Tampilkan postingan dengan label bekal hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bekal hidup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Desember 2017

Membuka Hati Untuk Peduli

Sebaik - baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia (HR Ahmad)



Hari yang panas itu aku mengantar Ibuku pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah. Di samping tempat aku memarkirkan kendaraan, terdapat tumpukan sampah yang belum diangkut oleh petugas. Seorang lelaki tua mendekati tumpukan sampah tersebut lalu diambilnya sebuah mangga yang mungkin sudah dianggap tak laik oleh penjualnya sehingga dibuang. Lalu dimakannya buah mangga itu dengan cepat dan lahap, ia tampak sangat lapar sehingga tak sampai 2 menit mangga ditangan tinggal tersisa bijinya.

Sahabat, dengan sepenggal cerita di atas, sepatutnya kita tersadar bahwa di sekitar kita masih banyak saudara yang kondisinya jauh dari apa yang ada pada diri kita sekarang. Mereka yang jangankan untuk membeli baju, bahkan untuk membeli nasi setiap hari saja mereka tak sanggup. Atap rumahnya mungkin berbahan pelepah kelapa yang tembus terik matahari atau masih membasahi lantai ketika hujan lebat tiba, dindingnya reot dan alasnya terbuat dari tanah.

Saat melihat realita yang ada di sekitar kita, coba renungkan sejenak, tanyakan dalam relung hati yang paling dalam, masihkah ia peduli.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Teman Cerminan Diri


Setiap hal yang kita alami, yang kita punyai sekarang, semua tidak terjadi secara kebetulan, mereka datang atas pilihan - pilihan kita di masa lalu. Salah satunya dari dengan siapa kita pernah bergaul di masa lalu. Sekarang coba diingat - ingat, dengan siapa kita berteman selama ini?

Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala hal dengan detail dan dapat dijelaskan manfaatnya, salah satunya adab dalam berteman dan bergaul.

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Begitulah kutipan salah satu Hadits dari Bukhari dan Muslim. Disebutkan permisalan dalam bergaul dengan orang lain. Tidak baik memang terlalu pilih - pilih teman, tapi baik sekali pilih - pilih dalam bergaul dengan teman karena manfaatnya kembali ke diri kita sendiri. Teman yang baik akan memberikan dampak yang baik, sebaliknya teman yang tidak baik akan memberikan dampak yang tidak baik pula. Mungkin kita bisa lihat di sekitar kita. Semasa sekolah, siswa - siswa teladan yang berprestasi akan berkumpul dengan teman mereka yang pandai. Yang jago olah raga akan berkumpul dengan penggiat olah raga juga. Dari kesamaan - kesamaan inilah mereka berkumpul, mengobrol, dan saling memberikan pengaruh satu sama lain. Begitupun dengan anak - anak yang suka bolos sekolah, mereka berkumpul dengan pembolos juga, bermain games saat jam sekolah. Mereka tidak masuk kelas dan malah merokok di kantin pojok - pojok sekolah.

Dan sekarang lihatlah, bagaimana teman - teman kita yang sukses di bidangnya masing - masing, dengan siapa mereka berteman dan bergaul. Logikanya seperti ini, jika kita ingin berbisnis tentu akan lebih mudah untuk memulai bisnis kita dan bahkan mengembangkannya apabila kita bergaul dengan teman yang bergelut dalam hobi yang sama. Kita akan mudah memperoleh berbagai informasi yang menunjang bisnis kita. Begitupun kalau kita memutuskan untuk bekerja atau lanjut studi. Kita akan mudah memperoleh informasi dari teman - teman yang bergelut dalam dunia profesional ataupun akademika.

Dalam hal beragama, bergaul dengan teman yang sholih tentu akan menuntun kita ke jalan taqwa. Berbeda cerita kalau kita berteman dengan ahli maksiat. Pejabat pemerintahan yang bersih butuh teman - teman yang sevisi untuk tetap idealis, sedangkan bagi para koruptor akan menjemput koruptor - koruptor lain untuk menjalankan misinya. Maka tak heran jika satu koruptor ditangkap, maka akan muncul nama - nama yang lain.

