Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Layu Sebelum Berkembang

Kepergiannya begitu berat bagiku, dia yang dulu sangat dekat, selalu mendekapku erat, menghangatkanku di antara kekisruhan. Aku tak menyangka, bahkan sedikit pun tidak, hal itu akan terjadi begitu cepat, di saat dunia mulai terbuka, saat burung-burung di seberang pulau hendak mencari mangsa. Aku justru terlelap dan membiarkannya pergi. Kejadian yang tak pelan, tapi butuh proses yang lumayan, tiga atau empat tahun perjalanan. Aku tak pernah paham, tak pernah kusangka sebelumnya, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikiran dan hati yang luar sekalipun kalau sekilas pandangan akan meruntuhkannya, membuatnya semua berbeda, dan itu nyata. Kehilangan ini sangat kentara kurasakan. Betapa tidak, hal ini mengubah hampir sebagian hidup yang sudah kurangkai kisahnya, bertatih-tatih untuk bisa bertahan, bertumpu pada kaki-kaki kecil yang entah siapa yang tahu kapan bisa runtuh. Namun, sedari dulu aku selalu berharap, berharap dengan sangat bahkan kugadaikan hidupku untuknya, agar dia tidak pergi, agar sebelum semua terjadi aku dibiarkan terhenti, terhenti dari kefanaan.

Waktu kini sudah kulalui, terlewati sepanjang lika-liku perjalanan elegi ini. Aku serasa tertidur, tapi tak pulas juga, sehingga bangun dan tertidur untuk menahannya. Terkadang petunjuk itu datang lantas aku mampu menghindar, tetapi sekejap hilang lalu berlakuan. Apatah semua ini hanya ilusi belaka? Aku bukan hidup dalam kejahiliahan, meski pandai tapi merasa bodoh dan sangat. Ilmu-ilmu berdatangan namun ku belum paham-paham. Mungkin sekejap, seketika, atau esok yang akan datang, entah kapan dimana hanya Mereka yang mengerti.


Kini aku berharap dia ‘kan kembali, meski setelah ia datang ku tak bisa utuh lagi. Robekan ini terlalu besar untuk disulam, rajutannya yang dulu aku anggap kuat ternyata rapuh ke belakang. Hingga masa yang kunantikan dengan berharap-harap bahwa sekuat hati dan akalku ini mampu menahannya supaya lamat-lamat tak kembali lepas. Aku ingin dia ‘kan kembali, menambal diri yang kian malas berdiri, apalagi untuk berlari. Padahal memori ini tersadarkan kembali akan badai yang menggulung negeri, namun kata santun pun tak mampu menyudahi. Aku masih berupaya keras, meski dalam gelap, meski hanya berdua, maka tak akan kubiarkan tebing runtuhkan pondasi-pondasi hingga diri ini terhardik karena tak sanggup menahan laju elegi.

Esok, dimana mentari yang masih utuh bersinar dari timur, aku menitipkan seutas tali pengikat harga diri agar di mata insan aku tetap dipuji. Pujian itu akan sangat berarti bagiku mengumpulkan remahan besi-besi, yang dulu kuat, berarti. Aku butuh satuan waktu yang panjang dan tenang untuk bisa mengembalikan dirinya dalam satu. Aku mau dahan-dahan itu tumbuh kuncup saat musim semi. Aku ingin ranting-ranting tak patah lagi. Aku harapkan bunga tak hanya mimpi.

Allah ya Rabby, bantu hamba bangun dari kesunyian ini
mampu menjadikan elegi berganti
seperti senandung yang Engkau cipta bagi kami
begitu dekat dengan hati
lekat, bahkan lebih dari nadi
hamba inginkan Kau di sisi
menyeka air mata ini
Tunjukkanlah cahaya sempurna
atau sebelum maksiat menghampiri
lebih baik aku tak lanjut lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar