Tampilkan postingan dengan label life story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life story. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Kekuatan Doa

Terkisah di Negara Uzbekistan terdapat seorang anak yang sejak lahir selain sudah yatim juga menderita kebutaan. Kedua matanya tidak dapat melihat. Anak tersebut bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Sepanjang hari ibunya selalu berdoa, meminta kepada Allah supaya anak lelakinya tersebut diberikan Rahmat dapat melihat. Doa dipanjatkan tiada henti sampai akhirnya pada usia 10 tahun, anak lelaki tersebut bisa melihat dengan kedua matanya sendiri. Sebagai rasa syukurnya, Sang ibunda mengirimkan anak tersebut ke majlis pendidikan hingga akhirnya anak lelaki tersebut menjadi salah satu perawi hadits yang kita kenal dengan Imam Bukhari.

Begitulah kenyataan kekuatan sebuah doa. Allah berjanji kepada umatNya akan mengabulkan semua doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dan penuh harap.

"Dan Rabb-mu berfirman: 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." – (QS. Al Mu’min : 60)

Sebuah doa yang dipanjatkan kepada Rabbnya, menjadikan sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagiNya (Iradah). Seperti halnya kisah di atas. Albukhori bisa sembuh dari kebutaan yang dialaminya tanpa sebuah operasi replantasi dan sejenisnya.

Efek dari sebuah doa juga sering aku alami dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai salah satu contoh yang kisahnya hampir sama dengan kisah Imam Bukhori. Sedari kecil aku terlahir cedal, tidak bisa mengucapkan konsonan R. Sampai terkadang itu menjadi bahan ejekan orang-orang di sekitarku. Ibuku selalu memotivasiku dengan kalimat, “Kamu tidak perlu cemas karena kebanyakan orang-orang cedal terlahir sebagai orang yang cerdas, Pak Habibie misalnya”. Aku pun menjalani hari-hariku dengan penuh percaya diri.

Kamis, 21 Mei 2015

The Meaningful Life: Memilih Gaji atau "Meaning"

Membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali soal “meaning” yang tersebar di media whatsapp kembali membangkitkan semangatku untuk menulis lagi. Aku ingin sedikit sharing soal “meaning”. Hal ini juga dipicu oleh beberapa teman kantor yang seketika mengajak diskusi setelah aku share artikel tersebut di grup whatsapp.

Ini adalah tulisan yang cukup berat bagiku, karena aku sendiri pun cukup bersusah payah menjalaninya. Banyak godaan yang kadang meracuni pikiran. Efek minimalnya paling cuma sekedar mengeluh, atau maksimalnya bisa stress dan menurunkan berat badan.

Bekerja di perusahaan besar, ternama, dan tentu dengan posisi dan gaji yang luar biasa merupakan impian banyak lulusan sarjana, terutama bagi mereka lulusan universitas ternama di Indonesia yang senior-senior atau bahkan teman-temannya bisa memperoleh posisi tersebut setelah lulus dari bangku kuliah. Begitu juga denganku, mendambakan dapat bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang migas, selain gaji yang tentunya tidak dipertanyakan lagi, perkara gengsi juga terturuti. Namun, apalah aku sekarang. Ternyata jalan yang ditunjukkan Tuhan berbeda dengan apa yang kumau dan kuidam-idamkan.

Diterima di perusahaan swasta nasional, bergerak dalam bidang tower telekomunikasi, dan dengan gaji yang “cukup” tak pernah aku cita-citakan dan bahkan aku bayangkan sebelumnya. Tower Bersama Group, meskipun mengklaim sebagai perusahaan tower provider terbesar di Indonesia dengan segudang prestasinya, tetapi perusahaan ini menurutku belum mampu memberikan benefit yang “cukup” untuk pegawainya. Kata “cukup” sering aku berikan tanda kutip agar pembaca nanti bisa memberikan tafsiran sendiri.

Di periode awal aku bekerja dengan gaji yang “cukup” tersebut, aku merasa sering kekurangan. Dan bahkan sampai sekarang, meskipun secara besaran sudah naik sekitar 20% dari gaji pertamaku dulu, aku pun masih merasa belum “cukup”. Aku membuat semacam neraca sederhana untuk menghitung arus kasku, berapa pemasukan, pengeluaran, serta berapa yang harus aku tabung setiap bulannya. Sebenarnya gaji tersebut akan “cukup” dengan catatan, aku tidak tinggal di Jakarta, apalagi pusatnya Jakarta, serta mampu mengerem gaya hidupku. Aku gemar sekali jalan-jalan aka travelling, yang setiap kali jalan minimal bisa menghabiskan 300 ribu rupiah. Maksimalnya, silakan direka-reka tergantung destinasinya.

Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanku tersebut, tidak jarang akhirnya aku harus berhutang kepada teman dan baru bisa mengembalikannya setelah gajian tiba. Hal ini tentu sangat memalukan, bagaimana bisa seorang bujang yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap, mengandalkan hutang untuk men”cukup”i keperluan hidupnya. Namun, hal positif yang bisa aku ambil adalah tak selamanya aku di posisi tersebut, sesekali teman-temanku yang memberikan aku pinjaman, mereka berbalik meminjam uang padaku. Aku merasa di detik itu kekeluargaan kita jusru  dipererat.

Dengan teman-teman yang boleh dibilang mempunyai kondisi senasib tersebut, aku sering berkeluh kesah, begitu pun mereka. Setiap bertemu, kami saling sharing dan memberikan semangat dan motivasi. Quote – quote hebat yang dimiliki masing-masing saling dikeluarkan. Hal ini yang membuat satu per satu mulai bangkit, yang tak jarang setelah beberapa hari, satu per satu juga mulai luntur lagi, termasuk aku.