Sahabat, tidak ada kata terlambat dalam menjalani hidup. Tengok dan renungkan jalan hidup kita selama ini, mungkin ada pengaruh yang salah dalam hidup kita. Bergaullah dengan teman - teman yang baik agar kita juga memperoleh manfaat yang baik. Kalau kita tak bisa merubah sifat buruk teman - teman kita, lebih baik secara perlahan kita jauhi mereka, paling tidak kita selamat dari jalan yang dimurkai Allah SWT. Namun tak ada salahnya kita panjatkan doa untuk teman - teman kita supaya kelak kita dipertemukan di dalam syurgaNya.

Sabtu, 19 Maret 2016

Bertahan Dalam Perubahan

Bukanlah yang terkuat yang akan bertahan bukan pula yang paling cerdas, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan 

Satu hal yang tak dapat dibendung dan tak dapat dikembalikan ialah waktu. Waktu terus berjalan tanpa henti dan semua makhluk mengikuti. Waktu inilah yang akhirnya menjadi saksi bisu tentang kebaikan dan keburukan yang dimiliki oleh manusia. Waktu jualah yang membawa perubahan - perubahan yang harus dihadapi oleh manusia. Siang berganti malam, muda menjadi tua, ada menjadi tiada, perubahan - perubahan itu akan datang seiring berjalannya waktu.

Perubahan merupakan sunnatullah yang pasti terjadi di muka bumi. Perubahan menjadi salah satu pertanda kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta. Banyak pertanda perubahan dan Ia meminta kita peka terhadap segala bentuk perubahan. Perubahan terjadi melalui sepenggal waktu. Dan untuk itu kita diberikan kesempatan untuk mengetahuinya.

Tuhan memberikan kita waktu dan kesempatan untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Waktu inilah bekal pertama yang kita miliki yang kemudian kita dihadapkan dalam 2 pilihan, yakni memanfaatkan sebaik-baiknya atau membuangnya secara sia-sia. Waktu yang termanfaatkan dengan baik misalnya yang digunakan untuk menuntut ilmu, bekerja dan mencari rizki, beramal, serta untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Memiliki. Perlu kita ketahui, bahwa orang yang paling rugi adalah orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik.

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al'Ashr)

Saat kita masih kecil tentu kita sangat familiar dengan Kodak, salah satu perusahaan fotografi terbesar dunia. Atau Nokia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Namun, tahukah kita kemana produk-produk mereka sekarang? Ya, produk-produk Kodak kini telah digantikan oleh kamera-kamera digital yang orang tak perlu mencetaknya, dan Nokia telah tergantikan oleh banyak merk yang mampu memberikan fitur lebih canggih. Kedua perusahaan itu adalah sebagian contoh orang atau organisasi yang tidak bijak menerima perubahan. Mereka tidak peka terhadap waktu dimana setiap pergantian waktu, ia membawa perubahan.

Minggu, 13 April 2014

Tekanan Mental Itu Beneran Ada Lho

“Kenapa sih, para senior itu selalu marah-marah dan berteriak seolah-olah mereka bukan kaum intelektual. Kita bisa kali diberitahu dengan cara yang halus.”

“Kenapa sih asisten itu ribet amat, sok teliti banget, ini itu salah, padahal cuma perkara tata tulis. Dikit-dikit asal coret.”

Pada mulanya kita hanya tahu kenapa saat kuliah dari masa kaderisasi sampai mau ujian sidang skripsi semua serba penuh tekanan. Mental kita benar-benar diuji. Kita dituntut untuk punya mental baja, bisa memberikan solusi dengan jalan yang kreatif dan tetap perfectionist meski ditekan mati-matian. Pada mulanya kita hanya diberitahu bahwa semua itu kelak akan sangat berguna bagi kita tanpa pernah tahu kapan manfaat itu bisa kita petik.

