Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2018

Orang-Orang Besar


Sudah lama sekali tak kusapa kau Tuan Blog, halo apakabarmu? Masih setia menampung coretan-coretanku ya.

Kamu tahu, ada seseorang yang sangat dicintai oleh Rasulullah, dan seringkali membuat istri-istrinya cemburu? Ialah Siti Khadijah ra. Pengorbanan yang ia berikan kepada Allah dan RasulNya sangatlah besar, hingga ia menjadi umat yang dikasihi oleh Allah SWT.

Dalam kisah cinta Rasulullah SAW bersama Khadijah, sebagian orang mengambil nilai-nilai kasih sayang antara keduanya yang indah dan begitu romantis. Saling memahami, mengasihi, dan semuanya berjalan indah melebihi kisah cinta pasangan manapun. Namun sebagian lagi, memaknai nilai-nilai yang lebih dari itu. Pengorbanan yang dilakukan oleh Khadijah semata tak hanya karna cintanya kepada Muhammad, lebih besar dari itu, bahkan sampai ketika telah wafat pun, Ia rela tulang belulangnya dijadikan jembatan ketika Rasulullah tak dapat menemukan perahu dan sampan untuk menyeberangi lautan. Semua berkat imannya kepada Sang Khaliq.

Itulah kisah Khadijah, salah satu orang besar yang menginspirasiku tentang makna sebuah cinta dan pengorbanan. Orang-orang besar, mereka mempunyai pemikiran besar, tak cukup memikirkan dirinya sendiri. Ia disibukkan dengan memikirkan orang lain. Harta dan kedudukan Khadijah di mata kafir Quraisy ia pertaruhkan agar umat kala itu menjadi pengikut Muhammad, Ia ingin agar semua memperoleh rahmat yang sama.

Aku suka bergaul dengan orang-orang besar, pemikiran besar mereka turut membawaku berpikir besar, tidak egois. Sebab orang-orang besar itu selain bercita-cita besar, juga memiliki jiwa yang besar. Mereka orang-orang yang lapang hatinya, ikhlas dalam pengorbanan, dan tak pernah larut dalam keluhan. Orang-orang besar juga bermental besar, tak jarang mereka lemah dalam fisik, namun sebab mental mereka yang sudah kokoh, berdiri di atas karakter yang kuat, ia lantas tak mudah tumbang. Justru kelemahan yang ia punya mampu dijadikan sebagai siku-siku yang mendorong kemajuan. Nasihat untuk kita, “Kita boleh lemah fisik, tapi mental kita tak boleh lemah”. Sebab Michael Phelps, Nick Vujivic, dan Handry Santriago terlahir dengan ketidaksempurnaan, namun dengan mental yang kuat, mereka mampu bangkit dan menginspirasi banyak orang.

Senin, 05 Desember 2016

Makhluk Berketerbatasan, Semangat Berkelanjutan

Terdapat banyak hal yang harus kita sadari terkait apa – apa saja yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Tentang wujud fisik, bahwa tak satu pun makhlukNya diberi kesempurnaan fisik, bahkan seorang pangeran atau putri raja. Begitu juga tentang kemampuan atau skill, tak seorang pun pandai dalam semua hal, meskipun ia seorang nabi.

Dalam suatu acara reality show di televisi, diberitakan seorang anak terlahir hanya dengan satu kaki. Mungkin bagi sebagian orang, kekurangan fisik tersebut akan menghambat kehidupannya kelak. Ia tak akan mampu bekerja dengan maksimal, mentalnya tumbuh tak selayaknya, minder dengan kondisi fisik yang ia punyai. Bahkan sebagian lagi akan berpikir bahwa kelak ia akan menjadi pengemis di jalanan karena keterbatasan yang dipunya. Namun, fakta berkata lain, Anak kecil tanpa kaki sebelah kanan tersebut, sayangnya aku lupa mencatat siapa namanya, kini tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Dengan bantuan kaki palsu, ia tampak piawai bermain berbagai jenis olahraga, bukan oalah raga ringan, melainkan olahraga yang cukup menguras energi dan memerlukan keterampilan fisik, seperti futsal, basket, dan lompat jauh. Dengan kaki palsunya, sedikit pun tak tampak rasa minder terlihat dari wajahnya. Kemampuannya berlari dan menggiring bola seolah – olah melupakan kekurangan yang ia punya.

