Rabu, 06 Agustus 2014

Bersyukur itu Nikmat

Syukur, kata yang mudah diucap namun tak mudah untuk dilakukan. Banyak orang sejatinya telah memperoleh banyak kenikmatan, tapi tak sadar akan hal itu, sehingga tak pernah merasa puas dan selalu merasa kurang. Syukur, tak hanya menjadi sebuah aktivitas yang hanya sekali dilakukan, namun harus menjadi sebuah kebiasaan yang akan dilakukan setiap saat dalam semua kejadian.

Rasa syukur, tak cukup hanya diucapkan secara lisan, namun harus diyakini dari hati dan dibuktikan dengan tindakan-tindakan keseharian yang mencerminkan rasa syukur itu sendiri.

Seringkali hal-hal kecil yang kita alami menjadi penghalang yang menutupi mata hati sehingga membuat kita lupa akan hal-hal besar yang patut kita syukuri.

Rizki, menjadi salah satu faktor penting yang menentukan sikap kita untuk bersyukur atau kufur. Padahal kalau menilik lebih dalam, rizki merupakan akumulasi segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Keutuhan jasmani, kebebasan bernapas, serta segala bentuk kesehatan yang kita punyai, keluarga yang utuh dan harmonis juga merupakan bagian dari rizki. Cobalah untuk membuat daftar apa saja yang sudah Allah berikan pada kita sejak kita terlahir di bumi.

Allah Yang Maha Pemurah,
yang telah mengajarkan Al-Quran,
Dia menciptakan manusia,
mengajarkannya pandai berbicara,
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan,
dan tumbuh-tumbuan dan pepohonan tunduk kepadaNya,
Dan Allah telah meninggikan dan Dia meletakkan neraca keadilan,
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu,
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu,
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhlukNya,
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar Rahman : 1 - 13)

Dalam kutipan Q.S Ar Rahmat tersebut Allah sudah menyindir kita secara halus tentang limpahan nikmat yang telah Ia berikan kepada kita, namun sering kali kita lupakan. Dan apabila Allah memberikan cobaan kepada kita, maka telah berani Ia jaminkan surga untuk kita. Dan sesungguhnya cobaan itu sebagai alat bagiNya untuk menaikkan derajat kita di sisiNya.

Sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan,
dan sesungguhnya di balik kesulitan terdapat kemudahan.
(QS. Al Insyirah : 5 - 6)

Dan bagi kita kaum muslimin, diwajibkan atas kita untuk selalu mengingatkan sesama agar dapat bersabar dalam cobaan dan selalu menuntun ke arah kebenaran. Karena sesungguhnya janji Allah adalah haq.

Kebahagiaan adalah kehidupan yang kita syukuri.

1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf
1. [1](Allah) yang Maha Pengasih,
2. Yang telah mengajarkan Al Qur’an[2].
3. Dia menciptakan manusia[3],
4. mengajarnya pandai berbicara[4].
5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan[5].
6. Dan tetumbuhan dan pepohonan[6], keduanya tunduk (kepada-Nya).
7. Dan langit telah ditinggikan-Nya[7] dan Dia letakkan keseimbangan (keadilan)[8].
8. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu[9],
9. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu[10].
10. Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk(-Nya)[11],

11. [12]di dalamnya ada buah-buahan[13] dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang[14],
12. dan biji-bijian yang berkulit[15] dan bunga-bunga yang harum baunya[16].
13. [17]Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?[18]
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-ar-rahman-ayat-1-25.html#sthash.nGvyJym8.dpuf

Senin, 07 Juli 2014

Memburu Kuliner di Kota Hujan


Bogor, Kota Hujan ini selain megantongi banyak catatan sejarah juga merupakan tempat yang tepat untuk mencari khasanah kuliner nusantara. Bagaimana tidak, contohnya saja di sepanjang Jalan Surya Kencana atau lebih tepatnya di Gang Aut, para pedagang rumahan dan kaki lima berdiri berjajar menjajakan dagangannya. Beraneka jenis makanan dan minuman ditawarkan dengan tampilan yang menggugah selera.