Sebenarnya saat kuliah pun kita sudah mendapatkan manfaatnya, sadar atau tidak, ternyata banyak juga para dosen yang dengan seenaknya meminta sesuatu dan semaunya mengatakan sesuatu, terdengar pedas dan menyakitkan. Hanya hal itu kadang tidak berlangsung lama sebab hati mereka masih sama seperti bapak atau ibu kita.

Namun, saat tiba di kehidupan professional, menempuh masa-masa dalam pekerjaan, ternyata hutan rimba itu benar-benar ada. Hal yang lumrah kalau seorang bos atau atasan menegur bawahannya dengan makian, kata-kata kasar, dan terkesan menjatuhkan. Hal yang lumrah saat usaha kita yang belum berhasil dibalas dengan sindiran dan kata-kata pedas yang tak enak didengar. Apabila target dan deadline sudah di depan mata, maka para bos itu hanya ingin tahu hasilnya saja tanpa proses yang mengiringinya.

Dunia kerja adalah dunia professional. Jangan terlalu berharap mendapatkan lingkungan  kerja sesuai dengan harapan kita. Orang-orang yang saling mengerti dan memotivasi, atasan yang selalu mendukung setiap langkah bawahannya, serta kebijakan perusahaan sesuai dengan isi hati. Tidak semua lingkungan perusahaan tampil mengagumkan seperti yang selalu kita idam-idamkan.

Kini aku sendiri sadar dan merasakan bagaimana manfaat dulu dibentak-bentak oleh senior, dipersulit oleh asisten, disindir oleh dosen. Semua sebagai bekal untuk aku tetap bertahan dalam lingkungan kerja yang keras ini.

Pilihannya hanya dua, bertahan atau bertandang? Bertahan dalam pekerjaan tersebut dan menunggu masa-masa indah itu tiba. Atau bertandang ke lahan pekerjaan yang lain dan selalu memulai sesuatu dari awal.

“Bahwa kehidupan itu adalah sebuah pertandingan,  pemenang adalah mereka yang kuat dan mampu bertahan sehingga akan merasakan manisnya hasil perjuangan. Semua akan indah pada waktunya. Dan sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.”

Sabtu, 05 April 2014

Merantaulah

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti saudara dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."
(Imam Syafi'i)

Ada banyak alasan mengapa aku lebih memilih pekerjaan yang sekarang ketimbang menetap di kampung halaman. Meskipun di sana, aku bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih cukup. Meskipun di sana aku bisa memperoleh kenyamanan karena masih tinggal dan bergantung dengan kedua orang tua. Tapi aku mengingingkan yang lebih dari itu. Yang aku inginkan adalah tantangan hidup, pembelajaran tentang banyak hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan.

Jakarta, kota ini jauh berbeda dengan Jepara. Tak perlu bicara soal lingkungannya, manusianya apalagi, sangat berbeda. Banyak kutemui orang-orang yang, maaf, bajunya lusuh, seorang ibu dan anak yang tertidur pulas di lorong jembatan busway. Seorang anak kecil yang membawa karung untuk mengangkut sampah-sampah dengan sandang yang compang-camping tak karuan, sedangkan yang lain berbaju dinas, rapi dan wangi, parasnya bersih dan menawan. Kesemrawutan Kota Jakarta tak perlu aku ceritakan lebih lanjut, hampir semua orang sudah mengetahuinya. Sudah menjadi rahasia umum.

Namun, kerasnya Jakarta justru memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan. Secara pribadi, aku terlatih untuk bisa lebih mandiri. Dan aku juga berharap, jiwa sosialku semakin bertambah ketika dihadapkan dalam kenyataan hidup yang penuh dengan ketimpangan sosial seperti ini.