Di belahan dunia lain, juga banyak sekali orang – orang yang terlahir dan bernasib seperti si kecil tanpa kaki kanan itu. Mereka juga memiliki keterbatasan, tetapi mereka juga mempunyai semangat hidup yang membara seperti cahaya yang tak pernah padam.

Michael Phelps, sejak kecil divonis menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), bahkan dengan kelainan tersebut, banyak yang mengecam Phelps kecil tak akan sukses di masa depan. Namun, Phelps dapat membuktikan kepada semua orang bahwa dengan kekurangan yang ia miliki, ia justru mampu menorehkan banyak prestasi yang tak banyak orang menyangka.
Itulah kemahaadilan Tuhan, di satu sisi Ia menciptakan kelebihan dan di sisi lain Ia ciptakan kekurangan. Kelebihan tak lantas menjadi kekuatan (strength) kita, begitu juga kelemahan tak lantas menjadi kelemahan (weakness) kita. Baik kelebihan maupun kekurangan dapat menjadi kekuatan ataupun kelemahan tergantung bagaimana kita mengatur keduanya.

Sabtu, 09 April 2016

Air Mata Menjadi Mata Air (Mbah Sadiman)

Foto Mbah Sadiman (Sumber : kickandy.com)
Saat melihat acara Kick Andy di tivi aku melihat sosok yang inspiratif yang begitu ikhlas melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi banyak orang, visioner, dan tahan terhadap berbagai rintangan. Ialah Mbah Sadiman, beliau adalah pahlawan bagi alam.

Dikisahkan bahwa lelaki yang tinggal di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, sebuah desa di lereng Gunung Gendol, ujung timur Kabupaten Wonogiri tersebut aktif melakukan penghijauan di sebuah bukit gundul di kampungnya. Usianya memang tidak muda lagi, tetapi semangat beliau untuk kembali menghijaukan tanah kelahirannya perlu diacungi jempol. Selain melakukan penanaman seorang diri, Mbah Sadiman juga berhasil membuat anak tangga untuk mencapai puncak bukit. Tujuannya adalah supaya anak cucunya kelak dapat menikmati perbukitan tersebut sebagai tempat wisata. "Supaya anak-anak tidak perlu jauh-jauh berwisata, ada di kampungnya sendiri', tuturnya. Langkah mulia ini beliau lakukan dengan menjadikan puncak bukit sebagai taman yang cantik dan rindang. Selain menanam pohon, beliau juga menanam bunga-bungaan untuk memperindah bukit.

Mengawali debutnya sejak 1996 bukan berarti tanpa halangan. Seringkali karena ulah warga yang hanya mementingkan dirinya sendiri, pohon-pohon yang ditanam Mbah Sadiman mati. Namun, berkat semangat dan keikhlasannya yang luar biasa, Mbah Sadiman mampu menghadapinya. Dan kini, di usianya yang sudah mencapai 62 tahun, beliau mampu memetik hasilnya. Hutan yang dulu gundul kini sudah hijau kembali, tidak ada air mata melainkan mata air yang terus mengaliri tanah Wonogiri. Kini langkah beliau didukung oleh berbagai komunitas pecinta alam dan diikuti oleh warga di sekitarnya.

Kawan, kita mungkin sulit mencontoh apa yang sudah Mbah Sadiman lakukan, tetapi paling tidak kita bisa menjadi pahlawan bagi negeri ini dengan jalan kita sendiri. Mari kita tunjukkan bahwa yang muda juga mampu berkarya. Dan kita buat Sadiman - Sadiman lain di tanah air kita tercinta.

Sabtu, 19 Maret 2016

Bertahan Dalam Perubahan

Bukanlah yang terkuat yang akan bertahan bukan pula yang paling cerdas, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan 

Satu hal yang tak dapat dibendung dan tak dapat dikembalikan ialah waktu. Waktu terus berjalan tanpa henti dan semua makhluk mengikuti. Waktu inilah yang akhirnya menjadi saksi bisu tentang kebaikan dan keburukan yang dimiliki oleh manusia. Waktu jualah yang membawa perubahan - perubahan yang harus dihadapi oleh manusia. Siang berganti malam, muda menjadi tua, ada menjadi tiada, perubahan - perubahan itu akan datang seiring berjalannya waktu.

