Tampilkan postingan dengan label kuliner nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Januari 2015

Floating Market, Menikmati Lembang Dengan Balutan Suasana Borneo

Pernah berkunjung ke Kalimantan? Masih ingat dengan iklan Pasar Apung di RCTI? Di Lembang Kabupaten Bandung Barat mempunyai tempat wisata Pasar Apung yang mengadopsi pasar apung di Kalimantan yang diberi nama Floating Market Lembang.

Taman Angsa, Foto by Afrizal
Pusat Kuliner, Foto by Afrizal
Floating Market sendiri merupakan kombinasi wisata yang lengkap. Situ Umar yang dulunya hanya sebuah danau kini disulap menjadi kawasan wisata yang memadukan wisata alam dan wisata kuliner. Floating Market yang menempati area seluas 7 hektar ini sebenanrnya diresmikan pada 2012. Namun belum banyak yang tahu.

Tiket masuk area wisata hanya Rp 15.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk Welcome drink yang berupa kopi, milo, cokelat, dsb. Setiap harinya Folating Market buka hingga pukul 5.00 petang, kecuali akhir pekan buka hingga pukul 8.00 malam. Lokasinya juga tidak jauh dari Pasar Lembang, searah dengan Tangkuban Perahu dan Sari Ater.

Di dalam Floating Market terdapat danau bernama Situ Umar yang bisa dinikmati dengan kano, kereta air, sampan, dan sepeda air. Setelah pintu masuk, terdapat berbagai gerai seperti oleh-oleh kaos, boneka, baso maicih, dan masih banyak lagi. Di pinggir danau tersebut tersedia banyak meja dan kursi, gazebo, dan dermaga-dermaga kecil. Ada juga taman angsa dan burung. Suasana pedesaan sangat melekat pada sisi tersebut.

Berbagai taman buatan juga tersedia di dalam Floating Market. Semua tertata rapi dan bersih. Mulai dari Taman Kelinci, Taman Batu, dan Taman Kereta. Untuk mengelilinginya bisa menggunakan becak mini.

Area dalam Floating Market yang merupakan area utama ditata layaknya pasar apung di Kalimantan. Hanya saja kalau di kalimantan para pedagang berjualan kebutuhan pangan, kalau di Floating Market Lembang, para pedagang berjualan aneka makanan ringan dan minuman, seperti karedok, colenak, sosis bakar, bandrek, bajigur, roti bakar, dan masih banyak lagi. Untuk membelinya, kita harus menukarkan uang dengan sejumlah koin. Minimal penukaran Rp 100.000 dan tidak ada refund.

Suasana Floating Market pada malam hari sangat indah dan romantis. Udara sejuk lembang menambah kehangatan suasana bagi para pengunjung.

Rabu, 10 Desember 2014

Rupanya Awak Berada di Medan

Kali ini aku dapat kesempatan untuk Kerja Dinas ke Kota Medan. Yah, namanya juga Sadam, setiap moment yang dilewati harus berkesan. Ditemani oleh Mas Achmad Subekhi, perjalanan dinas ke Medan kali ini tidak boleh hanya ala kadarnya. Sesi traveling harus tetap menjadi agenda, meskipun di tengah keterbatasan waktu dan sarana.

Gedung Gubernur dan Bank Indonesia Sumut di Medan
Kota Medan, dengan ikon khas Istana Maimun yang merupakan peninggalan desainer Italia untuk Kerajaan Deli, penduduk asli Medan yang pada dasarnya adalah Suku Melayu. Ini adalah kota pertama yang aku kunjungi di Pulau Sumatera. Selain Istana Maimun, durian, bentor atau becak montor, dan kereta (sebutan orang Medan untuk sepeda motor) adalah khasanah khas dari Kota Medan.

Medan tak jauh berbeda dengan kota – kota besar yang ada di Pulau Jawa. Suasana yang ramai, penuh dengan manusia dan kendaraan. Kota yang juga mengklaim sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini rupanya sudah banyak beridiri bangunan – bangunan pencakar langit serta mall-mall yang terlihat modern. Medan juga menyimpan banyak rekaman dalam catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, ialah Pertempuran Medan Area yang menceritakan perjuangan pemuda Sumatera Utara melawan Tentara Sekutu dan NICA pada Oktober 1945.

Selain menyimpan catatan sejarah, Kota Medan juga menyimpan banyak sekali kuliner khas nusantara, di antaranya ialah Warung Sipirok yang menjajakan masakan khas Batak dan Ucok yang menjajakan durian montong Medan. Di Sipirok yang paling aku sukai adalah daging asap dan daun singkok tumbuk. Rasa daging asapnya pedas dan bikin nagih. Di Medan juga terdapat banyak masakan khas Sumatera lainnya, terutama Aceh. Bagi orang Medan, Mie Aceh yang dijual di Medan rasanya lebih enak daripada Mie Aceh yang ada di Aceh sendiri. Aku sendiri sempat mencicipi gurihnya Kari Kambing di Medan Timur.

Senin, 07 Juli 2014

Memburu Kuliner di Kota Hujan


Bogor, Kota Hujan ini selain megantongi banyak catatan sejarah juga merupakan tempat yang tepat untuk mencari khasanah kuliner nusantara. Bagaimana tidak, contohnya saja di sepanjang Jalan Surya Kencana atau lebih tepatnya di Gang Aut, para pedagang rumahan dan kaki lima berdiri berjajar menjajakan dagangannya. Beraneka jenis makanan dan minuman ditawarkan dengan tampilan yang menggugah selera.

Perjalanan ke Bogor kali ini kita mulai dari Stasiun Sudirman. Sebenarnya akhir pekan di Bulan Ramadhan kali ini merupakan waktu yang kurang tepat untuk menikmati Bogor, dan terbukti begitu Commuter Line jurusan Bogor datang, kereta listrik itu sudah penuh sesak dengan manusia. Rasanya hampir sudah tak muat lagi menampung kami para penumpang dari Sudirman. Kalau menggunakan istilah Mpok Jupe, ini kereta sampe tumpeh-tumpeh deh. Satu jam perjalanan dengan kaki berdiri rasanya cukup menjadi coba puasa hari itu. Begitu sampai di Bogor kami disambut riuhnya mobil angkot yang rame di jalanan. Ya, selain dikenal dengan Kota Hujan, Bogor juga dikenal dengan Kota Seribu Angkot.

Jalan Surya Kencana menjadi tujuan utama kita. Di sana sudah berjajar para pedagang aneka makanan dan minuman khas Bogor. Seketika setelah mencari masjid untuk sholat, kita langsung kalap, rasanya ingin membeli semua yang ada di sana. Makanan pertama yang kita beli adalah Soto Kuning yang berada tepat di seberang Bank Mandiri Surya Kencana. Lapak sederhana milik keturunan Arab ini sangat ramai dikerumuni pelanggan. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari 2 jam, makanan yang dijajakan sudah ludes dijual. Kita pun hampir saja kehabisan, hanya mendapatkan sisa-sisanya. Lapak milik Bang Ali ini setiap harinya buka pukul 4 sore, dan segera tutup setelah dagangannya habis. Menurut penuturan Mas Agus, saat hari biasa (bukan dalam moment Ramadhan) dipastikan antrean Soto Kuning ini bisa lebih panjang. Aku sendiri ngga bisa membayangkan gimana rasanya mengantre demi seseruput Soto Kuning yang lezat ini. Makanan pertama, recommended.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Horog-Horog: Si Kenyal dan Gurih dari Jepara

Horog-Horog dan Sate Cecek
Indonesia memang kaya akan keanekaragaman kuliner. Berbagai macam makanan dan jajanan khas tersebar di berbagai penjuru daerah di nusantara. Salah satunya adalah horog-horog. Makanan khas dari Bumi Kartini, Jepara, Jawa Tengah.

Mendengar nama horog-horog mungkin masih terasa asing di telinga. Selain itu namanya juga terdengar aneh. Namun, siapa sangka, makanan berbahan dasar tepung aren ini justru sangat nikmat dan gurih sehingga banyak diminati semua kalangan. Horog-horog mempunyai tekstur kenyal, berwarna putih bening, dan sedikit asin. Makanan tersebut juga merupakan salah satu alternatif makanan pokok pengganti nasi sebab kandungan karbohidratnya cukup tinggi.

Proses pembuatan horog-horog pun relatif rumit, perlu proses berulang dari pencucian, pengeringan, penggorengan, serta pengukusan sehingga memperoleh horog-horog bercita rasa gurih. Dalam proses pembuatan horog-horog pun harus memperhatikan faktor kebersihan, sebab kalau tidak bersih, horog-horog juga terlihat kotor dan mudah basi. Mitos yang berkembang, bahwa dalam proses pembuatan horog-horog, si pembuat juga harus mempunyai hati yang bersih, sebab apabila dalam kondisi marah dan tidak ikhlas, maka horog-horog yang dibuat akan tidak enak.