Perjalanan ke Bogor kali ini kita mulai dari Stasiun Sudirman. Sebenarnya akhir pekan di Bulan Ramadhan kali ini merupakan waktu yang kurang tepat untuk menikmati Bogor, dan terbukti begitu Commuter Line jurusan Bogor datang, kereta listrik itu sudah penuh sesak dengan manusia. Rasanya hampir sudah tak muat lagi menampung kami para penumpang dari Sudirman. Kalau menggunakan istilah Mpok Jupe, ini kereta sampe tumpeh-tumpeh deh. Satu jam perjalanan dengan kaki berdiri rasanya cukup menjadi coba puasa hari itu. Begitu sampai di Bogor kami disambut riuhnya mobil angkot yang rame di jalanan. Ya, selain dikenal dengan Kota Hujan, Bogor juga dikenal dengan Kota Seribu Angkot.

Jalan Surya Kencana menjadi tujuan utama kita. Di sana sudah berjajar para pedagang aneka makanan dan minuman khas Bogor. Seketika setelah mencari masjid untuk sholat, kita langsung kalap, rasanya ingin membeli semua yang ada di sana. Makanan pertama yang kita beli adalah Soto Kuning yang berada tepat di seberang Bank Mandiri Surya Kencana. Lapak sederhana milik keturunan Arab ini sangat ramai dikerumuni pelanggan. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari 2 jam, makanan yang dijajakan sudah ludes dijual. Kita pun hampir saja kehabisan, hanya mendapatkan sisa-sisanya. Lapak milik Bang Ali ini setiap harinya buka pukul 4 sore, dan segera tutup setelah dagangannya habis. Menurut penuturan Mas Agus, saat hari biasa (bukan dalam moment Ramadhan) dipastikan antrean Soto Kuning ini bisa lebih panjang. Aku sendiri ngga bisa membayangkan gimana rasanya mengantre demi seseruput Soto Kuning yang lezat ini. Makanan pertama, recommended.

Selasa, 24 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part II)


Menikmati malam di Cibeo menjadi pengalaman yang seru buatku. Terdapat sekitar seratus rumah di sana. Rumah-rumah itu tidak dilengkapi dengan lampu neon, penerangan hanya menggunakan lampu teplok, masing-masing hanya satu. Ketika malam tiba, semua aktivitas dihentikan. Paling hanya mengobrol dengan tetangga sekitar, selanjutnya bergegas istirahat untuk menyambut aktivitas keesokan harinya.

Aktivitas MCK semua dilakukan di sungai. Masyarakat Baduy Cibeo telah membagi area sungai menjadi dua bagian berdasarkan alirannya, yang pertama untuk buang air, dan yang kedua untuk mandi dan mencuci. Masing-masing sudah terpisah antara kaum laki-laki dan perempuan. Aku sendiri tidak mandi selama di Cibeo, hanya cuci muka, tangan dan kaki, begitu juga dengan Rian. Suasana ramah Cibeo membuat kami nyaman meskipun tanpa mandi. Bukan berarti ngeles karena malas mandi ya,hehe.

Semakin petang, Cibeo semakin penuh dengan rombongan wisatawan. Kurang lebih ada tiga ratus orang yang datang hari itu. Mungkin moment-moment seperti inilah yang mampu membuat Cibeo terasa hidup. Aku sendiri tak bisa membayangkan, bagaimana sunyinya Cibeo kalau tidak ada kami. Namun, meskipun malam itu cukup ramai. Aku tidak merasa terusik sebab homestay kami cukup jauh dari keramaian, aku sendiri bersama para rombongan lelaki tinggal di rumah Pak Sarip yang rumahnya terletak di gerbang Cibeo, sebenarnya bukan gerbang juga, tapi memang rumah keluarga Pak Sarip ini menjadi rumah pertama ketika memasuki Desa Cibeo. Sedangkan para wanita menempati kediaman Kang Jali dan satu rumah lagi. Kang Jali inilah yang menjadi pemandu kami selama di Cibeo.

Sudah di Cibeo rasanya kurang afdol kalau tidak menikmati malam di sana. Meskipun badan sudah sangat lelah dan harus segera diistirahatkan, tapi Mas Agus dengan semangatnya mengajak aku dan Rian jalan-jalan mengitari desa menikmati langit yang mengkristal. Dan kuputuskan untuk ke Alun-Alun (tanah lapang di pusat desa yang kemudian kami anggap sebagai alun-alun) untuk menikmati langit yang mengkristal itu.

Suasana malam di Alun-Alun begitu ramai penuh orang berlalu lalang menuju ke sungai untuk bersih diri. Kami putuskan untuk duduk di tengah-tengah menikmati langit sambil bercerita-cerita tentang banyak hal. Awalnya kami bertiga tidak mendapatkan kristal yang kami harapkan. Namun, kelamaan awan mendung yang menyelimuti langit menyibak membentuk garis oval, memperlihatkan bintang-bintang yang berkilauan. Subhanallah, betapa cantiknya langit malam itu. Bagaikan Kristal yang terukir indah di atas semesta. Aku teringat malam-malam indah di Karimun Jawa bertahun yang lalu.

Malam semakin larut, namun orang-orang masih banyak yang aktif bercengkerama satu sama lain. Karena rasa kantuk yang mulai terasa akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke homestay.

Senin, 23 Juni 2014

Baduy Cihuy (Part I)


Kepenatan dengan rutinitas pekerjaan memang kelamaan bisa menjadi sebuah penyakit yang apabila tak segera diobati maka akan berdampak fatal. Itulah sebabnya aku memilih travelling sebagai salah satu obatnya. Namun, ternyata travelling itu memang benar-benar menjadi candu, it’s addicted. Setelah dari Green Canyon Pangandaran beberapa minggu yang lalu, sekarang aku pergi ke Kabupaten Lebak Banten untuk melepas penat-penatku itu.

Ini semua berawal dari kegemaranku yang doyan sama travelling, lebih tepatnya kecanduan. Hehe. Tadinya aku mengajak Rian untuk touring ke Garut, tapi Rian punya tawaran lain yang lebih menggiurkan, Pantai Ujung Genteng Sukabumi. Rencana sudah disusun lumayan matang. Namun, rencana tinggallah rencana. Cuaca Jakarta yang beberapa hari terakhir yang kurang bersahabat akhirnya membuat temannya Rian yang sedianya membawa kami ke Ujung Genteng membatalkan dengan sepihak. Untuk mengobati kekecewaan kami, Rian yang inisiatif dan agresifitasnya cukup tinggi menawarkan Trip to Baduy Dalam bersama Wuki Travel. Ajakan tersebut langsung aku terima tanpa berpikir panjang.

Sabtu, 21 Juni, begitu subuh berkumandang kami segera siap-siap untuk menuju Meeting Point, Stasiun Duri. Rasa lelah sebenarnya masih terasa, sebab sampai jumat malam kami masih berkutat dengan aktivitas masing-masing di kantor padahal beberapa logistik yang harusnya dibawa belum terbeli. Suasana Jakarta pagi itu sangat mendukung, cerah dan lengang, mungkin juga karena masih sangat pagi. Kami berangkat ke St Duri melalui St Sudirman menggunakan Commuter Line.

Sesampainya di St Duri ternyata sudah banyak anggota kelompok travelling yang sudah sampai, Kami segera keluar stasiun dan bergabung dengan mereka. Sesi perkenalan, foto, dan doa sebelum pemberangkatan kami jalani. Dan medan perjuangan itu segera kami mulai.

Medan perjuangan, ya, aku lebih suka menggunakan kata-kata itu untuk tripku kali ini. Bagaimana tidak, memasuki gerbong kereta Rangkas Jaya jurusan Angke-Merak saja menurutku sudah perjuangan banget. Aku jadi teringat10 Mei 2010, perjalanan Semarang- Jakarta menggunakan kereta ekonomi untuk mengantar sahabatku Bagus Nugroho ke peristirahatan terakhirnya. Kereta yang meskipun sudah ber-ac itu terasa panas sebab terlalu penuh sesak oleh penumpang dan pedagang asongan. AC yang dipasang tak berfungsi semestinya. Suara gaduh pedagang menawarkan dagangannya, keluhan ibu-ibu, tangisan anak-anak balita memecah heningnya kereta pagi itu, mengalahkan alunan mesin khas kereta.

Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, akhirnya rombongan sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Ciboleger, kami diberi waktu untuk makan siang (sarapan - red) sambil menunggu teman-teman yang ketinggalan kereta. Ya, ada beberapa teman dari Karawang dan Bekasi yang ketinggalan kereta gara-gara si oknum yang telat bangun pastinya. Haha. Sepertinya cerita mereka bakal lebih seru.

Stasiun Rangkas Bitung, Lebak, Banten

Istirahat dirasa cukup, perut sudah kenyang, meskipun aku dan Rian tak makan juga lantaran kami berdua sudah meraup secuil roti, sedangkan para laters pun sudah datang. Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Ciboleger menggunakan mobil elf. Perjalanan dari Rangkas ke Ciboleger ditempuh sekitar dua jam, melewati jalanan naik dan turun. Panasnya Lebak ternyata mampu menidurkan kami, kecuali aku, karena aku duduk tepat menghadap pintu mobil jadi sedikit waswas kalau mau tidur.

Selasa, 03 Juni 2014

Membuncahkan Semangat dari Guha Bahu


Pangandaran, 31 Mei – 1 Juni 2014

Sudah lama rasanya aku tidak melakukan travelling. Selama di Jakarta, paling jauh tempat yang aku kunjungi ialah Anyer, itupun gegara perjalanan dinas dan tidak mampir ke pantainya. Selebihnya paling hanya main-main ke mall, Pantai Ancol, dan Monas. Padahal raga dan pikiran sudah letih dengan rutinitas kerja.

Aku bersyukur selama di Jakarta masih dikelilingi orang-orang yang baik hati, setelah kecewa menolak ajakan Mas Abra ke Bromo, ada si Dana yang mengajakku bergabung dengan kawan-kawan kampusnya ke Pangandaran. Kali ini aku diajak untuk merasakan Body Rafting ke Guha Bahu, Cukang Taneuh, Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sedikit mengulas tentang Guha Bahu. Gua ini merupakan gua di pinggir ngarai yang terbentuk dari stalaktit. Guha Bahu berada satu area dengan wisata Green Canyon Pangandaran. Awalnya aktivitas wisata di Cukang Taneuh atau Green Canyon ini hanya sekedar menumpang perahu menyusuri sungai Cijulang menuju area terluar gua yang berupa susunan batu-batu besar. Sesampainya di area tersebut, wisatawan diijinkan untuk bermain air melawan arus air. Namun, akhir-akhir ini sudah dibuka arena wisata baru yaitu body rafting dimana pengunjung dibawa ke hulu menggunakan mobil bak terbuka kemudian menyusuri sungai dari hulu sampai ke hilir.

Jumat siang aku berpamitan dengan mentorku, Ms.Elizabeth, yang memang sehari sebelumnya aku sudah meminta ijin untuk pulang lebih awal di hari itu. Untungnya aku mendapatkan mentor yang selain baik, juga mempunyai hobi yang sama, jadi tidak perlu bersusah payah mendapatkan ijin. Bahkan sebelum aku pulang, aku diperlihatkan foto-fotonya waktu traveling ke sana. Kalau si Dana justru lebih beruntung lagi, kami mendapatkan manajer yang super baik, di hari kecepit itu dia diperbolehkan ijin cuti.

Pukul 3.30 sore Dana menjemputku di kos. Meeting point kali ini berada di Masjid Terminal Kampung Rambutan Jakarta Selatan yang jaraknya cukup lumayan dari Sudirman meskipun sama-sama di Jaksel. Itulah sebabnya aku ijin pulang duluan, sebab kami harus sampai di terminal sebelum jam tujuh. Tahu sendiri macetnya Jakarta seperti apa. Sejam menunggu busway tidak ada yang datang karena jalurnya penuh dengan mobil, yang paling ngeselin adalah melihat sebuah mobil polisi yang juga ikut-ikutan menjajah jalur busway. Hampir hopeless kami memutuskan untuk naik ojek, tapi karena harga tawar yang cukup tinggi kami mengurungkan niat, mencapai 80.000 rupiah seorang. Akhirnya tepat jam lima kami menemukan bus AC70 jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan, hanya dengan 9.000 rupiah dalam waktu satu jam kami sudah sampai di depan terminal.

