Kamis, 02 Mei 2013

KKN The Embedded Story


Ada kisah yang belum sempat kubagi. Perjalanan belajar di sisa-sisa masa kuliah, kumengenalnya dengan KKN.
Tulisan ini aku persembahkan untuk teman-teman KKN Tim I Desa Pajomblangan yang sampai detik aku menulis ini, meskipun sudah lebih dari 3 bulan KKN berakhir tetapi masih belum bisa move-on.

Mungkin bagi kebanyakan mahasiswa Undip, KKN adalah momok, kalau bisa di-skip bahkan sebisa mungkin dihindari, hal ini dirasakan juga oleh teman-teman sejurusanku, bahkan beberapa teman yang satu tim denganku.

Entah bagaimana hal lain bisa terjadi padaku, di saat yang lain merasa enggan, aku justru menanti-nanti masa itu. Entah karena jiwa sosialku yang mulai bangkit lagi, atau ada sesuatu yang ingin kuperoleh. Tapi, bagaimana pun aku tetap bagian dari teman-temanku. Kuyakinkan mereka dan termasuk diriku sendiri bahwa “What you think is what you’ll get”. Kalimat tersebut yang dulu menempel di mading kamar kontrakanku.

Januari 2013, serangkaian acara pra KKN telah kuikuti. Dari pendaftaran, pembekalan, rapat-rapat, survey tempat, dan kegiatan lainnya. Oia, sebelumnya, aku perkenalkan dulu, aku, Muhdam Azhar adalah koordinator Desa Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Merasa sebuah anugerah bisa ditugaskan di tempat tersebut bersama tim yang sebenarnya biasa-biasa saja, tetapi mereka mampu memberikan warna yang membuat hari-hari KKN menjadi luar biasa. Ya, sebenarnya dibandingkan dengan tim lain, mungkin kami termasuk tim dengan personal yang biasa saja, tidak banyak keistimewaan yang kami punya, tetapi kesatuan kami mampu membuat kelompok kami mempunyai posisi yang istimewa di hati kami masing-masing, bahkan di hati warga desa.

Senin, 29 April 2013

Kehidupan dan Harga Diri


Catatan Akhir Bulan

Setiap manusia mempunyai tujuan hidupnya masing-masing. Sebagian disibukkan dengan gemerlap duniawi, sebagian tak henti bersujud demi tabungan ukhrowi, dan tidak banyak yang berusaha berimbang untuk keduanya. Namun, yang tak bisa dipungkiri, setiap manusia mempunyai keinginan dan cita-cita. Dan baginya bebas memilih jalur mana untuk menggapainya. Karena Allah pun tak pernah memaksa umatnya untuk beriman dan bertaqwa, tetapi jelas petunjukNya untuk membuka pintu hati manusia agar memperoleh rahmat terbesarNya.

Tiada manusia yang sempurna. Ya, hal ini memang benar adanya. Karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Namun, bagi mereka yang mengimani keberadaanNya beserta petunjuk-petunjukNya, telah jelas bahwa terdapat banyak tuntunan supaya kita menjadi hamba yang selalu berharap kesempurnaan baik untuk dunia maupun akhirat. Maksud saya di sini supaya kita selalu berusaha menjadi umat terbaikNya. Dan jangan pernah lengah, karena di sisi lain setan dan iblis tak akan pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan neraka.

Kebanyakan manusia takut akan kebenaran, bahkan berusaha menghindar dari kebenaran-kebenaran yang ada. Saya mengingatkan berhati-hatilah dengan sikap seperti ini sebab ini merupakan salah satu  muslihat setan dan merupakan sikap yang ditanamkan kepada mereka yang kafir. Kenapa harus takut menjadi orang benar? Kalau kebenaran itu justru dapat membawa kita kepada kebaikan.

