Jumat, 03 Januari 2014

Karakter, Kompas di Tengah Lautan Ganas

“Soekarno, ijazah hanyalah sepotong kertas. Hal ini tidak abadi! Ingatlah bahwa hanya karakter manusia yang selalu kekal. Karakter ini akan tetap dikenal lama setelah manusia itu meninggal”, pesan Prof. Jan Klopper, Rektor Technische Hogeschool te Bandung (THB), pada wisuda Ir. Soekarno tanggal 25 Mei 1926.

Salah satu bentuk pendidikan karakter
Gambar oleh RianR

Karakter, sesuatu yang secara kasat mata tak tampak, tetapi mampu dirasa, diolah dengan akal dan nurani menjadi nilai yang begitu berarti. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku dari setiap peribadi yang menjadi ciri khas seseorang, yang membedakan antara satu orang dengan lainnya. Karakter menentukan bagaimana seseorang menanggapi suatu keadaan. Karakter bagaikan kompas di tengah lautan, tanpa bekal kompas, nahkoda kapal bisa berdiam di tengah lautan keras yang bisa sewaktu-waktu menenggelamkannya karena tidak tahu arah. Karakter juga yang akan menentukan keputusan seseorang.

Pendidikan karakter datang sejak kita masih kecil di bawah asuhan orang tua terutama ibu kita. Tanpa disadari apa pun yang dilihat oleh anak, maka akan menjadi percontohan baginya.


Sebuah iklan pasta gigi memberikan contoh sederhana tentang karakter. Seorang anak meniru tingkah ayahnya yang mencolek kue untuk dicicipi. Sang ibu merasa risih akan hal tersebut. Hal itu bisa jadi disebabkan oleh banyak hal, yang pertama karena mengambil makanan tanpa cuci tangan setelah beraktivitas di luar, yang kedua bisa jadi kue itu akan diberikan kepada orang lain sehingga tidak sopan apabila kue tersebut menjadi bopeng tak beraturan. Adegan lain saat sang ayah mengajak anaknya menggosok gigi sebelum tidur, dan sang anak pun mengikutinya. Itulah pendidikan karakter, keteladanan yang baik bisa melahirkan karakter positif, sebaliknya keteladanan tak baik bisa melahirkan karakter yang tidak baik pula.

Pendidikan karakter tak berhenti saat kita dalam pengawasan orang tua saja. Bahkan sampai kita dewasa, pendidikan karakter akan tetap berlanjut.

Seorang guru berpesan padaku bahwa masa kuliah tidak hanya memberikan bekal ilmu sains, tetapi lebih kepada pematangan karakter. Setiap individu bisa berubah kapan saja. Tanpa karakter yang kuat maka dia akan mudah terombang ambing oleh perkembangan trend yang ada. Hal itu benar adanya, suatu saat seorang mahasiswa bisa aktif sekali dalam bidang akademik, tetapi beberapa saat kemudian dia bisa berubah haluan menjadi seorang aktivis mahasiswa yang idealis, penuh nuansa politik, gemar melakukan aksi tanpa mempedulikan akademiknya lagi. Di lain cerita, seorang mahasiswi dulunya gemar hal-hal yang berhubungan dengan seni, bahkan sampai aktif menjadi sebuah fans club artis terkini, tetapi sekarang dia berubah menjadi sangat religius, aktif dalam kegiatan jihad, bahkan sampai menghardik teman-teman yang tidak seiman dan sejalan dengannya. Masih banyak contoh fenomena lain yang terjadi.

Karakter, sesuatu yang secara kasat mata tak tampak, tetapi mampu dirasa, diolah dengan akal dan nurani menjadi nilai yang begitu berarti. Karakter adalah kompas hidup yang harus dibekali oleh banyak hal dan sedari dini. Keteladanan yang baik adalah salah satu pendidikan ampuh pembentukan karakter. Mari kita pupuk karakter kita dengan hal-hal positif untuk kemajuan agama, nusa dan bangsa kita.

Karakter yang kuat di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
Jujur – dapat dipercaya, baik perkataan maupun perbuatan.
Integritas – penyatuan atas sifat jujur dan tidak berkhianat.
Rendah hati – merasa bahwa manusia berkedudukan sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih tinggi, dan segala yang dimiliki adalah titipan Tuhan.
Empati – peduli dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain serta mengambil tindakan atas apa yang dirasakan.
Akuntabilitas – berani bertanggung jawab atas ucapan, tindakan, serta semua keputusan yang diambil.
Toleransi – sikap hormat dengan memberikan kelonggaran (tidak mendiskriminasi) perbedaan yang dimiliki oleh orang lain.
Rasa hormat -  menghargai dan menyayangi sesama.
Disiplin – patuh terhadap peraturan yang ada dan disepakati bersama.
Berani mengakui kesalahan pribadi.
Pantang menyerah.

1 komentar: