Sabtu, 04 Januari 2014

Menikmati Durian di Pasar Duren Ngabul Jepara

Bagi para pecinta buah durian, musim duren adalah waktu yang tepat untuk memanjakan lidah. Saat musim duren, buah berkulit tebal tersebut bisa diperoleh di banyak tempat dan dengan harga yang relatif lebih murah dari biasanya. Tak terkecuali di Jepara.

Kabupaten yang terletak di ujung utara Jawa Tengah tersebut mempunyai tempat khusus menjual buah kesayangan Anda. Terkenal dengan nama Pasar Duren Ngabul, tempat tersebut selalu ramai oleh para pecinta durian, terutama saat musim duren tiba. Selain banyak pilihan, harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau.

Yang menjadi andalan Pasar Duren Ngabul adalah buah durian jenis petruk. Durian Petruk, yang juga menjadi flora khas Kabupaten Jepara, mempunyai tempat tersendiri di hati penggemarnya. Menurut tuturan para penikmat durian, Durian Petruk mempunyai rasa yang cukup unik, selain daging buah yang tebal, rasa manis yang pas dicampur rasa kepahit-pahitan menjadi ciri khas Durian Petruk sehingga bisa melekat di benak penikmatnya. Durian Petruk banyak dicari oleh para penggemarnya, bahkan banyak penikmat dari luar kota secara khusus datang ke Jepara untuk menikmati durian tersebut.

Di Pasar Duren Ngabul, selain menjajakan durian jenis petruk, tersedia pula Durian Montong, Durian Sukun, dan durian jenis lainnya. Selain itu, Anda juga bisa menikmati olahan buah durian seperti Es Duren dan Dawet Duren.

Fenomena Acara Goyang - Goyangan

Belakangan ini masyarakat digegerkan dengan berbagai acara di televisi yang mengusung adegan joget atau goyang sebagai bumbu utamanya. Ialah Goyang Caesar, serangkaian gerakan joget hasil kreasi seorang mantan asisten artis bernama Caesar, yang pertama kali muncul di layar kaca, dan sekarang diikuti banyak stasiun televisi sehingga bermunculan goyang-goyang yang lain.

Goyang Caesar juga mampu membuat rating acara di salah satu stasiun televisi, yaitu YKS (Yuk Keep Smile) di Trans TV, sebagai acara dengan rating tertinggi mengalahkan acara-acara lainnya. Namun sayangnya, acara YKS yang dinilai menghibur itu justru kini mendapat kecaman dari berbagai pihak di masyarakat, terutama dari kalangan terdidik yang peduli terhadap moral bangsa.

YKS dan acara lain yang mengusung goyang-goyangan sebagai penarik minat pemirsa memang memberikan hiburan bagi masyarakat, terutama ketika diri sedang penat. Karena selain mengusung goyang, acara tersebut juga diisi dengan deretan host yang lucu-lucu, maka dari itu selain memandu jalannya acara, host acara yang biasanya diisi lebih dari dua orang tersebut juga mampu menampilkan lawakan yang menghibur. Namun, terkadang lawakan yang disuguhkan oleh para host tersebut justru mengandung kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan, bahkan sering melewati batas. Tentu hal tersebut tidak patut untuk ditonton terutama untuk usia anak-anak lantaran acara-acara tersebut ditayangkan pada saat primetime.

Jumat, 03 Januari 2014

Karakter, Kompas di Tengah Lautan Ganas

“Soekarno, ijazah hanyalah sepotong kertas. Hal ini tidak abadi! Ingatlah bahwa hanya karakter manusia yang selalu kekal. Karakter ini akan tetap dikenal lama setelah manusia itu meninggal”, pesan Prof. Jan Klopper, Rektor Technische Hogeschool te Bandung (THB), pada wisuda Ir. Soekarno tanggal 25 Mei 1926.

Salah satu bentuk pendidikan karakter
Gambar oleh RianR

Karakter, sesuatu yang secara kasat mata tak tampak, tetapi mampu dirasa, diolah dengan akal dan nurani menjadi nilai yang begitu berarti. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku dari setiap peribadi yang menjadi ciri khas seseorang, yang membedakan antara satu orang dengan lainnya. Karakter menentukan bagaimana seseorang menanggapi suatu keadaan. Karakter bagaikan kompas di tengah lautan, tanpa bekal kompas, nahkoda kapal bisa berdiam di tengah lautan keras yang bisa sewaktu-waktu menenggelamkannya karena tidak tahu arah. Karakter juga yang akan menentukan keputusan seseorang.

