Tampilkan postingan dengan label ujian hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ujian hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Tekanan Mental Itu Beneran Ada Lho

“Kenapa sih, para senior itu selalu marah-marah dan berteriak seolah-olah mereka bukan kaum intelektual. Kita bisa kali diberitahu dengan cara yang halus.”

“Kenapa sih asisten itu ribet amat, sok teliti banget, ini itu salah, padahal cuma perkara tata tulis. Dikit-dikit asal coret.”

Pada mulanya kita hanya tahu kenapa saat kuliah dari masa kaderisasi sampai mau ujian sidang skripsi semua serba penuh tekanan. Mental kita benar-benar diuji. Kita dituntut untuk punya mental baja, bisa memberikan solusi dengan jalan yang kreatif dan tetap perfectionist meski ditekan mati-matian. Pada mulanya kita hanya diberitahu bahwa semua itu kelak akan sangat berguna bagi kita tanpa pernah tahu kapan manfaat itu bisa kita petik.

Sebenarnya saat kuliah pun kita sudah mendapatkan manfaatnya, sadar atau tidak, ternyata banyak juga para dosen yang dengan seenaknya meminta sesuatu dan semaunya mengatakan sesuatu, terdengar pedas dan menyakitkan. Hanya hal itu kadang tidak berlangsung lama sebab hati mereka masih sama seperti bapak atau ibu kita.

Namun, saat tiba di kehidupan professional, menempuh masa-masa dalam pekerjaan, ternyata hutan rimba itu benar-benar ada. Hal yang lumrah kalau seorang bos atau atasan menegur bawahannya dengan makian, kata-kata kasar, dan terkesan menjatuhkan. Hal yang lumrah saat usaha kita yang belum berhasil dibalas dengan sindiran dan kata-kata pedas yang tak enak didengar. Apabila target dan deadline sudah di depan mata, maka para bos itu hanya ingin tahu hasilnya saja tanpa proses yang mengiringinya.

Dunia kerja adalah dunia professional. Jangan terlalu berharap mendapatkan lingkungan  kerja sesuai dengan harapan kita. Orang-orang yang saling mengerti dan memotivasi, atasan yang selalu mendukung setiap langkah bawahannya, serta kebijakan perusahaan sesuai dengan isi hati. Tidak semua lingkungan perusahaan tampil mengagumkan seperti yang selalu kita idam-idamkan.

Kini aku sendiri sadar dan merasakan bagaimana manfaat dulu dibentak-bentak oleh senior, dipersulit oleh asisten, disindir oleh dosen. Semua sebagai bekal untuk aku tetap bertahan dalam lingkungan kerja yang keras ini.

Pilihannya hanya dua, bertahan atau bertandang? Bertahan dalam pekerjaan tersebut dan menunggu masa-masa indah itu tiba. Atau bertandang ke lahan pekerjaan yang lain dan selalu memulai sesuatu dari awal.

“Bahwa kehidupan itu adalah sebuah pertandingan,  pemenang adalah mereka yang kuat dan mampu bertahan sehingga akan merasakan manisnya hasil perjuangan. Semua akan indah pada waktunya. Dan sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.”

Jumat, 31 Januari 2014

Bencana dan Kezaliman

sumber: akun facebook I ♥ Jepara
Dulu, banjir kerap dikaitkan dengan Kota Jakarta, ibukota Indonesia, lantaran buruknya kondisi drainasenya, banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, minimnya zona hijau karena semua lahan penuh dengan gedung-gedung beton. Namun, kini bencana banjir tidak hanya merendam Jakarta, bahkan di berbagai pelosok negeri ini, banjir telah mengancam dengan menenggelamkan perumahan penduduk hingga mencapai atap-atap rumah. Ada apakah dengan Indonesia?

Mengutip dari banyaknya ayat di Al-Quran yang menjelaskan tentang bencana. Di sini akan aku kutip beberapa.
“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS. Al Qhashash, 28 : 59)

 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al Isra, 17 : 58)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.” (QS. As Syura, 42 : 30)

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl, 16 : 112)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas disebutkan bahwa munculnya suatu bencana tidak lain disebabkan oleh kezaliman hambaNya. Tentu kita sadar bahwa dewasa ini semakin banyak terjadi kemaksiatan dimana-mana. Bahkan, para pemimpin yang diamanahkan untuk menjaga moral bangsanya pun melakukan hal yang sama. Banyak pula golongan alim yang menutup mata dan telinga, membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Maka, mungkin sepantasnya apabila Allah SWT mengganjar kita dengan hal yang demikian. Bencana datang bertubi-tubi, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, dan lain sebagainya.

