Senin, 15 Juli 2013

Renungan Kehidupan 1

Kehidupan ini sangatlah rumit di mata kita. Alur dan jalannya cerita terlalu berlika-liku penuh dengan sandi dan rahasia. Terlepas dari cerita yang sudah ditakdirkanNya, hidup ini sarat akan peristiwa, kadang mereka-reka bagai drama. Cerita cinta, persahabatan, nurani, dan harapan, terkadang harus diselingi intrik dan taktik.

Saat ini mungkin kita bisa tertawa lepas dengan teman sepermainan, tapi siapa sangka karena masalah sepele, esok kita bisa menjauh dari mereka. Kita berdiam tanpa saling teguran. Lalu kita mengadu dengan seorang sahabat yang setia mendengar keluhan kita. Kita menangis dengan makian, menggerutu sampai lupa waktu.

Belum lagi perkara cinta. Ceritanya serasa rumit untuk dijalani. Kalau tak berjalan terasa hampa, kalau berjalan lama-lama cukup menyiksa. Ada kesetiaan, pengorbanan, kejujuran, tapi tak lepas dari penghianatan, keangkuhan, dan kezaliman. Siapa yang merasa hebat, dia akan memenangkan permainan cinta. Parahnya, keharmonisan justru bisa menjadi peperangan karena cerita cinta.

Jalan ini kita yang menentukan. Setiap masalah dan cobaan selalu bisa diselesaikan. Masalah datang untuk diselesaikan, bukan dihindari. Menghindar dari masalah hanya menunda sampai terjadi ledakan masalah yang lebih besar lagi. Justru dengan adanya masalah, kita akan diantarkan kepada titik kedewasaan, menuju derajat posisi yang lebih tinggi.

Sesuatu yang sulit adalah keikhlasan. Sesuatu yang berat adalah bersabar. Namun, bersabar bisa menjadi ringan dengan ikhlas. Dan kesulitan untuk ikhlas bisa menjadi mudah dilakukan dengan bersyukur. Bersyukur adalah hal mudah. Kita hanya harus melihat sekitar, menengok kondisi orang-orang di sekeliling kita. Banyak orang yang untuk bertahan hidup saja kesusahan, apalagi memikirkan perkara cinta dan persahabatan. Dan terkadang, kita terlalu disibukkan dengan kedua urusan tersebut sehingga lupa untuk bersyukur, yang mampu meringankan beban menjadi sabar, dan mengubah kesulitan menjadi keikhlasan.


Sabtu, 13 Juli 2013

Pria - Pria Kontrakan

Belalang – salah satu kota kecil di Provinsi Tanah Lapang. Berdiri dengan megah sebuah akademi keteknikan, sebuah kampus yang menyimpan cita-cita dan harapan pemuda-pemudi negeri Sabang. Di sanalah para pria lajang dikumpulkan, dipupuk untuk menjadi tulang punggung negeri Sabang yang kata orang gemah ripah loh jinawi. Maka dari itu, pendidikan menjadi bekal ke depan, untuk kemajuan dan kesejahteraan.

Ini sebuah kisah persahabatan, terjalin hubungan pertemanan antara pria-pria Kampus Harapan. Dipertemukan lewat instansi pendidikan, perjalanan hari-hari mengenyam pendidikan akhirnya mereka lalui bersama. Pria-pria tersebut adalah Adam, Vian, Hendra, dan Iman, mahasiswa teknik Kampus Harapan.



Semester Baru. Hari itu cuaca begitu cerah di Kota Belalang. Keempat pria tersebut terbangun dari tidurnya masing-masing. Udara segar berhembus menyambut dengan riang. Sekarang mereka sudah berada dalam satu rumah kontrakan. Itulah mengapa mereka disebut Pria-Pria Kontrakan.

Pagi itu semuanya berkumpul di ruang tengah, mereka sedang bersiap-siap membersihkan rumah yang baru saja mereka tempati. Sapu, ember, lap pel, dan berbagai alat kebersihan lainnya sudah siap di tangan. Mereka saling bahu membahu membersihkan rumah kontrakan yang dalam beberapa tahun ke depan akan mereka tempati bersama sembari menyelesaikan tugas mereka untuk memperoleh gelar diploma. Hari itu menjadi hari yang sibuk, sebab setelah bersih-bersih rumah, siangnya mereka akan pergi ke pasar untuk membeli segala kebutuhan untuk rumah kontrakan.


Hari kedua. Pagi itu menjadi pagi yang indah bagi Pria-Pria Kontrakan. Karena hobi dalam memasak, Vian dan Iman sibuk mengerjakan sesuatu di dapur. Mereka berdua sedang menyiapkan sarapan, menu pagi itu adalah nasi goreng, tentu dengan resep spesial. Sementara di tempat lain, Adam dan Hendra sibuk menyapu lantai dan halaman. Setelah semua beres, mereka berkumpul di ruang tengah untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Hal itu menjadi rutinitas untuk hari-hari ke depan.

Cita Rasa Asia: Thailand Vs Korea

Makanan Asia telah dikenal banyak orang, dan mulai mendunia sejak awal abad XX. Chinese Food, Japanese Food, Arabian Food dan Indian Food sudah dikenal sejak dulu, dan mudah ditemui di berbagai belahan dunia, termasuk Amerika dan Eropa. Ada lagi masakan Melayu (termasuk Indonesia) yang sudah mulai dikenal, bahkan nasi goreng dan rendang memperoleh posisi tersendiri sebagai makanan terenak di dunia, meskipun sejarah nasi goreng tidak bisa terlepas dari masakan orang Tionghoa. Kini ada lagi masakan dari negara Asia yang mulai populer bahkan sudah mulai menjamur, yaitu Thailand dan Korea. Kemajuan kedua negara tersebut terutama untuk destinasi wisata yang membuat kebudayaan keduanya makin dikenal, termasuk kulinernya.

Sekarang aku akan membahas tentang serba-serbi masakan khas kedua negara tersebut. Kebetulan beberapa hari ini, aku dan teman-temanku lagi sering iseng hunting masakan khas Thailand dan Korea. Namun, sebelumnya aku minta maaf karena tidak semua masakan bisa aku review sebab baru dua resto yang khusus menyajikan makanan khas tersebut yang aku datangi, Phuket (khusus masakan khas Thailand) dan Dok Do (ex.Dae Jang Geum) untuk masakan khas negeri gingseng. Di Semarang sendiri memang belum banyak warung-warung atau resto yang khusus menjajakan masakan khas keduanya. Dan bagiku sendiri tidak bisa sering-sering datang untuk sekedar mencicipi karena faktor “value” yang berat di kantong.

Senin, 08 Juli 2013

Tuhan Memberikan Keistimewaan Bagi Kita

Tentu tidak asing bagi kita ketika mendengar nama Raden Saleh, pelukis keturunan ningrat Jawa yang besar di Semarang ini telah banyak menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Cerita yang paling terkenal adalah ketika lukisan bunganya dihinggapi seekor kupu-kupu karena betapa indah dan kelihatan nyata lukisan tersebut. Beliau juga memanfaatkan keahlian melukisnya untuk mengritik kerajaan Hindia Belanda dalam tragedi penangkapan Pangeran Diponegoro, meskipun pada waktu itu Raden Saleh tinggal di dalam lingkungan kerajaan Belanda. Kata khalayak masa itu, Raden Saleh memang terlahir sebagai seorang pelukis.

Ya, setiap orang lahir di dunia dengan garis takdirnya masing-masing. Selain memberikan kekurangan, yang menunjukkan ketidaksempurnaan manusia, Tuhan juga memberkati kita dengan berbagai kelebihan yang dapat diasah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kemampuan itulah yang kita kenal dengan bakat. Bakat adalah karunia dari Tuhan yang melekat dalam diri kita. Bakat atau kemampuan itu dapat berupa seni, olah raga, akademik, kepemimpinan, dan lainnya.

Seorang Albert Einstein misalnya memilih hidup berkutat dengan penelitian ilmiah, maka terciptalah banyak teori dari kepalanya, seperti teori relativitas yang melegenda. Jalan yang dipilih Einstein tentu berbeda dengan apa yang dipilih Soekarno dengan kepemimpinan dan politik marhaenisme-nya, Budi Hartono dengan keahliannya dalam bidang bulu tangkis atau Cristiano Ronaldo dalam bermain bola, James Gwee atau Mario Teguh sebagai seorang motivator, apalagi Leonardo da Vinci dan Raden Saleh dalam melukis. Namun, tentu Einstein sampai sekarang pun bangga dengan jalan yang telah dia pilih. Dia tak perlu menjadi Soekarno, Budi Hartono atau James Gwee untuk menunjukkan siapa dirinya. Dia cukup menjadi dirinya sendiri dan fokus terhadap apa yang dia miliki untuk menjadi berarti bagi dunia.

Ketidakmampuan kita akan sesuatu terkadang menjadi penghalang bagi kita untuk melangkah maju. Kita tidak cukup percaya diri dengan apa yang kita punya. Bahkan lebih parahnya kita tidak mengetahui apa saja kepunyaan kita. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenal terlebih dahulu siapa diri kita dan apa saja yang kita miliki. Tak perlu kita minder dan merasa tidak puas, sebab Tuhan telah menggariskan kita dengan bekal yang cukup. Hanya waktu dan kegigihan kita untuk menjadikan kepunyaan kita menjadi lebih dari berharga.

Selasa, 02 Juli 2013

Kaderisasi Mahasiswa FT Undip

Membahas persoalan kaderisasi memang tidak ada hentinya. Konsep yang bertujuan menciptakan kader berkualitas secara mental spiritual dan intelektual ini selalu mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu, begitupun yang terjadi di lingkungan Fakultas Teknik (FT) Undip. Namun, sayangnya setiap tahun perkembangan kaderisasi di Fakultas Teknik justru mengalami hambatan, terutama berkaitan dengan peraturan birokrasi, baik Universitas maupun Fakultas.

Sebelum membahas lebih jauh, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu seluk beluk kaderisasi. Makna kaderisasi sendiri mengacu pada sebuah sistem yang bertujuan menciptakan kader sesuai dengan prinsip, visi. misi, tujuan. serta sasaran organisasi. Sistem kaderisasi mengurai tentang cara atau metode yang digunakan dalam memperoleh kader yang diinginkan, pemeran kaderisasi (baik pendidik maupun peserta didik), serta ketersediaan peraturan legal dan kondisi lingkungan yang mendukung.

Di lingkungan FT Undip sendiri, dasar pelaksanaan kaderisasi adalah Buku Panduan Kaderisasi atau yang biasa dikenal dengan Buku Biru Kaderisasi hasil inisiasi Departemen PSDM BEM FT dan dibahas dalam simposium kaderisasi tingkat Fakultas yang dihadiri oleh perwakilan BEM FT, Senat Mahasiswa FT, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Biro Mahasiswa Fakultas, serta Birokrasi Fakultas yang diwakili oleh Pembantu Dekan III. Selanjutnya buku tersebut dilegalkan dengan tanda tangan PD III Fakultas Teknik Undip.

Penyusunan buku panduan tersebut tidak lain bertujuan untuk memberikan suatu standar dan parameter yang jelas untuk pelaksanaan kaderisasi di lingkungan FT Undip. Hal ini dapat menyanggah paradigma bahwa kaderisasi hanyalah proses pemberian kenang-kenangan kepada mahasiswa baru, bukan suatu proses pendidikan. Sebab dengan keberadaan buku biru kaderisasi, mahasiswa diharapkan tidak sekedar menjadi objek, melainkan menjadi subjek yang berperan aktif dalam proses kaderisasi.

Alur Sederhana Kaderisasi Mahasiswa Baru FT

Tujuan kaderisasi sendiri adalah mennciptakan kader yang berkualitas secara mental spiritual dan intelektual dengan menumbuhkan iman dan takwa, sikap integritas, serta memiliki standar kompetensi soft skill dan hard skill yang baik. Apabila seorang mahasiswa senior mampu berperan aktif dalam lembaga mahasiswa, mempunyai banyak prestasi baik secara akademik maupun non akademik dengan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, maka diharapkan hal serupa dapat dimiliki oleh mahasiswa junior. Begitulah gambaran singkat tujuan diadakannya kaderisasi.

Jumat, 28 Juni 2013

Pesona Benteng Pendem

Suasana Benteng Pendem, Nusakambangan
Salah satu impianku ketika kuliah adalah mengunjungi rumah teman-teman kampus di kampung halaman masing-masing. Inspirasi ini aku peroleh dari kakakku, Erna, yang semasa kuliah lebih senang menghabiskan waktu liburnya untuk main ke rumah temannya di kampung halaman masing-masing atau naik gunung ketimbang pulang ke rumah. Aku juga sepakat dengannya, lumayan itung-itung mendukung salah satu hobiku, travelling. Namun sayangnya karena kesibukan di kampus, hanya 1-2 kota dan rumah teman yang sempat aku singgahi. Yang paling sering adalah Jakarta, ibukota Indonesia yang luar biasa itu.

