasangan hidup kita sendiri.

Seorang guru bijak suatu hari pernah ditanya, “Bagaimana cara mengubah mereka?”
“Tidak ada cara paling ampuh untuk mengubah orang lain, kecuali dengan mulai mengubah diri sendiri,” jawab sang guru bijak sembari mengingatkan bahwa sikap orang lain terhadap kita ibarat sebuah cermin, mereka akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka.

Cerita di atas dikutip dari buku “Berani Menertawakan Diri Sendiri” karya Sulaiman Budiman.

Rabu, 06 Agustus 2014

Bersyukur itu Nikmat

Syukur, kata yang mudah diucap namun tak mudah untuk dilakukan. Banyak orang sejatinya telah memperoleh banyak kenikmatan, tapi tak sadar akan hal itu, sehingga tak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang. Syukur, tak hanya menjadi sebuah aktivitas yang hanya sekali dilakukan, namun harus menjadi sebuah kebiasaan yang akan dilakukan setiap saat dalam semua kejadian.

Rasa syukur, tak cukup hanya diucapkan secara lisan, namun harus diyakini dari hati dan dibuktikan dengan tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan rasa syukur itu sendiri.

Seringkali hal-hal kecil yang kita alami menjadi penghalang yang menutupi mata hati sehingga membuat kita lupa akan hal-hal besar yang patut kita syukuri.

Rizki, menjadi salah satu faktor penting yang menentukan sikap kita untuk bersyukur atau kufur. Padahal kalau menilik lebih dalam, rizki merupakan akumulasi segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Keutuhan jasmani, kebebasan bernapas, serta segala bentuk kesehatan yang kita punyai, keluarga yang utuh dan harmonis juga merupakan bagian dari rizki. Cobalah untuk membuat daftar apa saja yang sudah Allah berikan pada kita sejak kita terlahir di bumi.

Allah Yang Maha Pemurah,
yang telah mengajarkan Al-Quran,
Dia menciptakan manusia,
mengajarkannya pandai berbicara,
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan,
dan tumbuh-tumbuan dan pepohonan tunduk kepadaNya,
Dan Allah telah meninggikan dan Dia meletakkan neraca keadilan,
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu,
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu,
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhlukNya,
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar Rahman : 1 - 13)

Dalam kutipan Q.S Ar Rahmat tersebut Allah sudah menyindir kita secara halus tentang limpahan nikmat yang telah Ia berikan kepada kita, namun sering kali kita lupakan. Dan apabila Allah memberikan cobaan kepada kita, maka telah berani Ia jaminkan surga untuk kita. Dan sesungguhnya cobaan itu sebagai alat bagiNya untuk menaikkan derajat kita di sisiNya.

Sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan,
dan sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan.
(QS. Al Insyirah : 5 - 6)

Dan bagi kita kaum muslimin, diwajibkan atas kita untuk selalu mengingatkan sesama agar dapat bersabar dalam cobaan dan selalu menuntun ke arah kebenaran. Karena sesungguhnya janji Allah adalah haq.

Kebahagiaan adalah kehidupan yang kita syukuri.

1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf

Kamis, 29 Mei 2014

Membudayakan Apresiasi

Banyak yang berkata bahwa budaya masyarakat Indonesia tentang apresiasi sangatlah rendah, padahal sejatinya bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya. Saat seseorang sedang tergesa-gesa memburu lift yang akan membawanya, di sisi lain ada yang menahan lift tersebut agar tetap terbuka sehingga ia bisa masuk, tak jarang orang tersebut lupa mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantunya. Hal itu acap kali terjadi di sekitar kita.

Apresiasi. Sederhana namun mudah terlupa.

Rasanya jika membandingkan budaya Barat dengan budaya kita tentang rasa mengapresiasi sangatlah jauh. Misalnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, para penonton tak segan untuk memberikan standing applause bagi para kontestan yang memberikan penampilan terbaiknya.

Hal paling sederhana dalam memberikan apresiasi adalah senyuman. Senyum, meski ringan, tetapi faktanya sulit dilakukan. Pernahkan kita berpikiran untuk memberikan senyuman kepada orang yang kita jumpai atau saat berpapasan di jalan meskipun kita tidak mengenalnya? Bukan malah menundukkan kepala atau bersikap acuh tak acuh.

Hal yang juga sederhana dalam memberikan apresiasi adalah mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih atas bantuan atau pertolongan seseorang, meskipun hanya dua kata singkat, namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hubungan interpersonal seseorang dengan yang lain. Namun sayangnya, hal ini sering kali terlupakan oleh sebagian orang.

Sabtu, 05 April 2014

Merantaulah

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti saudara dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."
(Imam Syafi'i)

Ada banyak alasan mengapa aku lebih memilih pekerjaan yang sekarang ketimbang menetap di kampung halaman. Meskipun di sana, aku bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih cukup. Meskipun di sana aku bisa memperoleh kenyamanan karena masih tinggal dan bergantung dengan kedua orang tua. Tapi aku mengingingkan yang lebih dari itu. Yang aku inginkan adalah tantangan hidup, pembelajaran tentang banyak hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan.

Jakarta, kota ini jauh berbeda dengan Jepara. Tak perlu bicara soal lingkungannya, manusianya apalagi, sangat berbeda. Banyak kutemui orang-orang yang, maaf, bajunya lusuh, seorang ibu dan anak yang tertidur pulas di lorong jembatan busway. Seorang anak kecil yang membawa karung untuk mengangkut sampah-sampah dengan sandang yang compang-camping tak karuan, sedangkan yang lain berbaju dinas, rapi dan wangi, parasnya bersih dan menawan. Kesemrawutan Kota Jakarta tak perlu aku ceritakan lebih lanjut, hampir semua orang sudah mengetahuinya. Sudah menjadi rahasia umum.

Namun, kerasnya Jakarta justru memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan. Secara pribadi, aku terlatih untuk bisa lebih mandiri. Dan aku juga berharap, jiwa sosialku semakin bertambah ketika dihadapkan dalam kenyataan hidup yang penuh dengan ketimpangan sosial seperti ini.

"3 perbuatan yang paling mulia adalah: Kedermawanan di saat sempit harta, menjauhi perbuatan dosa di saat sendiri, dan berkata jujur dihadapan orang yang ditakutinya" (Imam Syafi'i)

Aku percaya bahwa siapapun yang menanam kebaikan maka ia akan menuai hasil kebaikannya itu. Di Jakarta ini, aku dipertemukan dengan banyak saudara dan kerabat baru. Mereka sangat baik padaku. Bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal pun berlaku demikian. Ia begitu peduli dengan diri dan keselamatanku. Tak hanya dengan tutur kata dan nasihatnya, juga dengan perbuatannya.

Percayalah, masih banyak orang baik yang hidup di dunia ini. Sekeras apapun, dia masih punya hati dan perasaan yang bisa luluh dengan kebaikan. Maka, tebarkanlah kebaikan.

Minggu, 09 Februari 2014

Tentukan Komunitasmu

"Barang siapa yang bergaul dengan penjual parfum, maka akan kerkena wanginya".

Pepatah arab di atas merupakan nasehat bagi kita agar kita dapat menentukan dengan siapa kita bergaul, sebab merekalah salah satu penentu jalan kesuksesan kita. Sahabat, terkadang kita terlalu dipusingkan dengan perkara pertemanan. Dilarang memilih-milih teman, nanti dikira sombong. Tapi apakah kita sadar bahwa secara tidak langsung ternyata teman-teman kita sangat berpengaruh terhadap cara kita bergaul, cara kita bersikap dan menilai sesuatu.

