Minggu, 15 September 2013

Semangat untuk Keluarga Baru TI'13

Hari jumat kemarin aku diminta oleh Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Himpunan Mahasiswa Teknik Industri untuk memberikan materi dalam acara yang mereka selenggarakan untuk para mahasiswa baru angkatan 2013. Acara akan dilaksanakan hari sabtu dan aku baru diberi tahu melalui pesan singkat pada jumat siang setelah sholat jumat. Awalnya permintaan itu sempat aku tolak dengan berbagai alasan, karena terlalu “tua”lah untuk mengisi acara, atau aku yang menginginkan agar pembicara dari angkatan 2010 atau 2011 saja sebagai bentuk regenerasi. Karena aku tak mau dikatakan sebagai pengkader yang gagal sebab sampai sekarang belum bisa melahirkan pembicara di jurusan sendiri. Padahal ketika masih menjabat sebagai pengurus himpunan, akulah yang menginisiasi menyelenggarakan acara Intensive Class Training bagi adik-adik staff dengan materi Good Public Speaking, baik sebagai Speaker maupun sebagai Master of Ceremony.

Aku didaulahi memberikan materi tentang organisasi, dan ternyata itu adalah materi pembuka pada jam 8.30 pagi. Jam segitu terlalu pagi bagiku yang notabene sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir. Sabtu pagi biasanya kugunakan untuk bersepeda atau bermalas-malasan di depan laptop, menonton televisi, atau membaca buku. Tidak seperti dulu ketika masih ada jam kuliah, sabtu pagi harus sudah berada di kampus untuk praktikum, atau memang karena ada kegiatan.

Salah satu alasan kenapa masih aku yang diminta menjadi pembicara adalah karena menurut para panitia aku memang salah satu contoh mahasiswa Teknik Industri yang mempunyai riwayat pengalaman organisasi yang cukup bagus. Padahal bagiku masih banyak orang lain, terutama teman-temanku seangkatan, yang mempunyai riwayat organisasi bahkan prestasi yang jauh lebih baik dariku. Dalam pikirku juga mungkin karena akulah salah satu senior yang tiada segan untuk dimintai tolong sebab aku memang dekat dengan para juinorku itu. Tapi tak mengapa, bagiku ini suatu kepercayaan dari adik-adikku, aku pun harus bisa memberikan contoh kepada mereka kalau mahasiswa aktivis harus siap kapan saja ketika dimintai tolong, apalagi sebagai pembicara yang memang sudah menjadi salah satu pekerjaan mahasiswa aktivis. Dan ini juga sebagai ajang bagiku untuk mengenal adik-adik baruku sekaligus memberikan sedikit pesan bagi mereka.

Rabu, 11 September 2013

Menjadi Generasi yang Punya Malu

Perhatikan baik-baik video di bawah ini, dengarkan dan cermati dengan seksama.


Sebagai Bangsa Indonesia, dan khususnya sebagai Orang Jawa, terlebih yang notabene sama-sama generasi muda harusnya kita malu dengan kondisi kita sekarang. Lihat saja, pemeran-pemeran drama di atas kebanyakan adalah pemuda, dalam hal ini adalah mahasiswa asing, yang datang dari luar negeri dan bukan orang pribumi. Namun, mereka mampu mengerti dan menggunakan Bahasa Jawa dengan baik dan benar. Bahkan kalau kita teliti, Bahasa Jawa yang digunakan merupakan Basa Krama (Krama Alus atau Krama Inggil) dimana bahasa tersebut mempunyai tingkatan paling tinggi dalam Bahasa Jawa, biasanya dituturkan antar orang yang saling menghormati atau antara anak kepada kedua orang tuanya atau orang yang dituakan.

Tentu kita sadar, fenomena yang terjadi selama ini. Di Jawa, khususnya di Jawa Tengah, banyak anak-anak yang kemampuan bahasa kramanya sangat kurang, sehingga dalam bertutur kata kepada kedua orang tuanya atau kepada orang-orang yang dituakan, seperti guru dan sebagainya, mereka justru menggunakan bahasa ngoko, dimana bahasa tersebut terkesan kasar, biasanya dituturkan kepada sesama, seumuran, atau orang yang sudah saling akrab. Atau sebagai pengganti bahasa krama, mereka menggunakan bahasa Indonesia agar terkesan sopan dan tetap menghormati. Entah siapa yang salah dalam hal ini. Orang tua yang tidak mengajarkan bahasa krama kepada anak-anaknya, atau memang sang anak yang terkesan kurang sadar dan peduli terhadap tata krama sehingga acuh tak acuh dengan tingkatan bahasa sebagai tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua. Dan terkadang berbeda cerita dengan kehidupan masyarakat urban yang tinggal di kota-kota besar, mereka lebih senang mengajarkan anaknya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar sehari-hari supaya terlihat modern atau ingin praktis saja karena tidak perlu menghapalkan banyak kosa kata.