Waktu itu aku dapat kabar bahwa salah satu seniorku di kampus akan melangsungkan pernikahan di Cilacap, dan kebetulan Cilacap juga tempat salah satu teman di kampus. Karena merasa suatu utang budi bahwa aku telah banyak mendapatkan ilmu dari senior tersebut, Mas Duta (Elektro’07) dan Mba Milly (Lingkungan’07), aku memutuskan harus datang di acara walimahan mereka berdua. Aku mengajak beberapa teman untuk pergi ke sana. Dengan menyewa sebuah mobil, akhirnya kami berempat, aku, Nisa, Dias, dan Tini berangkat ke Cilacap. Berangkat tengah malam dari Semarang, melewati jalur selatan, dan akhirnya sampailah kami di Kabupaten Cilacap.

Di sini aku akan bercerita tentang salah satu tempat wisata yang sempat aku kunjungi di Cilacap, ialah Benteng Pendem. Benteng Pendem berada pada jarak sekitar 3 km ke arah selatan pusat Kota Cilacap, bisa ditempuh hanya dengan 15 menit. Kompleks Benteng Pendem berada di area Pantai Teluk Penyu, tetapi atas saran dari salah satu warga sekitar, akhirnya yang menjadi rujukan kami adalah Benteng Pendem yang berada di dalam Pulau Nusakambangan bagian timur yang baru saja ditemukan dan dilakukan penggalian.
Untuk sampai di Pulau Nusakambangan, kami menggunakan perahu wisata. Setelah proses tawar menawar kami harus mengeluarkan uang Rp 15.000 per orang. Karena takut dengan perahu yang begitu kecil, kami memanfaatkan life jacket yang sudah disediakan. Tak lebih dari 15 menit akhirnya kami sampai di Pulau Nusakambangan.

Caraku Memandang Seni


Menurut Drs. Sulchan Yasyin, penulis buku Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, seni adalah sesuatu yang menggerakkan kalbu/hati. Aku setuju dengan pendapat beliau, ya, dengan seni, hati kita memang dapat bergerak untuk memerintahkan otak melakukan suatu respon. Respon yang positif atau negatif. Seni berhubungan dengan hati, rasa, atau perasaan. Seni mengantarkan manusia menemukan sifat dan jati dirinya. 

Mempelajari seni atau kesenian memang menyenangkan, termasuk bagiku. Dari kecil aku sudah dikenalkan oleh kedua orang tuaku tentang seni, terutama kesenian tradisional, seperti ketoprak, wayang kulit, tayub, dan gambus. Dan baru aku tahu, ternyata bapakku sewaktu muda adalah salah satu seniman gambus di Jepara.

Sedikit bercerita tentang pengalamanku berseni. Jiwa seniku sendiri telah terpupuk sejak kecil, dari usia balita, tapi aku tidak tahu di usia berapa, yang aku ingat hanya masa itu aku belum mengenyam bangku pendidikan taman kanak-kanak, mungkin sekitar usia 3 atau 4 tahun. Seni lukis aku peroleh dari ibu dan kakak-kakakku yang mengajarkanku tentang warna. Sedangkan untuk seni musik, aku peroleh dari tetanggaku, Alm.Mas Pudin, yang mengajariku banyak nyanyian waktu itu. Yang masih tertanam jelas dalam ingatanku, setiap pagi aku datangi rumahnya untuk belajar lagu-lagu anak-anak dan dangdut 90-an diiringi keyboard berwarna hitam. Berkat keterampilanku menyanyikan lagu-lagu dangdut, sewaktu kecil aku sering diminta tampil di depan umum. Antara malu dan bangga. Malu kenapa harus dangdut, yang notabene genre tersebut sekarang mulai memperoleh predikat miring. Dan bangga karena di usia yang masih sangat muda, aku sudah berani tampil di depan umum. 

Menginjak taman kanak-kanak, aku mulai suka menggambar, dan mulai berani bermain warna setelah masuk sekolah dasar. Dan di usia sekolah dasar itulah, aku belajar banyak tentang seni dan mulai mengeksplor apa yang aku punya. Aku belajar kaligrafi arab, ikut bergabung dalam grup rebana sebagai vokalis dan sesekali belajar nabuh terbang, aku juga jadi tahu lebih banyak tentang lukisan berkat guru sekolahku, mulai ikut-ikutan lomba melukis dan mewarna dari tingkat desa sampai kabupaten. Beberapa kali menyabet juara. Pernah juga menjadi juara harapan pada lomba rebana tingkat kabupaten. Aku mulai kenal lagu-lagu pop. Dan aku menjadi fans penyanyi sholawat Haddad Alwi dan Sulis, sampai-sampai aku mengoleksi semua album kaset yang mereka rilis.