Pendidikan karakter datang sejak kita masih kecil di bawah asuhan orang tua terutama ibu kita. Tanpa disadari apa pun yang dilihat oleh anak, maka akan menjadi percontohan baginya.

Rabu, 01 Januari 2014

Malam Tahun Baru yang “Indah”

Malam pergantian tahun memang sudah lama menjadi moment yang dinanti-nanti, bahkan sejak zaman kekaisaran Romawi. Cara perayaannya pun beragam, dari pesta kembang api, pesta minuman, sampai kegiatan berhubungan suami-istri. Tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kita tahu bagaimana sejarah terbentuknya kegiatan tahun baru masehi, tentu kita paham kenapa para alim ulama melarang keras perayaan pergantian tahun tersebut. Bahkan di provinsi seperti NAD, polisi syariah perlu bekerja keras membasmi kegiatan yang banyak mudharatnya itu. Namun, sebagian ulama menyarankan peringatan pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan (bagi umat muslim) seperti berdoa bersama, tadarus, dan perbanyak sholat sunnah untuk merenungi masa-masa yang sudah terlewat dan berharap masa ke depan akan jauh lebih baik.

Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang beruntung. Barang siapa yang tahun ini sama dengan tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barang siapa yang tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang rusak.”

Malam tahun baruku sendiri bisa dikatakan sangat sepi. Ya, aku memang tidak merayakannya, baik dengan berpesta pora maupun berdoa bersama. Aku menikmati malam pergantian tahun dengan berdiam di rumah, seperti biasa setelah sholat dan mengaji, aku berada di depan televisi bersama keluarga lalu membaca buku sambil mendengarkan radio sebagai pengantar tidur. Kebetulan malam itu ada dua keponakanku yang datang untuk liburan, aktivitas keduanya juga sama denganku, menonton tv dan bermain game di handphone.

Rumahku hanya berjarak tak kurang 200 meter dari tempat wisata. Dari tempat tersebut terdengar keras suara alunan musik dangdut dari panggung hiburan di area wisata, musik-musik jazz atau apalah dari beberapa resort milik swasta. Jalanan depan rumah begitu ramai lalu-lalang kendaraan orang yang hendak merayakan malam pergantian tahun. Malam yang langka bagiku. Kelihatannya memang sangat ramai, sampai-sampai hotel di depan rumahku pun parkirannya penuh dengan mobil.

Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Layu Sebelum Berkembang

Kepergiannya begitu berat bagiku, dia yang dulu sangat dekat, selalu mendekapku erat, menghangatkanku di antara kekisruhan. Aku tak menyangka, bahkan sedikit pun tidak, hal itu akan terjadi begitu cepat, di saat dunia mulai terbuka, saat burung-burung di seberang pulau hendak mencari mangsa. Aku justru terlelap dan membiarkannya pergi. Kejadian yang tak pelan, tapi butuh proses yang lumayan, tiga atau empat tahun perjalanan. Aku tak pernah paham, tak pernah kusangka sebelumnya, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikiran dan hati yang luar sekalipun kalau sekilas pandangan akan meruntuhkannya, membuatnya semua berbeda, dan itu nyata. Kehilangan ini sangat kentara kurasakan. Betapa tidak, hal ini mengubah hampir sebagian hidup yang sudah kurangkai kisahnya, bertatih-tatih untuk bisa bertahan, bertumpu pada kaki-kaki kecil yang entah siapa yang tahu kapan bisa runtuh. Namun, sedari dulu aku selalu berharap, berharap dengan sangat bahkan kugadaikan hidupku untuknya, agar dia tidak pergi, agar sebelum semua terjadi aku dibiarkan terhenti, terhenti dari kefanaan.