Bencana didatangkan tanpa pilih kasih, tak peduli baginya yang beriman atau tidak. Bagi orang yang beriman, bencana merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan, dalam hal ini Allah berjanji akan mengangkat derajat dan martabatnya dengan mengampuni dosa-dosanya. Namun, bagi kaum yang zalim, bencana merupakan suatu peringatan agar mereka dapat segera sadar dan bertaubat atas perbuatan-perbuatan dosanya. Semoga yang demikian segera memperoleh inayah serta hidayahNya.

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa : 147)

Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Layu Sebelum Berkembang

Kepergiannya begitu berat bagiku, dia yang dulu sangat dekat, selalu mendekapku erat, menghangatkanku di antara kekisruhan. Aku tak menyangka, bahkan sedikit pun tidak, hal itu akan terjadi begitu cepat, di saat dunia mulai terbuka, saat burung-burung di seberang pulau hendak mencari mangsa. Aku justru terlelap dan membiarkannya pergi. Kejadian yang tak pelan, tapi butuh proses yang lumayan, tiga atau empat tahun perjalanan. Aku tak pernah paham, tak pernah kusangka sebelumnya, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikiran dan hati yang luar sekalipun kalau sekilas pandangan akan meruntuhkannya, membuatnya semua berbeda, dan itu nyata. Kehilangan ini sangat kentara kurasakan. Betapa tidak, hal ini mengubah hampir sebagian hidup yang sudah kurangkai kisahnya, bertatih-tatih untuk bisa bertahan, bertumpu pada kaki-kaki kecil yang entah siapa yang tahu kapan bisa runtuh. Namun, sedari dulu aku selalu berharap, berharap dengan sangat bahkan kugadaikan hidupku untuknya, agar dia tidak pergi, agar sebelum semua terjadi aku dibiarkan terhenti, terhenti dari kefanaan.

Waktu kini sudah kulalui, terlewati sepanjang lika-liku perjalanan elegi ini. Aku serasa tertidur, tapi tak pulas juga, sehingga bangun dan tertidur untuk menahannya. Terkadang petunjuk itu datang lantas aku mampu menghindar, tetapi sekejap hilang lalu berlakuan. Apatah semua ini hanya ilusi belaka? Aku bukan hidup dalam kejahiliahan, meski pandai tapi merasa bodoh dan sangat. Ilmu-ilmu berdatangan namun ku belum paham-paham. Mungkin sekejap, seketika, atau esok yang akan datang, entah kapan dimana hanya Mereka yang mengerti.

Jumat, 19 Juli 2013

Bersabar dalam Cobaan


Setiap manusia menjalani hidupnya masing-masing bukan tanpa masalah. Dalam kehidupannya Allah menurunkan coba sebagai rahmat dan menunjukkan kecintaan Allah kepada umatNya.

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang ridha (terhadapnya) maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Allah SWT berfirman

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan 'Kami telah beriman,' lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-Ankabut: 2-3)

Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa selain sebagai tanda cinta Allah kepada hambaNya, Allah memberikan cobaan juga sebagai sebuah ujian dan tanda bukti bahwa makhluk tersebut benar-benar beriman atau akan ingkar dengan berpaling dari Tuhannya. Selain ujian demi ujian diberikan kepada orang yang beriman, maka teguran demi teguran juga diberikan kepadanya. Teguran itu kadang halus, tapi sering-sering kasar. Bagi yang kepekaan imannya tinggi, teguran halus saja sudah cukup untuk menyadarkannya. Akan tetapi bagi mereka yang telah hilang kepekaannya, teguran yang keras sekalipun tak bisa menyadarkannya.
Namun, kita lantas tak boleh gentar sebab di balik semua ujian dan cobaan yang diberikan Allah, terkandung khasanah yang dapat kita petik, di antaranya dengan ujian Allah akan menaikkan derajat kita dan sekaligus sebagai penggugur dosa.