Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Desember 2023

CINA

Wah udah lama banget ya ngga nulis di blog, ini kalo rumah pasti udah minta renov gegara saking lamanya ngga ditinggalin, boro-boro ngerawat. Sebenernya di dalam otak ini buanyak banget yang mau ditulis, apalagi pas jaman covid masih anget-angetnya, isi kepala kayak mau pecah karena saking banyaknya fenomena yang bikin aku overthinking. Padahal sebenernya pelarian dari semua itu ya sebenernya nulis ya. Ini gara-gara semalam akhirnya baru nonton film Cek Toko Sebelah 2 di Netflix dimana scene Koh Afuk merecall momen dimana dia benci sama pribumi karena pernah menjarah dagangannya di masa reformasi, hanya karena dia "Cina". Memori itu bikin dia sakit ati banget sampe susah buat dilupain. Karena scene itu aku jadi keinget temen2ku di masa SMP dan beberapa rekan kerja yang dijuluki "Cina".


Etnis Tionghoa atau Cina tergolong salah satu etnis terbesar di Indonesia, menurut data dari Kompas jumlahnya mencapai 1,7 juta jiwa pada Tahun 2000. Sebenarnya mungkin bisa bertambah, tapi karena sebagian etnis Tionghoa di Indonesia menyematkan etnis pribumi pada identitasnya, seperti Jawa atau Sunda untuk bisa dianggap sebagai "warga lokal". Desclaimer, blog ini bukanlah blog edukasi ya, hanya sebagai wadah penyampaian opini pribadi atas pengalaman-pengalaman pribadi juga.

Jumat, 08 Desember 2017

Membuka Hati Untuk Peduli

Sebaik - baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia (HR Ahmad)



Hari yang panas itu aku mengantar Ibuku pergi ke pasar untuk membeli keperluan rumah. Di samping tempat aku memarkirkan kendaraan, terdapat tumpukan sampah yang belum diangkut oleh petugas. Seorang lelaki tua mendekati tumpukan sampah tersebut lalu diambilnya sebuah mangga yang mungkin sudah dianggap tak laik oleh penjualnya sehingga dibuang. Lalu dimakannya buah mangga itu dengan cepat dan lahap, ia tampak sangat lapar sehingga tak sampai 2 menit mangga ditangan tinggal tersisa bijinya.

Sahabat, dengan sepenggal cerita di atas, sepatutnya kita tersadar bahwa di sekitar kita masih banyak saudara yang kondisinya jauh dari apa yang ada pada diri kita sekarang. Mereka yang jangankan untuk membeli baju, bahkan untuk membeli nasi setiap hari saja mereka tak sanggup. Atap rumahnya mungkin berbahan pelepah kelapa yang tembus terik matahari atau masih membasahi lantai ketika hujan lebat tiba, dindingnya reot dan alasnya terbuat dari tanah.

Saat melihat realita yang ada di sekitar kita, coba renungkan sejenak, tanyakan dalam relung hati yang paling dalam, masihkah ia peduli.

Minggu, 12 November 2017

Amalan - Amalan Kecil

Masih terngiang dalam ingatan sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, lewat materi PPKn Bapak / Ibu Guru mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Contoh kecil bagaimana etika ketika kita sedang bersepeda dan hendak lewat di depan orang tua, menyingkirkan batu yang ada di jalan raya, atau hal - hal sederhana lain yang berkaitan dengan hidup sebagai manusia.

Kini banyak dari kita mungkin telah melupakan ajaran tersebut, atau mungkin pernah tahu dan enggan untuk mempraktikan.

Lewat tulisan ini aku hanya ingin mengajak saudara - saudaraku sekalian untuk terus beristiqomah dalam melakukan kebaikan, meskipun hanya amalan - amalan kecil.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).


Amalan - amalan kecil itu sesungguhnya sangat ringan untuk dikerjakan. Apalagi sesungguhnya Allah menyukai amalan - amalan kecil yang dikerjakan terus menerus (secara istiqomah).