"3 perbuatan yang paling mulia adalah: Kedermawanan di saat sempit harta, menjauhi perbuatan dosa di saat sendiri, dan berkata jujur dihadapan orang yang ditakutinya" (Imam Syafi'i)

Aku percaya bahwa siapapun yang menanam kebaikan maka ia akan menuai hasil kebaikannya itu. Di Jakarta ini, aku dipertemukan dengan banyak saudara dan kerabat baru. Mereka sangat baik padaku. Bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal pun berlaku demikian. Ia begitu peduli dengan diri dan keselamatanku. Tak hanya dengan tutur kata dan nasihatnya, juga dengan perbuatannya.

Percayalah, masih banyak orang baik yang hidup di dunia ini. Sekeras apapun, dia masih punya hati dan perasaan yang bisa luluh dengan kebaikan. Maka, tebarkanlah kebaikan.

Rabu, 05 Maret 2014

Hidup Memilih Kehidupan

Hari ini aku kembali tersadar bahwa segala hal yang aku alami sampai detik ini adalah berkat pilihan-pilihan yang aku putuskan sebelumnya. Itulah hidup, dengan cerita yang berjalan atas pilihan untuk kehidupan.

Tuhan memberkahi kita dengan banyak bekal, terlahir sebagai lelaki atau wanita, dari keluarga muslim atau non muslim, terlahir dari keluarga kaya atau miskin. Semua itu sebagai pegangan awal untuk menentukan pilihan-pilihan berikutnya. Dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi masing-masing.

Kini aku telah memilih pilihan-pilihan itu untuk menentukan jalan hidupku. Begitu pun hidup kita semua. Sedari kecil kita sudah memilih, memilih untuk menjadi anak yang rajin atau pemalas, memilih untuk berteman dengan siapa saja, memilih hobi-hobi kita, yang pada dasarnya pilihan-pilihan itulah yang menjadikan kita seperti sekarang.

Dan Tuhan pun turut membiarkan kita dengan pilihan-pilihan itu. Kita bebas memilih, mau beriman atau berdusta, mau berusaha atau miskin tanpa karya, serta mau berbaik sangka atau berburuk sangka. Semua itu pilihan. Namun, dalam menentukan pilihan, jangan sekali-kali menutup mata akan kebenaran yang ada, sebab kembali lagi, terdapat konsekuensi atas pilihan-pilihan itu. Pilihan yang salah akan berdampak tidak baik dalam hidup kita.

Hidup itu pilihan dan menjalankan konsekuensinya. Gaya hidup kita, lingkungan dan teman-teman kita, profesi kita, keimanan, dan ketaqwaan adalah bagian dari pilihan. Kehidupan kita yang sedang berjalan saat ini adalah berkat pilihan-pilihan di masa lalu. Sekarang kita dituntut menentukan pilihan-pilihan untuk masa depan kita. Bukalah mata, carilah kebenaran yang ada, dan tentukan pilihannya.

Rabu, 26 Februari 2014

Mengatur Gaji Pertama Karyawan Baru

Hal yang paling ditunggu-tunggu saat sebulan lelah bekerja ialah masa gajian, apalagi bagi seorang karyawan baru, lebih tepatnya seseorang yang baru merasakan pekerjaan pertamanya. Waktu gajian pertama menjadi masa yang dinanti-nanti, sebab saat itulah pertama kali kerja keras dan kelelahan terbayar dengan itungan materi. Namun, ternyata tidak sedikit orang yang setelah memperoleh gaji pertamanya justru terlalu terlena sehingga gaji tersebut terbuang sia-sia dan sekejap mata. Bagi Anda yang bekerja di sektor minyak dan gas atau pertambangan, dan ditempatkan di daerah terpencil yang jauh dari gaya hidup urban mungkin memiliki arus kas yang sedikit lebih aman, tetapi bagaimana dengan Anda yang bekerja di perkantoran terutama yang di kota-kota besar?

