“Keyakinan seolah seperti indera keenam, melahirkan
keajaiban”
Aku menentukan pilihanku sendiri dan Tuhan menyertai.
Kuikuti alur mainnya. Dia membawaku ke sebuah cerita, penuh lika-liku, jalannya
juga naik dan turun. Namun harus kulalui.
Sekitar empat tahun yang lalu, saat ramainya seleksi penerimaan
mahasiswa baru tiba. Lewat PMDK atau seleksi tanpa tes yang hanya mengandalkan
nilai rapor sampai semester V dan UM atau ujian tertulis secara regional.
Sampai menjelang tes-tes UM dan PMDK beberapa universitas yang masuk ke
sekolahku tiba, aku belum mempersiapkan apa-apa. Aku mencoba jalur PMDK UNS
dengan memilih jurusan Teknik Arsitektur, tapi tidak diterima. Kucoba lagi
jalur PMDK Undip dengan memilih jurusan Teknik Industri, tapi juga tak
diterima. Dua kali gagal membuatku urung untuk menjadi seorang engineer,
impianku sejak kecil karena lekatnya sosok Bung Karno sebagai insyinyur, tokoh
idolaku waktu itu. Ketika UM Unnes dibuka, aku mencoba memilih jurusan
Pendidikan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Bahasa Jawa, keduanya kupilih karena
aku juga penyuka sastra dan juga budaya. Menjadi seorang guru bagiku tak apa,
pekerjaan yang mulia, mendidik para siswa. Namun, ibuku rupanya kurang setuju.
Tepat di hari pengumpulan, aku batalkan niatku.
Hari itu UM Undip dan UGM dibuka, pendaftaran dengan
deadline hampir bersamaan. Jujur aku masih ingin menjadi seorang insyinyur,
yang terbayang hanya gelar itu. Aku memutuskan untuk memilih Teknik Arsitektur,
tapi rupanya ibuku juga kurang setuju dengan berbagai alasan untuk menolaknya,
termasuk juga keluargaku yang tiba-tiba jadi ikut-ikutan memberikan saran.
Hanya Bapak waktu itu yang setuju. Sampai tibalah hari terakhir pendaftaran.
Aku pergi ke warnet, sendirian. Bingung memutuskan berbagai pilihan jurusan,
yang pasti teknik tentunya. Namun, yang jelas aku sudah memblack list beberapa
jurusan, seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro, adalah
alasannya. Aku cari informasi yang berkaitan dengan jurusan-jurusan selain
ketiga jurusan itu. Mencoba meminta saran ke kakak-kakakku yang notabene sudah
pernah menjadi mahasiswa pun sia-sia, tak ada masukan yang berarti, semua
dikembalikan padaku. Memang sih, sebelumnya di keluargaku tidak ada yang
mengambil jurusan teknik, kebanyakan mengambil pendidikan, kesehatan, atau TNI/Polri. “Dasar nggak kreatif”, dalam benakku. Akhirnya, setelah berbagai
pertimbanganku sendiri kuputuskan Teknik Industri dan Keperawatan sebagai
pilihanku dalam ikut UM Undip, dan Farmasi, Teknik Industri, dan Keperawatan
dalam ikut UM UGM. Kalau tidak diterima di teknik, paling tidak aku bisa
mengikuti jejak keluargaku, mungkin rejekiku memang di situ. Dalam hatiku, “Semoga
Tuhan percaya padaku kalau aku lebih kreatif”.
Ibu melarangku untuk kuliah keluar dari Jawa Tengah.
Alasannya, satu, aku anak terakhir dan tidak boleh jauh-jauh, takut kalau-kalau
ada apa-apa. Yang kedua, khawatir kalau kangen. Sebenarnya itu hanya analisaku.
Ibu tak pernah bilang alasannya. Tapi ibu hanya memberikan gambaran, “Kalau
kuliah di Jakarta, biaya mahal, kehidupan sangat keras. Ibu pernah beberapa
tahun tinggal di sana bersama budhe. Kalau di Surabaya atau Malang, banyak
orang baik di sana, tapi orang tak baik pun tak kalah jumlahnya. Kalau baik,
baik sekali, kalau tidak, maka akan sangat rusak”. Kurenungi kata-kata ibu.
Kalau Bapak memang cenderung tidak memberikan batasan dan masukan, karena Bapak
memang mempercayakan semua padaku, asal aku siap dengan segala resikonya.
Begitu memang cara bapakku mendidik anak-anaknya.