Perubahan merupakan sunnatullah yang pasti terjadi di muka bumi. Perubahan menjadi salah satu pertanda kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta. Banyak pertanda perubahan dan Ia meminta kita peka terhadap segala bentuk perubahan. Perubahan terjadi melalui sepenggal waktu. Dan untuk itu kita diberikan kesempatan untuk mengetahuinya.

Tuhan memberikan kita waktu dan kesempatan untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Waktu inilah bekal pertama yang kita miliki yang kemudian kita dihadapkan dalam 2 pilihan, yakni memanfaatkan sebaik-baiknya atau membuangnya secara sia-sia. Waktu yang termanfaatkan dengan baik misalnya yang digunakan untuk menuntut ilmu, bekerja dan mencari rizki, beramal, serta untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Memiliki. Perlu kita ketahui, bahwa orang yang paling rugi adalah orang-orang yang tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik.

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al'Ashr)

Saat kita masih kecil tentu kita sangat familiar dengan Kodak, salah satu perusahaan fotografi terbesar dunia. Atau Nokia yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Namun, tahukah kita kemana produk-produk mereka sekarang? Ya, produk-produk Kodak kini telah digantikan oleh kamera-kamera digital yang orang tak perlu mencetaknya, dan Nokia telah tergantikan oleh banyak merk yang mampu memberikan fitur lebih canggih. Kedua perusahaan itu adalah sebagian contoh orang atau organisasi yang tidak bijak menerima perubahan. Mereka tidak peka terhadap waktu dimana setiap pergantian waktu, ia membawa perubahan.

Rabu, 09 Maret 2016

Menyajikan Presentasi Maksimal

Best Project Assignment Team in Bali
Bicara soal presentasi, aku mengibaratkannya seperti sebuah bungkus atau kemasan sebuah makanan. Agar menarik perhatian pelanggan, maka makanan tersebut harus dibungkus dengan apik, tersaji dengan manisnya sehingga menggugah gairah calon pelanggan. Kemasan atau bungkus inilah salah satu bentuk marketing untuk menarik perhatian banyak orang.

Banyak orang di luar sana yang mempunyai produk yang luar biasa tetapi tidak pandai dalam menjajakannya. Apa yang terjadi? Calon pelanggan jadi kurang percaya dan akhirnya ogah untuk "membelinya". Aku anggap audiens yang melihat presentasi kita, entah itu dosen, juri, atau bahkan rekan-rekan kita adalah pelanggan kita yang harus kita ambil hatinya untuk tertarik dengan produk yang kita tawarkan dan akhirnya memutuskan untuk "membelinya" entah dengan sebuah nilai, pujian, atau apapun itu.

Belajar dari sebuah pengalamanku saat menjadi MC di sebuah lomba desain produk tingkat nasional yang tentu diikuti oleh kampus - kampus ternama baik negeri maupun swasta. Salah satu kampus negeri yang terkenal dengan kecerdasan mahasiswanya ternyata mampu memikat hati dewan juri dengan bukti predikat juara yang diperolehnya. Padahal menurutku secara pribadi, hasil karna yang diciptakannya tidak lebih baik dari lawan-lawannya, artinya masih banyak finalis yang lebih baik darinya. Tapi kenapa jadi dia yang menang? Menurut pengamatanku karena dia berhasil "menjual" dagangannya. Ya, dia mampu berpresentasi dengan baik, menjelaskan keunggulan hasil karyanya kepada dewan juri dengan apik dan menarik. Itulah yang menjadi kelebihan mahasiswa tersebut.

Hal itu kemudian menginspirasi diriku untuk dapat menyajikan presentasi terbaik dalam proyek-proyek yang aku kerjakan. Ada 2 hal utama yang menjadi modal sebelum melakukan presentasi, yang pertama ialah persiapan yang matang, sedangkan yang kedua adalah kepercayaan diri. Keduanya harus dijalankan secara seimbang untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Hal-hal yang termasuk dalam segi persiapan ialah materi presentasi atau biasa dikenal dengan ppt atau apapun bentuknya, pengetahuan atau bahan pendukung, serta penampilan diri. Materi presentasi harus disiapkan jauh-jauh hari sebelum presentasi, buatlah semenarik mungkin (tetapi tidak alay), alurnya jelas, mudah dipahami, dan sesuai dengan tema. Sebelum melakukan presentasi, mintalah masukan dari orang lain dan jangan pernah khawatir dengan kritik yang diberikan oleh mereka karena itu menjadi salah satu masukan untuk membuat materi dan teknik presentasi kita menjadi lebih baik.