Kehidupan dan harga ini mempunyai kaitan yang begitu erat. Kualitas kehidupan kita adalah sejauh mana kita sanggup menjaga harga diri kita. Harga diri ini bisa diintepretasikan sebagai nyawa kita, yang terlihat kasap mata tetapi besar nilainya, bahkan utama. Harga diri ini hanya bisa kita pertahankan selama kita hidup di dunia karena setelah kita mati, sesungguhnya penilaian kita berasal darinya. Bagaimana kita memaknai harga ini sesungguhnya telah tertanam dalam hati kita, yaitu iman kita. Jauhkan diri kita dari setiap perkara yang sia-sia aka mubadir, terlebih dari perkara-perkara dosa. Carilah setiap perkara yang dapat mengiringi langkah kita menuju ridloNya walaupun itu hanya setetes air di belanga. Jangan mudah merasa cepat puas karena harga dirimu berlanjut sampai hembusan napas terakhir.

Ada banyak alasan selain kita pribadi untuk dapat mempertahankan besarnya harga diri kita. Ingatlah orang tua dan ingatlah masa depan kita. Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan ampunanNya untuk kita semua.

Sabtu, 30 Maret 2013

Memandang Hizbut Tahrir

Fajar kali ini mengantarkanku menyusuri banyak jalan di dunia maya. Terkaget-kaget menemukan salah satu blog salah satu siswa SMP yg keren secara desain, isi dan redaksi artikel-artikelnya, dan lebih kaget dengan kedua website lain yg dia miliki. Padahal notabene selain masih SMP, dia juga bersekolah di tempat yg biasa saja, sekolah baru yg belum terkenal pula. Langsung aku sebut saja, SMPN 1 Kalinyamatan, salah satu sekolah negeri di Kabupaten Jepara yg baru saja dibuka pada awal 2000an, sedangkan Kalinyataman sendiri merupakan salah satu kecamatan baru hasil pemekaran dari Kecamatan Pecangaan, meskipun Kalinyamatan pernah menjadi pusat kota Jepara semasa pemerintahan Ratu Retno Kencono (Reinha de Djapara, Ratu Kalinyamat) - informasi dari teman, belum menemukan sumber autentiknya. Sekarang aku tersadar, selama ini aku terlalu sombong dan sering meremehkan orang dan terutama golongan orang-orang "kecil", merasa diriku paling hebat, padahal di luar sana masih sangat banyak sekali manusia yang jauh lebih hebat dari diriku yg hina ini meskipun mereka terlahir di sudut bumi atau terlahir dari keluarga serba kekurangan sekalipun. Astaghfirullahal'adziim. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Setelah kepo dengan akun fesbuk siswa tersebut, karena masih tidak percaya bahwa dia masih duduk di bangku SMP dan berusaha meyakinkan bahwa dia sebenarnya guru TIK yg mengajar di SMP tersebut namun tidak terbukti, hahaha, jahat sekali aku ini. Kutemukan beberapa foto pendakian salah seorang temanku muncul di Newsfeed. Karena tertarik ingin melakukan hal yg sama (mendaki gunung-red), aku kepo-in juga foto-fotonya itu, dan kutemukan foto salah satu temannya temanku tadi. Seorang lelaki, tetapi ada hal yg membuat aku merasa penasaran melihatnya dan akhirnya aku kepoin akun fesbuknya, hehe. Ternyata dia seorang anak kiai, pernah nyantri di salah satu pondok di Jatim dan sekarang masih kuliah di Undip, ini info dari blognya. Dan ternyata dia orang Jepara juga. Waah, ternyata orang Jepara keren-keren ya. Hahaha. Kepo berlanjut sampai foto-fotonya yg unik. Kutemukan salah satu foto gambar bendera NU (Nahdatul Ulama) dengan note di dalamnya. Ada sebuah tautan (link) yg merujuk pada sebuah blog karya seorang engineer di ITB.

Mungkin yg ada dipikiran kalian, "Ni orang kepo banget sih". Tapi untuk kali ini aku terima. Haha. Kepo, sebenarnya aku juga kurang suka. Tapi untuk hal-hal yg bisa mendapatkan kebaikan kayak gini kenapa tidak? hehe. Kepo boleh, asal yg baik-baik.:)

Panjang banget ya ceritaku padahal ini masih pembuka, belum merujuk pada inti masalahnya. Berikut aku tampilkan salah satu tulisan dari blog tersebut. Tapi, sebelumnya aku ingin berkomentar dulu. Biarkan tulisan ini berbicara, karena setiap orang bebas mengutarakan pendapatnya, termasuk pendapat nara sumber dari percakapan di blog tersebut, begitupun kalau kamu (pembaca) ingin berkomentar apapun maka dipersilakan, asal masih tetap menjunjung harga dirimu sendiri ya, dengan sopan dan santun maksudku.

