Kepenatan dengan rutinitas pekerjaan memang kelamaan bisa menjadi sebuah penyakit yang apabila tak segera diobati maka akan berdampak fatal. Itulah sebabnya aku memilih travelling sebagai salah satu obatnya. Namun, ternyata travelling itu memang benar-benar menjadi candu, it’s addicted. Setelah dari Green Canyon Pangandaran beberapa minggu yang lalu, sekarang aku pergi ke Kabupaten Lebak Banten untuk melepas penat-penatku itu.
Ini semua berawal dari kegemaranku yang doyan sama
travelling, lebih tepatnya kecanduan. Hehe. Tadinya aku mengajak Rian untuk touring
ke Garut, tapi Rian punya tawaran lain yang lebih menggiurkan, Pantai Ujung
Genteng Sukabumi. Rencana sudah disusun lumayan matang. Namun, rencana
tinggallah rencana. Cuaca Jakarta yang beberapa hari terakhir yang kurang bersahabat
akhirnya membuat temannya Rian yang sedianya membawa kami ke Ujung Genteng membatalkan
dengan sepihak. Untuk mengobati kekecewaan kami, Rian yang inisiatif dan
agresifitasnya cukup tinggi menawarkan Trip to Baduy Dalam bersama Wuki Travel.
Ajakan tersebut langsung aku terima tanpa berpikir panjang.
Sabtu, 21 Juni, begitu subuh berkumandang kami segera
siap-siap untuk menuju Meeting Point, Stasiun Duri. Rasa lelah sebenarnya masih
terasa, sebab sampai jumat malam kami masih berkutat dengan aktivitas masing-masing
di kantor padahal beberapa logistik yang harusnya dibawa belum terbeli. Suasana
Jakarta pagi itu sangat mendukung, cerah dan lengang, mungkin juga karena masih
sangat pagi. Kami berangkat ke St Duri melalui St Sudirman menggunakan Commuter
Line.
Sesampainya di St Duri ternyata sudah banyak anggota
kelompok travelling yang sudah sampai, Kami segera keluar stasiun dan bergabung
dengan mereka. Sesi perkenalan, foto, dan doa sebelum pemberangkatan kami
jalani. Dan medan perjuangan itu segera kami mulai.
Medan perjuangan, ya, aku lebih suka menggunakan kata-kata
itu untuk tripku kali ini. Bagaimana tidak, memasuki gerbong kereta Rangkas
Jaya jurusan Angke-Merak saja menurutku sudah perjuangan banget. Aku jadi
teringat10 Mei 2010, perjalanan Semarang- Jakarta menggunakan kereta ekonomi
untuk mengantar sahabatku Bagus Nugroho ke peristirahatan terakhirnya. Kereta
yang meskipun sudah ber-ac itu terasa panas sebab terlalu penuh sesak oleh
penumpang dan pedagang asongan. AC yang dipasang tak berfungsi semestinya.
Suara gaduh pedagang menawarkan dagangannya, keluhan ibu-ibu, tangisan
anak-anak balita memecah heningnya kereta pagi itu, mengalahkan alunan mesin
khas kereta.
Setelah sekitar dua setengah jam perjalanan, akhirnya
rombongan sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Sebelum melanjutkan perjalanan ke
Ciboleger, kami diberi waktu untuk makan siang (sarapan - red) sambil menunggu
teman-teman yang ketinggalan kereta. Ya, ada beberapa teman dari Karawang dan
Bekasi yang ketinggalan kereta gara-gara si oknum yang telat bangun pastinya.
Haha. Sepertinya cerita mereka bakal lebih seru.
![]() |
| Stasiun Rangkas Bitung, Lebak, Banten |
Istirahat dirasa cukup, perut sudah kenyang, meskipun aku
dan Rian tak makan juga lantaran kami berdua sudah meraup secuil roti, sedangkan para
laters pun sudah datang. Kami pun segera melanjutkan perjalanan ke Ciboleger
menggunakan mobil elf. Perjalanan dari Rangkas ke Ciboleger ditempuh sekitar dua jam, melewati jalanan naik dan turun. Panasnya Lebak ternyata mampu menidurkan kami,
kecuali aku, karena aku duduk tepat menghadap pintu mobil jadi sedikit waswas kalau
mau tidur.