Rabu, 08 Mei 2013

Masak Pindang


Bicara soal kuliner, sekarang aku akan membahas soal seafood alias makanan yang berasal dari laut. Tentu kebayang kan kelezatannya? Jangan dibayangkan dulu sebelum kau tahu dariku.

Aku suka banget sama seafood, apalagi ikan laut (fish). Katanya nenek moyangku orang pelaut, makanya aku suka seafood. |Ngaco!
Eh, beneran kali, kakek dan nenek buyutku baik dari mami and papi aku itu asli orang pesisir. Gimana ngga bikin aku tergila-gila sama seafood, orang dari sononya punya batere dari seafood.

Sekarang aku akan bahas sebuah menu makanan yang bagi orang pesisir Jepara kayak aku bisa mabuk kepayang dibuainya. Ini dia, pindang. Pindang yang aku maksud di sini bukan kayak pindang kerbau yang dibuat di Kudus, ikan pindang yang dijajakan di Semarang, atau pindang daging yang ada di Palembang. It’s really different.

Pindang Semarang (sumber: alfiansyahmaulana.blogspot.com)

Pindang Kudus (sumber: noorikhfan.web.id)

Pindang Jepara (sumber: kedaikuistanaku.blogspot.com

Pindang yang aku maksud bisa disamain kayak ikan kuah kuning yang disajikan oleh orang-orang di NTB dan Papua. Ya, ini dia Pindang Jepara.

Rabu, 19 Desember 2012

Latoh: Sajian Alam Pesisir

Berbagai jenis tanaman laut atau rumput laut kini mengalami banyak perkembangan baik dari segi budidaya jenis maupun pengolahan, seperti yang sering kita temui di dalam es rumput laut, dodol, sampai kulit tablet. Sekarang saya akan mengulas salah satu jenis rumput laut yang sudah jarang ditemukan di pasaran, ialah Latoh atau Caulerpa.

Urap Latoh, Salah Satu Kuliner Pesisir Jawa
Latoh merupakan salah satu jenis rumput laut yang berasal dari kelompok Chlorophyceae (alga hijau). Ciri-ciri tanaman ini ialah mempunyai batang yang kenyal disertai butiran-butiran daun di sekeliling batangnya. Latoh mempunyai rasa asin alami. Di dalam tubuhnya terdapat cairan sejenis lendir, dan dari sinilah rasa asin alami pada latoh berasal. Semua bagian tubuh latoh berwarna hijau, artinya kandungan klorofil pada tanaman ini sangat tinggi. Latoh hidup dan tumbuh di subtrat pasir. Tanaman ini bereproduksi dengan perkawinan gamet, spora, dan fragmentasi thallus atau vegetatif.

Seperti jenis rumput laut pada umumnya, kandungan serat pada latoh sangat tinggi, sehingga cocok dimanfaatkan sebagai kuliner. Latoh menambah keberagaman kuliner nusantara. Penyajian latoh di beberapa daerah pesisir jawa, seperti Jepara dan sekitarnya, cukup sederhana. Latoh segar yang baru didatangkan dari laut kemudian dibersihkan dari akar dan kotoran-kotoran yang menempelinya. Setelah dibersihkan, latoh kemudian dicuci sampai bersih. Latoh yang sudah bersih ditambahkan bumbu berupa parutan kelapa muda dan bawang merah. Tidak perlu ditambahkan garam atau penyedap rasa, karena latoh sudah mempunyai rasa asin. Dan latoh siap dihidangkan.

Latoh memang sengaja disajikan tanpa dimasak rebus atau goreng, tidak seperti jenis rumput laut lainnya. Karena sifatnya yang basah dan mudah layu, maka sebaiknya latoh disajikan segar dan segera disantap setelah dibersihkan dan dibumbui. Penyajian latoh biasanya ditemani dengan nasi hangat atau singkong rebus. Latoh dapat pula dimanfaatkan sebagai lalapan untuk menemani makan ikan bakar atau pepes ikan.

Manfaat lain yang dapat diambil dari latoh ialah tanaman ini mempunyai zat anti bakteri dan bersifat anti karsinogenik. Dengan mengkonsumsi latoh berarti dapat pula mencegah kanker dan racun-racun (toksin) yang mengotori tubuh kita. Jadi, apa yang perlu diragukan lagi untuk mengkonsumsi tanaman ini?