Apa saja sih amalan - amalan kecil itu?

1. Tersenyum
Pernah dengan lagunya grup nasyid Raihan? Senyumlah, itulah sedekah yang paling mudah, tiada terasa berhutang budi.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Teman Cerminan Diri


Setiap hal yang kita alami, yang kita punyai sekarang, semua tidak terjadi secara kebetulan, mereka datang atas pilihan - pilihan kita di masa lalu. Salah satunya dari dengan siapa kita pernah bergaul di masa lalu. Sekarang coba diingat - ingat, dengan siapa kita berteman selama ini?

Islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala hal dengan detail dan dapat dijelaskan manfaatnya, salah satunya adab dalam berteman dan bergaul.

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Begitulah kutipan salah satu Hadits dari Bukhari dan Muslim. Disebutkan permisalan dalam bergaul dengan orang lain. Tidak baik memang terlalu pilih - pilih teman, tapi baik sekali pilih - pilih dalam bergaul dengan teman karena manfaatnya kembali ke diri kita sendiri. Teman yang baik akan memberikan dampak yang baik, sebaliknya teman yang tidak baik akan memberikan dampak yang tidak baik pula. Mungkin kita bisa lihat di sekitar kita. Semasa sekolah, siswa - siswa teladan yang berprestasi akan berkumpul dengan teman mereka yang pandai. Yang jago olah raga akan berkumpul dengan penggiat olah raga juga. Dari kesamaan - kesamaan inilah mereka berkumpul, mengobrol, dan saling memberikan pengaruh satu sama lain. Begitupun dengan anak - anak yang suka bolos sekolah, mereka berkumpul dengan pembolos juga, bermain games saat jam sekolah. Mereka tidak masuk kelas dan malah merokok di kantin pojok - pojok sekolah.

Dan sekarang lihatlah, bagaimana teman - teman kita yang sukses di bidangnya masing - masing, dengan siapa mereka berteman dan bergaul. Logikanya seperti ini, jika kita ingin berbisnis tentu akan lebih mudah untuk memulai bisnis kita dan bahkan mengembangkannya apabila kita bergaul dengan teman yang bergelut dalam hobi yang sama. Kita akan mudah memperoleh berbagai informasi yang menunjang bisnis kita. Begitupun kalau kita memutuskan untuk bekerja atau lanjut studi. Kita akan mudah memperoleh informasi dari teman - teman yang bergelut dalam dunia profesional ataupun akademika.

Dalam hal beragama, bergaul dengan teman yang sholih tentu akan menuntun kita ke jalan taqwa. Berbeda cerita kalau kita berteman dengan ahli maksiat. Pejabat pemerintahan yang bersih butuh teman - teman yang sevisi untuk tetap idealis, sedangkan bagi para koruptor akan menjemput koruptor - koruptor lain untuk menjalankan misinya. Maka tak heran jika satu koruptor ditangkap, maka akan muncul nama - nama yang lain.

Sahabat, tidak ada kata terlambat dalam menjalani hidup. Tengok dan renungkan jalan hidup kita selama ini, mungkin ada pengaruh yang salah dalam hidup kita. Bergaullah dengan teman - teman yang baik agar kita juga memperoleh manfaat yang baik. Kalau kita tak bisa merubah sifat buruk teman - teman kita, lebih baik secara perlahan kita jauhi mereka, paling tidak kita selamat dari jalan yang dimurkai Allah SWT. Namun tak ada salahnya kita panjatkan doa untuk teman - teman kita supaya kelak kita dipertemukan di dalam syurgaNya.

Sabtu, 09 April 2016

Nikmat yang Terlupakan

Seringkali kita melupakan banyak hal yang telah Allah berikan dan tanpa disadari bahwa justru nikmat - nikmat itulah yang sangat dekat dengan kita dan lekat dengan keseharian kita. Astaghfirullah.

Sahabat, entah sadar atau tidak selama ini kita terlalu banyak mengeluh, mengumpat apa - apa saja yang tidak kita miliki tetapi dimiliki oleh orang lain. Kita merasa bahwa apa yang sekarang kita miliki masih kurang dan tidak sebanding dengan berbagai usaha yang telah kita lakukan. Si dia punya ini, dia bisa itu, dan lain sebagainya. Kita gemar membandingkan kepunyaan kita dengan apa yang dipunyai oleh orang lain. Kalau kondisinya demikian, maka segeralah ber-istighfar dan tanyakan kepada diri sendiri adakah yang salah dengan hati kita?

Ada dua hal yang selalu kita nikmati namun tanpa disadari selalu kita lalai untuk mensyukurinya padahal keduanya sangat besar manfaatnya bagi diri kita. Apa sajakah itu?

Pertama, nikmat sehat. Kesehatan adalah karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita. Karena sehat, kita dapat menikmati makanan yang kita makan, makanan itu akan terasa enaknya ketika kita makan dalam kondisi sehat. Saat badan dalam kondisi tidak fit, maka makanan seenak apapun akan terasa tidak nikmat dimakan, semua terasa hambar dan bahkan cenderung pahit. Dalam kondisi badan yang sehat, kita pun akan dengan mudah menjalankan segala aktivitas kita, termasuk mencari rizki. Dengan tubuh dan jiwa yang sehat kita akan mudah melakukan banyak hal, bekerja, berolah raga, belajar, dan lain sebagainya.

Yang kedua adalah nikmatnya waktu luang. Selama ini kita terlalu disibukkan dengan berbagi aktivitas duniawi sehingga lupa bahwa ada banyak hal yang sejatinya perlu disyukuri, ialah ketersedianya waktu. Dengan waktu tersebut kita diberikan kesempatan untuk dapat bekerja dan melakukan banyak aktivitas lainnya. Kita juga dapat memikirkan banyak rencana untuk masa depan kita. Namun, tanpa disadari waktu luang yang sering tersedia justru sering berlalu begitu saja. Kebanyakan dari kita justru melewatkan waktu luang untuk bermalas-malasan padahal sejatinya nikmat waktu luang adalah nikmat yang luar biasa yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebelum kesibukan kembali menghampiri kita. Saat waktu sibuk sudah datang, kita akan lupa dengan sebuah rencana, bahwa hidup ini perlu diatur dengan sebaik-baiknya sehingga kita membiarkan semua berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Untuk itu kita diperintahkan agar dapat memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya. Karena sesuatu yang terus berjalan dan tak dapat dikembalikan adalah waktu.

Sahabat yang dirahmati Allah, marilah kita sama- sama berbenah diri, bahwa ada hal yang sering kita lupakan nikmatnya. Tanda - tanda orang yang kotor isi hatinya adalah kegemaran dalam mengeluh. Dan dibalik orang yang suka mengeluh adalah minimnya rasa syukur. Maka mintalah perlindungan kepada Allah supaya kita terhindar dari golongan orang-orang kufur dan termasuk golongan orang-orang yang pandai bersyukur.

Mari kita nikmati sehat dan waktu luang kita dengan bersyukur. Udara segar yang kita hirup setiap saat, kebugaran diri untuk mengais rizki, serta ketersediaan waktu adalah karunia Tuhan yang tiada tara. Ingatlah ada 5 perkara sebelum 5 perkara, yaitu sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, serta hidup sebelum mati.

Senin, 08 Juni 2015

Kekuatan Doa

Terkisah di Negara Uzbekistan terdapat seorang anak yang sejak lahir selain sudah yatim juga menderita kebutaan. Kedua matanya tidak dapat melihat. Anak tersebut bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Sepanjang hari ibunya selalu berdoa, meminta kepada Allah supaya anak lelakinya tersebut diberikan Rahmat dapat melihat. Doa dipanjatkan tiada henti sampai akhirnya pada usia 10 tahun, anak lelaki tersebut bisa melihat dengan kedua matanya sendiri. Sebagai rasa syukurnya, Sang ibunda mengirimkan anak tersebut ke majlis pendidikan hingga akhirnya anak lelaki tersebut menjadi salah satu perawi hadits yang kita kenal dengan Imam Bukhari.