Kamis, 29 Mei 2014

Membudayakan Apresiasi

Banyak yang berkata bahwa budaya masyarakat Indonesia tentang apresiasi sangatlah rendah, padahal sejatinya bangsa Indonesia terkenal dengan keramahannya. Saat seseorang sedang tergesa-gesa memburu lift yang akan membawanya, di sisi lain ada yang menahan lift tersebut agar tetap terbuka sehingga ia bisa masuk, tak jarang orang tersebut lupa mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantunya. Hal itu acap kali terjadi di sekitar kita.

Apresiasi. Sederhana namun mudah terlupa.

Rasanya jika membandingkan budaya Barat dengan budaya kita tentang rasa mengapresiasi sangatlah jauh. Misalnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, para penonton tak segan untuk memberikan standing applause bagi para kontestan yang memberikan penampilan terbaiknya.

Hal paling sederhana dalam memberikan apresiasi adalah senyuman. Senyum, meski ringan, tetapi faktanya sulit dilakukan. Pernahkan kita berpikiran untuk memberikan senyuman kepada orang yang kita jumpai atau saat berpapasan di jalan meskipun kita tidak mengenalnya? Bukan malah menundukkan kepala atau bersikap acuh tak acuh.

Hal yang juga sederhana dalam memberikan apresiasi adalah mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih atas bantuan atau pertolongan seseorang, meskipun hanya dua kata singkat, namun dapat berdampak besar bagi kelangsungan hubungan interpersonal seseorang dengan yang lain. Namun sayangnya, hal ini sering kali terlupakan oleh sebagian orang.

Senin, 14 April 2014

Potensi Bagaikan Berlian, Perlu Asahan Agar Berkilauan

Era saat ini banyak sekali perorangan atau badan yang menjadikan sebuah pelatihan atau training sebagai bentuk pelecut diri untuk mengasah berbagai potensi, tak terkecuali sebuah badan usaha atau perusahaan. Training sendiri pada dasarnya terdiri atas 3 unsur yang pokok dan saling berkaitan, yaitu adanya trainer (pelatih), trainee (peserta), dan materi training. Sedangkan yang lain merupakan unsur pelengkap / komplementer. Sebuah perusahaan memberikan training kepada pegawainya dengan tujuan agar perusahaan tersebut mempunyai asset berupa sumber daya manusia (SDM) yang cakap dan mampu mengembangkan bisnis perusahaan tersebut. Namun sayangnya, tak banyak perusahaan yang dapat dengan serius menjalankan program training ini dan memanfaatkannya dengan optimal.

Filosofi Berlian
"Potensi seseorang bagaikan sebuah berlian yang akan terlihat kilaunya setelah diasah."
Sebuah perusahaan tentu tidak akan sembarangan dalam merekrut calon pegawainya. Berbagai metode dan cara digunakan oleh perekrut handal untuk memperoleh SDM sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan. Setelah proses rekrutmen selesai, maka didapatlah pegawai baru yang berkualitas sesuai dengan kriteria yang dimaksud. Pegawai baru tersebut, terutama yang belum mempunyai pengalaman kerja, tentu dinilai mempunyai potensi yang luar biasa sehingga ia bisa lolos proses rekrutmen. Dan oleh karena itu, para pegawai baru diberikan kesempatan untuk mengikuti sebuah program pelatihan agar mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan kerja sesuai yang diharapkan. Dengan potensi awal yang dimiliki, diharapkan pegawai baru dapat menyerap ilmu yang diberikan dengan lebih cepat dan tepat.

Perlu menjadi perhatian bahwa potensi awal pegawai baru harus dipandang sebagai sebuah berlian, dimana berlian tersebut akan mampu memancarkan kilaunya dengan asahan. Asahan tersebutlah yang kita kenal dengan training. Dan trainer di sini bertugas memberikan asahan yang tepat bagi berlian agar dapat berkilau sesuai dengan yang diharapkan.