Namun, perlu diingat, baik Bahasa Jawa maupun bahasa daerah yang lain merupakan bahasa ibu yang perlu kita lestarikan. Bahasa daerah merupakan khasanah dan kekayaan bangsa kita yang juga tak ternilai harganya. Bahasa ibu tersebut juga menunjukkan jati diri kita sebagai bangsa timur yang mengedepankan sopan santun dan tata krama. Oleh karena itu, alangkah baiknya mulai dari sekarang kita biasakan diri kita menggunakan bahasa ibu, dan khusus Orang Jawa gunakanlah bahasa krama sebagai alat komunikasi dengan orang yang lebih tua yang harus kita hormati. Kalau kita hormat, orang lain juga akan menghormati kita, apalagi kedua orang tua kita.

Selasa, 10 September 2013

Berbakti Kepada Orang Tua

Tadi malam aku mendapatkan jarkom dan ajakan dari seorang teman untuk mengikuti aksi besar-besaran di Simpang Lima Semarang. Bagaimana tidak besar sebab aksi kali ini merupakan aliansi dari berbagai ormas dan ormawa Islam di Kota Semarang. Aksi tersebut rencana mengusung beberapa hal, yang salah satunya ialah penolakan terhadap acara pemilihan Miss World yang sekarang sedang berlangsung di Nusa Dua Bali. Sebenarnya untuk hal ini aku sendiri kurang setuju, meskipun tidak sering mengikuti pemberitaannya dan secara pribadi memang aku kurang suka dengan acara sejenisnya. Namun, aku lebih mengambil nilai positif yang tentunya akan menguntungkan, terutama bagi promosi pariwisata di Indonesia. Bagaimanapun sektor pariwisata menurutku lebih menguntungkan baik secara sosial ekonomi maupun sosial budaya dari pada sektor industri manufaktur yang sekarang sedang berkembang yang justru banyak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Namun, bukan poin tersebut yang akan aku bahas sekarang. Selama empat tahun menyandang gelar sebagai mahasiswa dan turut aktif berperan serta sebagai mahasiswa aktivis, bahkan sempat pula diberikan amanah menduduki posisi penting dalam lembaga mahasiswa, tetapi selama itulah aku belum dan mungkin tidak akan pernah merasakan “nikmatnya” aksi demonstrasi. Sebenarnya ketika mendapat pesan singkat dari seorang teman, yang sampai semester akhir seperti sekarang dia masih menjabat sebagai seorang petinggi ormawa, aku sempat berpikir untuk ikut dalam aksi yang akan berlangsung nanti dengan alasan sebagai “pelengkap” kiprahku sebagai mahasiswa. Namun, seketika aku langsung teringat dengan pesan ayahku dimana beliau melarang keras aku untuk tidak ikut serta dalam kegiatan aksi mahasiswa. Dalam telaahku pribadi ada beberapa faktor yang menyebabkan beliau melarangku untuk ikut aksi turun ke jalan. Dengan aksi yang biasa di media-media dikabarkan berjalan secara anarkis yang berujung bentrok antara mahasiswa dengan aparat, mungkin membuat ayahku merasa khawatir dengan keselamatan anak laki-laki satu-satunya ini. Atau mungkin karena ada alasan lain yang membuat ayahku berkali-kali meneleponku memastikan bahwa aku sedang tidak ikut serta ketika ada aksi yang berlangsung di Semarang. Yang pasti ayah memang melarang semua anaknya untuk ikut turun ke jalan saat demonstrasi berjalan. Namun, aku senang bahwa hal itu adalah salah satu bukti bahwa ayahku mencintai putra-putrinya.

Senin, 05 Agustus 2013

Jalan dari Tuhan

Waktu menunjukkan pukul 04.30. Setelah bangun, aku bergegas ambil air wudlu dan bersiap pergi ke masjid. Ku kayuh sepeda tuaku menuju masjid yang berjarak sekitar setengah kilo dari rumah. Selama dalam perjalanan, kutemui beberapa orang yang sudah mulai beraktivitas. Kutemui seorang petani, kusapa lalu dibalasnya dengan senyum, kusapa seorang nelayan lalu dibalasnya dengan sapaan pula.

Sesampainya di masjid, kupakirkan sepedaku. Terlihat di seberang, sebuah gereja. Kebetulan di desaku masjid dan gereja saling berhadapan, hanya terpisah oleh jalan kecil beraspal. Kulihat, seorang lelaki sedang menutup pintu gereja. Sepertinya ia akan pergi. Tak lama, kupalingkan perhatianku untuk segera masuk ke dalam masjid.

Di dalam masjid kulihat masih sepi, hanya seorang lelaki tua dengan tasbihnya, kurasa ia sedang berzikir dengan khusyuk. Aku melangkah menuju mimbar. Karena sudah waktunya azan, aku pun berinisiatif mengambil mikropon untuk mengumandangkan azan, berseru kepada umat untuk bangkit kepada Penciptanya. Namun, belum sempat aku mengambilnya, seorang lelaki paruh baya menyelaku, dengan senyum berisyarat ia yang akan mengumandangkan azan. Maka dengan ikhlas hati kupersilakan ia, mungkin itu menjadi tugasnya pagi ini.

Rabu, 24 Juli 2013

Allah is (still) with Me


Hari ini adalah ramadhan ke-15 yg aku jalani di tahun ini, dan alhamdulillah berbarengan dengan peringatan hari lahirku yang ke-22. Meski sedih karena umur dan kesempatanku telah banyak berkurang, tetapi syukur kehadirat Allah SWT yang selalu mencurahkan rahmatNya kapan dan dimana pun aku berada.

Selasa, 23 Juli kemarin, aku dan Mbak Diyan beserta si kecil Radhit berangkat ke Jepara dengan mobil travel. Aku ngga nyangka kalau permintaanku ke ibu bakal dipenuhi hari itu. Sesampainya di rumah, ternyata semua makanan dan ubo rampe telah siap saji. Menjelang maghrib, tamu undangan yang tidak lain adalah kerabat sendiri mulai berdatangan, termasuk Kiai Uzair bersama keluarga. Kelima kakakku beserta suami dan anak-anaknya juga turut hadir. Terkumpul kira-kira 40 orang di ruang tengah, dimulai dengan salam, doa, tausiah, kemudian ditutup dengan berbuka bersama.

Rasa senang waktu itu tidak terbendung. Subhanallah, wal-hamdulillah, wa Laa ila ha illallah, wallahu akbar.

Renunganku berlanjut dengan 22 tahun yang sudah Allah amanahkan untukku. Aku yang senang dengan kalimat "Sekali Hidup Berarti, Setelah itu Mati" kini tersentak. Sejauh ini apa yang sudah aku lakukan, apa yang sudah aku persembahkan bagi Tuhanku, keluarga dan saudaraku, lingkungan, serta untuk diriku sendiri? Semoga waktu yang tersisa ini cukup untukku memperbaiki diri dan mampu menyuguhkan hal-hal terbaik yang bisa aku lakukan, sehingga berarti 'tak hanya sekedar mimpi.

Hopes and dreams will remain there to accompany and provide a sense for life and living. Accountability for the afterlife that awaits.

Selasa, 23 Juli 2013

Mengenang GeKAES

Habis lihat video teasernya GeKAES XVII Smansara di Youtube jadi keinget kenangan zaman dulu. Ngga terasa sudah 6 tahun berlalu, tetapi masih meninggalkan kenangan indah yang membekas sampai sekarang.

GeKAES XII 45th Smansara's Anniversary

Sedikit info tentang GeKAES atau Gebyar Kreasi Apresiasi dan Ekspresi Seni, adalah serangkaian acara yang dilaksanakan oleh OSIS SMAN 1 Jepara dalam rangka merayakan hari jadi sekolah. Pada mulanya GeKAES dilaksanakan oleh pengurus OSIS 96/97 yang kala itu selain sebagai ajang pertunjukan dan seni, juga mengusung misi untuk mengkritik sistem sekolah yang dipandang kurang baik. Alhasil GeKAES yang pertama itu dapat memberhenti-tugaskan salah seorang guru yang dianggap diktator. Semenjak itu GeKAES secara resmi dijadikan sebagai ajang bagi para siswa dan guru untuk memperingati hari jadi sekaligus sebagai sarana refreshing dan penyaluran bakat, terutama di bidang seni.

Senin, 22 Juli 2013

Damba CintaMu

Inilah lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh grup vokal asal negeri Jiran, Raihan. Dalami maknanya sebagai renungan buat kita, sekaligus sebagai introspeksi diri. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung dengan selalu terbukanya pintu hidayahNya. Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu
Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu
Bilakah diri ini 'kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi kuingat petang kualpa
Begitulah silih berganti
Oh Tuhanku,
Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba CintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu
Ku sering berjanji di depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula
Kau pengasih
Kau penyayang
Kau pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau padaku
Tuhan,
Diri ini tidak layak ke surgaMu
Tapi tidak pula aku sanggup ke nerakaMu
Kutakut kepadaMu
Ku mengharap jua padaMu
Mogaku 'kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat
Seperti rasul dan sahabat