Kamis, 29 Mei 2014

Membudayakan Apresiasi

Banyak yang berkata bahwa budaya masyarakat Indonesia tentang apresiasi sangatlah rendah, padahal sejatinya bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya. Saat seseorang sedang tergesa-gesa memburu lift yang akan membawanya, di sisi lain ada yang menahan lift tersebut agar tetap terbuka sehingga ia bisa masuk, tak jarang orang tersebut lupa mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantunya. Hal itu acap kali terjadi di sekitar kita.

Apresiasi. Sederhana namun mudah terlupa.

Rasanya jika membandingkan budaya Barat dengan budaya kita tentang rasa mengapresiasi sangatlah jauh. Misalnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, para penonton tak segan untuk memberikan standing applause bagi para kontestan yang memberikan penampilan terbaiknya.

Hal paling sederhana dalam memberikan apresiasi adalah senyuman. Senyum, meski ringan, tetapi faktanya sulit dilakukan. Pernahkan kita berpikiran untuk memberikan senyuman kepada orang yang kita jumpai atau saat berpapasan di jalan meskipun kita tidak mengenalnya? Bukan malah menundukkan kepala atau bersikap acuh tak acuh.

Hal yang juga sederhana dalam memberikan apresiasi adalah mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih atas bantuan atau pertolongan seseorang, meskipun hanya dua kata singkat, namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hubungan interpersonal seseorang dengan yang lain. Namun sayangnya, hal ini sering kali terlupakan oleh sebagian orang.

Senin, 14 April 2014

Potensi Bagaikan Berlian, Perlu Asahan Agar Berkilauan

Era saat ini banyak sekali perorangan atau badan yang menjadikan sebuah pelatihan atau training sebagai bentuk pelecut diri untuk mengasah berbagai potensi, tak terkecuali sebuah badan usaha atau perusahaan. Training sendiri pada dasarnya terdiri atas 3 unsur yang pokok dan saling berkaitan, yaitu adanya trainer (pelatih), trainee (peserta), dan materi training. Sedangkan yang lain merupakan unsur pelengkap / komplementer. Sebuah perusahaan memberikan training kepada pegawainya dengan tujuan agar perusahaan tersebut mempunyai asset berupa sumber daya manusia (SDM) yang cakap dan mampu mengembangkan bisnis perusahaan tersebut. Namun sayangnya, tak banyak perusahaan yang dapat dengan serius menjalankan program training ini dan memanfaatkannya dengan optimal.

Filosofi Berlian
"Potensi seseorang bagaikan sebuah berlian yang akan terlihat kilaunya setelah diasah."
Sebuah perusahaan tentu tidak akan sembarangan dalam merekrut calon pegawainya. Berbagai metode dan cara digunakan oleh perekrut handal untuk memperoleh SDM sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan. Setelah proses rekrutmen selesai, maka didapatlah pegawai baru yang berkualitas sesuai dengan kriteria yang dimaksud. Pegawai baru tersebut, terutama yang belum mempunyai pengalaman kerja, tentu dinilai mempunyai potensi yang luar biasa sehingga ia bisa lolos proses rekrutmen. Dan oleh karena itu, para pegawai baru diberikan kesempatan untuk mengikuti sebuah program pelatihan agar mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan kerja sesuai yang diharapkan. Dengan potensi awal yang dimiliki, diharapkan pegawai baru dapat menyerap ilmu yang diberikan dengan lebih cepat dan tepat.

Perlu menjadi perhatian bahwa potensi awal pegawai baru harus dipandang sebagai sebuah berlian, dimana berlian tersebut akan mampu memancarkan kilaunya dengan asahan. Asahan tersebutlah yang kita kenal dengan training. Dan trainer di sini bertugas memberikan asahan yang tepat bagi berlian agar dapat berkilau sesuai dengan yang diharapkan.

Menyapa Keluarga Baru (Kisah untuk Squad MDP VII TBIG)

Mungkin awal pertemuan kita bisa dibilang bukan awal yang terlalu baik, tapi juga bukan awal yang buruk. Semua terasa biasa saja, begitu singkat. Namun, semua berubah saat satu per satu mulai menunjukkan kepeduliannya, menjadikan sebuah hubungan pertemanan sebagai ikatan kekeluargaan, kepanjangan para penjaga di kampung halaman.