Begitulah kenyataan kekuatan sebuah doa. Allah berjanji kepada umatNya akan mengabulkan semua doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh dan penuh harap.

"Dan Rabb-mu berfirman: 'Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." – (QS. Al Mu’min : 60)

Sebuah doa yang dipanjatkan kepada Rabbnya, menjadikan sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Karena tidak ada yang tidak mungkin bagiNya (Iradah). Seperti halnya kisah di atas. Albukhori bisa sembuh dari kebutaan yang dialaminya tanpa sebuah operasi replantasi dan sejenisnya.

Efek dari sebuah doa juga sering aku alami dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai salah satu contoh yang kisahnya hampir sama dengan kisah Imam Bukhori. Sedari kecil aku terlahir cedal, tidak bisa mengucapkan konsonan R. Sampai terkadang itu menjadi bahan ejekan orang-orang di sekitarku. Ibuku selalu memotivasiku dengan kalimat, “Kamu tidak perlu cemas karena kebanyakan orang-orang cedal terlahir sebagai orang yang cerdas, Pak Habibie misalnya”. Aku pun menjalani hari-hariku dengan penuh percaya diri.

Senin, 15 September 2014

HOKI – HONG SHUI – HOPENG

Seorang sahabat pernah menuturkan kepada saya tentang rahasia sukses orang – orang Tionghoa yang disebutnya dengan istilah 3H. Yang pertama adalah hoki atau keberuntungan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, hoki adalah nomor satu, karena apa pun yang kita kerjakan atau usahakan, jika tidak ada hoki, kesuksesan akan sulit dicapai.

Yang kedua adalah adalah hong shui, yang artinya angina dan air, yang menjelaskan tentang faktor – faktor alam yang saling terkait dan memengaruhi kehidupan manusia. Karenanya, tidaklah mengherankan jika orang Tionghoa sangat memperhatikan tanggal, hari, bulan, dan tahun kelahirannya, serta sangat kritis terhadap tata letak dan arah bangunan tempat tinggal atau tempat usaha mereka, karena hal itu dipercaya sangat berpengaruh terhadap kemakmuran dan keberhasilan usaha mereka.

Yang terakhir adalah hopeng atau teman. Orang Tionghoa sangat menggarisbawahi faktor hubungan baik atau pertemanan dalam menjalankan bisnisnya. Jika Anda sudah dianggap sebagai teman dan bisa dipercaya, urusan transaksi bisnis adalah persoalan mudah.

Tentang dua faktor yang pertama, masih banyak terjadi perdebatan dalam masyarakat, masih banyak orang yang tidak percaya dengan hoki apalagi hong shui, tetapi untuk faktor pertemanan, hampir semua orang mengamininya.

Dalam buku – buku tentang kesuksesan juga dijelaskan bahwa “Anda adalah dengan siapa Anda paling banyak bergaul.” Pergaulan bisa lewat buku – buku yang And abaca, film – film yang Anda tonton, dan sahabat atau orang – orang terdekat yang Anda miliki, yang intinya mengajak kita semua untuk memperhatikan dengan siapa kita paling banyak menghabiskan waktu. Apakah dengan orang – orang yang positif yang membangkitkan semangat dan memotivasi hidup kita, ataukah dengan orang – orang negatif yang membuat energi hidup kita tersedot olehnya.

Mengenai hal ini ada sebuah pengalaman menarik ketika dalam sebuah seminar seorang pembicara mengatakan kepada para pesertanya. “Saudara – saudara, jika Anda ingin sukses, mulai saat ini Anda harus periksa kembali siapa saja kawan – kawan Anda, dan jika ada orang – orang yang negatif, hapus nama mereka dari daftar nama teman – teman Anda. Segera gantikan dengan teman – teman baru yang positif, “ seru si pembicara dengan bersemangat.