Pada dasarnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial, dimana manusia tak dapat hidup sendiri tanpa adanya orang lain di sekitarnya. Dari kecil kita sangat terbantu oleh kehadiran ibu yang selalu membimbing dan mengontrol kita. Dari berlajar bicara, mulai merangkak, lalu dapat berjalan. Itu sebagian kecil dari prinsip dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika berancak dewasa, kita dihadapkan dengan berbagai banyak pilihan komunitas, yang terdiri atas orang-orang terdekat kita, yaitu teman-teman kita. Kita dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi kita harus tahu siapa saja yang kiranya dapat membawa kita dan kita bawa ke dalam kebaikan, jadi hasilnya akhirnya adalah sama-sama baik.

Poinnya bukan berarti kita memilih-milih teman, hanya kita harus tahu siapa saja yang bisa kita ajak berbagi suka maupun duka. Pilih orang-orang terbaik yang dapat membuat kita jadi lebih baik.

Perampok akan berkumpul dengan perampok, mereka bersama-sama menjalankan aksinya untuk mencapai tujuannya, yaitu memperkaya diri dengan jalan merampas hak orang lain, bahkan nyawa menjadi korbannya. Ujung-ujungnya, kumpulan perampok tersebut akan ditangkap oleh pihak yang berwajib dan mendekam di dalam penjara. Begitupun yang terjadi dengan para pemabuk, penjudi, dan kumpulan sebagainya.

Olahragawan, ilmuwan, dan sejarawan juga akan berkumpul dengan sesamanya. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan hasil terbaiknya. Mereka saling bekerja sama dan memotivasi agar dapat mencapai tujuannya. Semua berkumpul, bekerja keras, untuk meraih prestasi yang mereka idam-idamkan.

Komunitas atau teman yang baik, tentu akan membawa kita kepada hal-hal positif. Lingkungan tersebut akan membuahkan suasana yang positif pula. Kebaikan suatu lingkungan tentu akan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya, dan berlaku sebaliknya, lingkungan yang buruk akan berdampak buruk juga terhadap sekitarnya.

Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Layu Sebelum Berkembang

Kepergiannya begitu berat bagiku, dia yang dulu sangat dekat, selalu mendekapku erat, menghangatkanku di antara kekisruhan. Aku tak menyangka, bahkan sedikit pun tidak, hal itu akan terjadi begitu cepat, di saat dunia mulai terbuka, saat burung-burung di seberang pulau hendak mencari mangsa. Aku justru terlelap dan membiarkannya pergi. Kejadian yang tak pelan, tapi butuh proses yang lumayan, tiga atau empat tahun perjalanan. Aku tak pernah paham, tak pernah kusangka sebelumnya, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikiran dan hati yang luar sekalipun kalau sekilas pandangan akan meruntuhkannya, membuatnya semua berbeda, dan itu nyata. Kehilangan ini sangat kentara kurasakan. Betapa tidak, hal ini mengubah hampir sebagian hidup yang sudah kurangkai kisahnya, bertatih-tatih untuk bisa bertahan, bertumpu pada kaki-kaki kecil yang entah siapa yang tahu kapan bisa runtuh. Namun, sedari dulu aku selalu berharap, berharap dengan sangat bahkan kugadaikan hidupku untuknya, agar dia tidak pergi, agar sebelum semua terjadi aku dibiarkan terhenti, terhenti dari kefanaan.

Waktu kini sudah kulalui, terlewati sepanjang lika-liku perjalanan elegi ini. Aku serasa tertidur, tapi tak pulas juga, sehingga bangun dan tertidur untuk menahannya. Terkadang petunjuk itu datang lantas aku mampu menghindar, tetapi sekejap hilang lalu berlakuan. Apatah semua ini hanya ilusi belaka? Aku bukan hidup dalam kejahiliahan, meski pandai tapi merasa bodoh dan sangat. Ilmu-ilmu berdatangan namun ku belum paham-paham. Mungkin sekejap, seketika, atau esok yang akan datang, entah kapan dimana hanya Mereka yang mengerti.