Hari hari pertama mungkin terlalu kaku untuk kita jalani, begitu juga untukku sendiri. Topeng-topeng yang indah dan rapi masih terpasang menutupi wajah diri. Kepribadian ini terselimuti tanpa ada saksi sebab kita memang datang dari perbedaan yang tak satu pun saling kenal. Namun, waktu menggiring kita ke dalam suasana baru, menghadirkan tawa ceria, menjadi bumbu penyedap materi-materi yang menggoyahkan iman kita, yaitu rasa kantuk dan bosan yang melanda. Perlahan, topeng-topeng mulai terbuka, ternyata benteng itu tak sekokoh yang kukira. Lalu, di depan kalian aku menahan tawa.

Entah kapan pastinya kita mulai akrab aku lupa. Aku hanya ingat kuis-kuis ringan yang kuberikan, yang mampu membuat kalian terbangun lamat-lamat karena rasa penasaran yang tak kunjung tamat. Namun yang aku tahu, kini kita sudah mulai lekat bagaikan atom-atom dalam reaksi kimia, bagaikan simpul-simpul tower yang terikat kuat.

Namun kawan, ternyata perjalanan kita tak selamanya seindah Cerita Romantika, tapi juga tak sekeruh Keluarga Cemara. Satu per satu mulai tumbang oleh ujian, bersedih atas cobaan yang diberikan. Tekanan demi tekanan mulai datang, menghadang.

Ikatan kita kini dipertaruhkan. Kita menyatu untuk maju, atau tumbang terhempas karang di lautan. Namun cobaan yang datang tak mampu menghalangi pandangan. Kita mampu bersatu saling menguatkan.

Minggu, 13 April 2014

Tekanan Mental Itu Beneran Ada Lho

“Kenapa sih, para senior itu selalu marah-marah dan berteriak seolah-olah mereka bukan kaum intelektual. Kita bisa kali diberitahu dengan cara yang halus.”

“Kenapa sih asisten itu ribet amat, sok teliti banget, ini itu salah, padahal cuma perkara tata tulis. Dikit-dikit asal coret.”

Pada mulanya kita hanya tahu kenapa saat kuliah dari masa kaderisasi sampai mau ujian sidang skripsi semua serba penuh tekanan. Mental kita benar-benar diuji. Kita dituntut untuk punya mental baja, bisa memberikan solusi dengan jalan yang kreatif dan tetap perfectionist meski ditekan mati-matian. Pada mulanya kita hanya diberitahu bahwa semua itu kelak akan sangat berguna bagi kita tanpa pernah tahu kapan manfaat itu bisa kita petik.

Sebenarnya saat kuliah pun kita sudah mendapatkan manfaatnya, sadar atau tidak, ternyata banyak juga para dosen yang dengan seenaknya meminta sesuatu dan semaunya mengatakan sesuatu, terdengar pedas dan menyakitkan. Hanya hal itu kadang tidak berlangsung lama sebab hati mereka masih sama seperti bapak atau ibu kita.

Namun, saat tiba di kehidupan professional, menempuh masa-masa dalam pekerjaan, ternyata hutan rimba itu benar-benar ada. Hal yang lumrah kalau seorang bos atau atasan menegur bawahannya dengan makian, kata-kata kasar, dan terkesan menjatuhkan. Hal yang lumrah saat usaha kita yang belum berhasil dibalas dengan sindiran dan kata-kata pedas yang tak enak didengar. Apabila target dan deadline sudah di depan mata, maka para bos itu hanya ingin tahu hasilnya saja tanpa proses yang mengiringinya.

Dunia kerja adalah dunia professional. Jangan terlalu berharap mendapatkan lingkungan  kerja sesuai dengan harapan kita. Orang-orang yang saling mengerti dan memotivasi, atasan yang selalu mendukung setiap langkah bawahannya, serta kebijakan perusahaan sesuai dengan isi hati. Tidak semua lingkungan perusahaan tampil mengagumkan seperti yang selalu kita idam-idamkan.

Kini aku sendiri sadar dan merasakan bagaimana manfaat dulu dibentak-bentak oleh senior, dipersulit oleh asisten, disindir oleh dosen. Semua sebagai bekal untuk aku tetap bertahan dalam lingkungan kerja yang keras ini.