Semua hadirin yang ada di ruang seminar segera menuliskan nama kawan – kawan lama mereka dan mengamatinya satu per satu untuk diperiksa, apakah ada di antara mereka yang harus dihapus dan diganti dengan daftar nama yang baru.

Tiba – tiba, ada seorang peserta yang bangkit berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada pembicara seminar. “Pak, setelah saya periksa ternyata orang yang paling negatif adalah orang yang paling dekat dengan saya, yaitu istri saya sendiri. Bagaimana solusinya, Pak? Apakah istri saya harus diganti?” tanyanya dengan polos.

Sembari tersenyum si pembicara menjawab, “Semua teman – teman yang negatif harus diganti, kecuali pasangan hidup Anda, karena kontraknya untuk seumur hidup.”
Mendengar jawaban itu, semua hadirin pun ikut tertawa.
“Yang ikut tertawa, pasti orang yang punya pengalaman yang sama,” sahut pembicara yang mengundang tepuk tangan para peserta yang memenuhi ruangan seminar itu.
Umumnya, faktor – faktor yang mendorong dan menghambat kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh orang – orang yang berada di lingkungan terdekatnya, bisa teman, atasan, orang tua, atau pasangan hidup kita sendiri.

Seorang guru bijak suatu hari pernah ditanya, “Bagaimana cara mengubah mereka?”
“Tidak ada cara paling ampuh untuk mengubah orang lain, kecuali dengan mulai mengubah diri sendiri,” jawab sang guru bijak sembari mengingatkan bahwa sikap orang lain terhadap kita ibarat sebuah cermin, mereka akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka.

Cerita di atas dikutip dari buku “Berani Menertawakan Diri Sendiri” karya Sulaiman Budiman.

Jumat, 24 Januari 2014

It’s About Integrity

Pagi itu langit begitu cerah, Raka dan Nanda bersiap berangkat sekolah. Kebetulan bus sekolah sudah menanti di ujung jalan. Raka dan Nanda bersahabat sejak kecil, sekarang mereka berada di bangku sekolah yang sama. Sesampainya di sekolah, Raka dan Nanda teringat bahwa hari itu ada pekerjaan rumah yang belum mereka kerjaan. PR yang diberikan langsung dikumpulkan di meja guru sebelum kelas jam pertama dimulai. Raka dan Nanda menuju ruang guru. Raka segera mengerjakan tugasnya, meskipun tidak selesai tetapi Raka tetap mengumpulkan tugas di meja, setelah itu segera beranjak keluar karena kelas akan dimulai. Sedangkan Nanda masih berada di ruangan. Tidak disangka, Nanda berbuat curang dengan mengganti identitas di salah satu lembar kerjaan milik temannya. Mengetahui sahabatnya berbuat demikian, Raka kecil sangat sedih, dia tidak tega melaporkan kelakuan sahabatnya, tetapi di sisi lain dia tahu bahwa perbuatan tersebut salah dan merugikan orang lain.

Ketika dewasa, Raka dan Nanda memperoleh pekerjaan di tempat yang sama. Raka ditempatkan di bagian keuangan, sedangkan Nanda di pengadaan. Ketika mendapat sebuah proyek, Nanda melakukan tindakan tidak sehat dengan menerima gratifikasi dari sebuah rekanan agar proyek tersebut dimenangkan. Oleh bagian keuangan yang dipimpin oleh Raka ditemukan bahwa kegiatan tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan. Hal tersebut membuat Raka mau tidak mau harus melaporkannya ke bagian manajemen. Berkat ulahnya, Nanda pun diberhentikan dari kerjaannya, sedangkan Raka atas kinerjanya yang baik mampu memperoleh promosi kenaikan jabatan.

