Jumat, 03 Januari 2014

Karakter, Kompas di Tengah Lautan Ganas

“Soekarno, ijazah hanyalah sepotong kertas. Hal ini tidak abadi! Ingatlah bahwa hanya karakter manusia yang selalu kekal. Karakter ini akan tetap dikenal lama setelah manusia itu meninggal”, pesan Prof. Jan Klopper, Rektor Technische Hogeschool te Bandung (THB), pada wisuda Ir. Soekarno tanggal 25 Mei 1926.

Salah satu bentuk pendidikan karakter
Gambar oleh RianR

Karakter, sesuatu yang secara kasat mata tak tampak, tetapi mampu dirasa, diolah dengan akal dan nurani menjadi nilai yang begitu berarti. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku dari setiap peribadi yang menjadi ciri khas seseorang, yang membedakan antara satu orang dengan lainnya. Karakter menentukan bagaimana seseorang menanggapi suatu keadaan. Karakter bagaikan kompas di tengah lautan, tanpa bekal kompas, nahkoda kapal bisa berdiam di tengah lautan keras yang bisa sewaktu-waktu menenggelamkannya karena tidak tahu arah. Karakter juga yang akan menentukan keputusan seseorang.

Pendidikan karakter datang sejak kita masih kecil di bawah asuhan orang tua terutama ibu kita. Tanpa disadari apa pun yang dilihat oleh anak, maka akan menjadi percontohan baginya.

Rabu, 01 Januari 2014

Malam Tahun Baru yang “Indah”

Malam pergantian tahun memang sudah lama menjadi moment yang dinanti-nanti, bahkan sejak zaman kekaisaran Romawi. Cara perayaannya pun beragam, dari pesta kembang api, pesta minuman, sampai kegiatan berhubungan suami-istri. Tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kita tahu bagaimana sejarah terbentuknya kegiatan tahun baru masehi, tentu kita paham kenapa para alim ulama melarang keras perayaan pergantian tahun tersebut. Bahkan di provinsi seperti NAD, polisi syariah perlu bekerja keras membasmi kegiatan yang banyak mudharatnya itu. Namun, sebagian ulama menyarankan peringatan pergantian tahun diisi dengan kegiatan keagamaan (bagi umat muslim) seperti berdoa bersama, tadarus, dan perbanyak sholat sunnah untuk merenungi masa-masa yang sudah terlewat dan berharap masa ke depan akan jauh lebih baik.

Sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang beruntung. Barang siapa yang tahun ini sama dengan tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barang siapa yang tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya maka dia termasuk orang-orang yang rusak.”

Malam tahun baruku sendiri bisa dikatakan sangat sepi. Ya, aku memang tidak merayakannya, baik dengan berpesta pora maupun berdoa bersama. Aku menikmati malam pergantian tahun dengan berdiam di rumah, seperti biasa setelah sholat dan mengaji, aku berada di depan televisi bersama keluarga lalu membaca buku sambil mendengarkan radio sebagai pengantar tidur. Kebetulan malam itu ada dua keponakanku yang datang untuk liburan, aktivitas keduanya juga sama denganku, menonton tv dan bermain game di handphone.

Rumahku hanya berjarak tak kurang 200 meter dari tempat wisata. Dari tempat tersebut terdengar keras suara alunan musik dangdut dari panggung hiburan di area wisata, musik-musik jazz atau apalah dari beberapa resort milik swasta. Jalanan depan rumah begitu ramai lalu-lalang kendaraan orang yang hendak merayakan malam pergantian tahun. Malam yang langka bagiku. Kelihatannya memang sangat ramai, sampai-sampai hotel di depan rumahku pun parkirannya penuh dengan mobil.

Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Layu Sebelum Berkembang

Kepergiannya begitu berat bagiku, dia yang dulu sangat dekat, selalu mendekapku erat, menghangatkanku di antara kekisruhan. Aku tak menyangka, bahkan sedikit pun tidak, hal itu akan terjadi begitu cepat, di saat dunia mulai terbuka, saat burung-burung di seberang pulau hendak mencari mangsa. Aku justru terlelap dan membiarkannya pergi. Kejadian yang tak pelan, tapi butuh proses yang lumayan, tiga atau empat tahun perjalanan. Aku tak pernah paham, tak pernah kusangka sebelumnya, bahkan sama sekali tak pernah terbesit dalam pikiran dan hati yang luar sekalipun kalau sekilas pandangan akan meruntuhkannya, membuatnya semua berbeda, dan itu nyata. Kehilangan ini sangat kentara kurasakan. Betapa tidak, hal ini mengubah hampir sebagian hidup yang sudah kurangkai kisahnya, bertatih-tatih untuk bisa bertahan, bertumpu pada kaki-kaki kecil yang entah siapa yang tahu kapan bisa runtuh. Namun, sedari dulu aku selalu berharap, berharap dengan sangat bahkan kugadaikan hidupku untuknya, agar dia tidak pergi, agar sebelum semua terjadi aku dibiarkan terhenti, terhenti dari kefanaan.