Pilihannya hanya dua, bertahan atau bertandang? Bertahan dalam pekerjaan tersebut dan menunggu masa-masa indah itu tiba. Atau bertandang ke lahan pekerjaan yang lain dan selalu memulai sesuatu dari awal.

“Bahwa kehidupan itu adalah sebuah pertandingan,  pemenang adalah mereka yang kuat dan mampu bertahan sehingga akan merasakan manisnya hasil perjuangan. Semua akan indah pada waktunya. Dan sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.”

Sabtu, 05 April 2014

Merantaulah

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti saudara dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang."
(Imam Syafi'i)

Ada banyak alasan mengapa aku lebih memilih pekerjaan yang sekarang ketimbang menetap di kampung halaman. Meskipun di sana, aku bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lebih cukup. Meskipun di sana aku bisa memperoleh kenyamanan karena masih tinggal dan bergantung dengan kedua orang tua. Tapi aku mengingingkan yang lebih dari itu. Yang aku inginkan adalah tantangan hidup, pembelajaran tentang banyak hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan.

Jakarta, kota ini jauh berbeda dengan Jepara. Tak perlu bicara soal lingkungannya, manusianya apalagi, sangat berbeda. Banyak kutemui orang-orang yang, maaf, bajunya lusuh, seorang ibu dan anak yang tertidur pulas di lorong jembatan busway. Seorang anak kecil yang membawa karung untuk mengangkut sampah-sampah dengan sandang yang compang-camping tak karuan, sedangkan yang lain berbaju dinas, rapi dan wangi, parasnya bersih dan menawan. Kesemrawutan Kota Jakarta tak perlu aku ceritakan lebih lanjut, hampir semua orang sudah mengetahuinya. Sudah menjadi rahasia umum.

Namun, kerasnya Jakarta justru memberikanku banyak pelajaran tentang kehidupan. Secara pribadi, aku terlatih untuk bisa lebih mandiri. Dan aku juga berharap, jiwa sosialku semakin bertambah ketika dihadapkan dalam kenyataan hidup yang penuh dengan ketimpangan sosial seperti ini.

"3 perbuatan yang paling mulia adalah: Kedermawanan di saat sempit harta, menjauhi perbuatan dosa di saat sendiri, dan berkata jujur dihadapan orang yang ditakutinya" (Imam Syafi'i)

Aku percaya bahwa siapapun yang menanam kebaikan maka ia akan menuai hasil kebaikannya itu. Di Jakarta ini, aku dipertemukan dengan banyak saudara dan kerabat baru. Mereka sangat baik padaku. Bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal pun berlaku demikian. Ia begitu peduli dengan diri dan keselamatanku. Tak hanya dengan tutur kata dan nasihatnya, juga dengan perbuatannya.

Percayalah, masih banyak orang baik yang hidup di dunia ini. Sekeras apapun, dia masih punya hati dan perasaan yang bisa luluh dengan kebaikan. Maka, tebarkanlah kebaikan.

Minggu, 23 Maret 2014

Bapak by Rahma Nugrahaini

Assalamualaikum...
Ceritanya hari ini aku dan keluarga melayat saudara, seorang bulik di Banyumanik.
Meski sudah kurang lebih sebulan dari masa meninggalnya, namun kami memang 
baru bisa kesana. Kami berada di Kalimantan waktu itu, dan tidak bisa pulang.
Sedih... Tidak bisa mengantar bulik untuk yang terakhir kalinya.
Singkat cerita, Om Ali, istri bulik almarhumah, menceritakan setiap detail perjalanan 
sakit bulik sampai beliau tidak ada. Sungguh... Kami menunduk menahan haru. Air 
mata serasa sudah di penghujung mata, namun kami sekuat hati menahannya. Kami 
tidak ingin membuat Om dan keluarganya merasa sedih kembali.
Om Ali berkata, bahwa meskipun dalam rumah tangga mereka seringkali terjadi cek 
cok karena beda pendapat, namun setelah 25 tahun bersama dan kemudian ditinggal, 
beliau merasa menjadi pincang. Bahwa ada separuh dari dirinya yang hilang entah 
kemana.