Materi yang sudah siap, pengetahuan serta penampilan diri kita menjadi faktor untuk membuat kita lebih percaya diri saat berpresentasi. Selebihnya tinggal memotivasi diri sendiri bahwa "Saya bisa membawakan materi dengan baik". Berdoalah dan sugestikan pada diri sendiri dengan kalimat-kalimat yang positif untuk memupuk rasa percaya diri.

Terakhir, presentasi adalah kemasan produk Anda, pastikan ia tampak menarik agar pelanggan tertarik lalu "membeli"nya.

Kamis, 21 Mei 2015

The Meaningful Life: Memilih Gaji atau "Meaning"

Membaca artikel tulisan Prof. Rhenald Kasali soal “meaning” yang tersebar di media whatsapp kembali membangkitkan semangatku untuk menulis lagi. Aku ingin sedikit sharing soal “meaning”. Hal ini juga dipicu oleh beberapa teman kantor yang seketika mengajak diskusi setelah aku share artikel tersebut di grup whatsapp.

Ini adalah tulisan yang cukup berat bagiku, karena aku sendiri pun cukup bersusah payah menjalaninya. Banyak godaan yang kadang meracuni pikiran. Efek minimalnya paling cuma sekedar mengeluh, atau maksimalnya bisa stress dan menurunkan berat badan.

Bekerja di perusahaan besar, ternama, dan tentu dengan posisi dan gaji yang luar biasa merupakan impian banyak lulusan sarjana, terutama bagi mereka lulusan universitas ternama di Indonesia yang senior-senior atau bahkan teman-temannya bisa memperoleh posisi tersebut setelah lulus dari bangku kuliah. Begitu juga denganku, mendambakan dapat bekerja di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang migas, selain gaji yang tentunya tidak dipertanyakan lagi, perkara gengsi juga terturuti. Namun, apalah aku sekarang. Ternyata jalan yang ditunjukkan Tuhan berbeda dengan apa yang kumau dan kuidam-idamkan.

Diterima di perusahaan swasta nasional, bergerak dalam bidang tower telekomunikasi, dan dengan gaji yang “cukup” tak pernah aku cita-citakan dan bahkan aku bayangkan sebelumnya. Tower Bersama Group, meskipun mengklaim sebagai perusahaan tower provider terbesar di Indonesia dengan segudang prestasinya, tetapi perusahaan ini menurutku belum mampu memberikan benefit yang “cukup” untuk pegawainya. Kata “cukup” sering aku berikan tanda kutip agar pembaca nanti bisa memberikan tafsiran sendiri.

Di periode awal aku bekerja dengan gaji yang “cukup” tersebut, aku merasa sering kekurangan. Dan bahkan sampai sekarang, meskipun secara besaran sudah naik sekitar 20% dari gaji pertamaku dulu, aku pun masih merasa belum “cukup”. Aku membuat semacam neraca sederhana untuk menghitung arus kasku, berapa pemasukan, pengeluaran, serta berapa yang harus aku tabung setiap bulannya. Sebenarnya gaji tersebut akan “cukup” dengan catatan, aku tidak tinggal di Jakarta, apalagi pusatnya Jakarta, serta mampu mengerem gaya hidupku. Aku gemar sekali jalan-jalan aka travelling, yang setiap kali jalan minimal bisa menghabiskan 300 ribu rupiah. Maksimalnya, silakan direka-reka tergantung destinasinya.

Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginanku tersebut, tidak jarang akhirnya aku harus berhutang kepada teman dan baru bisa mengembalikannya setelah gajian tiba. Hal ini tentu sangat memalukan, bagaimana bisa seorang bujang yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap, mengandalkan hutang untuk men”cukup”i keperluan hidupnya. Namun, hal positif yang bisa aku ambil adalah tak selamanya aku di posisi tersebut, sesekali teman-temanku yang memberikan aku pinjaman, mereka berbalik meminjam uang padaku. Aku merasa di detik itu kekeluargaan kita jusru  dipererat.