Waktu kini sudah kulalui, terlewati sepanjang lika-liku perjalanan elegi ini. Aku serasa tertidur, tapi tak pulas juga, sehingga bangun dan tertidur untuk menahannya. Terkadang petunjuk itu datang lantas aku mampu menghindar, tetapi sekejap hilang lalu berlakuan. Apatah semua ini hanya ilusi belaka? Aku bukan hidup dalam kejahiliahan, meski pandai tapi merasa bodoh dan sangat. Ilmu-ilmu berdatangan namun ku belum paham-paham. Mungkin sekejap, seketika, atau esok yang akan datang, entah kapan dimana hanya Mereka yang mengerti.

Sabtu, 14 Desember 2013

Aku Ingin Hidup Sederhana

Terbaring ku di bawah awan
di tengah riangnya gelombang lautan
di antara pelagis yang menyambut senang

Sorak gurau berlabuh begitu gaduh
kelihatan kecil tapi tangguh

Pari belekok di daratan mencari mamahan
di seberang, seorang tuan tanah berlaku keras tanpa merasa pelak
Kejauhan, menjulang gunung tinggi menampakkan ronanya, biru gagah

Ku terbangun silap-silap, terheran, hati bertanya-tanya
inikah sorga yang dijanjikan Tuhan kepada hambaNya?
bergejolak penuh warna

Kuberjalan mengikuti lika-likunya
terkawal gundah dan gulana, hati bertanya-tanya
tetapi Tuhan memberikan jawab
lewat silapnya penglihatan, gundahnya perjalanan

rahmatNya menggiring
menyibakkan petang dengan kebenaran

Kelamaan, jalanku semakin remang
meski penuh warna di kiri kanan
Beberapa jiwa berjatuhan, berharap kasih yang tak kunjung datang
melangkah lemah tanpa arah

rahmatNya menggiring
untuk jalan yang miring
Mata berkunang-kunang, lalu tersungkur dalam gelap
dalam hati banyak berharap
agar Tuhan tak tinggal lelap

Esok ku terbangun sepi
dalam rimbunnya duniawi
tersadar diri akan surgawi

Aku ingin hidup sederhana
sesederhana senyum Tuhan untuk makhlukNya

Rabu, 11 Desember 2013

Menjadi Elang Dalam Negeri

Ilustrasi. Picture edited, source: kutilang.or.id
Tak terasa sudah di penghujung tahun. Tak terasa sudah melewati banyak hari, meninggalkan cerita-cerita yang akan menjadi kenangan esok pagi. Kini sudah kutinggalkan status mahasiswaku menjadi seorang "profesional". Awal tahun baru besok insyaAllah aku akan meninggalkan rutinitasku ini, menyentuh rutinitas baru. Ya, dunia kerja, yang menjadi impian bagi mahasiswa yang sudah diwisuda untuk bisa meraihnya.

Mungkin tidak ada yang menyangka, termasuk diriku sendiri. Tak pernah sama sekali kuniatkan untuk bekerja di Ibukota, bahkan niat yang seperti itu sudah kutanggalkan jauh-jauh sebelumnya. Aku mulai memantapkan diri untuk bekerja di kampung halaman sambil menemani bapak ibu yang “kesepian” di rumah. Namun, ternyata kuasa Allah lebih kuat dari rencana hambaNya. Aku diterima di sebuah perusahaan swasta yang head office-nya di Jakarta, meskipun belum tentu aku akan menetap di sana, tetapi satu bulan pertamaku akan aku jalani di sana.

Sebenarnya aku mendapatkan tawaran untuk bisa bekerja di Jepara, di sebuah PLTU, tentu dengan gaji yang lebih besar dan (harusnya) lebih cukup untuk biaya hidup ketimbang di Jakarta. Namun, dengan berbagai pertimbangan dan juga hasil renungan kepada Sang Pemberi Petunjuk, maka aku putuskan untuk tidak menerima tawaran tersebut meskipun yang meminta adalah General Manager-nya sendiri.

Aku sempat mencari informasi dari blog-blog orang alasan kenapa mereka memilih meniggalkan Jakarta. Aku menemukan sebuah blog yang memberikan informasi cukup rinci dan jelas dan kebetulan kota tujuan pindah penulisnya adalah Jepara. Berikut linknya arif.widianto.com
Kalau kalian pikir itu akan mengubah pikiranku, kurasa tidak.

Aku akan bercerita tentang persahabatan seekor elang dan ayam. Kisah ini menjadi inspirasi bagiku untuk mengambil keputusan tersebut.