Seperti kata penulisnya, meskipun tulisan ini menjurus pada salah satu ormas, tapi aku dan penulis tersebut bukan dari golongan ormas tersebut. Meskipun dari kecil aku dididik dari keluarga yg kental dengan ormas tersebut. Ormas NU. Ibuku meskipun bukan orang NU, tetapi pendidikan yg diberikan padaku datang dari NU, sedangkan Bapakku aktif di kegiatan Muhammadiyah.

Jangan permasalahkan perbedaan yg ada, perbedaan dalam Islam adalah khasanah dan rohmat yg datangnya dari Allah Ta'ala. Yg penting adalag keimanan dan ketaqwaan kita. Jangan suka langsung nge-judge hal tersebut benar atau salah sebelum kita temukan sendiri bukti-buktinya. Wallahu a'lam bisshowaab.Tapi memang secara pribadi aku lebih suka berdakwah kepada orang yg belum mengerti daripada beradu pikiran dengan orang-orang yg sudah mengerti. Berdakwah dengan "seni". Seni yg positif ya, bukan seni yg negatif dan dipaksakan kerana alasan seni seperti yg dilontarkan aktifis pendukung pornografi, hehe. Seni berkata-kata, seni bersikap, dan seni berpikir. Kalau kata orang,
Tak peduli orang tersebut pakai doa qunut atau tidak dalam sholat subuhnya, yg belum sholat masih banyak.
Berikut kutipan artikel dari blog yg aku temukan. Kebetulan aku pernah diajak sama seorang senior untuk bergabung dengan organisasi yg akan dibahas di bawah ini, tapi aku tolak dengan halus. Silakan menikmati

Sabtu, 23 Maret 2013

Mempersiapkan Tugas Akhir

by googling
Semester akhir merupakan masa-masa yang unik. Sebagian menanti-nanti karena berarti telah usai segala beban praktikum atau ingin segera lulus, sebagian bersedih karena banyak hal. Akan segera berpisah dengan teman tercinta, menandakan sudah tua, atau tidak siap dengan jenjang berikutnya, ya Tugas Akhir.

Tugas akhir mempunyai dua sisi yang berlainan, sebagian menganggap sebagai sebuah beban berat dan momok yang menghantui sehingga stres melanda, sebagian lainnya menganggap hal yang biasa atau bahkan saatnya meng-upgrade kompetensi diri. Apapun itu, hal yang pasti adalah bahwa tugas akhir merupakan tahap terakhir bagi calon sarjana untuk membuktikan kualitas dan kreativitas diri dengan meng-explore segala kemampuannya, baik akademis, mental, tanggung jawab, serta sikap empati seorang mahasiswa. Bagaimana tidak, tak bisa dipungkiri masa-masa mengerjakan tugas akhir memang cukup menyita waktu karena otak terasa diperas untuk memikirkan banyak hal, dimulai dari tema, judul, dosen pembimbing, proposal, seminar, dan segala tetek bengeknya, termasuk pula kapan tugas akhir tersebut selesai karena sudah tidak tahan dengan rasa malu kepada teman dan keluarga apabila ditanya, "Semester akhir? lulusnya kapan?", "Sudah lulus mas?", "Sudah mau kerja ya?", "Kapan nikah?" #oops
Oleh karena itu pada masa-masa akhir seperti ini kerja sama dan saling memotivasi sangat diperlukan.

Kamis, 07 Maret 2013

Menjaga Hubungan Kekeluargaan dengan Sambatan



Foto Blur ini diambil ketika ada sambatan di rumah
Awal maret kemarin, saya disuruh pulang ke kampung oleh ibu. Keluarga di rumah akan mengadakan pengajian untuk mengenang meninggalnya nenek dari ibu. Di Jawa memang mengenal banyak sekali tradisi untuk memperingati hari-hari penting seperti memperingati hari meninggalnya seseorang, pernikahan, dan sebagainya. Namun, bukan hal itu yang akan saya bahas di tulisan kali ini, melainkan adanya tradisi yang sangat bagus dimana masyarakat berkumpul untuk membantu orang yang mempunyai hajat, tradisi tersebut bernama “Sambatan”.