Dengan teman-teman yang boleh dibilang mempunyai kondisi senasib tersebut, aku sering berkeluh kesah, begitu pun mereka. Setiap bertemu, kami saling sharing dan memberikan semangat dan motivasi. Quote – quote hebat yang dimiliki masing-masing saling dikeluarkan. Hal ini yang membuat satu per satu mulai bangkit, yang tak jarang setelah beberapa hari, satu per satu juga mulai luntur lagi, termasuk aku.

Senin, 05 Januari 2015

Mengawali Tahun Baru dengan Berbagi Inspirasi

Menyambut kedatangan Mba Histor
Awal tahun 2015 ini aku sangat bersyukur. Mendapat kesempatan libur panjang yang aku manfaatkan untuk kembali ke kampung halaman, Jepara. Dalam agenda dadakan ini, aku tidak sendirian, tapi bersama si Rian dan si Azmi.

Kebetulan salah seorang teman yang baru kukenal di Jakarta secara tidak sengaja sedang berkunjung ke Jepara, mengajak seorang lagi. Historina, wanita asli Lampung yang sekarang bekerja di Kedutaan Jepang, dan Mas Fauzan aka Ojan, seorang arsitek freelancer. Mereka adalah bagian dari penggiat Kelas Inspirasi. Agendanya adalah memberikan inspirasi di rumah – rumah singgah. Pada kesempatan kali ini, Mba Histor beserta Mas Ojan memanfaatkan libur panjang mereka untuk berbagi inspirasi di Rumah Baca di Kopeng Salatiga dan Rumah Belajar Ilalang (Rumah Belalang) di Kecapi Jepara.

Hari Jumat pagi, 2 Januari 2015, aku dan Mba Histor janjian bertemu di Pantai Kartini. Aku tidak sendirian, aku ajak Taqwa, keponakanku. Sebenarnya yang aktif berkomunikasi dengan Mba Histor adalah si Rian. Pagi itu ternyata selain Rian, ada dua orang kawan lamaku, Eriz dan Sirot. Dua orang seniman muda ini yang akan mengantarkan kami menuju rumah Mas Hasan di Kecapi yang sekaligus sebagai basecamp kedua Rumah Belajar Ilalang. Just info, sebenarnya Rumah Belajar Ilalang pertama kali didirikan di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji, seiring berkembangnya waktu, Mas Hasan dan para Ranger (sebutan untuk aktivits Rumah Belalang) membuka “cabang” di Kecapi.

Minggu, 28 September 2014

Kuncinya Ialah Keyakinan dan Optimisme

Tuhan selalu bersama dengan prasangka hambaNya.
Pada sesi kali ini, Rumah Perubahan memberikan sebuah tantangan bagi tim kami. Misi ini bernama I’m Possible. Dengan lima buah permen merk Mentos yang diberikan, kami harus mampu menukarnya dengan barang yang nilainya sesuai dengan target masing – masing kelompok. Kami diberikan beberapa pilihan target, mulai dari 250.000 sampai lebih dari 650.000 rupiah. Kelompok lain memilih target dengan rentang 350.000 – 450.000, dengan konsekuensi apabila berhasil, maka tim akan memperoleh (+)100 poin, namun apabila gagal akan dikurangi 250 poin. Sedangkan kelompokku sendiri menetapkan target 450.000 – 550.000 dengan nilai konsekuensi berhasil (+)200 poin dan gagal (-)350 poin. Target yang cukup tinggi memang. Untuk itu sebagai ketua tim, aku harus mampu meyakinkan anggota tim agar optimis kami bisa meraihnya.

Pemilihan target tersebut tentu bukan tanpa dasar, aku sendiri pun sudah memperhitungkan. Kami diajarkan menggunakan kaidah SMART dalam menentukan sebuah target, yaitu specific, measurable, achievable, realistic, and time based. Dengan mengantongi 300 poin, artinya tim kami harus menanggung nilai resiko kegagalan (-)50 poin. Antisipasi agar tim tetap bisa makan, karena porsi makan dan minum mengurangi poin kami, maka kami harus menjadi penyedia jasa “Food Service” dimana akan diberikan (+)60 poin, paling tidak kami akan memperoleh (+)10 poin untuk makan satu tim. Cukup realistis, bukan?