Senin, 02 Desember 2013

Berbagi Masa Depan

Para Serdadu Rumah Sahabat Cahaya Samudera dengan Cita-citanya
Indonesia Mengajar merupakan sebuah program yang menginspirasi diriku untuk berbagi. Meskipun pada dasarnya aku kurang suka mengajar - itulah alasan kenapa aku tak jadi masuk jurusan kependidikanan - tetapi kegiatan mendidik tersebut selalu membuat semangatku membuncah, terutama ketika mengajar adik-adik usia sekolah dasar. Dan pada dasarnya aku memang penyuka anak-anak, kelucuan dan keluguan mereka selalu memberikan warna ceria dalam hidupku.

Suatu ketika seorang teman mengajakku untuk membuat sebuah komunitas peduli lingkungan. Kebetulan aku juga mempunyai pemikiran yang sama setelah beberapa hari berdiam di rumah, tanpa kegiatan yang berarti, selain menulis di blog ini. Berkeliling pantai menggunakan sepeda menjadi rutinitas setiap pagi, tapi selalu ada kekecewaan ketika menyambangi tepian pantai, yaitu perkara sampah plastik yang selalu ditinggalkan pengunjung di pantai wisata tersebut. Itu yang menjadi awal pemikiran kami. Namun, seiring berjalannya waktu kami agak sedikit kesulitan mengumpulkan massa sehingga niat kami untuk membentuk sebuah komunitas bisa terlaksana.

Kami pun tak kehilangan akal, kami mencoba belajar dari teman-teman yang sudah berhasil membangun komunitasnya. Temanku tadi bernama Rian, dia kemudian mendekati komunitas Jepara Berkebun untuk belajar banyak hal dari mereka. Sedangkan aku? Kebetulan posisiku sedang di Semarang. Salah seorang teman kampus hendak me-launching komunitas barunya dan kebetulan hadir juga beberapa founder komunitas yang lain. Dari situlah aku bisa bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, mereka yang peduli dengan lingkungannya, ada yang bahkan sangat peduli meskipun yang mereka naungi bukanlah "sanak-kadang" mereka sendiri. Mereka mengajar dan mendidik anak-anak. Setelah acara selesai kusempatkan untuk mengobrol dengan beliau-beliau untuk menggali lebih dalam seraya memantapkan niat dan semangat yang kian membuncah.

Beberapa bulan sebelumnya aku berniat pergi belajar bahasa inggris ke Pare. Aku pikir persiapanku sudah matang. Restu orang tua sudah kukantongi, informasi sudah kuperoleh, tanggal sudah kutentukan, tinggal pesan dan berangkat. Namun, tiba-tiba pikiran dan niat ini berubah. Semangat ke Pare yang tadinya membara, kini melempem, bukan lantaran Pare tak menarik lagi, tapi aku punya misi lain yang jika Tuhan mengijinkan, misi ini akan sangat bermanfaat, bagi orang lain dan bagi diriku sendiri.

Rabu, 27 November 2013

Kebersihan Cerminan Akhlaq


Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, selain mengikuti sekolah formal, aku juga mengikuti sekolah agama, boleh dibilang TPQ atau sekolah sore kalau orang Jepara bilang. Dalam masa pendidikan di sekolah sore tersebut, selain memperoleh pendalaman membaca Al-Quran, juga diajarkan cara menulis kaligrafi yang kalimatnya dikutip dari potongan-potongan ayat Al-Quran atau dari peribahasa arab. Di luar perkara keilmuan, para murid juga diwajibkan untuk menghargai waktu dengan tidak datang terlambat dan turut menjaga kebersihan kelas.

Sekedar informasi, bahwa aku mengaji bukan di sebuah Madrasah Diniyah, melainkan datang ke rumah salah seorang ustad bernama Ust.Suhariyono. Beliau menyulap rumah sederhananya dengan menyediakan sebuah aula kecil hingga dapat digunakan para murid untuk mengaji dan sholat berjamaah.

Kembali pada perkara di luar keilmuan. Dalam hal menjaga kebersihan, Pak Hari, sapaan akrab beliau, tidak hanya menyuruh kami membersihkan ruang kelas, tapi sewaktu-waktu apabila rumput di halaman rumah beliau yang cukup luas sudah tumbuh tinggi, para murid juga “diberdayakan” untuk mencabutinya. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak tahu menahu akan protes, kedatangan para murid tersebut ke rumah Pak Hari bukanlah untuk menjadi “babu”, tetapi untuk mengaji, mempelajari ilmu agama. Meskipun kami memang tidak dipungut biaya sepeser pun selama mengaji kepada beliau.

Di lain cerita. Suatu ketika aku berjalan-jalan di sebuah pusat kota yang notabene setiap tahunnya selalu mendapatkan predikat kota bersih dengan piala adipura. Seorang anak yang dibonceng orang tuanya mengendarai sepeda motor tanpa dosa membuang bungkus susu kemasan yang tadi diminumnya. Melihat setiap sudut jalan kota yang tampak bersih, aku rasa siapapun harusnya tak tega meninggalkan sampah sembarangan di sana sebab tentu akan kentara sekali. Namun, entah bagaimana bisa, orang tua si anak tersebut pun seperti tak ada itikad untuk menegur putranya sendiri.