Zaman semakin modern, populasi penduduk yang semakin meningkat dan berbagai aktivitas ekonomi membuat orang semakin sibuk dengan kegiatan masing-masing untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan pribadinya sehingga dikenal istilah individualistis dan turunnya kepedulian sosial, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Salah satu hal yang unik dan memberikan pesan sosial yang baik adalah tradisi sambatan.

Kamis, 28 Februari 2013

Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Ala Simbah



Sudah lama sebenernya aku pengen nulis topik ini. Karena terlalu lama nunggu sumber infornya. Tapi syukur, akhirnya bisa juga terbit di blog tercinta.

Dulu waktu aku masih kecil, sering sekali melihat simbahku (eyang putri) menggosok-gosokkan bulatan berwarna coklat yang kemudian membuat gigi dan mulut beliau jadi menguning. Yang ada di pikiranku kala itu hal tersebut terkesan jorok dan memalukan karena membuat gigi jadi kuning. Gigi kan harusnya putih bersih, ini kenapa kuning bahkan sampai kemerahan gitu?

Baru aku tahu, kegiatan tersebut ternyata hal yang dinamakan “nginang”. Entah dari mana dan bagaimana kegiatan tersebut berasal. Tapi di balik kesan joroknya kegiatan tersebut, ternyata nginang memiliki banyak manfaat.

Bahan buat nginang sendiri terdiri atas daun sirih (suruh- Jawa), gambir, enjit atau apu, serta daun tembakau. Daun sirih dan tembakau mungkin tidak perlu lagi aku deskripsikan karena kita sudah banyak tahu bagaimana wujudnya. Namun, untuk gambir dan enjit/apu, bagaimana sih bentuknya? Gambir yang digunakan untuk nginang berasal dari getah pohon gambir yang banyak tumbuh di daerah Kalimantan. Gambir berbentuk seperti kemenyan, dengan tekstur yang hampir sama tetapi lebih lunak. Gambir berwarna coklat dan berasa pahit. Sedangkan enjit atau apu memiliki tekstur seperti pasta, berwarna putih, dan memiliki rasa pedas seperti mint. Dulu aku pikir, enjit atau apu ini adalah remason (merk salah satu balsam yang terkenal di zamannya) karena sering ditaruh di kemasan yang sama dengan aroma yang sama pula. Itulah bahan-bahan yang digunakan untuk nginang.

Minggu, 27 Januari 2013

Melestarikan Budaya Gotong Royong Melalui Tradisi Sunatan Masal




Karnaval Desa Pajomblangan
Kab. Pekalongan – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H di Desa Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni diwarnai berbagai kegiatan yang meriah. Puncak peringatan diawali dengan karnaval dan arak-arakan peserta sunatan masal. Peserta yang rata-rata berusia lima sampai delapan tahun diarak menggunakan becak hias yang dilombakan. Lomba becak hias sendiri diikuti oleh sebelas peserta. Selain becak hias, karnaval juga dimeriahkan oleh barisan marching band dari SMP NU dan RA Walisongo Pajomblangan, barisan siswa-siswi SD dan MI Pajomblangan, serta badut-badut kreasi para pemuda.
           




Acara karnaval dimulai dari jam 1 siang, berkumpul di masjid besar Pajomblangan berjalan mengitari desa. Masyarakat sekitar menyambut dengan antusias. Sepanjang jalan ramai dipenuhi warga. Acara yang dirayakan dari tahun 1955 ini memang selalu dinanti-nanti setiap tahunnya.

Berdasarkan informasi dari panitia, sejumlah dana yang diperoleh merupakan swadaya dari masyarakat. Setiap warga menyumbang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Selain berupa materi, warga juga bergotong-royong memberikan bantuan tenaga dalam persiapan acara, seperti dalam pendirian tenda, panggung, dan penataan tempat menginap untuk peserta sunatan. Peserta sunatan dan keluarganya menginap selama satu malam di Madrasah Ibtidaiyah (MI) setempat. Prosesi sunatan pun dilakukan di tempat yang sama.