Sabtu, 13 Juli 2013

Pria - Pria Kontrakan

Belalang – salah satu kota kecil di Provinsi Tanah Lapang. Berdiri dengan megah sebuah akademi keteknikan, sebuah kampus yang menyimpan cita-cita dan harapan pemuda-pemudi negeri Sabang. Di sanalah para pria lajang dikumpulkan, dipupuk untuk menjadi tulang punggung negeri Sabang yang kata orang gemah ripah loh jinawi. Maka dari itu, pendidikan menjadi bekal ke depan, untuk kemajuan dan kesejahteraan.

Ini sebuah kisah persahabatan, terjalin hubungan pertemanan antara pria-pria Kampus Harapan. Dipertemukan lewat instansi pendidikan, perjalanan hari-hari mengenyam pendidikan akhirnya mereka lalui bersama. Pria-pria tersebut adalah Adam, Vian, Hendra, dan Iman, mahasiswa teknik Kampus Harapan.



Semester Baru. Hari itu cuaca begitu cerah di Kota Belalang. Keempat pria tersebut terbangun dari tidurnya masing-masing. Udara segar berhembus menyambut dengan riang. Sekarang mereka sudah berada dalam satu rumah kontrakan. Itulah mengapa mereka disebut Pria-Pria Kontrakan.

Pagi itu semuanya berkumpul di ruang tengah, mereka sedang bersiap-siap membersihkan rumah yang baru saja mereka tempati. Sapu, ember, lap pel, dan berbagai alat kebersihan lainnya sudah siap di tangan. Mereka saling bahu membahu membersihkan rumah kontrakan yang dalam beberapa tahun ke depan akan mereka tempati bersama sembari menyelesaikan tugas mereka untuk memperoleh gelar diploma. Hari itu menjadi hari yang sibuk, sebab setelah bersih-bersih rumah, siangnya mereka akan pergi ke pasar untuk membeli segala kebutuhan untuk rumah kontrakan.


Hari kedua. Pagi itu menjadi pagi yang indah bagi Pria-Pria Kontrakan. Karena hobi dalam memasak, Vian dan Iman sibuk mengerjakan sesuatu di dapur. Mereka berdua sedang menyiapkan sarapan, menu pagi itu adalah nasi goreng, tentu dengan resep spesial. Sementara di tempat lain, Adam dan Hendra sibuk menyapu lantai dan halaman. Setelah semua beres, mereka berkumpul di ruang tengah untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Hal itu menjadi rutinitas untuk hari-hari ke depan.

Esok hari di kalender menunjukkan tanggal merah. Kesibukan di kampus rupanya membuat Pria-Pria Kontrakan menjadi suntuk dan butuh hiburan. Mereka memutuskan untuk pergi bertamasya bersama. Pria-Pria Kontrakan sepakat pergi ke luar kota untuk melepas penat. Bersama dengan beberapa teman di kampus, Pria-Pria Kontrakan pergi menjelajahi Kota Kumbang yang jarak tempuhnya sekitar 3jam perjalanan dari Kota Belalang. Di sana, mereka bersenang-senang, mengabadikan berbagai gambar untuk kenang-kenangan. Hari itu menjadi hari yang menyenangkan bagi Pria-Pria Kontrakan.


Namun sayang, kesenangan rupanya tak mampir lama di kehidupan Pria-Pria Kontrakan. Kondisi akademis di kampus membuat Pria-Pria Kontrakan kewalahan. Semua itu diiringi masalah yang bertubi-tubi menyerang. Terlebih soal rumah kontrakan. Tikus-tikus rumah datang menyerang, mereka mengotori rumah dan menyebar banyak kotoran. Rumah kontrakan menjadi bau dan tidak nyaman. Masalah makin runyam dikala toilet rumah kontrakan mengalami penyumbatan. Air dan kotoran dari kloset tidak dapat mengalir dengan baik. Suasana rumah kontrakan membuat Pria-Pria Kontrakan menjadi makin geram.

Pria-Pria Kontrakan sekarang menjadi orang-orang paling sibuk. Selain akademis, mereka juga berperan sebagai mahasiswa aktivis. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengejar cita-cita dan kebanggaan. Berangkat pagi pulang larut malam. Mereka jarang bertemu dan duduk-duduk bersama lagi. Rumah kontrakan semakin kotor dan bau. Semua berantakan. Suasana pagi dengan sarapan bersama tidak lagi ditemui. Satu per satu mulai jenuh dan pupus harapan.


Namun, kini Pria-Pria Kontrakan tersadar bahwa apa yang mereka jalani adalah sebuah kesalahan. Persahabatan mereka seakan-akan sudah tinggal kenangan. Malam itu mereka berkumpul berempat di rumah kontrakan membicarakan kondisi kekinian hingga larut malam. Mereka merenung meskipun saling menyalahkan. Tapi renungan mereka tak berhenti begitu saja. Hari esok rumah kontrakan habis tempo, artinya mereka harus pergi dan menjalani hari-hari sendiri. Namun, kearifan datang. Pria-Pria Kontrakan memutuskan untuk memperpanjang masa rumah kontrakan. Mereka tahu resikonya adalah harga sewa rumah yang semakin mahal, tapi demi keharmonisan, mereka rela tetap bertahan untuk menjalin hubungan yang diharapkan, ini bicara soal pertemanan, perkawanan, dan persahabatan.


Setelah malam panjang Pria-Pria Kontrakan kembali riang. Kini mereka tinggal lagi di rumah kontrakan. Mereka menjalani hari-hari dengan senang meskipun tanpa sarapan kebersamaan. Pria-Pria Kontrakan kembali bahu membahu membersihkan rumah kontrakan. Mereka rutin kembali dengan kebersamaan. Suasana rumah kontrakan hidup kembali, riang dan penuh harapan, sampai waktu datang yang ‘kan membuat semuanya hilang.



Pria-Pria Kontrakan: Hendra, Iman, Adam, & Vian


5 komentar:

  1. terharu ndutt ngebacanya haha

    BalasHapus
  2. jadi inget dulu pas pertama kali liat rumah kontrakan ( '_')
    sempet matahin gagang pel, sempet matahin handle pintu...
    ntah akunya yg kelewat kuat atau rumahnya yg emang lemah lembut...
    hehe hehe
    someday pria-pria kontrakan yg sukses, akan berkumpul lagi dengan jas dan dasinya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, itu yg bikin km ngerasa g enak kalo main ke kontrakan ti..
      Amiin ya Rabb, semoga kita semua kelak mjd orang yg sukses dunia-akhirat

      Hapus
  3. masuk kamar mandi yang pintunya bisa buka dengan cara diangkat a.k.a pintu jebol :')
    kangen ngerjain bareng yaaaa di kontrakan sampe di usir

    BalasHapus