Perjalanan pun dimulai. Tempat tujuan kami adalah Pasar Induk Warung Jambu Bogor. Sebelumnya kami telah menyusun rencana. Dengan berbekal 5 buah permen rasanya cukup mustahil kami dapat memperoleh barang dengan nilai sebesar yang kami targetkan mengingat tujuan utama kami adalah pasar tradisional. Para pedagang yang berorientasi keuntungan dan jenis barang yang dijual menjadi pembatas selain waktu yang diberikan juga cukup singkat, yaitu hanya tiga jam. Untuk itu kami menyasar perumahan mewah sebagai target utama. Hal yang kami inginkan ialah barang – barang bekas yang tentu mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. Apa yang akan kami kerjakan di sana?

Bogor siang itu menunjukkan teriknya. Di dalam angkot seperti biasa kami aktif mengabadikan momen. Tiba – tiba di tengah perhentian di lampu merah, seorang pengamen mendekat dan menyanyikan lagu. Petikan gitar dan suaranya yang merdu, membuat kami riang bertepuk tangan, seolah sejenak melupakan lelah kami, meskipun kami tidak mengenal lagu yang dinyanyikan. Sadar dengan apa yang kami lakukan, Sosa pun nyeletuk, “kalian menikmati lagunya, berarti harus mau memberikan upah untuk masnya”. Dan kami pun harus mengikhlaskan uang 2000 kami tanpa berpikir panjang apakah uang yang tersisa akan cukup membawa kami berlima kembali pulang ke Cico. Merasa memperoleh uang, pengamen tersebut pun turut mendoakan supaya misi kami saat itu berhasil.

Senin, 15 September 2014

HOKI – HONG SHUI – HOPENG

Seorang sahabat pernah menuturkan kepada saya tentang rahasia sukses orang – orang Tionghoa yang disebutnya dengan istilah 3H. Yang pertama adalah hoki atau keberuntungan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, hoki adalah nomor satu, karena apa pun yang kita kerjakan atau usahakan, jika tidak ada hoki, kesuksesan akan sulit dicapai.

Yang kedua adalah adalah hong shui, yang artinya angina dan air, yang menjelaskan tentang faktor – faktor alam yang saling terkait dan memengaruhi kehidupan manusia. Karenanya, tidaklah mengherankan jika orang Tionghoa sangat memperhatikan tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahirannya, serta sangat kritis terhadap tata letak dan arah bangunan tempat tinggal atau tempat usaha mereka, karena hal itu dipercaya sangat berpengaruh terhadap kemakmuran dan keberhasilan usaha mereka.

Yang terakhir adalah hopeng atau teman. Orang Tionghoa sangat menggarisbawahi faktor hubungan baik atau pertemanan dalam menjalankan bisnisnya. Jika Anda sudah dianggap sebagai teman dan bisa dipercaya, urusan transaksi bisnis adalah persoalan mudah.

Tentang dua faktor yang pertama, masih banyak terjadi perdebatan dalam masyarakat, masih banyak orang yang tidak percaya dengan hoki apalagi hong shui, tetapi untuk faktor pertemanan, hampir semua orang mengamininya.

Dalam buku – buku tentang kesuksesan juga dijelaskan bahwa “Anda adalah dengan siapa Anda paling banyak bergaul.” Pergaulan bisa lewat buku – buku yang And abaca, film – film yang Anda tonton, dan sahabat atau orang – orang terdekat yang Anda miliki, yang intinya mengajak kita semua untuk memperhatikan dengan siapa kita paling banyak menghabiskan waktu. Apakah dengan orang – orang yang positif yang membangkitkan semangat dan memotivasi hidup kita, ataukah dengan orang – orang negatif yang membuat energi hidup kita tersedot olehnya.

Mengenai hal ini ada sebuah pengalaman menarik ketika dalam sebuah seminar seorang pembicara mengatakan kepada para pesertanya. “Saudara – saudara, jika Anda ingin sukses, mulai saat ini Anda harus periksa kembali siapa saja kawan – kawan Anda, dan jika ada orang – orang yang negatif, hapus nama mereka dari daftar nama teman – teman Anda. Segera gantikan dengan teman – teman baru yang positif, “ seru si pembicara dengan bersemangat.