Sampai rumah kurenungi cerita Om Ali tadi. Dan pikiran ini tiba- tiba kembali 
ke masa bapak tiada. Jelas sekali, memori- memori itu serasa film yang diputar di 
pelupuk mata. Saat bapak 9 bulan terbaring di tempat tidur tanpa bisa kemana- mana, 
saat bapak seringkali menangis sendiri membayangkan dirinya sendiri kalau sudah 
tiada nanti. Dan saat terakhir kali bapak dirawat di rumah sakit... Itu yang paling 
menyedihkan untuk diingat. Bapak masih sadar sepenuhnya saat meminta sendiri 
untuk dirawat di rumah sakit saat itu, karena merasa sudah tidak kuat lagi. Kami 
sekeluarga pun membawanya kesana, dengan harapan kondisinya membaik. Hal 
seperti ini bukan hal yang baru, karena sebelum itu bapak sudah seringkali bolak- 
balik ke rumah sakit.

Namun ada yang beda setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit saat itu...
Entah mungkin “visualisasi dunia lain” yang sudah membayangi entah apa, aku 
sendiri tak tahu jelasnya. Bapak mulai setengah “terbawa” ke bukan dunia fana. 
Mulai dari bapak merasa bahwa infus yang di sebelahnya adalah jam... Lalu saat 
bapak merasa tidur di atas air... Hingga saat bapak merasa ada kehadiran ibunya, 
yang puluhan tahun telah tiada. Kami mulai takut, mereka- reka sesuatu yang buruk, 
meskipun berusaha menepisnya dengan harapan baik.
Keesokan hari dari hari tersebut pun bapak masih sadar. Di pagi hari beliau 
menanyakan mengapa aku tidak berangkat ke sekolah. Dan aku bersyukur sekali, kala 
itu kujawab sambil tersenyum, “Iya pak, tidak sekolah. Di sini saja menemani bapak.” 
Sebenarnya ibu yang memintaku untuk tidak pergi sekolah, karena kondisi bapak 
yang memang sudah drop tersebut. Pagi itu kuingat betul bapak mau kusuapi biskuit, 
meski hanya sekitar satu setengah keping, tapi aku senang sekali. Akhirnya bapak 
mau makan. Bapak biasanya, di kala bugar, selalu mau makan enak. Namun saat itu, 
beliau seperti kehilangan selera makannya.

Rabu, 05 Maret 2014

Hidup Memilih Kehidupan

Hari ini aku kembali tersadar bahwa segala hal yang aku alami sampai detik ini adalah berkat pilihan-pilihan yang aku putuskan sebelumnya. Itulah hidup, dengan cerita yang berjalan atas pilihan untuk kehidupan.

Tuhan memberkahi kita dengan banyak bekal, terlahir sebagai lelaki atau wanita, dari keluarga muslim atau non muslim, terlahir dari keluarga kaya atau miskin. Semua itu sebagai pegangan awal untuk menentukan pilihan-pilihan berikutnya. Dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi masing-masing.

Kini aku telah memilih pilihan-pilihan itu untuk menentukan jalan hidupku. Begitu pun hidup kita semua. Sedari kecil kita sudah memilih, memilih untuk menjadi anak yang rajin atau pemalas, memilih untuk berteman dengan siapa saja, memilih hobi-hobi kita, yang pada dasarnya pilihan-pilihan itulah yang menjadikan kita seperti sekarang.

Dan Tuhan pun turut membiarkan kita dengan pilihan-pilihan itu. Kita bebas memilih, mau beriman atau berdusta, mau berusaha atau miskin tanpa karya, serta mau berbaik sangka atau berburuk sangka. Semua itu pilihan. Namun, dalam menentukan pilihan, jangan sekali-kali menutup mata akan kebenaran yang ada, sebab kembali lagi, terdapat konsekuensi atas pilihan-pilihan itu. Pilihan yang salah akan berdampak tidak baik dalam hidup kita.

Hidup itu pilihan dan menjalankan konsekuensinya. Gaya hidup kita, lingkungan dan teman-teman kita, profesi kita, keimanan, dan ketaqwaan adalah bagian dari pilihan. Kehidupan kita yang sedang berjalan saat ini adalah berkat pilihan-pilihan di masa lalu. Sekarang kita dituntut menentukan pilihan-pilihan untuk masa depan kita. Bukalah mata, carilah kebenaran yang ada, dan tentukan pilihannya.