Jumat, 17 Januari 2014

Nasehat Seorang Ayah

Hari ini aku mulai menapaki jalan hidup yang baru. Merantau ke kota orang untuk mengais pundi-pundi. Dalam keberangkatanku, aku diantar oleh kedua orang tuaku. Keduanya berpesan agar aku bisa menjaga diri baik-baik dan istiqomah di jalanNya.

Pesan yang ditulis oleh Ayahku

Nasehatku
1. Jangan lupakan ibadahmu
2. Jangan lupakan jaga kesehatanmu
3. Jangan lupakan kedua orang tuamu
4. Jangan lupakan saudara-saudaramu
5. Jangan lupakan guru-gurumu
6. Jangan lupakan tetanggamu
7. Jangan lupakan teman-temanmu
Iki nasehat dari orang tuamu, sebab hidup di kota besar banyak godaannya.

Bapakmu,
Bakri

Ya Allah Ya Rabby, bantulah hambaMu dalam menjalani kehidupan ini. Hamba ingin selalu istiqomah di jalanMu, menuntut ilmu mencari kebenaran untuk dapat hidup dengan damai. Rahmaka ya Rabby.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. al-Baqarah [2]: 201)”

Selasa, 10 September 2013

Berbakti Kepada Orang Tua

Tadi malam aku mendapatkan jarkom dan ajakan dari seorang teman untuk mengikuti aksi besar-besaran di Simpang Lima Semarang. Bagaimana tidak besar sebab aksi kali ini merupakan aliansi dari berbagai ormas dan ormawa Islam di Kota Semarang. Aksi tersebut rencana mengusung beberapa hal, yang salah satunya ialah penolakan terhadap acara pemilihan Miss World yang sekarang sedang berlangsung di Nusa Dua Bali. Sebenarnya untuk hal ini aku sendiri kurang setuju, meskipun tidak sering mengikuti pemberitaannya dan secara pribadi memang aku kurang suka dengan acara sejenisnya. Namun, aku lebih mengambil nilai positif yang tentunya akan menguntungkan, terutama bagi promosi pariwisata di Indonesia. Bagaimanapun sektor pariwisata menurutku lebih menguntungkan baik secara sosial ekonomi maupun sosial budaya dari pada sektor industri manufaktur yang sekarang sedang berkembang yang justru banyak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Namun, bukan poin tersebut yang akan aku bahas sekarang. Selama empat tahun menyandang gelar sebagai mahasiswa dan turut aktif berperan serta sebagai mahasiswa aktivis, bahkan sempat pula diberikan amanah menduduki posisi penting dalam lembaga mahasiswa, tetapi selama itulah aku belum dan mungkin tidak akan pernah merasakan “nikmatnya” aksi demonstrasi. Sebenarnya ketika mendapat pesan singkat dari seorang teman, yang sampai semester akhir seperti sekarang dia masih menjabat sebagai seorang petinggi ormawa, aku sempat berpikir untuk ikut dalam aksi yang akan berlangsung nanti dengan alasan sebagai “pelengkap” kiprahku sebagai mahasiswa. Namun, seketika aku langsung teringat dengan pesan ayahku dimana beliau melarang keras aku untuk tidak ikut serta dalam kegiatan aksi mahasiswa. Dalam telaahku pribadi ada beberapa faktor yang menyebabkan beliau melarangku untuk ikut aksi turun ke jalan. Dengan aksi yang biasa di media-media dikabarkan berjalan secara anarkis yang berujung bentrok antara mahasiswa dengan aparat, mungkin membuat ayahku merasa khawatir dengan keselamatan anak laki-laki satu-satunya ini. Atau mungkin karena ada alasan lain yang membuat ayahku berkali-kali meneleponku memastikan bahwa aku sedang tidak ikut serta ketika ada aksi yang berlangsung di Semarang. Yang pasti ayah memang melarang semua anaknya untuk ikut turun ke jalan saat demonstrasi berjalan. Namun, aku senang bahwa hal itu adalah salah satu bukti bahwa ayahku mencintai putra-putrinya.