Waktu kini sudah kulalui, terlewati sepanjang lika-liku perjalanan elegi ini. Aku serasa tertidur, tapi tak pulas juga, sehingga bangun dan tertidur untuk menahannya. Terkadang petunjuk itu datang lantas aku mampu menghindar, tetapi sekejap hilang lalu berlakuan. Apatah semua ini hanya ilusi belaka? Aku bukan hidup dalam kejahiliahan, meski pandai tapi merasa bodoh dan sangat. Ilmu-ilmu berdatangan namun ku belum paham-paham. Mungkin sekejap, seketika, atau esok yang akan datang, entah kapan dimana hanya Mereka yang mengerti.

Sabtu, 14 Desember 2013

Aku Ingin Hidup Sederhana

Terbaring ku di bawah awan
di tengah riangnya gelombang lautan
di antara pelagis yang menyambut senang

Sorak gurau berlabuh begitu gaduh
kelihatan kecil tapi tangguh

Pari belekok di daratan mencari mamahan
di seberang, seorang tuan tanah berlaku keras tanpa merasa pelak
Kejauhan, menjulang gunung tinggi menampakkan ronanya, biru gagah

Ku terbangun silap-silap, terheran, hati bertanya-tanya
inikah sorga yang dijanjikan Tuhan kepada hambaNya?
bergejolak penuh warna

Kuberjalan mengikuti lika-likunya
terkawal gundah dan gulana, hati bertanya-tanya
tetapi Tuhan memberikan jawab
lewat silapnya penglihatan, gundahnya perjalanan

rahmatNya menggiring
menyibakkan petang dengan kebenaran

Kelamaan, jalanku semakin remang
meski penuh warna di kiri kanan
Beberapa jiwa berjatuhan, berharap kasih yang tak kunjung datang
melangkah lemah tanpa arah

rahmatNya menggiring
untuk jalan yang miring
Mata berkunang-kunang, lalu tersungkur dalam gelap
dalam hati banyak berharap
agar Tuhan tak tinggal lelap

Esok ku terbangun sepi
dalam rimbunnya duniawi
tersadar diri akan surgawi

Aku ingin hidup sederhana
sesederhana senyum Tuhan untuk makhlukNya

Rabu, 11 Desember 2013

Menjadi Elang Dalam Negeri

Ilustrasi. Picture edited, source: kutilang.or.id
Tak terasa sudah di penghujung tahun. Tak terasa sudah melewati banyak hari, meninggalkan cerita-cerita yang akan menjadi kenangan esok pagi. Kini sudah kutinggalkan status mahasiswaku menjadi seorang "profesional". Awal tahun baru besok insyaAllah aku akan meninggalkan rutinitasku ini, menyentuh rutinitas baru. Ya, dunia kerja, yang menjadi impian bagi mahasiswa yang sudah diwisuda untuk bisa meraihnya.

Mungkin tidak ada yang menyangka, termasuk diriku sendiri. Tak pernah sama sekali kuniatkan untuk bekerja di Ibukota, bahkan niat yang seperti itu sudah kutanggalkan jauh-jauh sebelumnya. Aku mulai memantapkan diri untuk bekerja di kampung halaman sambil menemani bapak ibu yang “kesepian” di rumah. Namun, ternyata kuasa Allah lebih kuat dari rencana hambaNya. Aku diterima di sebuah perusahaan swasta yang head office-nya di Jakarta, meskipun belum tentu aku akan menetap di sana, tetapi satu bulan pertamaku akan aku jalani di sana.

Sebenarnya aku mendapatkan tawaran untuk bisa bekerja di Jepara, di sebuah PLTU, tentu dengan gaji yang lebih besar dan (harusnya) lebih cukup untuk biaya hidup ketimbang di Jakarta. Namun, dengan berbagai pertimbangan dan juga hasil renungan kepada Sang Pemberi Petunjuk, maka aku putuskan untuk tidak menerima tawaran tersebut meskipun yang meminta adalah General Manager-nya sendiri.

Aku sempat mencari informasi dari blog-blog orang alasan kenapa mereka memilih meniggalkan Jakarta. Aku menemukan sebuah blog yang memberikan informasi cukup rinci dan jelas dan kebetulan kota tujuan pindah penulisnya adalah Jepara. Berikut linknya arif.widianto.com
Kalau kalian pikir itu akan mengubah pikiranku, kurasa tidak.

Aku akan bercerita tentang persahabatan seekor elang dan ayam. Kisah ini menjadi inspirasi bagiku untuk mengambil keputusan tersebut.