Gaji awal yang diterima saat mulai bekerja biasanya tidak terlalu besar, hal itu wajar sebab posisinya memang masih di level bawah. Besarannya pun diperkecil oleh potongan pajak dan jamsostek. Tunjangan-tunjangan yang diberikan oleh perusahaan juga belum dapat diterima, menunggu sampai pengankatan menjadi pegawai tetap. Namun, ekspektasi penggunaan gaji pertama biasa terlalu besar dan cenderung muluk-muluk, Anda sudah siap dengan daftar barang-barang yang hendak dibeli dan serangkaian acara selebrasi untuk menikmati gaji pertama tersebut, dari sekedar menikmati kuliner di restoran tertentu, menonton film di bioskop, karaoke, dan lain sebagainya.

Untuk menghindari membengkaknya pengeluaran pada gaji pertama, sebaiknya Anda mampu mengatur dan memprediksi arus kas yang dipunya. Jangan sampai niat Anda untuk tidak membebani orang tua lagi ketika sudah bekerja menjadi gagal lantaran kebiasaan yang masih susah mengatur arus kas.

Minggu, 09 Februari 2014

Tentukan Komunitasmu

"Barang siapa yang bergaul dengan penjual parfum, maka akan kerkena wanginya".

Pepatah arab di atas merupakan nasehat bagi kita agar kita dapat menentukan dengan siapa kita bergaul, sebab merekalah salah satu penentu jalan kesuksesan kita. Sahabat, terkadang kita terlalu dipusingkan dengan perkara pertemanan. Dilarang memilih-milih teman, nanti dikira sombong. Tapi apakah kita sadar bahwa secara tidak langsung ternyata teman-teman kita sangat berpengaruh terhadap cara kita bergaul, cara kita bersikap dan menilai sesuatu.

Pada dasarnya manusia terlahir sebagai makhluk sosial, dimana manusia tak dapat hidup sendiri tanpa adanya orang lain di sekitarnya. Dari kecil kita sangat terbantu oleh kehadiran ibu yang selalu membimbing dan mengontrol kita. Dari berlajar bicara, mulai merangkak, lalu dapat berjalan. Itu sebagian kecil dari prinsip dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Ketika berancak dewasa, kita dihadapkan dengan berbagai banyak pilihan komunitas, yang terdiri atas orang-orang terdekat kita, yaitu teman-teman kita. Kita dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi kita harus tahu siapa saja yang kiranya dapat membawa kita dan kita bawa ke dalam kebaikan, jadi hasilnya akhirnya adalah sama-sama baik.

Poinnya bukan berarti kita memilih-milih teman, hanya kita harus tahu siapa saja yang bisa kita ajak berbagi suka maupun duka. Pilih orang-orang terbaik yang dapat membuat kita jadi lebih baik.

Perampok akan berkumpul dengan perampok, mereka bersama-sama menjalankan aksinya untuk mencapai tujuannya, yaitu memperkaya diri dengan jalan merampas hak orang lain, bahkan nyawa menjadi korbannya. Ujung-ujungnya, kumpulan perampok tersebut akan ditangkap oleh pihak yang berwajib dan mendekam di dalam penjara. Begitupun yang terjadi dengan para pemabuk, penjudi, dan kumpulan sebagainya.

Olahragawan, ilmuwan, dan sejarawan juga akan berkumpul dengan sesamanya. Mereka berlomba-lomba untuk memberikan hasil terbaiknya. Mereka saling bekerja sama dan memotivasi agar dapat mencapai tujuannya. Semua berkumpul, bekerja keras, untuk meraih prestasi yang mereka idam-idamkan.

Komunitas atau teman yang baik, tentu akan membawa kita kepada hal-hal positif. Lingkungan tersebut akan membuahkan suasana yang positif pula. Kebaikan suatu lingkungan tentu akan berdampak baik terhadap lingkungan sekitarnya, dan berlaku sebaliknya, lingkungan yang buruk akan berdampak buruk juga terhadap sekitarnya.

Jumat, 31 Januari 2014

Bencana dan Kezaliman

sumber: akun facebook I ♥ Jepara
Dulu, banjir kerap dikaitkan dengan Kota Jakarta, ibukota Indonesia, lantaran buruknya kondisi drainasenya, banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, minimnya zona hijau karena semua lahan penuh dengan gedung-gedung beton. Namun, kini bencana banjir tidak hanya merendam Jakarta, bahkan di berbagai pelosok negeri ini, banjir telah mengancam dengan menenggelamkan perumahan penduduk hingga mencapai atap-atap rumah. Ada apakah dengan Indonesia?

Mengutip dari banyaknya ayat di Al-Quran yang menjelaskan tentang bencana. Di sini akan aku kutip beberapa.
“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)

 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas disebutkan bahwa munculnya suatu bencana tidak lain disebabkan oleh kezaliman hambaNya. Tentu kita sadar bahwa dewasa ini semakin banyak terjadi kemaksiatan dimana-mana. Bahkan, para pemimpin yang diamanahkan untuk menjaga moral bangsanya pun melakukan hal yang sama. Banyak pula golongan alim yang menutup mata dan telinga, membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Maka, mungkin sepantasnya apabila Allah SWT mengganjar kita dengan hal yang demikian. Bencana datang bertubi-tubi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

Bencana didatangkan tanpa pilih kasih, tak peduli baginya yang beriman atau tidak. Bagi orang yang beriman, bencana merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan, dalam hal ini Allah berjanji akan mengangkat derajat dan martabatnya dengan mengampuni dosa-dosanya. Namun, bagi kaum yang zalim, bencana merupakan suatu peringatan agar mereka dapat segera sadar dan bertaubat atas perbuatan-perbuatan dosanya. Semoga yang demikian segera memperoleh inayah serta hidayahNya.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)

Jumat, 24 Januari 2014

It’s About Integrity

Pagi itu langit begitu cerah, Raka dan Nanda bersiap berangkat sekolah. Kebetulan bus sekolah sudah menanti di ujung jalan. Raka dan Nanda bersahabat sejak kecil, sekarang mereka berada di bangku sekolah yang sama. Sesampainya di sekolah, Raka dan Nanda teringat bahwa hari itu ada pekerjaan rumah yang belum mereka kerjaan. PR yang diberikan langsung dikumpulkan di meja guru sebelum kelas jam pertama dimulai. Raka dan Nanda menuju ruang guru. Raka segera mengerjakan tugasnya, meskipun tidak selesai tetapi Raka tetap mengumpulkan tugas di meja, setelah itu segera beranjak keluar karena kelas akan dimulai. Sedangkan Nanda masih berada di ruangan. Tidak disangka, Nanda berbuat curang dengan mengganti identitas di salah satu lembar kerjaan milik temannya. Mengetahui sahabatnya berbuat demikian, Raka kecil sangat sedih, dia tidak tega melaporkan kelakuan sahabatnya, tetapi di sisi lain dia tahu bahwa perbuatan tersebut salah dan merugikan orang lain.

Ketika dewasa, Raka dan Nanda memperoleh pekerjaan di tempat yang sama. Raka ditempatkan di bagian keuangan, sedangkan Nanda di pengadaan. Ketika mendapat sebuah proyek, Nanda melakukan tindakan tidak sehat dengan menerima gratifikasi dari sebuah rekanan agar proyek tersebut dimenangkan. Oleh bagian keuangan yang dipimpin oleh Raka ditemukan bahwa kegiatan tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan. Hal tersebut membuat Raka mau tidak mau harus melaporkannya ke bagian manajemen. Berkat ulahnya, Nanda pun diberhentikan dari kerjaannya, sedangkan Raka atas kinerjanya yang baik mampu memperoleh promosi kenaikan jabatan.

Jumat, 17 Januari 2014

Nasehat Seorang Ayah

Hari ini aku mulai menapaki jalan hidup yang baru. Merantau ke kota orang untuk mengais pundi-pundi. Dalam keberangkatanku, aku diantar oleh kedua orang tuaku. Keduanya berpesan agar aku bisa menjaga diri baik-baik dan istiqomah di jalanNya.