Semua hadirin yang ada di ruang seminar segera menuliskan nama kawan – kawan lama mereka dan mengamatinya satu per satu untuk diperiksa, apakah ada di antara mereka yang harus dihapus dan diganti dengan daftar nama yang baru.

Tiba – tiba, ada seorang peserta yang bangkit berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada pembicara seminar. “Pak, setelah saya periksa ternyata orang yang paling negatif adalah orang yang paling dekat dengan saya, yaitu istri saya sendiri. Bagaimana solusinya, Pak? Apakah istri saya harus diganti?” tanyanya dengan polos.

Sembari tersenyum si pembicara menjawab, “Semua teman – teman yang negatif harus diganti, kecuali pasangan hidup Anda, karena kontraknya untuk seumur hidup.”
Mendengar jawaban itu, semua hadirin pun ikut tertawa.
“Yang ikut tertawa, pasti orang yang punya pengalaman yang sama,” sahut pembicara yang mengundang tepuk tangan para peserta yang memenuhi ruangan seminar itu.
Umumnya, faktor – faktor yang mendorong dan menghambat kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh orang – orang yang berada di lingkungan terdekatnya, bisa teman, atasan, orang tua, atau pasangan hidup kita sendiri.

Seorang guru bijak suatu hari pernah ditanya, “Bagaimana cara mengubah mereka?”
“Tidak ada cara paling ampuh untuk mengubah orang lain, kecuali dengan mulai mengubah diri sendiri,” jawab sang guru bijak sembari mengingatkan bahwa sikap orang lain terhadap kita ibarat sebuah cermin, mereka akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka.

Cerita di atas dikutip dari buku “Berani Menertawakan Diri Sendiri” karya Sulaiman Budiman.

Minggu, 15 September 2013

Semangat untuk Keluarga Baru TI'13

Hari jumat kemarin aku diminta oleh Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Himpunan Mahasiswa Teknik Industri untuk memberikan materi dalam acara yang mereka selenggarakan untuk para mahasiswa baru angkatan 2013. Acara akan dilaksanakan hari sabtu dan aku baru diberi tahu melalui pesan singkat pada jumat siang setelah sholat jumat. Awalnya permintaan itu sempat aku tolak dengan berbagai alasan, karena terlalu “tua”lah untuk mengisi acara, atau aku yang menginginkan agar pembicara dari angkatan 2010 atau 2011 saja sebagai bentuk regenerasi. Karena aku tak mau dikatakan sebagai pengkader yang gagal sebab sampai sekarang belum bisa melahirkan pembicara di jurusan sendiri. Padahal ketika masih menjabat sebagai pengurus himpunan, akulah yang menginisiasi menyelenggarakan acara Intensive Class Training bagi adik-adik staff dengan materi Good Public Speaking, baik sebagai Speaker maupun sebagai Master of Ceremony.

Aku didaulahi memberikan materi tentang organisasi, dan ternyata itu adalah materi pembuka pada jam 8.30 pagi. Jam segitu terlalu pagi bagiku yang notabene sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Sabtu pagi biasanya kugunakan untuk bersepeda atau bermalas-malasan di depan laptop, menonton televisi, atau membaca buku. Tidak seperti dulu ketika masih ada jam kuliah, sabtu pagi harus sudah berada di kampus untuk praktikum, atau memang karena ada kegiatan.

Salah satu alasan kenapa masih aku yang diminta menjadi pembicara adalah karena menurut para panitia aku memang salah satu contoh mahasiswa Teknik Industri yang mempunyai riwayat pengalaman organisasi yang cukup bagus. Padahal bagiku masih banyak orang lain, terutama teman-temanku seangkatan, yang mempunyai riwayat organisasi bahkan prestasi yang jauh lebih baik dariku. Dalam pikirku juga mungkin karena akulah salah satu senior yang tiada segan untuk dimintai tolong sebab aku memang dekat dengan para juinorku itu. Tapi tak mengapa, bagiku ini suatu kepercayaan dari adik-adikku, aku pun harus bisa memberikan contoh kepada mereka kalau mahasiswa aktivis harus siap kapan saja ketika dimintai tolong, apalagi sebagai pembicara yang memang sudah menjadi salah satu pekerjaan mahasiswa aktivis. Dan ini juga sebagai ajang bagiku untuk mengenal adik-adik baruku sekaligus memberikan sedikit pesan bagi mereka.