Pesan yang ditulis oleh Ayahku

Nasehatku
1. Jangan lupakan ibadahmu
2. Jangan lupakan jaga kesehatanmu
3. Jangan lupakan kedua orang tuamu
4. Jangan lupakan saudara-saudaramu
5. Jangan lupakan guru-gurumu
6. Jangan lupakan tetanggamu
7. Jangan lupakan teman-temanmu
Iki nasehat dari orang tuamu, sebab hidup di kota besar banyak godaannya.

Bapakmu,
Bakri

Ya Allah Ya Rabby, bantulah hambaMu dalam menjalani kehidupan ini. Hamba ingin selalu istiqomah di jalanMu, menuntut ilmu mencari kebenaran untuk dapat hidup dengan damai. Rahmaka ya Rabby.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. al-Baqarah [2]: 201)”

Jumat, 03 Januari 2014

Karakter, Kompas di Tengah Lautan Ganas

“Soekarno, ijazah hanyalah sepotong kertas. Hal ini tidak abadi! Ingatlah bahwa hanya karakter manusia yang selalu kekal. Karakter ini akan tetap dikenal lama setelah manusia itu meninggal”, pesan Prof. Jan Klopper, Rektor Technische Hogeschool te Bandung (THB), pada wisuda Ir. Soekarno tanggal 25 Mei 1926.

Salah satu bentuk pendidikan karakter
Gambar oleh RianR

Karakter, sesuatu yang secara kasat mata tak tampak, tetapi mampu dirasa, diolah dengan akal dan nurani menjadi nilai yang begitu berarti. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku dari setiap peribadi yang menjadi ciri khas seseorang, yang membedakan antara satu orang dengan lainnya. Karakter menentukan bagaimana seseorang menanggapi suatu keadaan. Karakter bagaikan kompas di tengah lautan, tanpa bekal kompas, nahkoda kapal bisa berdiam di tengah lautan keras yang bisa sewaktu-waktu menenggelamkannya karena tidak tahu arah. Karakter juga yang akan menentukan keputusan seseorang.

Pendidikan karakter datang sejak kita masih kecil di bawah asuhan orang tua terutama ibu kita. Tanpa disadari apa pun yang dilihat oleh anak, maka akan menjadi percontohan baginya.

Selasa, 19 November 2013

Memberi Bekal Untuk Anak ke Sekolah

“Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”

Ilustrasi
Seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman terjadi begitu cepat dan pasti. Perkembangan tersebut, selain berdampak positif juga mempunyai dampak negatif yang harus dihindari. Sebagai contoh, di bidang telekomunikasi, internet melaju begitu cepat dan tersebar hingga ke pelosok daerah. Pemanfaatannya pun beragam, dari penyebaran informasi teknologi dan ilmu pengetahuan, perkembangan ekonomi dan pemasaran, sampai ajang aktualisasi diri. Namun, internet juga mampu memberikan dampak yang tidak baik, seperti merebaknya kasus pornoaksi dan pornografi yang menjangkit kehidupan masyarakat, terutama kaum remaja.

Ulasan di atas menjadi salah satu kejadian yang berkaitan dengan perkembangan zaman. Tentu tidak hanya hal-hal yang bersifat duniawi, bahkan perihal keagamaan juga menjadi salah satu korban perkembangan zaman dengan munculnya berbagai penafsiran baru tentang ilmu agama.

Mendidik dan membentengi buah hati dari hal-hal yang tidak baik adalah salah satu tugas orang tua. Hal tersebut juga menjadi kewajiban bagi orang tua agar sang buah hati tidak terjerumus dalam lembah nista. Banyak hal yang harus menjadi perhatian dalam mendidik anak, selain memberikan bekal berupa ilmu pengetahuan, anak juga harus dididik dalam hal moral dan tata krama.